Pada abad ke-13 Masehi, Samudra Pasai yang terletak di pantai utara Sumatra sepanjang Selat Malaka menjadi bandar perdagangan internasional pertama untuk mengekspor lada dan sutra. Sebagian besar pantai-pantai utara Sumatra seperti Barus di pantai barat dan Ramni di sebelah utara, menjadi wilayah kekuasaan perniagaan Pasai. Walaupun dikenal sebagai Pasai dalam naskah Melayu dan Laporan portugis, kota bandar ini disebut Samudra oleh pedagang India, dan akhirnya nama ini dipakai untuk seluruh Pulau Sumatra. Kerajaan Samudra Pasai berdiri sekitar 1270-an dengan rajanya yang pertama bergelar Islam Malikh as Shaleh.

Kemunculan kerajaan Samudra Pasai pada abad ke-13 Masehi sejalan dengan memudarnya pengaruh kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatra dan sekitarnya. Kejayaan Samudra Pasai diperkirakan berada di kawasan daerah Aceh Utara, di hulu sungai Peusangan sekarang, di pedalaman daerah Gayo. Sehubungan dengan letak geografis yang sangat strategis dalam kegiatan jalur perdagangan, wilayah ini kemudian menjadi jalur dagang yang ramai.

Sejak abad ke-13, utusan Samudra Pasai telah berkunjung ke Cina. Sumber Sejarah Samudra Pasai dapat merujuk kepada kronik Dinasti Yuan (1280-1367 Masehi), diketahui bahwa mereka telah kedatangan utusan dari Sawen-Ta-La (Samudra) tahun 1288 Masehi. Samudra Pasai juga pada tahun 1282 juga mengirim utusan ke Quilon, India Barat, sepuluh tahun sebelum Marco Polo mendaratkan perahunya di Perlak.

Catatan Marco Polo (1292 Masehi) menuturkan bahwa di kawasan Sumatra diantaranya yaitu Perlak, Basma, Dagrian, Lamuri, dan Fansur. Marco Pola samasekali tidak menyinggung Samudra Pasai tetapi Basma yang letaknya berdekatan dengan Pasai justru tercatat. Apakah Marco Polo ini mendapat informasi yang keliru? Tapi dari Maco Polo ini kemudian kita mengetahui bahwa Islam telah berkembang di Perlak dan telah ada perkampungan Islam di wilayah tersebut.

Sumber sejarah Samudra Pasai lainnya adalah catatan Ibn Batutah, pengembara Islam dari Marokko. Dalam catatannya ia menyebut Samudra Pasai diperintah oleh Sultan Malikh Al Zahir, putra Sultan Malikh as Saleh. Islam sudah ada hampir satu abad lamanya didakwahkan di tempat itu. Beliau juga meriwayatkan kerendahan hati, kesalehan, dan semangat keagamaan raja Pasai itu yang menurutnya mengikuti mahzab Syafi’i. Dalam catatannya juga disebutkan Samudra Pasai telah menjadi pusat studi Islam dan tempat para ulama dari berbagai negeri Islam berkumpul dan berdiskusi.

Kaisar Cina juga tercatat mengirimkan beberapa kali utusannya ke Samudra Pasai pada tahun 1403, 1414, dan 1430. Pada tahun 1405, Utusan Cinta yang bernama Zheng He bertemu dengan Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki, barangkali yang dimaksud adalah Sultan Samudra Pasai Zain al-Abidin Malik al Zahir yang memerintah di Aceh dari tahun 1383 hingga 1405 Masehi.

Pasai Sebagai Pusat Islam

Islam hadir secara nyata di Sumatra paling utara pada akhir abad ke-13. Dari Pasai, Sumatera Utara, Islam menyebar ke bandar lain di Indonesia, Semenanjung Malaya, dan Filipina selatan. Pada akhir abad ke-14 Islam mengubah kepercayaan hingga jauh ke Trowulan, Jawa Timur.

