Masyarakat Masa Klasik Di Kawasan Lereng Gunung Api Kuarter Zona Bandung

Oleh: Nanang Saptono*

 

Pendahuluan

Kawasan Jawa Barat secara fisiografis menurut van Bemmelen terbagi dalam beberapa zona yaitu zona dataran pantai Jakarta, zona Bogor, zona pegunungan Bayah, zona Bandung, dan zona pegunungan selatan. Salah satu zona tersebut yaitu zona Bandung meliputi pedataran tinggi yang membentang dari lembah Cimandiri, dataran Cianjur, dataran Bandung, dataran Garut, hingga dataran Ciamis (Agus, 2005: 2 4). Di sebelah utara hingga timur laut dataran Bandung terdapat deretan gunungapi kuarter membentang dari Gunung Tangkuban Parahu hingga Gunung Tampomas. Secara administratif, kawasan tersebut meliputi wilayah Kabupaten Subang, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Sumedang. Beberapa tinggalan arkeologis dari masa klasik banyak ditemukan di kawasan ini. Tinggalan tersebut menunjukkan adanya klaster-klaster yang mempunyai latar belakang religi tertentu.

Kabupaten Subang, Bandung, dan Sumedang bila dikaitkan dengan masa klasik merupakan daerah yang jauh dari pusat peradaban/pemerintahan. Kerajaan Tarumanegara tidak meninggalkan jejak di kawasan ini. Beberapa tinggalan yang pernah tercatat terdapat kecenderungan berasal dari masa kerajaan Sunda. Meski demikian, prasasti-prasasti kerajaan Sunda yang pernah ditemukan mengarah pada penunjukan lokasi pusat pemerintahan di sekitar Ciamis dan Bogor.

Di dalam beberapa sumber sejarah tentang Kerajaan Sunda, selain pemberitaan tentang pusat kerajaan, terdapat pula pemberitaan tentang kota pelabuhan yang terdapat di pantai utara Jawa. Menurut Barros, Kerajaan Sunda mempunyai enam pelabuhan yaitu Chiamo, Xacatra atau Caravam, Tangaram, Cheguide, Pondang, dan Bantam (Djajadiningrat, 1983: 83). Tom Pires juga memberitakan bahwa umda mempunyai enam pelabuhan yaitu Bantam, Pomdam, Cheguide, Tamgaram, Calapa, dan Chemano (Corteso, 1967: 166). Keterangan antara Barros dan Pires sama-sama menyebutkan adanya enam pelabuhan. Kalau Barros menyebutkannya dari arah timur ke barat, sebaliknya Pires menyebutnya dari barat ke timur. Perbedaan yang ada selain ucapannya ialah bahwa Calapa yang disebut Pires, oleh Barros disebutnya Xacatra atau Caravam. Baik Barros maupun Pires tidak pernah menyebut kota pelabuhan yang dapat dilokalisasikan di daerah Subang.

Di samping memiliki bandar-bandar yang cukup ramai, Kerajaan Sunda juga memiliki jalan lalu lintas darat yang cukup penting. Jalan darat itu berpusat di Pakwan Pajajaran sebagai ibukota kerajaan. Dari Pakwan Pajajaran jalan darat menuju ke arah timur dan barat. Jalan yang menuju ke timur, menghubungkan Pakwan Pajajaran dengan Karangsambung yang terletak di tepi Citarum, melalui Cileungsi dan Cibarusah. Dari Karangsambung membelok ke arah utara sampai ke Tanjungpura yang terletak di tepi Citarum, Karawang. Selanjutnya dari Tanjungpura menuju Cikao dan Purwakarta, dan berakhir di Karangsambung. Selanjutnya jalan tersebut bercabang ke arah timur dan selatan. Jalan yang ke arah timur sampai Cirebon lalu berbelok ke selatan melalui Kuningan dan berakhir di Galuh atau Kawali. Sedangkan jalan yang ke arah selatan melalui Sindangkasih dan Talaga dan berakhir juga di Kawali (Sumadio, 1990: 390). Meskipun kawasan Subang, Bandung, dan Sumedang tidak pernah disebut-sebut dalam sumber sejarah klasik, keterangan tentang adanya ruas jalan dari Karangsambung, daerah Purwakarta menuju Cirebon mengarahkan pada asumsi bahwa di kawasan tersebut terdapat klaster pemukiman masyarakat. Hanya saja pada tingkat mana klaster pemukiman tersebut sulit diketahui, apakah setingkat desa (wanua) atau setingkat di atasnya (watak).

