: Saifuddin Dhuhri

Mukadimah

Sejarah Samudra Pasai dapat disimpulkan dari telaah perpustakaan dan penelitian – penelitian sebelumnya. Sumber-sumber sejarah peradaban Kerajaan Samudra Pasai terbatas pada buku Hikayat Raja Pasee, cerita Marcopolo, cerita Ibnu Batutah, serta cerita-cerita rakyat.

Legenda Hikayat Raja-raja Pasai
Hikayat Raja-raja Pasai adalah sebuah manuskrip yang disalin dari manuskrip Kiai Suradimanggala, Bupati Sepuh di Demak pada tahun Saka 1742 bertepatan dengan 1814 Masehi.

Informasi tentang kerajaan Samudra Pasai dalam Hikayat Raja-raja Pasai (Kronika Pasai), seperti penamaan Pasee dari kata “anjing”, menunjukkan ketidakilmiahan sumber ini dan bahkan mencurigakan asal usul naskah Hikayat Raja-raja Pasai (HRP) tersebut. Kesimpulannya adalah Hikayat Raja-raja Pasai tidak lepas dari niat busuk terpendam dari pengarangnya. Sebab andai pun itu nama kerajaan sebelum Meurah Silu memeluk Islam, sungguh Meurah Silu—yang kemudian bertukar nama menjadi Makussaleh (Al-Malik Ash-Shalih) dan bermazhab Syafi’i serta tahu betul hukum mengenai anjing dalam mazhab Syafi’i—akan menukar nama Pasai itu menjadi yang lain, daripada mempertahankan nama anjingnya menjadi nama sebuah kerajaan Islam terbesar di Asia Tenggara.

Begitu pula halnya dengan nama Samudra. Di sini nampak kembali ketidakbenaran apa yang disebutkan dalam HRP bahwa Samudra berarti “semut besar”. Dalam kisahnya diriwayatkan bahwa Meurah Silu atau Malikussaleh memakan semut besar sementara ia sudah memeluk Islam, dan diketahui bahwa dalam syariat Islam, terutama dalam mazhab Asy-Syafi’i semut haram dimakan. Penamaan daerah atau kerajaan dengan sesuatu yang berkaitan dengan perilaku buruk rajanya adalah suatu yang ganjil dan nyata sekali mengada-ada untuk suatu maksud terpendam. Bahkan penamaan Pasee dari “anjing” dan Samudra dari semut adalah sesuatu yang kontradiksi dengan lakab beliua sebagai raja yang saleh, ”Malikussaleh”.

Demikian juga, masuk Islam ke Samudra Pasai dalam gambaran Hikayat Raja-raja Pasai sama dikembangkan oleh Snouck Hurgronje, bahwa Islam datang secara seketika setelah berabad-abad berkembang di Arab, dan dibawa masuk dari India. Versi Snouck yang sama digambarkan dalam Hikayat Raja-raja Pasai meragukan anggapan dasar penulis Hikayat Raja-raja Pasai tentang Islam itu sendiri, sehingga gambaran yang diberikan lebih negatif, kontradiktif, dan selalu tidak konsisten sehingga dengan sangat mudah menangkap anggapan dasar negatif terhadap Islam itu sendiri.

Menurut penilaian kami manuskrip ini tidak bisa dijadikan sumber dalam penulisan sejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai dikarenakan beberapa alasan, yaitu:

1) Manuskrip ini hanyalah cerita dongeng (fiksional) yang mengambil latar belakang (tokoh dan tempat) yang benar-benar ada. Di satu sisi ia tidak lebih dari sebuah karya semacam Alfu Lailah Wa Lailah (Cerita Seribu Satu Malam yang mengambil latar belakang Baghdad dan tokoh-tokohnya). Sisi yang berbeda hanya HRP menampakkan secara menonjol suatu niat busuk yang terpendam dalam batin si pengarangnya.

2) Ketidakjelasan siapa pengarang dan bagaimana jalan cerita itu diterima secara akurat oleh si pengarangnya (manhaj tahdits). Hal ini menyebabkan Hikayat Raja-raja Pasai tidak memiliki potensi ilmiah untuk menjadi sumber sejarah, apalagi sejarah sebuah kerajaan yang diyakini menjadi pusat penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara.