Antara tahun 1290 sampai dengan 1520, Samudra Pasai bukan hanya menjadi kota dagang terpenting di Selat Malaka, tetapi juga menjadi pusat perkembangan Islam dan kesusasteraan melayu. Selain berdagang, para pedagang Arab, Gujarat, dan Persia itu menyebarkan agama Islam.

Pengaruh Pasai sebagai pusat Islam menyebar ke seluruh bagian utara Sumata, dan tidak hanya merambah Aceh, tapi juga ke Semenanjung Malaka dan Jawa. Seorang Sheikh dari Pasai dicatat dalam sejarah sebagai penasihat keagamaan. Makam-makam di Malaka dan Pahang sering menyalin tulisan dari makam-makam Pasai.

Eratnya hubungan Samudra Pasai -Jawa juga dapat ditelusuri dari latar belakang para Wali Songo. Konon Sunan Kalijaga memperistri  putri Sultan Pasai. Sunan Gunung Jati alias Fatahillah pendiri kerajaan Islam di Cirebon, Banten, dan Jakarta ini pun lahir dan besar di Pasai. Laksamana Cheng Ho tercatat juga pernah berkunjung ke Pasai.

Raja-Raja Pasai

Sebagaimana disebutkan dalam beberapa tradisi lisan dan Hikayat Raja-Raja Pasai, Raja Pasai pertama adalah Meurah Silu. “Meurah” bukan lah nama tetapi gelar bagi raja-raja di wilayah utara Sumatra sebelum datangnya agama Islam. Dalam bahasa Gayo Meurah kadang disebut Merah. Sultan Iskandar Muda konon digelari dengan Meurah Pupok. Bangsawan Minangkabau juga ada yang menggunakan “Marah” sebagai gelar.

Meurah Silu atau Merah Silu setelah memeluk islam kemudian memperoleh gelar Islam Malikh as Shaleh (Malikussaleh) beliau meninggal pada tahun 1297 Masehi. Satu Syair dalam bahasa Arab diukir pada batu nisannya. Terjemahan bebas syair tersebut sebagai berikut:

Ketahuilah bahwa dunia mudah hancur.
Dunia tidak abadi.
Ketahuilah bahwa dunia seperti sarang laba-laba,
Dianyam oleh laba-laba.
Ketahuilah bahwa apa yang kau capai di dunia akan mencukupi kebutuhan.
Manusia yang mencari kekuatan
Hidup di dunia tidak lama
Semua makhluk akhirnya mati

Melalui pengaruh Pasai, syair yang sama diukir pada nisan Sultan Mansyur Syah dari Malaka, yang meninggal tahun 1477 Masehi, dan juga terukir pada nisan Sultan Abdul Jamil dari Pahang, yang meninggal tahun 1511 atau 1512 Masehi.

Meski pun secara umum peninggalan-peninggalan peradaban Samudra Pasai tidak dapat dilacak lagi dengan mudah, namun tulisan-tulisan kaligrafi di artefak-artefak nisan-nisan kuburan peninggalan para raja-raja, pemuka agama, pemuka-pemuka kerajaan, dan orang-orang penting kerajaan menjadi bukti yang tak dapat terbantahkan sebagai sumber informasi akurat tentang peradaban Samudra Pasai pada masanya. Raja-raja Samudra Pasai yang termuat pada makam Nahrisyah adalah sebagai berikut:

1. Meurah Silu, Malikh as Shaleh, Malikussaleh (1275-1297 Masehi)
2. Sultan Muhammad Malikh al Dhahir (1297-1326 Masehi)
3. Sulatn Ahmad Malikh ad Dhahir (1326 -1371 Masehi)
4. Sultan Zainal Abidin Malikh ad Dhahir (1371-1405 Masehi)
5. Sultan Hidayah Malikh al Adil (1405-)
6. Sultanah Nahrisyah memerintah tahun (-1428)

Dari sumber lain dapat diketahui urutan penguasa Pasai sebagai berikut:

