Konon pada masa lalu, dalam masyarakat tradisional Indonesia hampir tidak ada paham seni untuk seni. Istilah seni dan kesenian, baik audio, visual, atau gabungan audio dengan visual, diciptakan dan dipertunjukkan sebagai bagian dari persembahan kepada sesuatu yang sakral, untuk alasan yang transendental. Seiring dengan kehendak manusia yang dinamis dan desakan ekonomi, dimungkinkan telah terjadi pergeseran dari sisi nilai dan tujuan awal; dari sakral menjadi profan.

Bidang kesenian khususnya seni pertunjukan dipengaruhi oleh keadaan sosial-politik di setiap daerah. Pun seni pertunjukan itu dikatakan sebagai sebuah bentuk ungkapan budaya, wahana menyampaikan nilai, dan perwujudan norma estetik-artistik, Kesenian akan dan senantiasa berkembang sesuai dengan zaman. Proses akulturasi pun berperan besar melahirkan perubahan dan transformasi dalam banyak bentuk tanggapan budaya, termasuk juga munculnya para seniman-seniwati jalanan, baik pada masa lalu dan masa masa yang lebih baru.

Kesenian yang dahulu digelar di depan candi-candi, di tengah api pemujaan, dan untuk tradisi pengisahan sakral asal-usul leluhur, Kesenian itu nyatanya mulai dipertontonkan di kerumunan pasar, di keramaian jalanan, dan di tempat-tempat umum lain yang memungkinkan. Wayang yang semula digelar, salah satunya, saat pada penetapan sima (tanah bebas pajak), kemudian mulai dipertontonkan di tempat yang ramai oleh hiruk-pikuk duniawi, demi memenuhi kebutuhan ekonomi seniman-seniwati.

Sebuah pertunjukan menurut Edi Sedyawati (2002) mungkin mengandung; 1) musik saja, 2) tari dengan musik sebagai pengiring,  3) pertunjukan drama dengan iringan musik, 4) pertunjukan drama dengan tari diiringi musik, 5) pertunjukan drama diiringi musik yang dipimpin oleh dalang dengan menggunakan wayang untuk mewakili tokoh tokoh, atau 6) sandiwara seperti drama model Eropa.

Di Nusantara, khususnya di pulau Jawa, dengan merujuk kepada sejumlah catatan prasasti dan juga relief-relief candi, seni pertunjukan jalanan sudah ada sejak abad ke-9 Masehi, atau boleh jadi mungkin sebetulnya sejak abad-abad sebelumnya telah berkembang profesi ini namun tidak tertulis dalam prasasti dan tidak hanya di pulau Jawa, tapi juga mungkin telah berkembang di wilayah lain. Kesenian tersebut bisa berupa tarian, pertunjukan lawakan, dan pertunjukan wayang.

Penari, Pelawak, hingga Pemain Akrobat

Lukisan dua penari ronggeng dengan gamelan (1854). Lukisan A. (Auguste) Van Pers (Tekenaar) / Tropenmuseum

“Lukisan dua penari ronggeng dengan gamelan (1854)”. Lukisan karya A. (Auguste) Van Pers (Tekenaar) / Tropenmuseum

Adanya seni pertunjukan yang diselenggarakan di pasar dapat merujuk pada Prasasti Poh Pitu yang berangka tahun 827 Saka (905 Masehi). Prasasti ini menyebut adanya kelompok menmen (pemain pertunjukan keliling) yang terdiri dari tiga orang perempuan bernama si Dharini, si Karigna, dan si Rumpuk diiringi dua pengiringnya bernama si Jaway dan si Baryyut, mempertontonkan tari-tarian keliling dari desa ke desa.

Mengenai jenis tarian, merujuk pada data prasasti, di Pulau Jawa pada abad ke-8 Masehi hingga abad pertengahan dikenal sedikitnya dua jenis tarian: yakni tarian yang tidak pemakai topeng (manigel); dan tarian yang memakai topeng(manapal, matapukan, dan mangrakat). Kedua jenis tarian ini terkadang juga ditarikan secara bersamaan, tergantung kepada alur ceritanya.

Berdasarkan jenis ceritanya ini tarian dapat dibagi menjadi wayang wang (wayang orang) yang mengisahkan cerita-cerita dari Mahabharata dan Ramayana, dan raket yang mengambil cerita lain. Pada masa selanjutnya seni pertunjukan raket ini dikenal dengan nama gambuh.

Prasasti menyebutkan tuha (juru) ning manapal dan tuha (juru) ning mangrakat, dapat diartikan pemimpin penari topeng, selalu ditulis bersamaan dengan tuha ni kanayakan, De Casparis kemudian menyimpulkan bahwa para pemimpin rombongan tari tersebut kemungkinan mengabdi kepada salah seorang pembesar pembantu raja; rakai atau rakryan.