Perjalanan Marco Polo yang Singgah di Sumatra pada 1292
Sementara Perjalanan Marco Polo (1254-1325) adalah suatu kisah yang ditulis tentang lawatan keluarga Polo dari Eropa ke Timur Jauh dan menjadi pelayan di istana Kubilai Khan, putra penakluk besar Jengis Khan. Marco Polo adalah putra dari Nicolo, salah seorang dari dua bersaudara (Nicolo & Maffio Polo). Polo bersaudara ini adalah dua saudagar dari Vinesia. Setelah bertemu dengan Kaisar Kubilai Khan, keduanya banyak bercerita tentang Eropa dan agama Kristen kepada Kubilai Khan dan keduanya kemudian menjadi utusan Kubilai Khan untuk membawa suratnya kepada Pope (Paus) di Roma. Posisi kedua bersaudara ini dalam hubungan mereka dengan kekaisaran Mongol diteruskan oleh Marco.

Pengambaran Marco Polo terhadap kawasan Samudra Pasai ketika singgah dalam perjalanannya ke Persia untuk mengantarkan putri Tiongkok untuk dikawinkan dengan penguasa Persia waktu itu menurut hemat kami sama sekali tidak dapat diterima karena beberapa alasan, yaitu:

1) Melihat dari latar belakang keluarganya, mereka adalah keluarga yang membawa misi misionaris Kristen. Dari itu tentu saja Marco Polo memandang sinis terhadap suatu kerajaan Islam besar di Asia Tenggara yang merupakan lawan dari misinya.

2) Seperti diketahui bahwa masa Marco Polo hidup tidak jauh dari masa Shalahuddin Al-Aiyyubi dan Dinasti Al-Aiyyubiyah yang berhasil mengusir tentara Salib Eropa. Jelas saja ia memendam rasa sakit hati dan dendam kesumat terhadap negeri-negeri Islam—jika bukan karena terpaksa sungguh ia tidak mau singgah di Kerajaan Islam Samudra Pasai.

Menyangkut hal ini, keluarga Polo boleh jadi dalam suatu negoisasi untuk menggalang persekutuan dengan Mongol untuk menghancurkan negeri-negeri Islam. Sebab tidak lama, setelah Turan Syah, pemerintah terakhir dari Dinasti Al-Aiyubiyyah berhasil mengusir Tentara Salib dari Dimyat, bala tentara Tentara Tatar, yang tunduk di bawah kekuasaan Kaisar Mongol menyerang Mesir. Tapi mereka berhasil dikalahkan oleh bala tentara Muslim yang dipimpin oleh Al-Malik Al-Mudhaffar Quthuz dan Adh-Dhahir Baibras—keduanya sezaman dengan Al-Malik Ash-Shalih dari Samudra Pasai—di ‘Ain Jalut.

3) Di sisi lain, masyarakat Muslim di kawasan Samudra Pasai juga tidak mau terbuka dan membeberkan informasi begitu saja tentang negeri mereka kepada seorang yang berlainan akidah. Apalagi saat itu Islam sedang mengalami perseteruan yang sengit dengan Eropa. Bahkan sangat boleh jadi bahwa informasi yang diberikan oleh penduduk Samudra Pasai tentang kawasan-kawasan pedalaman di Aceh kepada Marco Polo dimaksudkan untuk menakut-nakutinya, seperti di sana masih ada manusia primitif dan makan manusia sehingga tidak dimasuki oleh orang berlainan akidah itu.

Maka dari itu perjalanan Marco Polo tidak dapat dijadikan referensi ilmiah dalam menulis Kerajaan Islam Samudra Pasai karena tidak dapat dijamin objektifitasnya, bahkan pandangan sinisnya terhadap Samudra Pasai bangkit dari suatu kedengkian yang mendalam kepada negeri-negeri Islam.

Perjalan Ibnu Batutah
Ibnu Batutah, musafir Islam terkenal asal Maroko, memberi informasi yang sangat beharga tentang Kerajaan Samudera Pasai. Namun disayangkan, catatannya sangat singkat, sesuai dengan kunjungannya yang singkat pula ke kerajaan Malikussaleh. Ia mencatat hal yang sangat berkesan bagi dirinya saat mengunjungi sebuah kerajaan di pesisir pantai timur Sumatra sekitar 1345 Masehi. Setelah berlayar selama 25 hari dari Barhnakar (sekarang masuk wilayah Myanmar), Ibnu Batutah mendarat di sebuah tempat yang sangat subur. Perdagangan di daerah itu sangat maju, ditandai dengan penggunaan mata uang emas. Ia semakin takjub karena ketika turun ke kota, mendapati sebuah kota besar yang sangat indah dengan dikelilingi dinding dan menara kayu.

