Nekara adalah salah satu hasil kebudayaan pada masa Perundagian. Periode perundagian sering disamakan dengan zaman ketika manusia telah melakukan pengolahan logam, yaitu sekitar 6.000-3.000 tahun yang lalu. Nekara bentuknya seperti genderang dengan sisi bagian atas tertutup, mempunyai telinga atau bagian pegangan dan memiliki pinggang di bagian tengah. Secara proporsional, bentuk nekara terbagi ke dalam tiga bagian; bagian atas, bagian tengah atau bagian pinggang dan bagian bawah atau kaki.

Istilah untuk menyebut nekara berbeda-beda tergantung kepada bahasa dan wilayah tempat nekara itu diketemukan. Nama lokal untuk nekara di Bali adalah bulan dan sasih, di Maluku nekara disebut tifa guntur, di wilayah Sangeang (NTB) nekara disebut makalamau. Di Pulau Alor nekara disebut moko, di Pulau Pantar disebut kuang, dan di Kabupaten Flores Timur nekara disebut dengan wulu

Meyer, Foy, dan De Groot menyebut nekara sebagai bronze pauke. Heger menyebutnya metall trommen. Dalam bahasa Belanda disebut ketle trom, dalam bahasa Denmark kedel trommen, dalam bahasa Prancis tambour metallique, dan dalam bahasa Inggris nekara sama dengan kettle drum. Di Jerman nekara disebut dengan nama pauke. Semua istilah dan bahasa tersebut pada umumnya memiliki arti yang sama, yaitu genderang.

“Nekara Pejeng, Bali”. Foto oleh raider of gin

“Nekara Pejeng, Bali”. Foto oleh raider of gin

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, nekara merupakan gendang dari perunggu yang berbentuk seperti dandang berpinggang di bagian tengah dan selaput suaranya berupa logam. Secara proporsional nekara dibagi ke dalam tiga bagian: bagian atas, tengah dan bagian bawah.

  1. Bagian atas terdiri dari bidang pukul dan bahu. Bidang pukul adalah bagian atas yang akan dipukul. Bahu nekara adalah bagian bawah pada bagian pukul. Pegangan atau bagian telinga biasanya terdapat di antara bagian bahu dan bagian tengah.
  2. Bagian tengah juga sering disebut sebagai bagian pinggang.
  3. Bagian bawah atau bagian kaki merupakan bagian nekara yang tidak tertutup.
“Pola hias bunga. Moko Alor (NTT)”. Foto dari Tropenmuseum

“Pola hias bunga. Moko Alor (NTT)”. Foto dari Tropenmuseum

Nekara-nekara itu biasanya terdapat pola hias yang terdiri dari hiasan inti dan pola hiasan pendukung. Pola hias inti adalah bagian yang terbesar, misalnya berupa pola topeng, bunga dan lain-lain. Pola pendukung biasanya adalah pola geometris; garis sejajar horizontal, bentuk lingkaran tangent, lingkaran kecil dengan pola garis miring, garis miring yang terkadang distilir, dan sebagainya.

Teknik Pembuatan

Teknika cire perdue (cetakan lilin). Teknik membuat benda logam dengan terlebih dahulu membuat model benda yang dikehendaki dari bahan lilin atau bahan lainnya yang mudah leleh saat dipanaskan, setelah model yang diinginkan itu terbentuk, model dilapisi dengan tanah liat.

Tanah liat yang digunakan harus memiliki ketahanan terhadap api dan panas yang baik, tanah liat juga dibuat lubang atau corong. Setelah itu tanah liat yang berisi cetakan lilin itu dibakar sehingga lilin yang ada di dalamnya mencair. Selanjutnya melalui corong dimasukkan cairan logam perunggu. Cetakan tanah liat lalu dipecahkan ketika sudah benar-benar dingin.

Teknik bivalve (setangkap). Teknik ini biasanya digunakan untuk benda-benda ang tidak terlalu rumit dari segi bentuknya. Teknik bivale menggunakan dua cetakan yang dapat dibuka tutup, biasanya cetakan dibuat dari batu. Salah satu keuntungan dengan menggunakan teknik ini, cetakan bisa digunakan berulang kali.

