Sarkofagus adalah peti batu atau keranda mayat yang dibuat dari batu. Sarkofagus terdiri dari dua bagian; wadah dan penutup. Sarkofagus ditempatkan di atas tanah walaupun mungkin juga dapat dikubur di dalam tanah. Bentuknya tidak selalu seperti peti, kadang diberi ukiran relief menyesuaikan pola dan bentuk yang rumit. Di sulawesi, sarkofagus dikenal sebagai waruga yang bentuknya menyerupai rumah.

Kata Sarkofagus berasal dari bahasa Yunani “sarx” yang berarti daging dan “phagein” artinya pemakan. Secara sederhana sarkofagus artinya pemakan daging, Batu pemakan daging. Dari Sarkofagus yang ditemukan umumnya di dalam peti batu tersebut terdapat mayat, mungkin maksud pemakan daging merujuk kepada fungsi keranda batu tersebut sebagai tempat penyimpanan jenazah.

"Sarkofagus Ahiram”. Foto oleh O.Mustafin

“Sarkofagus Ahiram”. Foto oleh O.Mustafin

Orang-orang mesir diketahui sebagai yang tertua menggunakan peti batu untuk menyimpan mayat, hampir 3.000 tahun yang lalu. Mereka menyebut sarkofagus sebagai neb-ankh yang artinya pemilik kehidupan. Sarkofagus dibuat untuk tetap berada diatas permukaan tanah, pada perkembangannya, sarkofagus di Mesir kemudian dibentuk mirip sebagai representasi Sang Raja yang meninggal, bahkan untuk menunjukan kemakmuran orang yang meninggal itu, ada juga sarkofagus yang dilapisi oleh emas.

Sarkofagus Di Indonesia

Di Indonesia, Sarkofagus banyak diketemukan di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, kepulauan Maluku, Kalimantan dan wilayah-wilayah lainnya. Pulau Samosir (Sumatera Utara) banyak diketemukan sarkofagus yang oleh penduduk setempat disebut sebagai parholian atau podom, kurang lebih maknanya adalah tempat bagi tulang-belulang.

“Sarkofagus Samosir, 1914”. Dari Tropenmuseum. Foto oleh Tassilo Adam

“Sarkofagus Samosir, 1914”. Foto oleh Tassilo Adam / Tropenmuseum.

Di wilayah Kalimantan, peti batu ini diketemukan di daerah aliran sungai Long Kajanan dan wilayah Long Danum. Di daerah Sungai Long Pura, juga ditemukan sarkofagus yang memiliki ukiran pola wajah manusia bermulut lebar dan memakai hiasa-hiasan pada bagian telinga.

Di wilayah Sumbawa Barat di ketemukan empat buah sarkofagus yang memiliki ukiran-ukiran mengambil bentuk manusia dan pola binatang. Selain penggambaran wajah manusia, yang menarik adalah pahatan yang mengambil bentuk binatang melata. Pola hiasan banyak memperlihatkan persamaan dengan pola hias dari bangunan megalit di wilayah Besuki (Jawa Timur). Di wilayah Fatubesi (Nusa Tenggara Timur) juga dilaporkan telah diketemukan sarkofagus sebanyak tiga buah.

“Sarkofagus Bali”. Foto oleh PHGCOM

“Sarkofagus Bali”. Foto oleh PHGCOM

Keranda batu ini dikenal masyarakat pulau Bali sejak zaman logam. Hal ini dibuktikan dengan diketemukan benda-benda sebagai bekal kubur di dalam sarkofagus yang kebanyakan terbuat dari perunggu dan logam lainnya. Sarkofagus di Bali pada umunya berukuran antara 80-140 centimeter dan juga yang berukuran besar hingga lebih dari 2 meter. Peti batu ini diketemukan tersebar di sebagian besar pulau Bali, di daerah pengunungan Bali Tengah terutama di sekitar daerah Cacang, dan juga diketemukan di daerah Pakraman Manuaba, Gianyar.

Di sulawesi, orang-orang Minahasa zaman dulu membuat kuburan batu yang mereka sebut waruga. Bentuk waruga menyerupai rumah khas orang Minahasa, pada bagian atapnya banyak dipahatkan berbagai macam hiasan seperti pola bentuk binatang, tumbuh-tumbuhan, bentuk manusia, pola geometris dan lain-lain. Lambang matahari sepertinya mendapat tempat tersendiri di samping bentuk manusia. Waruga itu memiliki banyak ukiran, pada umumnya lambang-lambang yang ada pada waruga dipercaya sebagai gambaran situasi orang tersebut ketika meninggal. Ada juga yang menyatakan kalau lambang-lambang yang ada di waruga itu merupakan gambaran situasi surga.

Fungsi Sarkofagus dan Kedudukannya

Mereka percaya bahwa yang layak untuk berada dalam sarkofagus adalah jenazah seorang raja atau mereka yang terpandang.

Di dalam kubur itu selain jenazah, juga disertakan barang-barang berharga yang disenangi si mati dan juga bekal kubur lainnya yang menjadi bagian tradisi. Oleh karenanya sarkofagus juga sering disebut paromasan di Sumatra Utara, yang artinya tempat menyimpan barang berharga. Tradisi membawa barang-barang yang berharga ke dalam kubur juga berlanjut hingga masa setelahnya.

“Waruga, Sawangan 1948”. Dari Tropenmuseum. Foto oleh C.J. (Cees) Taillie

“Waruga, Sawangan 1948”. Foto oleh C.J. (Cees) Taillie / Tropenmuseum

Sarkofagus sebagai peti kubur yang memiliki simbol sosial juga tercermin pada sarkofagus orang Minahasa (waruga),Waruga sebagai sarana pemakaman keluarga yang terkadang berada di dekat tempat tinggal si kerabat yang meninggal. Tidak sembarangan, hanya mereka yang mempunyai posisi dan status sosial penting yang dikuburkan di dalam waruga.

Letak sarkofagus yang mengarah ke hadapan sebuah gunung. Terutama di Pulau Bali, arah hadap gunung merupakan arah yang dipercaya akan memberikan berkah karena gunung-gunung itu adalah tempat bersemayam nenek moyang. Menurut kepercayaan masyarakat Bali sarkofagus juga dipercaya memiliki kekuatan magis atau gaib.

Sarkofagus memiliki berbagai jenis bentuk dan ukiran yang berbeda. Selain bentuk kotak panjang, ada juga sarkofagus yang memiliki bentuk seperti lesung, perahu, kura-kura, ada yang seperti bentuk Sphinx dan ada juga yang mengambil bentuk rumah. Bentuk-bentuk itu tidak sembarangan tentu saja ada makna di balik rupa. Ukuran kubur batu ini juga bervariasi, panjangnya rata-rata berkisar antara 1.5 – 3 meter dengan lebar 60-125 centimeter dan tingginya mencapai kurang lbeih 96-180 centimeter

Sarkofagus yang mengambil bentuk rumah salah satunya hadir pada waruga. Waruga berasal dari dua kata, yaitu “waru” yang berarti rumah dan “ruga” yang berarti badan. Waruga adalah rumah tempat peristirahatan raga yang akan kembali ke surga.