Satu Tanah Air

Satu Bangsa

Satu Bahasa

Itulah pokok sumpah yang kemudian di kumandangkan para pemuda seantero Nusantara 81 tahun yang lalu. Pokok sumpah yang tersarikan dari nilai dan pemahaman leluhur pendahulu Nusantara, jauh hingga ke masa Paparan Sunda dan Paparan Sahul, masih disematkan untuk menyebut wilayah yang sering disebut sebagai “untaian mutiara di Asia Tenggara”.

Mengapa Satu Tanah Air? Apabila Tanah Air diartikan sebagai pulau, jelas Indonesia pada saat itu terdiri dari beribu pulau dan terpisah satu dengan lainnya. Apa yang kemudian memberi gagasan pada para pemuda saat itu untuk menyebut satu Tanah Air?

Satu Tanah Air, satu-satunya konsep kebangsaan di dunia yang hanya ada di Indonesia. Anak-anak bangsa menyebut negaranya sebagai Tanah Air, dari kata “tanah” dan “air” sebagai sebuah kesatuan. Sejarah panjang Indonesia menyatakan bahwa laut di Indonesia bukanlah pemisah, melainkan sebuah pengikat.

Dahulu, seperti yang diceritakan kembali oleh gambar-gambar yang tertera di gua-gua bukit kapur (karst) yang tersebar di seluruh Nusantara,apabila kita kembali ke masa terakhir zaman es, Nusantara merupakan sebuah dataran luas. Sumatra, Jawa, Kalimantan menyatu dalam sebuah hamparan yang disebut Paparan Sunda; sementara Sulawesi, Maluku, Papua, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya menyatu dalam lingkup Paparan Sahul. Rekam jejak memori tersebut dengan sangat jelas terpapar pada dinding-dinding gua karst di seantero Indonesia saat ini, menceritakan kembali masa-masa tersebut dan terus menerus mencoba mengingatkan kembali makna Satu Tanah Air, meski pun saat ini rekam jejak tersebut mulai tergerus waktu dan kepentingan.

Satu Bangsa, konsep ini dibangun tidak hanya didasari letak geografis dan kedaerahan, melainkan dibangun atas dasar cara pandang masyarakat Nusantara terhadap alam, lingkungan sekitar, dan nilai-nilai kehidupan. Adat istiadat, religiositas, sistem kemasyarakatan, sampai pemahaman hidup dan kehidupan yang senada, merupakan salah satu dari sekian bukti yang menyatakan sebuah kebangsaan, terurai dalam berbagai spektrum warna, dan bentuk. Bangun ruang atap rumah-rumah tradisional di Indonesia menyatakannya dengan sangat indah.

Satu Bahasa, bahasa Indonesia, adalah bahasa yang di dalamnya tersimpan nilai-nilai ramah tamah dan penerimaan, nilai-nilai kesetaraan gender dan kesempatan, tercermin pula nilai sopan-santun yang sarat makna. Bahasa Indonesia adalah sebuah kisah yang bercerita tentang persatuan, media kegelisahan anak-anak bangsa senasib dan sepenanggungan yang dibangun beratus tahun, menyerap berbagai ide, dibubuhi berbagai penggalan tradisi, akulturasi dan dinamika zaman, cerminan bangsa dengan pemahaman, keluwesan dan kedewasaan yang luar biasa.

Penanda Tanah Air, kini mulai hilang satu persatu; gambar-gambar simbol mulai aus tak terbaca; relief-relief mulai kehilangan makna. Satu bangsa kini hanya tampak sebagai garis batas hukum dan wilayah. Nilai-nilai fundamental pembangunnya tidak lagi tersirat dalam setiap kata. Satu bangsa kini nilainya hanya tertera dalam selembar kartu tanda penduduk, tidak lebih. Satu bahasa, nasibnya tidak lebih baik, karena kini mulai kehilangan maknanya. Ide-ide persatuan dan kesatuan tidak lagi tersirat dalam setiap kalimatnya. Sementara Tanah Air kini hanya menjadi sebatas slogan indah menjelang pemilu, barang dagangan pemuas kerinduan akan Jati Diri Bangsa yang sejati.

Dirgahayu Sumpah Pemuda! Izinkan kami menggali kembali, untuk kemudian bersumpah kembali:

KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENGAKU BERTUMPAH DARAH YANG SATU, TANAH AIR INDONESIA

KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA, MENGAKU BERBANGSA YANG SATU, BANGSA INDONESIA

KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENJUNJUNG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA

 

Salam Nusantara!