Tipe Nekara

“Nekara Bulan Pejeng, Dengan Pola hias Topeng, Gianyar, Bali”. Foto oleh PHGCOM

“Nekara Bulan Pejeng, Dengan Pola hias Topeng, Gianyar, Bali”. Foto oleh PHGCOM

Nekara perunggu yang diketemukan di Indonesia umumnya dapat dikelompokan ke dalam dua tipe; tipe Pejeng dan tipe Heger. Istilah “Pejeng” digunakan berdasarkan nama tempat dimana nekara tipe ini diketemukan yaitu di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, (Gianyar-Bali). Sedangkan untuk istilah “Heger” diambil dari nama seorang peneliti yaitu F. Heger yang pertama kali mengklasifikasikan tipe-tipe dari nekara. Nekara tipe Pejeng merupakan Nekara yang berasal dari Indonesia, sedangkan tipe Heger kerap dianggap sebagai nekara yang mendapat pengaruh dari luar Indonesia.

Dari sisi bentuk kedua nekara itu berbeda. Nekara tipe Pejeng umumnya berbentuk langsing dengan bidang pukulnya yang menjorok ke arah luar dari bagian bahunya. Bagian bahu Nekara tipe Pejeng berbentuk silinder, bentuknya lurus panjang hingga bagian kaki. Sedangkan nekara tipe Heger memiliki bentuk yang tambun dan bagian pukulnya menyatu dengan bagian badan.

Nekara Tipe Pejeng mulai mendapat perhatian ketika G.E. Rumphius menemukan sebuah nekara di Desa Pejeng, Gianyar. Nekara tersebut oleh penduduk setempat disebut sebagai bulan atau sasih karena dianggap sebagai roda pemutar bulan yang jatuh ke bumi.

Nekara tipe Pejeng bisa mencapai ukuran yang sangat besar, tingginya bahkan ada yang mencapai 2 meter dengan lingkar pinggang lebih dari 1,5 meter. Bentuk yang lebih kecil dari Nekara tipe Pejeng diketemukan di Pulau Alor. Penduduk setempat menyebut nekara Alor itu sebagai moko. Sementara di Flores Timur Nekara yang sama disebut wulu, dan Kuang di Pulau Pantar.

Selain di Bali dan Pulau Alor, nekara tipe Pejeng juga banyak diketemukan di wilayah Indonesia lainnya, seperti di Pulau Jawa, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Frores Timur dan wilayah lainnya. Ditemukanya nekara tipe Pejeng di beberapa wilayah itu menandakan adanya pola persebaran dan jalur-jalur lalu lintas budaya sebagai bagian dari kegiatan sosial-ekonomi masyarakat saat itu.

“Nekara Tipe Heger. Dong Son”. Foto oleh PGHCOM

“Nekara Tipe Heger. Dong Son”. Foto oleh PGHCOM

Nekara tipe Heger ditemukan dari penggalian yang dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia dan juga di wilayah lainnya di kawasan Asia Tenggara. Informasi awal tentang keberadaan nekara perunggu ini juga berasal dari G.E. Rumphius dalam bukunya D Amboinsche Rariteitkamer”. Selain menyinggung nekara Pejeng di Bali, Rumphius juga mengemukakan temuan artefak logam lain di Indonesia yang berupa nekara yang berbeda dengan tipe pejeng.

W.O.J. Nieuwenkamp mengatakan bahwa nekara yang ditemukan di Pejeng memang berbeda dengan nekara lainnya yang tersebar di Asia Tenggara, yang juga dikenal dengan nama tipe Heger.

Nekara perunggu tipe Heger ditemukan di Kepulauan Maluku, Pulau Gorom, Pulau Sumatra, Jawa, Lombok, Pulau Songeang, Sumbawa, Pulau Rote, Alor, Pulau Kalimantan, Kepulauan Maluku, Pulau Selayar, dan juga Papua.

