Dalam kaitannya dengan artefak arkeologi, mata panah merupakan salah satu benda yang sangat mudah diidentifikasikan. Kebanyakan orang mungkin akan langsung mengenali objek dari batu yang pipih dan telah sengaja ditajamkan pada salah satu ujungnya itu sebagai mata panah.

Mata panah menjadi petunjuk penting tentang kegiatan berburu pada masa prasejarah. Ini menunjukkan bahwa aktivitas perburuan sudah dilakukan dengan baik, tidak langsung berhadapan dengan hewan buruan. Penggunaan alat dari panah ini juga menjadi petunjuk perkembangan teknologi yang digunakan pada masa itu.

Mari kita bayangkan bagaimana membuat mata panah itu hingga dapat digunakan. Pertama, mungkin kita sudah mempunyai batu yang cocok untuk dijadikan mata panah. Lalu kita membuatnya sedemikian rupa dengan cara menggosokan dengan batu lain, atau menggunakan batu pengikir yang lebih kuat agar dibagian tajamannya lebih enak dipandang. Pekerjaan ini jelas membutuhkan ketelitian. Belum lagi jika melihat pada mata panah peninggalan prasejarah. Mata panah yang dibuat pada masa lalu itu bahkan memperlihatkan bagian ujung yang seperti ditatah dari dua arah sehingga menghasilkan bentuk tajaman yang bergerigi.

“Mata Panah masa Neolitik”. Foto oleh Didier Descouens

“Mata Panah masa Neolitik”. Foto oleh Didier Descouens

Ketika selesai membuat mata panah, apakah kita sudah bisa menggunakannya? Sayangnya tidak. Tantangan selanjutnya adalah membuat busur dan anak panah. Untuk membuat busur dan anak panah inilah yang selain memerlukan ketelitian, juga sangat memerlukan keahlian.

Kita harus bisa berdamai dengan angin dan gravitasi bumi saat membuat anak panah, kita harus tahu betul tingkat elastisitas busur yang digunakan agar dengan sempurna dapat mengubah energi gerak tarikan tali busur menjadi energi potensial pegas. Kita juga harus bisa mengukur energi potensial maksimum yang dapat disimpan oleh busur yang kita buat. Jangan salah, ukuran tubuh terutama panjang lengan juga sangat berperan menentukan besarnya energi yang dihasilkan. Percayalah, membuat mata panah saja itu sangat sulit, apalagi dengan membuat panah dan menggunakannya. Mungkin kuncinya ada pada proses mencoba dan gagal dan kemudian mencoba lagi hingga akhirnya berhasil (sesuai keinginan).

“Memasang Mata Panah”. Gambar oleh Wacana Nusantara

“Memasang Mata Panah”. Gambar oleh Wacana Nusantara

Hal yang menarik adalah kebanyakan para ahli menduga bahwa anak panah telah ditemukan oleh saudara jauh kita, Homo Erectus, sekitar 400.000-200.000 tahun yang lalu.

Temuan Mata Panah Prasejarah di Indonesia

Sedikitnya ada dua tempat penting, sehubungan dengan penemuan mata panah pada zaman prasejarah di Indonesia yaitu di wilayah Jawa Timur dan juga di wilayah Sulawesi Selatan.

Tempat penemuan mata panah dari Jawa Timur, yaitu di Gua Lawa (Sampung), Gua gede dan Kandang (Daerah Tuban), dan beberapa gua-gua kecil lainnya yang berada di bukit dekat Tuban. Selain itu budaya mata panah ini juga diketemukan di Gua Pepuruh (Besuki), Gua Keramat dan Gua Lawang (Bojonegoro). Di wilayah Punung temuan mata panah tersebar di permukaan bukit-bukit kecil di Song, Agung, Sambungan, dan Gunung Galuh.

Gua-gua tersebut merupakan tempat penting pada masa berburu tingkat lanjut yang juga telah menggunakan peralatan dari tulang. Di Gua Lawa misalnya, lapisan tanah yang terdapat mata panah berada pada lapisan tanah yang juga diketemukan alat-alat dari tulang dan tanduk. Pada lapisan teratas dari situs yang sama justru diketemukan beliung yang bercampur dengan alat-alat dari logam beserta pecahan gerabah. Hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh para arkeolog di Gua dekat Bojonegoro, wilayah Tuban, dan daerah Besuki yang menghasilkan mata panah keletakannya berada selapis dengan temuan alat-alat tulang yang bertipe Sampung- Ponorogo.

