Bahaya yang selalu mengancam dari Gunung Merapi, siraman lava dan guyuran debu vulkanik, tidak cukup membuat jera masyarakat yang tinggal di lerengnya. Faktor “keterikatan” dan potensi yang dimiliki Gunung Merapi itu mampu memberi energi untuk tetap tinggal di sana.

Wilayah tersebut telah menjadi tempat hidup mereka—tempat mata pencaharian dan  tempat tinggal—warisan nenek moyang yang telah juga dikarunia “resep” bagaimana memperlakukannya. Mereka tidak berkeinginan meninggalkan tempat tinggalnya walau pun daerah itu tergolong sebagai kawasan rawan “bencana” sehingga kemudian letusan Gunung api merupakan fenomena biasa, tak ubahnya banjir di ibu kota. Terbiasakan dan diwajarkan. Mereka hanya cukup pergi sebentar untuk kemudian kembali lagi setelah semuanya usai.

Kini Gunung Merapi kembali menjadi perbincangan, bukan karena panoramanya yang indah, melainkan karena ia menggeliat lagi, tepatnya: membawa “kesuburan”. Gunung Merapi  yang statusnya kini telah dinaikkan menjadi “awas” dari sebelumnya dan “siaga”, pada masa lalu telah meletus ebih dari 100 kali. Itu pun yang diketahui dari bukti-bukti tertulis yang ada. Akan tetapi, sejak kapan Gunung Merapi mulai meletus belum bisa dipastikan. Baru pada kurun abad ke-9/10 didapati informasi tentang letusan Merapi yang melanda Medang i Bhumi Mataram. Data dasar gunung api Indonesia (1979) menyebutkan bahwa gunung ini pertama kali meletus tahun tahun 1006 M.

“Gunung Merapi”. Foto oleh Bklanting

“Gunung Merapi”. Foto oleh Bklanting

R.W. van Bemmelen dalam bukunya The Geology of Indonesia (1949) menyinggung perihal letusan yang terjadi pada abad ke-11 itu yang mengakibatkan sebagian besar puncak Merapi ikut lenyap, dan menyebabkan pergeseran lapisan tanah ke arah barat-daya sehingga muncul lipatan yang kemudian membentuk Gunung Gendol. Letusan itu kabarnya disertai oleh gempa bumi dan banjir lahar, serta hujan abu terjadi di mana-mana.

Letusan yang hebat kembali terjadi pada tahun 1672. Dalam askah klasik Babad Tanah Jawi diberitakan bahwa akibat letusan itu, langit di atas Kerajaan Mataram Islam menjadi gelap gulita hampir selama 24 jam. Peristiwa itu terjadi pada 4 Agustus 1672.

Secara rata-rata, dilihat dari statistik letusan Gunung Merapi,  Merapi meletus dalam siklus pendek (2-5 tahun) dan siklus menengah (5-7 tahun). Akan tetapi, Merapi pernah mengalami siklus terpanjang, istirahat hampir selama lebih dari 30 tahun. Jejak-jejak letusan Merapi dapat dilihat pada sejumlah catatan dan peninggalan sejarah. Di antaranya:

1. Aktivitas Merapi pada awal abad ke-11 diduga menjadi salah satu penyebab berpindahnya pusat kebudayaan Mataram ke Jawa Timur. Bahwa letusan Merapi dan yang cukup besar menyebabkan perpindahan Kerajaan Hindu Mataram (Medang) dari Jawa Tengah ke Jawa Timur (van Bemmelen, 1949). Tetapi pernyataan ini bantah oleh Boechari (1976), karena Pu Sindok telah memerintah di Delta Brantas sebelumnya.

2. Candi-candi yang ada di wilayah Sleman banyak yang ditemukan terkubur oleh endapan lahar dan abu vulkanik kurang lebih 6-8 meter di bawah permukaan tanah. Candi Sambisari (dibangun pada abad ke-8) dan terletak beberapa kilometer dari komplesk Candi Prambanan. Candi ini ditemukan pada kedalaman sekitar tujuh meter di bawah tanah. Selain Sambisari, candi-candi lain adalah Kajangkoso, Candi Asu, Candi Pendem, Gebang, Morangan, Candu Kedulan, Purwomartani, dan candi di wilayah Pacitan

3. Konon, banyak benda arkeologis pernah ditemukan dari sekitar Merapi. Tak dipungkiri, berkali-kali letusan Merapi telah mengubur kota-kota kuno di sekitarnya.

Erupsi dari Gunung Merapi biasanya dilalui dengan proses yang cukup panjang yang dimulai dengan terbentukan kubah, terjadinya guguran lava pijar, munculnya awan panas yang secara definisi merupakan awal dari terjadi erupsi tipe efusif. Lantas bagaimana orang dahulu mendefiniskan hal tersebut? Mereka melakukan kesepahaman  dengan alam, membaca simbol dibalik tanda nyatanya. Bagi mereka yang mengetahuinya akan waspada untuk bertindak.

Keberadaan Gunung Merapi kerap dikaitkan dengan hal-hal berbau misteri oleh orang yang menyangsikan bagaimana hebatnya orang-orang yang telah paham itu berbuat dan bertindak untuk berinteraksi dengannya.

Upacara Banjir Lahar telah menjadi tradisi penduduk di sekitar gunung berapi, khususnya untuk menanggapi bencana lahar. Salah satunya di  Tambakan, Desa Sindumartani, Cangkringan, Sleman. Salah satu desa yang dilewati bencana lahar (dingin atau panas) Gunung Merapi. Upacara ini dilakukan bila penduduk sekitar melihat tanda-tanda alam datangnya bencana lahar yang telah mereka pelajari secara bergenerasi. Konon, mereka akan mendengar suara-suara aneh pada malam hari, seperti gemerincing kereta kencana yang lewat. Suara-suara itu dipercaya merupakan pertanda yang ditafsirkan bahwa sebentar lagi akan terjadi banjir lahar yang melalui daerah mereka.

Konsep keseimbangan yang diliputi oleh unsur-unsur tradisi-magis itu menjadi kearifan dari nilai-nilai yang mereka percaya bahwa para “penghuni” akan murka jika manusia telah menyimpang dari hal yang benar. Letak harmoninya tidak melulu pda sesaji dan upacara namun juga pada perilaku yang selalu diusahakan untuk tidak nyebal (menyimpang) dari kaidah-kaidah yang digariskan, yang senantiasa harus dapat selaras serasi dan seimbang menjaga keutuhan ekosistem alam.

Letusan vulkanis seperti letusan Gunung Merapi sepatutnya tidak diterjemahkan saklek sebagai sebuah bencana dari alam. Karena wilayah kita yang memang ada di wilayah “ring of fire“, dan lebih bijak kita menyadari hal tersebut sebagai bagian dari kehidupan bangsa Ini, Sebagai tantangan yang harus dijawab. Karena sejatinya kita sudah mempunyai berbagai kearifan untuk menyikapi situasi alam negeri ini secara arif. Terjebak kepada terminologi “bencana”, secara tidak sadar kita akan menganggap semua gejala alam adalah bencana dan kita sudah menanamkan pemahaman  bahwa bencana akan selalu datang kepada bangsa ini. Secara psikologis itu bukan jalan keluar yang baik.

Lantas kenapa kita tidak belajar dari orang tua kita terdahulu yang lebih elok dalam menyebutnya “Teguran” misalnya. Atau membuat langkah-langkah antisipasi, agar tidak lagi ada adagium “Langganan Bencana”.

 

Salam Nusantara!