Prasasti merupakan wujud budaya materi ciptaan manusia yang didalamnya mengandung ide dan gagasan manusia pada masanya. Hubungan antara prasasti sebagai budaya materi dengan ide beserta gagasan sebagai budaya nonmateri akan menghadirkan prasasti sebagai artefak yang mempunyai makna dan telah dihayati bersama oleh suatu kelompok sosial, komunitas masyarakat, serta dianggap telah menyatu dengan lingkungan biofisik dan lingkungan sosialnya (Kartakusuma, 1998:1).

Informasi yang tertulis dalam prasasti (sebagai sarana) adalah berupa bahasa (sebagai prasarana), yang merupakan salah satu wujud dari tujuh unsur kebudayaan universal. Melalui prasasti—salah satunya—bahasa berperan sebagai perekam kebudayaan sekaligus produk kebudayaan (Parera, 1991: 9).

Prasasti dalam kaitannya sebagai sumber sejarah merupakan sumber primer yang digunakan para arkeolog maupun sejarawan sebagai sumber untuk menjelaskan dan menggambarkan kehidupan masa lalu. Penemuan prasasti pada sejumlah situs arkeologi di Indonesia, dikatakan sebagai garis tegas berakhirnya zaman prasejarah. Dengan kata lain, prasasti merupakan babak baru dalam sejarah kuno Indonesia dari periode belum mengenal tulisan, menuju zaman sejarah di mana masyarakatnya sudah mengenal tulisan.

Dalam periode sejarah kuno Indonesia, prasasti adalah salah satu hasil budaya manusia masa klasik yang bersifat moveable di samping tinggalan-tinggalan yang bersifat unmoveable berupa bangunan-bangunan candi dan petirtaan. Keberadaan prasasti secara makro tidak dapat dilepaskan dari wujud kebudayaan lain, seperti wujud nilai, wujud sistem perilaku, dan wujud kebudayaan materi.

Di antara berbagai sumber sejarah kuno Indonesia, seperti naskah dan berita asing, prasasti dianggap sumber terpenting karena mampu memberikan kronologis suatu peristiwa. Ada banyak hal yang membuat suatu prasasti sangat menguntungkan dunia penelitian masa lampau. Selain mengandung unsur penanggalan, prasasti juga mengungkap sejumlah nama dan alasan mengapa prasasti tersebut dikeluarkan.

Kata prasasti berasal dari bahasa Sansekerta. Arti sebenarnya adalah “pujian”, namun kemudian dianggap sebagai “piagam, maklumat, surat keputusan, undang-undang, atau tulisan”. Di kalangan ilmuwan, prasasti disebut “inskripsi”, sementara di kalangan orang awam disebut “batu bertulis” atau “batu bersurat”.

Pengertian prasasti yang merujuk pada sumber sejarah yang ditulis di atas batu atau logam, kebanyakan dibuat atas perintah penguasa suatu daerah. Umumnya prasasti tersebut menjadi tanda untuk memperingati sebuah kejadian di masa lalu. Dalam pengertian umum dapat diartikan sebagai peninggalan masa sebelumnya berupa tulisan yang ditorehkan/dituliskan di atas permukaan benda kasar terutama batu sebagai medianya. Meski begitu, prasasti bukan sekadar batu, tetapi juga batu yang bisa bersuara. Kenapa demikian? Hal ini dikarenakan prasasti memuat informasi tertulis. Biasanya prasasti-prasasti itu merupakan peringatan-peringatan yang dibuat oleh para raja untuk daerah kekuasaannya, selain berisi tentang silsilah atau sistem ketatanegaraan suatu kerajaan. Prasasti merupakan bukti otentik tentang adanya suatu kerajaan.

Meski berarti “pujian”, tidak semua prasasti mengandung puji-pujian (kepada raja). Sebagian besar prasasti diketahui memuat keputusan mengenai penetapan sebuah desa atau daerah menjadi sima atau daerah perdikan. Sima adalah tanah yang diberikan oleh raja atau penguasa kepada  masyarakat yang dianggap berjasa. Karena itu keberadaan tanah sima dilindungi oleh kerajaan.

Menurut Noerhadi, prasasti dapat menceritakan mengenai kehidupan masyarakat, misalnya tentang administrasi dan birokrasi pemerintahan, kehidupan ekonomi, pelaksanaan hukum dan keadilan, sistem pembagian bekerja, perdagangan, agama, kesenian, maupun adat istiadat. Isi lainnya berupa keputusan pengadilan tentang perkara perdata (disebut prasasti jayapatra atau jayasong), sebagai tanda kemenangan (jayacikna), tentang utang-piutang (suddhapatra), dan tentang kutukan atau sumpah. Prasasti tentang kutukan atau sumpah hampir semuanya ditulis pada masa Kerajaan Sriwijaya. Ada pula prasasti yang berisi tentang genealogi raja atau asal usul suatu tokoh.