Masyarakat yang sudah bermukim dalam satu klaster, dalam kehidupannya selain berpegang pada aturan pemerintahan juga berpedoman pada sistem religi yang dianutnya. Kondisi daerah Subang, Bandung, dan Sumedang pada masa klasik merupakan suatu wilayah marginal. Budaya masyarakat yang tinggal di wilayah marginal dengan yang tinggal di wilayah pusat pemerintahan akan terdapat perbedaan. Biasanya pusat kebudayaan berada di pusat pemerintahan. Namun demikian pada wilayah marginal sering kali dijumpai pula adanya pusat-pusat peradaban. Berdasarkan beberapa asumsi tersebut muncul permasalahan yang perlu dipecahkan yaitu mengenai persoalan permukiman dan latar belakang religi pendukungnya.

Beberapa Tinggalan Arkeologis
Inventarisasi dan penelitian arkeologis di kawasan lereng pegunungan Kabupaten Subang, Bandung, dan Sumedang telah banyak mencatat tinggalan arkeologis. Kawasan lereng gunungapi kuarter di wilayah Kabupaten Subang, berada di daerah selatan. Di Desa Margasari, Kecamatan Kalijati, Subang terdapat situs Patenggeng. Situs ini berada di atas bukit kecil pada pertemuan antara sungai Cibolang dan Ciasem. Lereng bukit yang berhadapan dengan sungai membentuk tebing terjal. Penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung pada tahun pada tahun 2000 di situs ini menemukan pecahan bata, pecahan tembikar, pecahan keramik asing (Cina), kerak besi, artefak batu, dan alat batu serpih. Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa situs Patenggeng merupakan situs hunian secara berkelanjutan (multicomponent site) sejak masa prasejarah hingga sekitar abad XVI dengan berbagai kegiatan (Djubiantono, 2003: 46).

N.J. Krom dalam Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie (ROD) 1914 antara lain mencatat adanya beberapa tinggalan dari daerah Sagalaherang. Di Cijengkol pernah ditemukan mangkuk, piring, pinggan, dan baki yang terbuat dari perunggu. Di desa Batu Kapur pernah ditemukan arca Maitreya dari perak. Di Sindangsari pernah ditemukan senjata upacara dari perunggu. Benda-benda arkeologis tersebut sekarang sebagian besar disimpan di Museum Nasional Jakarta (Krom, 1915: 36 37).

Di Museum Sri Baduga, Bandung terdapat koleksi dua arca nandi berasal dari Kampung Selaawi, Desa Cipancar, Kecamatan Sagalaherang. Arca nandi pertama (di museum bernomor 3) berukuran panjang 90 cm, lebar 30 cm, tinggi 38 cm. Sebagaimana lazimnya arca nandi, sikap dalam posisi kedua kaki dilipat. Hal sedikit yang kurang lazim adalah mulut mengarah ke atas sehingga berkesan seperti babi. Mata digambarkan berupa tonjolan dilengkapi kelopak. Daun telinga terlihat jelas. Pada leher digambarkan terdapat kalung sederhana (polos).

Arca nandi pertama yang ditemukan di Kampung Selaawi, Desa Cipancar, Kecamatan Sagalaherang

Arca nandi kedua (di museum bernomor 4) berukuran panjang 106 cm, lebar 37 cm, tinggi 39 cm. Arca nandi kedua ini dalam posisi kedua kaki terlipat. Bagian kepala digambarkan dengan mulut mengarah ke bawah. Mata digambarkan dilengkapi kelopak. Daun telinga tidak begitu jelas. Pada bagian punggung terdapat tonjolan. Ekor mengarah ke kanan dan ujungnya berada di punggung.