Sultan Malikh as-Saleh, – 1297 Masehi
Muhammad Malikh Al-Zahir 1297-1326 Masehi
Mahmud Malikh Al-Zahir 1326-1345 Masehi
Manshur Malikh Al-Zahir 1345-1346 Masehi
Ahmad Malikh Al-Zahir 1346-1383 Masehi
Zain Al-Abidin Malikh AL-Zahir 1383-1405 Masehi
Abu Zaid Malikh Al-Zahir -1455 Masehi
Mahmud Malikh Al-Zahir 1455-1477 Masehi
Zain Al-Abidin 1477-1500 Masehi
Abdullah Malikh Al-Zahir 1501-1513 Masehi
Zain Al-Abidin 1513-1524 Masehi

Jalur Perdagangan

Selama abad ke-13 sampai awal abad ke-16 Masehi, Samudra Pasai menjadi bandar pelabuhan yang sangat sibuk. Pedagang India dari Gujarat, Bengal, dan India Selatan serta para pedagang dari Pegu, Siam, dan Birma berbaur di bandar Selat Malaka dengan para pedagang Cina, Arab, Persia, dan Jawa. Pasai merupakan bandar yang berkuasa abad ke-14 Masehi, meski memperoleh tantangan serius dari Pidie, sedang Malaka baru berkuasa pada abad ke-15 Masehi.

Hubungan dagang Pasai dan Jawa berkembang dengan pesat. Para pedagang Jawa itu membawa beras ke Samudra Pasai, dan sebaliknya dari kota pelabuhan tersebut mereka mengangkut lada ke Jawa. Konon pedagang dari Jawa bahkan mendapat hak istimewa dengan dibebaskan dari besa dan cukai.

Bahar: Satuan ukuran panjang yang diukur dari bagian ujung kaki ke bagian ujung tangan yang diluruskan ke atas.Perwakilan Portugis, Tome Pires, menyebutkan bahwa Pasai mengekspor lebih kurang 8.000 sampai 10.000 bahar lada per tahun dan bisa mencapai 15.000 bahar bila terjadi panen besar. Selain lada, Pasai juga mengekspor Sutera, Kamper, dan emas dari pedalaman. Cara pembuatan sutera kemungkinan diajarkan oleh orang Cina kepada penduduk setempat.

Batu Nisan Islam di Pasai

Sejarah Pasai yang yang panjang masih bisa ditelusuri melalui sejumlah situs berupa makam para pendiri kerajaan beserta keturunannya, para pemuka agama, dan juga tokoh-tokoh penyiar Islam di beberapa wilayah di ujung utara Pulau Sumatera. Makam Sultan Malikh as Saleh dan Makan Ratu Nahrisyah, merupakan dua kompleks situs yang masih terawat dengan baik.

Makam terindah di Samudra Pasai, dibuat dari pualam, yakni makan Ratu Nahraisyah yang meninggal tahun 1428, mirip makam umar ibn Ahmad al-Kazaruni di Cambay, Gujarat–meninggal tahun 1333, juga mirip dengan makan Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim, Jawa Timur. Ada dua makam Pasai yang tak kalah indahnya, dipenuhi dengan ukirak kaligrafi dan hiasan indahnya, dipenuhi dengan ukiran kaligrafi dan hiasan indah; pertama makam Paengeran Abdullah dari dinasti Abbasiyah, Baghdad, yang meninggal di Pasai tahun 1407, dan makam kedua milik seorang keturunan Iran, Na’ina Husan al-Din, yang meninggal tahun 1420.

Makam Na’ina Husam al-Din mengandung sebuah syair yang ditulis penyair kenamaan Persia, Syaikh Muslih al-din Sa’di (1193-1292), penulis Gullistan dan Bustan. Ditulis dalam bahasa Parsi dengan tulisan Arab, merupakan satu-satunya syair berbahasa Parsi yang ditemukan di Asia Tenggara. Selain ukiran sebuah pohon indah, ada kutipan Al-Quran II: 256, Ayat Kursi, seperti yang ditemukan pad makan Ratu Nahrasiyah.

Syair Sa’di pada nisan Na’ini Hustam al-Din mengabaikan tiga bait-yaitu bait keenam, ketujuh, dan kesembilan–yang merupakan bait terakhir.