Selain dari data prasasti, petunjuk-petunjuk keberadaan kesenian jalanan pada masa lalu terdapat di dalam kitab Sumanasantaka gubahan Mpu Monaguna semasa pemerintahan Raja Warsajaya (Kadiri), sekitar abad ke-11 Masehi. Di dalam kitab ini memuat juga istilah mabanyol atau abanyol dan mamirus atau pirus yang juga terdapat dalam prasasti, mengacu kepada jenis pertunjukan lawakan atau profesi pelawak.

Pirus dan abanyol ini walaupun sama-sama mengandung unsur lawakan akan tetapi keduanya tidak sama terutama dalam mengekspresikan lawakan atau kelucuan mereka. Abanyol mengekspresikan kelucuan melalui gesture (gerakan tubuh), sementara pirus melalui pemakaian kata-kata, mungkin saat ini pirus mirip dengan para comic stand up comedy.

Dalam salah satu panel relief di Candi Borobudur terdapat panel adegan seorang penari dengan gerak-gerik yang lucu, penari itu dikelilingi dua orang pemusik yang menggunakan alat musik tiup dan beberapa orang penonton. Seorang ahli menyebutkan bahwa yang relief ini menggambarkan jenis tarian pertunjukan yang mempertontonkan kelucuan melalui gerakan-gerakan yang mengundang tawa.

Seni pertunjukan keliling sebagai bentuk hiburan rakyat ini tidak hanya berupa tarian dan lawakan, namun juga ada yang berupa pertunjukan akrobat. Candi Borobudur pada salah satu panel relief-nya memperlihatkan seseorang yang meletakkan benda panjang seperti papan di atas dagu, sementara terlihat sekelompok orang yang menonton mengelilinginya tengah berdesakan dengan posisi duduk dan ada juga yang berdiri di bawah pohon, bahkan ada salah seorang yang mengangkat seorang anak agar sang anak bisa menyaksikan pertunjukan ketangkasan itu dengan jelas.

Dikenakan Pajak

Sumber-sumber prasasti tidak menyebutkan secara langsung tentang aktifitas dan pengelompokan para pekerja seni. Petunjuk mengenai keberadaan para seniman idalam prasasti, dapat diperoleh berdasarkan pengaturan pajak.

Para seniman-seniwati yang mencari penghasilan dengan mengadakan pertunjukan keliling itu, sebagian dikenakan wajib membayar pajak. Keterangan ini didapat dari data prasasti yang membagi seniman-seniwati yang membayar pajak dan yang dibayar oleh hasil pajak. Para pekerja seni yang disebutkan oleh mangilala drabya haji (petugas administrasi kerajaan yang bekerja memungut pajak) seperti para pemain gamelan istana karena merupakan seniman-seniwati yang bekerja di istana, pajaknya pun dibayar oleh raja.

Sementara itu, seperti yang diberitakan oleh Prasasti Cane tahun 943 Saka (1021 Masehi), Prasasti Patakan dari masa Airlangga, dan Prasasti Turun Hyang tahun 958 Saka (1036 Masehi), seniman-seniwati yang memiliki penghasilan dari keahliannya dikenakan wajib pajak kepada kerajaan. Prasasti-prasasti itu juga menyebut bahwa dalang (aringgit atau awayang) termasuk salah satu kilalan, yakni golongan penduduk yang dikenakan wajib pajak. Berita dalam prasasti-prasasti ini secara tidak langsung teha memberikan gambaran kepada kita bahwa pada masa lalu telah ada seniman-seniwati profesional yang berpenghasilan dari profesi yang digelutinya.

Prasasti Mantyasih (828 Saka/907 Masehi) menyebut sejumlah seniman-seniwati profesional yang mendapatkan bayaran untuk keahliannya. Pesinden yang bernama si Manajut, si Barubuh penari topeng, pemimpin tukang kendang yang bernama si Nanja, si Krsni tukang gending, si Mandal seorang rawanahasta, mereka mendapat bayaran kain bebed satu helai dan masing-masing mendapat perak mas 8 masa.

Berita mengenai pemberian bayaran kepada para pekerja seni juga ditemukan pada Prasasti Alasantan (861 Saka/939 Masehi). Disebutkan dalam prasasti itu bahwa yang mengadakan acara menyabung ayam telah mengundang penari topeng bernama Kampallan dan diberi bayaran dua masa, seorang pelawak bernama Paninanin mendapat bayaran kain satu helai dan si Taratakan mendapat bayaran dua kupang, pesinden bernama si Wahu mendapat bayaran dua masa dan satu helai bebed.

Seniman-seniwati istana mungkin pada waktu-waktu tertentu diperintah oleh raja agar turun ke jalan untuk mempertunjukan kebolehan mereka di desa-desa, guna menegakkan wibawa raja di hati rakyat. Sanjungan dari seniman-seniwati dengan menyebarkan cerita-cerita tentang Istana, mungkin akan sangat berguna bagi tujuan-tujuan sosial-politis Raja. Berbeda dengan hal tersebut, seniman-seniwati jalanan justru mempertunjukan kebolehan mereka didasarkan pada kebutuhan dan kemauan mereka untuk mencari nafkah agar bisa menghidupi keluarga.