 

Arca nandi kedua yang ditemukan di Kampung Selaawi, Desa Cipancar, Kecamatan Sagalaherang

Di Kampung Cisalak, Negara Domas, Distrik Pamanukan pada tepi kiri Cigrunjang menurut laporan Krom (1915: 37) terdapat tujuh buah bagian tanah yang lurus masing-masing dikelilingi oleh parit, mungkin sebuah kubu. Di Kampung Mayang, sebelah barat laut kaki Gunung Cagak terdapat lima buah undak-undakan bersegi empat beraturan serta lurus, Di atas tengah-tengah undakan yang ketiga masing-masing terdapat sebuah patung kecil dari batu, sebuah di antaranya tidak berkepala.

Pelacakan lokasi kampung Cisalak, Negara Domas, Pamanukan mengalami kesulitan. Di daerah Negara Domas tidak pernah dikenal adanya kampung Cisalak. Dengan merujuk nama sungai Cigrunjang, dapat terlacak bahwa Cisalak yang dimaksudkan Krom, sekarang merupakan wilayah kecamatan terletak di sebelah tenggara kota Subang. Sungai Cigrunjang yang dilaporkan Krom ternyata yang benar adalah Cikaruncang.

Geomorfologis kawasan Kecamatan Cisalak merupakan daerah pedataran bergelombang dengan ketinggian antara 400 m hingga 1600 m dari permukaan laut. Di bagian selatan kawasan bergunung-gunung dengan puncak tertinggi adalah G. Cangak (1611 m) sedang bagian utara hingga timur laut merupakan pedataran rendah bergelombang. Beberapa sungai kecil mengalir di daerah ini membentuk satu sistem aliran. Sungai-sungai tersebut berhulu di kawasan pegunungan di bagian selatan. Sungai Cikaruncang yang mengalir di bagian barat bersatu dengan sungai Cileat yang mengalir di bagian timur, membentuk aliran sungai Cipunagara. Pemukiman penduduk bersifat mengelompok (clustered). Satu-satunya jalan raya yang terdapat di Cisalak menghubungkan Sumedang dengan Jalan Cagak, Subang.

Sungai Cikaruncang mengalir dari arah selatan ke utara memotong jalan raya. Sedikit ke arah hulu dari jalan raya terdapat beberapa lahan berupa gundukan namun sudah tidak begitu jelas dikenali. Beberapa gundukan tanah atau lahan yang lebih tinggi dari daerah sekitar memang banyak dijumpai di sepanjang tepi kiri sungai Cigarunjang (penelusuran dari jalan raya menuju arah hulu sungai). Beberapa lahan ada yang sudah menjadi perkampungan. Gundukan tanah atau lahan yang lebih tinggi ini kebanyakan tidak beraturan. Beberapa lahan yang dicurigai sebagaimana yang dilaporkan Krom terdapat pada ujung Desa Gardusayang. Lokasi ini berada pada posisi 6o4324 LS dan 107o4557 BT.

Salah satu lahan berada di bagian paling ujung desa di sebelah barat daya jalan desa. Kondisi jalan lebih rendah dari lahan situs. Bagian puncak lahan merupakan tanah datar berdenah hampir persegi dengan luas sekitar 0,5 ha. Sisi lahan yang berhadapan langsung dengan jalan desa, sisi timur dan utara, setinggi sekitar 6 m. Sedang pada sisi barat laut dan barat daya setinggi sekitar 10 m. Pada sisi barat laut dan barat daya ini terdapat sungai kecil. Kondisi permukaan lahan tidak ditemukan artefak. Hal ini karena kondisi lahan dipenuhi rumput dan semak-semak. Sisi barat daya terlihat adanya jejak pelurusan lahan berbentuk parit sepanjang 109 m dengan lebar 6,70 m. Ketinggian dinding tebing (talud) berkisar antara 1,5 hingga 3 m. Lahan ini sekarang dimanfaatkan untuk makam umum.

