11.03
Namaku Ameng Layaran. Aku meninggalkan kapal. Sesampai diPabeyan, aku berjalan melewatinya, berjalan melalui Mandi Rancan, sampai di Ancol Tamiang, dan melewati Samprok.
11.03
Pertapa itu datang dari timur, mengenakan pakaian bercorak puranteng, ikatan dengan sulaman Baluk, sehelai selendang sutra Cina, memiliki cambuk dari rotan walatung, dihias dengan garis-garis keemasan, berkas rambutnya seperti jengger ayam.
11.03
Mereka yang memadamkan, mereka yang menyalakan, mereka yang menggiling di paha, mereka yang memukul di dada, dan menyelesaikan di payudara, diikat oleh kain, yang bermaksud meminang seorang laki-laki muda, disiapkan untuk menggairahkan semangat perjaka; sugi dipersiapkan oleh seorang putri, tidak diberikan bila bukan karena berhasrat ...
10.04
Itulah mengapa aku pergi bersama para pertapa, itulah mengapa diriku berjalan dengan orang-orang suci,
mengikuti para kepala biara, guru-guru, dan orang-orang bijaksana.
10.04
Setelah tiba di ujung Tatar Sunda, sampailah di Arga Jati, dan tiba di Jalatunta, yang menyimpan kenangan Silih Wangi.
10.04
Yang mendayung orang Marus, yang babose orang Angke, para pelaut orang Bangka, kelasi orang Lampung,
kemudi orang Jambi, juru tembak dari Bali, juru panah dari Cina, peniup sumpit orang Malayu, para petarung dari Salembu ....