Kota perdagangan di pesisir itu adalah ibu kota Kerajaan Samudra Pasai. Samudra Pasai (atau Pase jika mengikuti sebutan masyarakat setempat) bukan hanya tercatat sebagai kerajaan yang sangat berpengaruh dalam pengembangan Islam di Nusantara. Pada masa pemerintahan Sultan Malikul Dhahir, Samudra Pasai berkembang menjadi pusat perdagangan internasional. Pelabuhannya diramaikan oleh pedagang-pedagang dari Asia, Afrika, Cina, dan Eropa.

Kejayaan Samudra Pasai yang berada di daerah Samudra Geudong, Aceh Utara, diawali dengan penyatuan sejumlah kerajaan kecil di daerah Peureulak, seperti Rimba Jreum dan Seumerlang. Sultan Malikussaleh salah seorang keturunan kerajaan itu yang menaklukkan beberapa kerajaan kecil dan mendirikan Kerajaan Samudra pada 1270 Masehi.

Dalam kisah perjalanannya ke Pasai, Ibnu Batutah menggambarkan Sultan Malikul Dhahir sebagai raja yang sangat saleh, pemurah, rendah hati, dan mempunyai perhatian kepada fakir miskin. Meski telah menaklukkan banyak kerajaan, Malikul Dhahir tidak pernah bersikap sewenang-wenang. Kerendahan hatinya itu ditunjukkan sang raja saat menyambut rombongan Ibnu Batutah. Para tamunya dipersilakan duduk di atas hamparan kain, sedangkan ia langsung duduk di tanah tanpa beralas apa-apa.

Dengan cermin pribadinya yang begitu rendah hati, raja yang memerintah Samudra Pasai dalam kurun waktu 1297-1326 ini, pada batu nisannya dipahat sebuah syair dalam bahasa Arab, yang artinya: “Ini adalah makam yang mulia Malikul Dhahir, cahaya dunia sinar agama.”

Tercatat, selama abad 13 sampai awal abad 16, Samudra Pasai dikenal sebagai salah satu kota di wilayah Selat Malaka dengan bandar pelabuhan yang sangat sibuk. Bersamaan dengan Pidie, Pasai menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama.

Saat itu Pasai diperkirakan mengekspor lada sekitar 8.000-10.000 bahara setiap tahunnya, selain komoditas lain seperti sutra, kapur barus, dan emas yang didatangkan dari daerah pedalaman. Bukan hanya perdagangan ekspor impor yang maju, sebagai bandar dagang yang maju, Samudra Pasai mengeluarkan mata uang sebagai alat pembayaran. Salah satunya yang terbuat dari emas dikenal sebagai uang dirham.

Hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Pulau Jawa juga terjalin. Produksi beras dari Jawa ditukar dengan lada. Pedagang-pedagang Jawa mendapat kedudukan yang istimewa di pelabuhan Samudra Pasai. Mereka dibebaskan dari pembayaran cukai. Selain sebagai pusat perdagangan, Pasai juga menjadi pusat perkembangan Islam di Nusantara. Kebanyakan mubalig Islam yang datang ke Jawa dan daerah lain berasal dari Pasai.

Eratnya pengaruh Kerajaan Samudra Pasai dengan perkembangan Islam di Jawa juga terlihat dari sejarah dan latar belakang para Wali Songo. Sunan Kalijaga memperistri anak Maulana Ishak, Sultan Pasai. Sunan Gunung Jati alias Fatahillah yang gigih melawan penjajahan Portugis, lahir dan besar di Pasai. Laksamana Cheng Ho tercatat juga pernah berkunjung ke Pasai.

Epigrafis pada Nisan Al-Malik Ash-Shalih
Apabila kedua sumber (Hikayat Raja-raja Pasee dan Perjalanan Marco Polo) ini dalam hemat penulis tidak dapat digunakan sebagai sumber yang menjamin kebenaran penulisan sejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai. Maka hanya ada satu sumber lain yang menurut hemat kami itulah satu-satunya sumber akurat dan tepercaya, dan dapat menjadi ukuran/patron bagi berbagai keterangan yang terdapat dalam Hikayat Raja-raja Pasee dan Perjalanan Marco Polo, yaitu artefak yang ada pada batu nisan raja-raja. Pemuka agama dan tokoh-tokoh yang bertebaran di wilayah kekuasaan dan pengaruh Samudra Pasai pada masanya.

Samudra Pasai di Era Modern
Sejarah Pasai yang begitu panjang masih bisa ditelusuri lewat sejumlah situs makam para pendiri kerajaan dan keturunannya, pemuka agama, dan tokoh penyiar Islam di makam-makam peninggalan mereka. Makam-makam itu menjadi saksi satu-satunya karena peninggalan lain sudah tidak dapat dilacak lagi dengan sempurna. Makam Sultan Malikussaleh dan cucunya, Ratu Nahrisyah, adalah dua kompleks situs yang tergolong masih terawat.