Krom juga melaporkan bahwa di Desa Mayang, pada sebelah Barat Laut kaki Gunung Cagak terdapat lima undak-undakan bersegi empat beraturan serta lurus. Di atas tengah-tengah undakan yang ketiga masing-masing terdapat sebuah patung kecil dari batu, satu di antaranya tidak berkepala (Krom, 1915: 37). Lokasi yang disebutkan Krom, sekarang termasuk wilayah Desa Gardusayang. Informasi yang disampaikan Kepala Desa menyatakan bahwa di samping rumahnya pada sekitar tahun 1974 1975 pernah ditemukan batu semacam patung. Lokasi dimaksud berada di tepi sebelah barat daya jalan desa. Lokasi ini sekarang berada di tengah pemukiman penduduk yang cukup padat, berada pada posisi 6o4432 LS dan 107o458 BT. Di lokasi ini terdapat empat batu monolit dengan ukuran bervariasi membentuk undakan. Masing-masing batu hampir berbentuk persegi. Dua batu yang berada di bagian paling utara (sebelah timur laut jalan) berukuran sekitar 2 X 2 m. Batu di bagian tengah (sebelah barat daya jalan) berukuran sekitar 3 X 3 m dengan tinggi 1,5 m. Batu ketiga merupakan batu terbesar dan tertinggi berukuran sekitar 5 X 5 m dengan tinggi sekitar 3 m. Menurut keterangan masyarakat dahulu di atas batu tersebut terdapat arca batu dan batu berbentuk seperti rumah kecil. Batu-batu tersebut kemudian dibawa ke Bandung. Sampai sekarang masyarakat menyebut deretan batu-batu besar itu batu candi.

Lereng gunungapi kuarter di wilayah Kabupaten Bandung berada di bagian utara kota. Di Bukitunggul dilaporkan pada puncaknya terdapat tembok tanah yang berbentuk undak-undakan persegi empat dengan teras lebih kecil yang mengelilinginya (Krom, 1915: 42). Di situs ini pernah ditemukan arca ganesha yang sekarang tersimpan di museum Sri Baduga, Bandung.

Arca digambarkan dengan bentuk yang sangat sederhana dengan tinggi 37 cm. Kepala arca digambarkan dengan kesan kaku, telinga menyudut mengarah bentuk persegi. Mata berupa dua cekungan berbentuk bulat. Belalai menjuntai ke arah kiri sampai menyentuh tangan kiri. Belalai berbentuk pipih menempel pada perutnya yang buncit. Tangan berjumlah dua buah dengan atribut tangan kanan berupa tasbih (aksamala), sedangkan tangan kiri berada di lutut. Sikap duduk utkutikasana yaitu kaki terlipat dengan kedua telapak kaki saling bertemu. Bentuk kaki sangat kaku (bersudut). Penggambaran arca ganesha ini secara statis dan berkesan belum selesai dibuat (Widyastuti, 2004: 32 33).

Gunungapi kuarter di wilayah Kabupaten Sumedang antara lain adalah Gunung Tampomas. Peninggalan arkeologis yang terdapat di kawasan Gunung Tampomas pernah beberapa kali diteliti. Krom mencatat adanya tinggalan arkeologis berupa bangunan berundak dari batu-batu terdiri empat teras. Untuk mencapainya melalui sebuah tangga batu, dipuncaknya berdiri sebuah patung Ganesa, bekas kaki dan enam benda kecil antara lain sebuah berbentuk genta (kolotok) dan sebuah lagi berbentuk landasan (Krom, 1915: 65).