Bentuk mata panah yang diketemukan di wilayah Jawa Timur umumnya memiliki bentuk segitiga bersayap dan agak cekung. Akan tetapi diketemukan juga mata panah yang cembung atau terkadang rata tidak memiliki sayap. Ukuran panjang dari mata panah yang diketemukan berkisar antara 3-6 cm, dengan lebar mencapai 2-3 cm. Rata-rata, mata panah itu  memiliki ketebalan kurang lebih1 cm. Bahan yang digunakan untuk membuat mata panah salah satunya adalah batuan gamping.

Wilayah Punung diduga merupakan daerah “pabrik” pembuatan mata panah. Kemungkinan mata panah yang ada di gua-gua Jawa Timur lainnya berasal atau mendapat pengaruh dari kebudayaan mata panah wilayah Punung.

Sementara itu untuk wilayah Sulawesi Selatan, mata panah prasejarah banyak diketemukan pada lapisan “Budaya Toala”  yang tersebar di beberapa gua di sekitar pegunungan kapur wilayah Bone, yaitu; gua Cakondo, daerah Tomatoa kacicang, Gua Ara, Gua Bola Batu, daerah Saripa, Gua Burung, di PattaE, di Batu Ejaya, dan di Panganreang Tudea. Berdasalkan hasil ekskavasi sedikitnya dapat diketahui bahwa lapisan tanah tempat diketemukannya mata panah berada di lapisan teratas bersama dengan temuan gerabah, alat serpih dan kulit kerang.

Jika dibandingkan, temuan mata panah di wilayah Jawa Timur dan wilayah Sulawesi Selatan, nampak jelas terlihat perbedaannya, baik dalam bentuk maupun tingkat budayanya. Mata panah yang ditemukan di Sulawesi Selatan kebanyakan terbuat dari batu Kalsedon kuarsa dan umumnya memiliki ukuran lebih kecil jika dibanding dengan temuan di wilayah Jawa Timur. Penyiapan bentuk juga sepertinya sengaja tidak dikerjakan pada seluruh bagian permukaan tetapi hanya berfokus pada bagian tajamannya dengan memperbanyak pahatan bergerigi.

Persamaan dan Perbedaan

Beberapa peneliti beranggapan bahwa mata panah di wilayah Asia Tenggara mendapat pengaruh dari luar Nusantara, hal ini dihubungkan dengan temuan mata panah di Jepang yang banyak menunjukkan persamaan dengan temuan mata panah di wilayah Sulawesi Selatan.

“Projectile, clovis point”. Foto oleh Bill Whittaker

“Projectile, clovis point”. Foto oleh Bill Whittaker

Arkeolog lebih suka menyebut mata panah itu sebagai projectile points. Bukan karena terdengar lebih akademis, tetapi karena ada dugaan bahwa anak panah pada masa lalu itu bisa ditempatkan di mana saja, bukan hanya pada anak panah. Kayu dan tulang mungkin menjadi kandidat utama, tapi batu, tanduk, hingga nantinya tembaga juga dinilai dapat dipakai untuk menempatkan proyektil itu.

Dalam klasifikasi Projectile points, artefak prasejarah ini umunya dibagi ke dalam dua jenis, yaitu mata panah, dan mata tombak. Bagaimana membedakan keduanya bukan pekerjaan yang mudah. Melihat besar dan kecilnya saja kadang tidak berpengaruh banyak. Menurut beberapa peneliti, indikasi terbaik untuk membedakan mata panah dan mata tombak adalah pada lebar penampang dan lebar poros bagian tajamannya. Selain itu ketebalan, panjang dan berat juga bisa menjadi pembeda alternatif.

Selama bertahun-tahun, penelitian mengenai Projectile points ini telah menjadi rumit  dan sekaligus menarik. Selain perbedaan tipologi bentuk dan gaya, para peneliti juga harus dapat mengidentifikasi variasi tersebut sesuai dengan periode kronologis. Hal ini bertujuan agar fungsi dan kegunaan yang dimaksudkan berkesesuaian dengan identitas budaya pemangkunya.

Jika melihat pada kurun waktunya, panah merupakan salah satu alat yang telah berhasil melampaui berbagai zaman; untuk waktu yang lama panah masih digunakan, bahkan hingga saat ini.