Terjemahan teks syair Muslih al-Din Sa’di sebagai berikut:

Tahun-tahun tak terhingga telah melewati bumi, sedang air musim semi pun mengalir dan angin bertiup sepoi-sepoi.
Hidup ini adalah sekelebat dari hari-hari yang dilalui manusia, mengapa banyak orang melewati bumi dengan pongah?
Oh kawan! Bila engkau melewati pemakaman musuhmu, janganlah bersorak kegirangan, karena peristiwa ini juga akan ka alami!
Debu akan menusuk tulang-tulangmu, dengan mata yang kurang peka, seperti kotak surma (kecantikan) yang dapat ditusuk oleh tutinya (Balsem)
Barang siapa melewati bumi kini dengan sombong seraya mengangkat sarung, keesokan hari tubuhnya akan hilang bagai debu
Dunia merupakan lawan kejam dan kekasih tak setia; saat duni berlalu, meski apa pun yang terjadi, biarkan saja ia berlalu tanpa diganggu.
Ini keadaan tubuhmu di bawah tanah; siapa saja yang datang pada kehidupan yang begitu berarti, kemanakah ia akan menuju?
Tiada percaya diri di bawah naungan naungan amal, Sa’di hanya di bawah bayang kebaikan tuhan
Ya Tuhan! Jangan menghukum manusia tanpa daya, karena hanya dari Engkaulah bertumbuh kemurahan hati, dan dari manusia hanya kesalahan.

Situs makam keluarga istana Kerajaan Samudra Pasai dipercayai hanya terletak di kompleks tersebut, di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudra Geudong, sekitar 20 km dari Lhokseumawe, ibukota Aceh Utara. Beberapa kuburan raja-raja dan ratu terletak di sana, tetapi kompleks makam Blangmeh masih banyak yang perlu diteliti dan diungkapkan untuk menelusuri raja-raja Samudra Pasai, terutama sehubungan dengan masa akhir keberadaan pemerintahan Kerajaan Samudra Pasai.

Uang Logam Emas

Samudra Pasai sebagai pelabuhan dagang yang maju mengeluarkan mata uang dirham berupa uang logam emas. Saat hubungan dagang antara Samudra Pasai dan Malaka berkembang setelah tahun 1400 Masehi, pedagang dari Samudra Pasai menggunakan kesempatan mengenalkan dirham ke Malaka.

Raja pertama Malaka, Parameswara, menjalin persekutuan dengan Pasai tahun 1414 Masehi, memeluk Islam dan menikah dengan putri Pasai. Uang emas dicetak di awal pemerintahan Sultan Muhammad (1297-1326 Masehi) dan pengeluaran uang emas harus mengikuti aturan sebagai berikut. Sluruh sultan Samudra Pasai perlu menuliskan frasa al-sultan al-adil pada dirham mereka. Adil berarti keadilan yang selalu diharapkan manusia zaman dulu atau pun sekarang. Sultan Zainal Abidin dan Sultan Abu Zaid Malikh ad Dhahir

Sekurang-kurangnya terdapat tiga jenis mata uang yang terdapat di Samudra Pasai yaitu mata uang emas yang disebut Dirham/Deureuham, mata uang perak, dan mata uang timah (Tanil).

Akhir Samudra Pasai

Diberitakan telah terjadi beberapa pertikaian di Samudra Pasai yang salah satunya merupakan mengakibatkan terjadinya perang saudara. Naskah Sulalatus Salatin menceritakan bahwa Sultan Pasai kemudian meminta bantuan kepada Penguasa Malaka untuk meredam pemberontakan tersebut.

Pasai kehilangan kekuasaan perdagangan atas Selat Malaka pada pertengahah abad ke-15 Masehi, dan dikacauakan Portugis pada tahun 1511-1520 Masehi. Akhirnya kerajaan ini dihisap kesultanan Aceh pada tahun 1520an. Warisan peradaban Islam Samudra Pasai kemudian diteruskan dan dikembangakan di Aceh.