Lucas Partanda Koestoro pernah mengadakan penelitian deskriptif terhadap peninggalan di puncak Gunung Tampomas yang dikenal dengan sebutan Sanghiang Taraje. Uraian hasil penelitiannya menguraikan kondisi dan dimensi bangunan berundak. Beberapa objek penting yang dicatatnya adalah arca menhir dari batuan andesit di halaman pertama, batu tatapakan (umpak), batu ajeg (batu yang didirikan tegak), dan batu kasur yang terdapat di halaman ketiga (Koestoro, 1987: 38 39).

Di bawah situs Sanghiang Taraje terdapat lokasi yang disebut Puncak Manik. Di situs ini terdapat benda-benda arkeologis berupa arca ganesha, arca binatang, dan batu berbentuk tumpeng. Arca ganesha digambarkan secara sederhana. Arca binatang menggambarkan harimau dengan kuku yang tajam. Batu berbentuk tumpeng merupakan tiruan terbuat dari semen, batu yang asli dihancurkan. Selain itu juga terdapat objek yang oleh masyarakat disebut batu kasur (Yondri, 1998).

Kehidupan dan Religi Masyarakat
Beberapa objek arkeologi di kawasan lereng utara gunungapi kuarter zona Bandung ada yang berwatak sebagai situs profan ada pula yang berwatak situs sakral. Situs Patenggeng dan objek berupa lahan gundukan dikelilingi parit yang terdapat di Desa Gardusayang mempunyai kesamaan dengan beberapa situs benteng tanah di beberapa tempat di Jawa Barat.

Di Jawa Barat situs yang hampir sama dengan kedua situs situs tersebut misalnya situs Kampung Kuta di Desa Ciranjang, Cianjur (Widyastuti, 1998: 191 192). Kampung Kuta terletak pada lahan yang dibatasi oleh dua buah sungai, yaitu sungai Cisokan di sebelah barat dan Ciranjang di sebelah timur. Kedua sungai tersebut bertemu disebelah utara kampung. Kepurbakalaan yang terdapat di Kampung Kuta berupa kompleks makam dan benteng. Dengan adanya benteng ini maka terdapat satu lahan yang luasnya 3 hektar dibatasi oleh dua buah sungai dan benteng. Oleh masyarakat lokasi ini disebut Kuta Pinggan.

Kompleks makam terdiri dari empat bagian, masing-masing bagian dibatasi susunan batu. Bagian pertama merupakan bagian yang terendah mengelilingi tiga bagian yang lain. Di sebelah timur laut bagian pertama terdapat makam yang oleh penduduk setempat dikatakan sebagai makam juru kunci. Bagian kedua dari kompleks makam berada di sebelah barat daya makam juru kunci. Pada bagian ini terdapat sebuah batu besar. Bagian ketiga dari kompleks makam terdapat disebelah barat daya bagian kedua. Bagian ketiga merupakan bagian tertinggi, pada bagian ini tidak dijumpai adanya objek arkeologis. Pada bagian ini hanya terdapat sebatang pohon beringin.

Di sebelah barat daya bagian ketiga terdapat bagian keempat. Pada bagian keempat ini terdapat makam utama yang berupa makam panjang. Makam ini berorientasi ke arah tenggara barat laut. Oleh penduduk dikatakan bahwa tokoh yang bersemayam di makam panjang adalah Ki Srangsangbentang. Di sebelah selatan dari kompleks makam berjarak sekitar 400 m terdapat benteng tanah. Tinggi benteng sekitar 7 m, panjang sekitar 300 m. Benteng ini membentang arah timur barat dari tepi sungai Ciranjang hingga tepi Cisokan.

Selain di Ciranjang, situs sejenis ini adalah situs Karangkamulyan, di Kampung Karangkamulyan, Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Keadaan situs berupa hutan seluas sekitar 25,5 ha yang pada saat ini dijadikan objek wisata. Komplek situs berada pada pertemuan antara sungai Cimuntur dan Citanduy. Sungai Cimuntur mengalir di sebelah utara ke arah timur kemudian berbelok ke arah selatan bersatu dengan sungai Citanduy yang mengalir di sebelah selatan situs ke arah timur. Di sebelah barat komplek situs terdapat benteng tanah dan parit membentang arah utara selatan, menghubungkan sungai Citanduy dan Cimuntur. Di dalam areal situs terdapat beberapa objek arkeologi antara lain fragmen yoni yang oleh masyarakat disebut pangcalikan, beberapa batu datar dan batu berdiri, makam, mata air (Cikahuripan), dan sebaran fragmen artefak berupa keramik dan tembikar. Di situs ini pernah ditemukan arca ganesa, arca ini sekarang disimpan di Museum Sri Baduga, Bandung (Saptono, 2002: 8 14).

