oleh: Prof. DR. Primadi Tabrani

 

“Mojopahit, dimana, semangatmu jaya’
Sriwijaya, dimana pusakamu Jaya,
Lama sudah tidurmu, tinggi sudah suria…..”

 

Ya, tinggi sudah suria, kita telah memasuki abad 21, di akhir 2008 dan permulaan 2009, abad yang penuh Teknologi tinggi dengan komputer digitalnya, tiba-tiba lagu yang sering dinyanyikan anak sekolahan kita di masa revolusi ini mendapat tamparan. Karena Trowulan ibukota Majapahit, kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia (1292-1478) satu satunya situs kota tradisi dari masa lalu, diterpa kejutan Masterplan Majapahit Park dan Majapahit Information Centre, yang bukan hanya memundurkan usaha-usaha mengutuhkan kembali situs Trowulan yang dulu pernah dilakukan pemerintah dengan lembaga-lembaga terkait, tapi justru seakan menghentikannya dan mengabaikan sopan-santun perlakuan terhadap suatu situs purbakala.

Bagaimana bila Koran khususnya dan media umumnya tidak memberitakan dan mengkritik master plan Majapahit Park tersebut. Apakah menteri Kebudayaan dan Pariwisata kurang mendapat informasi mengenai masalah arkeologi, sejarah , situs kota, dan pentingnya Trowulan bagi sejarah Indonesia? Bagaimana dengan instansi terkait lainnya. Apakah para arsiteknya kurang mempelajari masalah ini terutama dalam hubungannya dengan eco arsitektur?

Pemugaran Borobudur

Kita pernah memenangkan uluran tangan Unesco yang kemudian melibatkan donor dari berbagai negara untuk Pemugaran Borobudur kedua (1970-1980). Kita berhasil memenangkan uluran tangan Unesco tersebut berkat proposalnya yang canggih, lintas sektoral mencakup komputer digital untuk ketelitian pemindahan dan pengembalian bongkah bongkah batu relief. Terlibat antara lain Depdikbud, Puslit Arkenas, dan USI-IBM. Penulis bersama tim sempat membuat suatu program multivision slide show mengenai Restorasi Borobudur ini. Berkat sukses restorasi Borobudur, kita berhasil mendapat pengakuan Unesco bahwa Borobudur merupakan warisan dunia, dengan berbagai syaratnya. Antara lain situs Bodobudur dibagi kedalam tiga lingkaran pelestarian. Di Lingkaran satu misalnya tidak boleh dibangun untuk kepentingan investasi. Tapi yang terjadi sekarang, investasi sudah masuk. Mengapa selalu investasi yang dimenangkan. Seberapa banyak investasi tersebut memberdayakan dan menguntungkan penduduk setempat, atau lebih menguntungkan mereka yang ada diatas sana. Di Proyek Borobudur dan Prambanan terjadi penggusuran penduduk setempat hingga sempat terjadi “unjuk rasa”. Akankah masuknya investasi ke situs Trowulan mengulang kesalahan yang sama?

 

Proyek Nasional Bapenas

Sekitar tahun 1991 Bapenas dengan proyek nasional lintas sektoral yang antara lain melibatkan Bakosurtanal, Lapan, ITB, UGM, Puslit Arkenas, memulai kerja besar jangka panjang untuk mencoba mengutuhkan kembali situs Trowulan. Proyek ini bukan hanya lintas sektoral, tapi pula memanfaatkan teknoiogi tinggi dengan komputer digitalnya, termasuk Inderaja (remote sensing).