Bahan yang digunakan untuk menuliskan biasanya berupa batu atau lempengan logam, daun dan kertas. Selain andesit, batu yang digunakan adalah batu kapur, pualam, dan basalt. Dalam arkeologi, prasasti batu disebut upala prasasti. Prasasti logam yang umumnya terbuat dari tembaga dan perunggu, biasa disebut tamra prasasti. Hanya sedikit sekali prasasti yang berbahan lembaran perak dan emas. Ada pula yang disebut ripta prasasti, yakni prasasti yang ditulis di atas lontar atau daun tal. Beberapa prasasti ada yang berbahan tanah liat atau tablet. Isi tablet adalah mantra-mantra agama Buddha.

Ada beberapa istilah lain untuk prasasti. Dalam bahasa Latin, prasasti disebut inskripsi. Di Malaysia, istilah yang sering dipakai adalah “batu bersurat” atau “batu bertulis”. Meski maknanya lebih mudah ditangkap, tetapi pengertiannya lebih sempit daripada “prasasti”, karena tidak semua prasasti disuratkan di bebatuan. Namun, di masa lalu, Indonesia pun sering memakai istilah “batu bertulis”, misalkan dalam kasus Prasasti Batutulis di Bogor, sampai namanya dipakai menjadi nama sebuah perkampungan. Dalam pengertian yang berkembang dewasa ini di Indonesia, prasasti sering dikaitkan dengan tulisan di batu nisan atau di gedung.

Prasasti di Nusantara

Prasasti menempati posisi sebagai artefak—sebagai benda ciptaan manusia yang  berkebudayaan—sekaligus sebagai tinggalan tertulis yang memuat bahasa beserta maknanya yang telah membeku  dalam wujud fisik prasasti. Tulisan merupakan sistem komunikasi antarmanusia dengan perantara  tandatanda yang dilihat dan dipahami oleh pemakainya (Gelb, 1963: 12).

Sampai kini yang tertua di Indonesia teridentifikasi berasal dari abad ke-5 Masehi, yaitu prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai, Kalimantan Timur. Prasasti tersebut berisi mengenai hubungan genealogi pada masa pemerintahan Raja Mulawarman. Yupa merupakan prasasti batu yang ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Periode terbanyak pengeluaran prasasti terjadi pada abad ke-8 hingga ke-14. Pada saat itu aksara yang banyak digunakan adalah Pallawa, Pranagari, Sansekerta, Jawa Kuno, Melayu Kuno, Sunda Kuno, dan Bali Kuno. Bahasa yang digunakan juga bervariasi dan umumnya adalah bahasa Sansekerta, Jawa Kuno, Sunda Kuno, dan Bali Kuno.

Pada zaman kerajaan Islam, prasasti menggunakan aksara dan bahasa Arab atau aksara Arab berbahasa Melayu (aksara Pegon). Sebagian besar prasasti terdapat pada lempengan-lempengan tembaga bersurat, makam, masjid, hiasan dinding, baik di masjid maupun di rumah para bangsawan, pada cincin cap dan cap kerajaan, mata uang, meriam, dll. Pada masa yang lebih muda yaitu masa kolonial, aksara Latin banyak digunakan, meliputi bahasa-bahasa Inggris, Portugis, dan Belanda. Prasasti Latin umumnya terdapat pada gereja-gereja, rumah dinas para pejabat, kolonial, benteng-benteng, tugu peringatan, meriam, mata uang, cap, dan makam. Prasasti beraksara dan berbahasa Cina juga dikenal di Indonesia yang tersebar antara masa klasik sampai masa Islam. Prasasti tersebut terdapat pada mata uang, benda-benda porselin, gong perunggu, dan batu-batu kubur yang biasanya terbuat dari batuan pualam.

Bahasa yang Digunakan

Beberapa prasasti di Indonesia dapat diklasifikasikan ke dalam klasifikasi bahasa yang digunakan, di antaranya:

Berbahasa Sansekerta

•  Mulawarman, Kutai, 400

•  Tarumanagara, Ciaruteun Jawa Barat, 389

•  Tukmas, Dakawu, Grabag, Magelang, Jawa Tengah.

•  Canggal, Candi Gunung Wukir, Desa Kadiluwih, Salam, Magelang, Jawa Tengah, 732

•  Tri Tepusan, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, 842

•  Mula Malurung, Kediri, 1255

Berbahasa Melayu (Melayu Kuno maupun Melayu Klasik/Pertengahan).