Baik situs Kampung Kuta maupun situs Karangkamulyan merupakan situs pemukiman yang dilengkapi unsur bangunan sakral. Membandingkan situs Patenggeng dan Gardusayang dengan situs Kampung Kuta dan Karangkamulyan, menunjukkan bahwa situs Patenggeng dan Gardusayang memiliki ciri-ciri situs pemukiman. Dugaan ini hanya didasarkan adanya kesamaan pola dengan kedua situs di Jawa Barat. Penanggalan secara relatif situs Patenggeng diperkirakan sejak zaman prasejarah hingga sekitar abad ke-16.

Beberapa tinggalan yang bersifat sakral seperti arca nandi dari Kampung Selaawi, Sagalaherang, arca dari Desa Mayang, arca ganesha dan bangunan berundak di Bukitunggul, serta tinggalan yang ada di Gunung Tampomas memperlihatkan kuatnya latar agama Siva. Untuk keperluan pemujaan, kadang-kadang Siva digambarkan dalam bentuk lingga. Penggambarannya dalam bentuk lingga terkandung juga dua dewa yang lain yaitu Brahma dan Wisnu. Sebuah linga yang lengkap adalah terdiri tiga bagian yaitu bagian bawah berbentuk segi empat disebut Brahmabhaga sebagai lambang Brahma, bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnubhaga sebagai lambang Wisnu, dan bagian atas (puncak) disebut Sivabhaga sebagai lambang Siva (Rao, 1916: 79).

Pada suatu bangunan pemujaan, lingga merupakan bagian inti dari bangunan itu. Lingga dan yoni merupakan sentral pemujaan karena merupakan lambang dewa tertinggi Siva dengan saktinya. Di samping itu, adakalanya ditemukan pula penggambaran atau lambang dewa pengiringnya. Salah satu pengiring dewa Siva adalah Nandisvara atau juga disebut Nandikesvara. Penggambaranya ada beberapa macam variasi misalnya sebagai seekor sapi jantan, manusia berkepala sapi atau sebagai duplikat dari Siva. Jika digambarkan dalam bentuk manusia berkepala sapi dan sebagai duplikat Siva, disebut Adhikaranandin (Shukla, 1958: 283). Arca nandi di Selaawi mungkin merupakan kelengkapan bangunan pemujaan.

Ganesha yang ditemukan di Bukitunggul dan Gunung Tampomas juga menunjukkan pernah berkembangnya agama Siva. Ganesha dalam mitologi Hindu disebutkan sebagai anak Dewa Siva dengan Parwati. Tugas utama Ganesha menurut mitologi Hindu adalah sebagai penyingkir semua rintangan bagi orang-orang yang berbuat baik. Dengan tugas demikian maka orang menempatkan arca ganesha tidak hanya di bangunan suci, tetapi juga di tempat-tempat penting lainnya, seperti perempatan jalan dan di bawah pohon. Ganesha juga dianggap sebagai dewa kebijaksanaan.

Pada kasus yang terjadi di Bukitunggul dan Gunung Tampomas, yaitu ditempatkan pada bangunan berundak menunjukkan terjadi adanya sinkritisme dengan kepercayaan lama. Dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian terlihat bahwa religi yang berkembang di Kerajaan Sunda pada awalnya adalah Hindu (Siva). Dalam perkembangannya agama Hindu bercampur dengan agama Buddha, dan pada akhirnya unsur kepercayaan asli muncul. Kemunculan kepercayaan asli dari para leluhur terlihat dari keterangan dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian yang menurunkan derajat Dewata berada di bawah Hyang (Sumadio, 1990: 391 392; Ayatrohaedi, 1982: 337 338).

