Pada masa awal bercocok tanam manusia pada masa itu sudah mengenal dan mengenakan perhiasan seperti gelang dari batu dan juga perhiasan dari kulit kerang. Perhiasan pada zaman prasejarah itu diketemukan di Jawa Barat, Jawa Tengah dan daerah lainnya. Berdasarkan hasil temuan dan peneliatn para arkeolog, kita dapat mengetahui bagaimana bentuk bahkan bisa sampai mendeskripsikan cara pembuatan perhiasan zaman prasejarah tersebut.

Manusia dalam kehidupannya tidak terlepas dari yang namanya keindahan. Pehiasan merupakan salah satu benda yang dipergunakan untuk menghias atau memperindah tubuh manusia. Dari beberapa temuan yang ada dapat kita ketahui sedikit cara pembuatan benda-benda itu. Untuk membuat gelang ini, pertama-tama bahan batu dipukul-pukul sehingga diperoleh bentuk bulatan gepeng. Permukaan bawah dan alas yang rata kemudian di-cekung-kan dan bertemu menjadi sebuah lubang. Dengan cara menggosok dan mengasah, diperoleh gelang yang dikehendaki.

“Perhiasan Masa Neolitik, 4500 SM”. Foto oleh Vassil

“Perhiasan Masa Neolitik, 4500 SM”. Foto oleh Vassil

Perhiasan Kerang Blombo. Foto oleh Marian Vanhaeren

Perhiasan Kerang Blombo. Foto oleh Marian Vanhaeren

Pengupaman (upam/mengupam: mengilapkan; menggosok; menjadikan berkilat) lebih lanjut dari sisi-sisi gelang dengan batu asah. Alat pengupamnya berbentuk lonjong meruncing dibuat dari batuan fosil kayu. Pembuatan gelang seperti ini terbukti dari temuan-temuan di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang menunjukkan tahap-tahap pengerjaannya. Laporan dari Tasikmalaya memberikan keterangan bahwa bahan gelang itu terdiri atas batu pilihan seperti agat, kalsedon, dan jaspis bewarna putih, kuning, coklat, merah, dan hijau.

Setelah dilakukan penelitian yang lebih mendalam tentang gelang hasil penemuan dari zaman prasejarah, diperoleh keterangan bermacam-macam ukuran, yang bergaris tengah antara 24-54 mm dengan tebal 6-17 mm.

“Perhiasan perunggu”. Foto oleh Didier Descouens

“Perhiasan perunggu”. Foto oleh Didier Descouens

Dilihat dari ukuran tersebut, dugaan tentang kemungkinan adanya ukuran yang lebih kecil. Dipergunakan sebagai benda zimat yang mengandung kekuatan magis atau bisa digunakan sebagai anting-anting. Daerah lain di Jawa Barat yang berhasil ditemukan perhiasan adalah Cirebon Timur dan Bandung bagian barat. Temuan dari tempat-tempat ini hanya berupa gelang-gelang yang sudah jadi.

Koenigswald melakukan penelitian di Surakarta tentang gelang-gelang dari kulit kerang. Bersama-sama dengan sejumlah temuan lain seperti manik-manik dari kulit kerang dan beliung-beliung persegi. Untuk mengetahui bagaimana cara pembuatannya kita bisa membandingkannya dengan kerajinan tradisional yang sama pada masa sekarang.

Studi perbandingan ini akan menghasilkan gambaran mengenai kehidupan pada masa lalu, walau itu memang bukan representasi dari yang sebenarnya. Sebagai contoh, pembuatan gelang dari kulit kerang yang ditemukan di Surakarta diperkirakan dengan mengurdi seperti yang dikenal di Luzon Utara sekarang.

“Kalung dari masa Neolitik”. Foto oleh Rama

“Kalung dari masa Neolitik”. Foto oleh Rama

Bahan kulit kerang yang digunakan ternyata tidak semua kulit kerang bisa digunakan. Jenis kulit kerang yang banyak digunakan adalah jenis Tridacna, digurdi dengan gurdi bambu dari kedua belah permukaan. Gurdi itu diputar dengan bantuan seutas tali di bagian yang terlebih dahulu diberi air dan pasir.

Gurdi: adalah bor kecil untuk membuat lubang pada kayu, sarung keris, dsb. Mengurdi: adalah mengebor (melubangi) dengan gurdi. Cara menggurdi ini juga dipergunakan untuk mengerjakan gelang-gelang batu yang ditemukan di Malaysia dan Thailand seperti yang di paparkan oleh M.W.F. Tweedie.

Tempat-tempat penemuan gelang perhiasan prasejarah di wilayah Indonesia adalah Limbasari, Kabupaten Purbalingga. Selain di Indonesia, gelang-gelang juga ditemukan di Szechwan, Fongtien, Siberia, Jepang, Korea, Jehor, Chahor, Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Honan, Pulau Lamma, dan Taiwan.

Perhiasan Siris dan Herakleia, Magna Graecia

Perhiasan Siris dan Herakleia, Magna Graecia