Temuan-temuan proyek tersebut banyak yang merupakan surprise. Antara lain ditemukannya lagi sejumlah bangunan kuno sejarah yang semula terpendam dan bahwa situs kota Trowulan mencakup tata kota dengan jalan-jalan dan kanal-kanal yang berpotongan tegak lurus, suatu pola tatakota yang semula dianggap hanya dimiliki barat. Kanal-kanal itu seperti yang ada di kota-kota Belanda, yang terpanjang sekitar 6,25 km, lebarnya sekitar 20-25 meter. Tata kotanya menarik , ada Pusat Pemerintahan, Pusat Kria, Pasar, Perumahan petinggi, Perumahan pegawai, Perumahan rakyat, kompleks pemakaman, dan sebagainya. Sudah ada sistem gorong-gorong dan pipa-pipa air “Iedeng” (dari terakota) dan air bisa naik ke sebagian rumah yang bertingkat. Belum lagi waduk-waduk sebagai cadangan air untuk kehidupan kota sekaligus untuk menjamin agar kanal-kanal dalam kota selalu berair dan tidak kering hingga mencegahnya jadi sarang nyamuk. Kanal-kanal ini memiliki akses ke laut melalui sungai Gunting dan sungai Brantas. Kota Trowulan merupakan kota yang “terbuka” ia tidak memilki tembok benteng keliling kota. Tembok benteng keliling kota seperti di Jogya, Solo, Banten, Makasar, baru dikenal di Indonesia setelah masuknya Islam dan Eropa. Ternyata kota Trowulan beberapa kali ditinggalkan untuk kurun waktu yang cukup lama, baik karena bencana gempa ataupun karena diserang. Hingga dalam penggalian arkeologis ditemukan berbagai lapisan hunian di Trowulan, satu diatas yang lainnya. Penelitian arkeologis yang terpaksa berjalan lambat karena minimnya dana dan harus hati-hati untuk tidak merusak tinggalan ini, belum selesai dan kini di kacaukan oleh proyek Majapahit Park.

Penulis sebagai produser pelaksana membuat videonya (1992) dalam format ilmiah populer berjudul “Inderaja dan Arkeologi-kasus Trowulan”. Video ini diproduksi oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).

Ditahun 1993, bersenjatakan program video tersebut penulis memberikan serangkaian ceramah dengan judul “Inderaja di Trowulan – Menggugat Sejarah” di FSRD ITB, FSRD – Trisakti dan Arkeologi UI, dimana kejutan kejutan yang ditemukan dalam proyek pengutuhan situs Trowulan diungkapkan.

 

Jalan Keluar

Situs Borobudur merupakan kompleks satu candi, situs Prambanan merupakan suatu rangkaian candi, memang lebih mudah menemukan “lahan steril” untuk keperluan investasi. Tapi situs Trowulan merupakan situs kota lengkap, satu satunya situs kota tradisional yang kita miliki masih dalam keadaan relatif asli. Berbeda dengan banyak kota atau bagian kota di dunia yang dalam perjalanan sejarah musnah atau tumbuh dan berkembang jadi kota gado- gado. Jadi situs kota Trowulan sebenarnya “menjanjikan” untuk dipugar seutuh.nya hingga kota Trowulan seakan hidup kembali, dan menjadikannya kota kuno bersejarah yang paling utuh, lebih utuh dari Pompei di Italia, Acropolis di Yunani, Angkor di Kamboja, Machu Picchu di Peru. Dan ini bukan hanya akan menjadi “kekayaan” Indonesia, tapi Juga dunia yang mungkin tiada duanya, situs Ibukota kerajaan kuno terbesar di Indonesia yang pada jamannya cukup go internasional. Bukankah Pusat Informasi Majapahit bisa ditempatkan diluar Situs Kota Trowulan yang bersejarah, dan bukankah Majapahit Park bisa didesain mengelilingi situs Trowulan?

Maka dimasa depan kita akan menyaksikan para wisatawan mancanegara maupun domestik naik perahu “gondola” Majapahit di kanal-kanalnya, bila perlu ber”outbound” sampai ke laut melalui sungai Gunting dan sungai Brantas. Para pendayungnya adalah penduduk setempat yang dilatih untuk itu, begitu juga para guide di situs kota tua Trowulan yang banyak memiliki bangunan dan tempat bersejarah atau di museum adalah penduduk setempat yang dilatih untuk itu. Begitu pula para kriawan dan pengrajin serta pedagang setempat ikut berperan dalam pasar cenderamata dan warung-warung makanannya. Bukankah ini memberdayakan masyarakat setempat, dan bukan menggusurnya atau tidak diberi pencerahan ekonomi hingga jadi “penganggur dan pengganggu” di tanah nya sendiri. Kita perlu menjadikan penduduk setempat merasa ikut memiliki Trowulan dan menjaganya. Penduduk setempat akan merasa menjadi tuan di tanahnya sendiri.

 

Penutup

Setelah apa yang terjadi terjadilah dan seakan kehendak ingin dipaksakan, maka penulis tak lagi akan mohon perhatian pemerintah baik daerah maupun pusat, juga tidak ke menteri-menteri terkait, juga tidak ke DPR Daerah maupun Pusat ataupun MPR.

Namun perkenankanlah penulis menutup tulisan ini dengan kata kata ini: Indonesiaku sayang