Fungsi Nekara dan Kedudukannya

Nekara perunggu tipe Heger sebagai wadah kubur. Palawangan, Rembang (Jawa Tengah)

Nekara perunggu tipe Heger sebagai wadah kubur. Palawangan, Rembang (Jawa Tengah)

Dari semua instrumen yang ada saat ini tidak ada yang memiliki sejarah lebih panjang daripada gendang. Gendang ditemukan di seluruh dunia, di hampir setiap kebudayaan. Dalam beberapa hasil ekskavasi di berbagai wilayah di dunia, gendang ditemukan pada tingkat peradaban neolitikum.

Ide nekara atau peralatan logam sebagai gendang mungkin bagi sebagian orang terdengar aneh. Untuk anda yang menggeluti dunia musik penggunaan logam sebagai gendang, anda pasti akan langsung teringat dengan kettle drum dan juga timpani.

Fungsi nekara sebagai gendang tidak hanya berkaitan dengan musik. Gendang pada masa itu memiliki kaitan yang erat dengan ritual upacara dan asosiasi simbolik. Di sebagian besar Afrika, hingga kini gendang melambangkan kebanggaan suku. Gendang itu dihormati sehingga harus ditempatkan di tempat-tempat yang dianggap suci. Hal yang sama juga terjadi di wilayah Flores Timur nekara itu mereka simpan di bawah atap rumah yang hanya akan diturunkan pada waktu upacara tertentu itu pun dengan ritual dan ke-khidmat-an yang luar biasa. Nekara-nekara itu dianggap sebagai tempat roh nenek moyang tinggal.

Di Pulau Bali nekara-nekara itu mereka tempatkan di pura-pura desa dan kedudukannya dianggap seperti dewa –dalam tingkatan yang berbeda. Nekara itu hanya akan diturunkan pada waktu-waktu tertentu saja dalam upacara-upacara yang dilaksanakan oleh pura yang bersangkutan.

Di Eropa, timpani dikaitkan dengan kebanggaan para bangsawan hingga akhir abad ke-17. Di seluruh Asia Tengah dan Siberia dan di antara beberapa suku asli Amerika dari Amerika Utara, gendang juga erat kaitannya dengan instrumen ritual yang hanya dimainkan pada waktu-waktu tertentu. Hubungan magis ini juga terjadi pada masyarakat Pulau Adonara. Nekara dipercayai memiliki kekuatan magis, nekara itu tidak boleh disentuh sembarang dan jika dilakukan, akan terjadi bencana. Di Pulau Luang, mereka percaya nekara mempunyai kekuatan magis sehingga jika dipukul akan mengakibatkan penyakit bahkan hingga kematian.

Nekara yang dianggap sebagai pusaka desa itu juga dipercaya mampu mendatangkan hujan jika diletakkan secara terbalik. Posisi ini lah yang sering didapati ketika nekara-nekara itu diketemukan dalam upaya-upaya penggalian arkeologi.

Pada beberapa kebudayaan, gendang juga bisa dikatakan sebagai bentuk pertama dari alat komunikasi. mengirim pesan pertemuan, bahaya, dll. Gendang sebagai bagian perlengkapan penting dalam perang bahkan telah lama hadir. Gendang-gendang itu menjadi iringan yang dapat mengobarkan semangat juang para prajurit.

“Moko (Nekara Tipe Pejeng)”. Foto dari Tropenmuseum

“Moko (Nekara Tipe Pejeng)”. Foto dari Tropenmuseum

Penduduk Pulau Alor pada masa lalu bahkan menggunakan nekara (moko) sebagai “alat pembayaran”. Moko dianggap sebagai benda bernilai seni tinggi yang sangat berharga, oleh karenanya hampir semua penduduk berkeinginan untuk memiliki moko. Beberapa pembayaran bahkan dapat dilakukan menggunakan nekara. Nekara di Pulau Alor juga digunakan sebagai mas kawin dalam pernikahan.

Sebagai informasi tambahan, dapat melihat tautan “Berkenalan dengan Gendang di Nusantara” yang menceritakan tentang sejarah dan perkembangan gendang.