•    Kedukan Bukit, Palembang, Sumatra Selatan, 16 Juni 682

•    PTalang Tuwo, Palembang, Sumatra Selatan, 23 Maret 684

•    Kota Kapur, Kota Kapur, Bangka, 686

•    Karang Brahi, Karangberahi, Jambi, abad ke-7

•    Telaga Batu, Palembang, Sumatra Selatan, abad ke-7

•    Palas Pasemah, Palas,Lampung, abad ke-7

•    Hujung Langit, Hujung Langit, Lampung

•    Sojomerto, Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Batang, Jawa Tengah[1]

•    Kayumwungan, Karangtengah, Temanggung, Jawa Tengah, 824 (dwibahasa, Melayu Kuno dan Jawa Kuno)

•    Gandasuli I dan II, Candi Gondosuli, Desa Gondosuli, Kecamatan Bulu, Temanggung, Jawa Tengah, 832 [2]

•    Keping Tembaga Laguna, Manila, Filipina, 900

•    Bukateja, Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah

•    Dewa Drabya, Dieng, Jawa Tengah

•    Mañjuçrighra, Candi Sewu, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, 2 November 792 M

•    Terengganu, Trengganu, Malaysia, abad ke-14, yaitu 1303, 1326, atau 1386

•    Prasasti Minye Tujuh, Minye Tujuh, Aceh, 1380

Berbahasa Jawa (Jawa Kuno/Kaw) maupun Baru)

•   Sukabumi, Sukabumi, Pare, Kediri, Jawa Timur, 25 Maret 804

•   Kayumwungan, Karangtengah, Temanggung, Jawa Tengah (dwibahasa), 824

•   Siwagrha (Prasasti kakawin tertua Jawa), 856

•   Taji, 901

•   Mantyasih, Desa Meteseh, Magelang Utara, Jawa Tengah, 11 April 907

•   Rukam, 907

•   Wanua Tengah III, 908

•   Mula Malurung, Kadiri, 1255[3]

•   Sarwadharma, pemerintahan Kertanegara, 1269

•   Sapi Kerep, Desa Sapi Kerep, Sukapura, Probolinggo, 1275[3]

•   Singhasari 1351, Singasari, Malang, Jawa Timur, 1351

•   Wurudu Kidul, tanpa tahun.

•   Ngadoman, Ngadoman (Salatiga), Jawa Tengah, 1450

•   Prasasti Pakubuwana X, Surakarta, Jawa Tengah, 1938

Berbahasa Bali

•   Blanjong, Bali, 913

•   Bebetin, Bali, 1049 (salinan dari asli yang berasal dari tahun 896)

Berbahasa Sunda

•  Astana Gede, Kawali, Ciamis, Jawa Barat, 1350

•  Batutulis, Bogor, 1533

•  Kebantenan, Bekasi, Jawa Barat, 1521

•  Galuh, Galuh, Ciamis, Jawa Barat, 1470

•  Rumatak, Geger Hanjuang, Desa Rawagirang, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat,  1111

•  Cikajang, Cikajang, Garut, Jawa Barat

•  Hulu Dayeuh, Huludayeuh, Desa Cikalahang, Cirebon, Jawa Barat

•  Ulubelu, Lampung (tersedia [online] http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Prasasti_Nusantara)

 

Sumber Rujukan:

Gelb, I.J. 1963. A Study of Writing. Chicago: The University of Chicago Press.

Kartakusuma, Richadiana. 1998. “Persebaran Prasasti Berbahasa Melayu Kuna di Pulau Jawa”, makalah dalam EHPA 16 – 20 Februari, Cipayung.

Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.

Parera, Jos Daniel. 1991. Kajian Linguistik Umum, Historis Komparatif dan Tipologi Struktural. Jakarta: Erlangga.

______, Daftar Prasasti Nusantara, [Online] http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Prasasti_Nusantara tanggal 27 Mei 2009.

______, Prasasti [Online] http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti tanggal 27 Mei 2009.

Drs.Lucas Partanda Koestoro, DEA. Arkeologi Medan. http://balarmedan.wordpress.com/ tanggal 27 Mei 2009.

Surti Nastiti.  Titi Prasasti Majapahit [Online] http://www.majapahit kingdom.com/cms/index.php?option=com_content&task=view&id=10&Itemid=10 tanggal 27 Mei 2009.

Admanegarayudi. 2009. Prasasti [Online] http://arifyudisejarah2006.wordpress.com/ tanggal 27 Mei 2009.