Sri Indrawarman atau Sri Maharaja Indra Warmadewa merupakan seorang maharaja Kedatuan Sriwijaya. Dalam catatan orang Cina, ia dikenal dengan sebutan Shih-li-t-‘o-pa-mo.

Tidak ada prasasti yang dikeluarkan raja ini membuat pelacakan terhadap Sri Indrawarman ini mengalami kesukaran. Petunjuk tentang keberadaan raja ini hanya berasal dari surat  yang dibuat atas titahnya yang diperuntukkan kepada Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah dari Bani Umayah, dan kronik Cina. Disebutkan dalam surat bertarikh 718 M tersebut bahwa surat itu dikirim dari seorang Maharaja yang memiliki ribuan gajah, memiliki rempah-rempah dan wewangian serta kapur barus, dengan kotanya yang dilalui oleh dua sungai sekaligus untuk mengairi lahan pertanian mereka dan mengantarkan hadiah buat khalifah Umar itu.

Ada pun kronik Cina menyebutkan Shih-li-fo-shih dengan rajanya Shih-li-t-‘o-pa-mo pada tahun 724 M di mana raja bersangkutan mengirimkan hadiah buat kaisar Cina, berupa ts’engchi (zanji dalam bahasa Arab.

Karena kekurangan data yang sangat minim ini, kita tidak bisa memastikan tahun berapa raja ini lahir, memerintah, dan meninggal. Yang jelas, ia pernah menduduki takhta Sriwijaya pada abad ke-8.

 

Surat-surat kepada Dua Khalifah Bani Umayyah

Ada berita yang sangat menarik mengenai seorang maharaja dari Sriwijaya yang mengirimkan dua buah surat kepada dua raja dari sebuah khalifah Islam yang sama (Bani Umayyah), yaitu Muawiyah (661 M / 41 H) dan Umar bin Abdul Aziz (717-20 M / 99-102 H). Terjemahan pembukaan  surat yang ditujukan untuk Khalifah Mu’awiyah dari Maharaja Sriwijaya kurang lebih seperti berikut.

Dari Maha Raja,  yang istalnya berisi ribuan gajah, istananya berkilau emas dan perak, dilayani oleh ribuan puteri raja, yang menguasai dua sungai yang mengairi gaharu – untuk Muawiyah.

Sementara surat kedua—yang terdokumentasikan dalam buku tulisan Ibnu Abdul Rabbih (860-940 M) berjudul Al Iqd al Farid (“Kalung Istimewa”)—isinya lebih lengkap karena di dalamnya terdapat pembukaan dan isi, Berikut surat dari Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul.

 

Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah wangi, pala, dan jeruk nipis, yang aroma harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada Raja Arab yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku.

Ibnu Taghribirdi dalam bukunya al Nujum al Zahirah fi Muluk Misr wa al Qahirah (“Perbintangan Terang Raja Mesir dan Kairo”) mempunyai tambahan untuk akhir surat kepada Khalifah Umar tersebut: “Saya mengirim hadiah jebat (musk), batu ratna, dupa dan barus. Terimalah dari saudara Islammu.”

Diperkirakan surat di atas diterima Khalifah Umar bin Abdul Aziz sekitar tahun 100H atau 717 M, di mana Srwijaya tengah dirajai oleh Sri Indrawarman. Walau dalam surat itu bertulis “saudara Islammu” namun belum ada bukti peninggalan bahwa Sri Indrawarman sendiri (pernah) memeluk Islam. Khalifah Umar bin Abdul-Aziz sendiri kemungkinan besar memberikan hadiah untuk utusan Sriwijaya dan mereka kembali dengan membawa hadiah zanji (budak wanita berkulit hitam).

Membaca surat Maharaja Siwijaya tersebut membuat kita semakin yakin bahwa sang maharaja sangat percaya diri dan penuh rasa keingintahuan mengenai segala perkembangan dunia internasional kala itu—salah satunya agama Islam yang baru muncul seabad pada waktu itu. karena, sebagaimana dimakfumi, bahwa para pelaut dan pedagang Sriwijaya (dan Nusantara lainnya) telah menjalin hubungan perniagaan dengan pedagang Timur Tengah, India, dan Cina, dengan Selat Malaka sebagai jalur sutra.

Ada satu hal lain yang bisa disimpulkan dari adanya surat-surat Sri Indrawarman kepada dua khalifah Bani Umayyah tersebut, yakni persentuhan orang Sriwijaya (Melayu) dengan ajaran Islam. Selain sumber Arab yang ditulis oleh Ibn Hordadzbeh sejak tahun 844-848 M mengenai Sriwijaya, surat-surat tadi mencerminkan betapa Islam telah dikenal, setidaknya, oleh raja Sriwijaya pada abad ke-8, lima abad sebelum Kerajaan Samudra Pasai berdiri di ujung barat Sumatra. Di sini timbul dugaan bahwa terdapat kemungkinan bahwa setidaknya, sejak abad ke-8 M, ada sejumlah rakyat Sriwijaya (Sumatra) yang telah memeluk Islam walau dalam jumlah yang sangat kecil—selain pedagang-pedagang Arab dan Persia yang bermukim, baik untuk sementara atau seterusnya, di pesisir-pesisir utara Sumatra. Dan bila memang demikian, maka bukan hal mencengangkan jika penduduk Sumatra (Melayu) telah lebih dulu memeluk  Islam jauh sebelum Wali Sanga menyebarkan ajaran tersebut di Jawa.