Makam Sultan Malikussaleh berada di mulut pintu masuk ke cagar budaya Samudra Pasai. Sekitar setengah kilometer dari makam itu ada lokasi yang dulunya istana Kerajaan Pasai. Sayang sekali, wujud fisik bangunan yang berada persis di bibir pantai Lhokseumawe, Aceh Utara, itu tak lagi bisa dinikmati.

Kawasan itu sudah beralih fungsi menjadi lahan pertambakan. Bekas-bekas fondasi dari batu bata merah masih terlihat di atas tanah tempat berdirinya kerajaan. Di atas tanah seluas lebih dari lima hektar itu, kebesaran kerajaan masih sangat terasa. Di lokasi itu juga terdapat makam Peut Ploh Peut (44), ulama yang meninggal karena dieksekusi Raja Bakoi, salah satu raja di Pasai. Raja menganggap ke-44 ulama itu sebagai lawan politiknya dan memerintahkan agar mereka dibunuh. Akibat tindakannya yang sewenang-wenang, rakyat menjuluki dia Raja Bakoi, yang menurut masyarakat setempat berarti “pelit”.

Makam Ratu Nahrisyah merupakan makam yang mengesankan. Makam sang ratu dan suaminya terbuat dari marmer dengan ukiran bermotif flora. Marmer-marmer mewah bewarna coklat susu itu didatangkan khusus dari Gujarat untuk menghias tempat peristirahatan terakhir sang ratu. Makam ini bisa dibongkar pasang, seperti lembaran papan yang bisa disusun ulang.

Situs makam keluarga istana Kerajaan Samudra Pasai dipercayai hanya terletak di komplek tersebut, di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudra Geudong, sekitar 20 km dari Lhokseumawe, ibukota Aceh Utara. Beberapa kuburan raja-raja dan ratu terletak di sana, tetapi Kerajaan Samudra Pasai sebagai sebuah peradaban yang agung dan merupakan salah satu kerajaan yang berjasa membangun peradaban Islam pertama di Asia Tenggara, bukti-bukti peradabannya tersebar di seluruh kawasan kekuasaan dan pengaruhnya di Aceh, Indonesia, dan Asia tenggara.

Meski pun secara umum peninggalan-peninggalan peradaban Samudra Pasai tidak dapat dilacak lagi dengan mudah, apalagi dapat dibuktikan dengan otentik, namun tulisan-tulisan kaligrafi di artefak-artefak nisan-nisan kuburan peninggalan para raja-raja, pemuka agama, pemuka-pemuka kerajaan, dan orang-orang penting kerajaan menjadi bukti yang tak dapat terbantahkan sebagai sumber informasi akurat tentang peradaban Samudra Pasai pada masanya.

Hasil telaah kami, penelitian-penelitian sebelumnya tentang Samudra Pasai belum pernah dilakukan dengan pendekatan pembacaan kaligrafi Arab yang ada di batu-batu nisan peninggalan para pemuka kerajaan dan ulama serta tokoh masyarakat Kerajaan Samudra Pasai. Hal ini menjadi sangat wajar karena situasi politik dan konflik yang tidak kunjung berhenti sebelumnya, menghambat penelitian ini karena alasan keamanan. Apalagi dengan letak batu-batu nisan ini yang tersebar di hutan belantara dan pengunungan yang berjauh sekali dengan kota sehingga selain membutuhkan keamanan yang ekstra juga membutuhkan waktu, ketabahan penelti, dan kesabaran dalam menjelajahi menemukan kuburan yang bertebaran di hampir seluruh wilayah pesisir di Aceh.

Hasil penelitian awal yang telah kami lakukan berbulan-berbulan, menunjukkan umumnya batu-batu nisan itu mempunyai corak yang sama, lambang kerajaan yang sama dan tulisan-tulisan kaligrafi Tsuslust, Tsulustain, Diawani, Nasakh, dan Kufi yang saling behubungan sebagai sebuah informasi tentang jiwa dan badan peradaban Samudra Pasai. Semua artefak ini menjadi saksi sejarah yang sangat otentik, namun disayangkan batu-batu ini menjadi terbengkalai karena tidak ada kepedulian, dilanda tsunami, larut dimakan masa, dan sebagian lainnya menjadi objek penjualan ke luar negeri untuk mendapatkan imbalan uang.