Secara ikonografis, nandi yang terdapat di Kampung Selaawi menunjukkan lebih tua bila dibandingkan dengan arca ganesha Bukitunggul dan Gunung Tampomas. J.F.G. Brumund dan N.J. Krom pernah membahas arca-arca yang ditemukan di Jawa Barat. Beberapa arca yang ditemukan memperlihatkan penggambaran secara statis. Arca semacam ini sering disebut dengan istilah arca tipe Polinesia. Pengamatan Brumund terhadap arca tipe Polinesia menemukan beberapa arca mengandung ciri-ciri Hindu-Buddha. Terhadap arca semacam ini, Brumund memberi istilah arca tipe Pajajaran. Kajian Krom terhadap arca Polinesia salah satunya menyimpulkan bahwa arca Polinesia ada yang mendapat pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha tetapi disesuaikan dengan konsepsi baru (Mulia, 1980). Sejalan dengan keterangan dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian, arca Polinesia yang mengandung unsur Hindu-Buddha (tipe Pajajaran) merupakan arca yang lebih muda bila dibandingkan dengan arca yang mengikuti aturan ikonografi klasik.

Berkaitan dengan religi dan kehidupan masyarakat, terdapat kasus di Desa Mayang, yang menempatkan arca di atas monolit. Kasus semacam ini seperti yang terdapat di situs Batu Cupu, Desa Susukan, Kabupaten Kuningan. Tinggalan arkeologis di situs tersebut berupa yoni yang terdapat di atas batu. Lubang yoni ditutup semacam batu sungkup dalam keadaan pecah menjadi dua bagian. Batu tersebut berbentuk prisma berundak-undak terdiri 5 undakan. Pada keempat sisinya terdapat hiasan tonjolan berbentuk puncak gunungan (Kosasih, 1986: 32 33; Saptono, 1996: 75 76). Dilihat dari keletakannya yoni di situs Batu Cupu memperlihatkan sudah tidak in situ. Gejala yang terdapat di situs Batu Cupu dan situs Mayang menunjukkan adanya transformasi. Objek arkeologi yang ada yoni di situs Batu Cupu dan patung batu di situs Mayang mendapat perlakukan baru oleh masyarakat baru. Pensakralan terhadap tinggalan arkeologis oleh masyarakat pendukung yang baru telah mengalami penyimpangan.

Simpulan
Kehidupan masyarakat yang mendiami kawasan lereng utara gunungapi kuarter zona Bandung di Kabupaten Subang, Bandung, dan Sumedang pada masa klasik terekonstruksi dari tinggalan arkeologis yang ada. Situs Patenggeng merupakan situs pemukiman yang memanfaatkan sungai sebagai benteng alam. Berdasarkan keramik asing yang ditemukan di situs Patenggeng dan membandingkannya dengan gaya ikonografis arca nandi di Sagalaherang, tampak berasal dari kurun waktu yang sama, yaitu klasik awal (sebelum Kerajaan Sunda). Kehidupan religi yang melandasi adalah agama Siva.

Situs Gardusayang juga merupakan situs pemukiman yang dikelilingi parit atau sungai. Mengingat masih sedikitnya data arkeologis yang ada maka sangat sulit untuk memperkirakan pertanggalannya. Secara kontekstual situs Gardusayang mungkin berkaitan dengan arca yang pernah ada di Desa Mayang. Situs Gardusayang kemungkinan dari akhir masa klasik atau masa Islam. Belum ditemukannya artefak di lokasi tersebut menjadikan simpulan ini masih bersifat sangat awal, sehingga perlu diperkuat dengan data yang lebih lengkap.

Dilihat dari aspek ikonografis, religi yang berkembang ketika itu sangat kuat dilatari agama Siva. Selain arca nandi di Sagalaherang, arca ganesha dari Bukitunggul dan Gunung Tampomas memperlihatkan hal itu. Arca ganesha baik yang di Bukitunggul maupun di Gunung Tampomas ditemukan berada pada bangunan berundak. Dari segi ikonografisnyapun arca tersebut terlihat ada pengaruh agama asli. Dengan mengacu pada naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian arca ganesha tersebut berasal dari masa klasik akhir di mana pengaruh kepercayaan asli muncul kembali.

Dengan membandingkan gaya ikonografis antara arca nandi Sagalaherang dengan arca ganesha Bukitunggul dan Gunung Tampomas terlihat adanya lintasan perkembangan religi di kawasan itu. Wilayah Sagalaherang menunjukkan masa paling tua, kemudian wilayah Bukitunggul dan termuda wilayah Gunung Tampomas. Lintasan perkembangan tersebut memperlihatkan pula bahwa kawasan lereng utara gunungapi kuarter zona Bandung merupakan kawasan yang tidak pernah terputus perkembangan peradabannya. Adanya jalan darat yang melintasi kawasan itu pada masa Kerajaan Sunda mungkin sudah ada sejak masa sebelum Kerajaan Sunda.

Salah satu unsur dalam tradisi masyarakat sekarang di kawasan itu adalah penempatan pengkeramatan sesuatu. Arca di atas monolit yang terdapat di Desa Mayang menunjukkan telah terjadi transformasi budaya berkaitan dengan pengkeramatan. Arca atau objek lainnya yang pernah dilaporkan berada di atas monolit mungkin berasal dari masa klasik. Namun benda tersebut kemudian diperlakukan dalam konteks religi oleh masyarakat baru yang bukan penciptanya. Karena dianggap keramat, objek yang disakralkan (arca dan batu berbentuk seperti rumah) itu diletakkan pada tempat yang dianggap keramat dalam hal ini batu besar.

Daftar Pustaka

Agus. 2005. Penelitian Paleoekologi di Pasir Cabe dan Sekitarnya di Kabupaten Subang. Dalam Agus Aris Munandar (ed.), Hastaleleka. Bandung: Alqaprint. Hlm. 1 10.

Ayatrohaedi. 1982. Masyarakat Sunda Sebelum Islam. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi II, Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Corteso, Armando. 1967. The Suma Oriental of Tom Pires. Nendelnd iechtenstein: Kraus Reprint Limited.

Djajadiningrat, Hoesein. 1983. Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten. Jakarta: Djambatan

Djubiantono, Tony. 2003. Penelitian Geo-arkeologi di Situs Patenggeng, Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat. Dalam Agus Aris Munandar (ed.), Mosaik Arkeologi. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 37 46.

Kosasih S.A, Nies Anggraeni, D.D. Bintarti. 1986. Survei di Daerah Kuningan Tahap I 1981. Dalam Nies A. Subagus (et al.) Laporan Penelitian Arkeologi dan Geologi di Jawa Barat, Berita Penelitian Arkeologi No. 36. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Koestoro, Lucas Partanda. 1987. Sanghiang Taraje, Tinggalan Tradisi Megalitik di Gunung Tampomas. Dalam Berkala Arkeologi VIII (2). Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Krom, N.J. 1915. Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie (ROD) 1914. Uitgegeven door het Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Batavia: Albrecht & Co.

Mulia, Rumbi. 1980. Beberapa Catatan Tentang Arca-arca Yang Disebut Arca Tipe Polinesia. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi, Cibulan 21-25 Februari 1977. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional. Hlm. 599 646.

Rao, Gopinatha T.A. 1916. Elements of Hindu Iconography Vol. II Part I. Madras: The Law Printing House.

Saptono, Nanang. 1996. Situs-situs Religi di Daerah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Dalam Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung Nomor: 4/November/1996. Bandung: Balai Arkeologi Bandung. Hlm. 67 86.

———–, 2002. Karang Kamulyan a Historical Event and an Archaeological Site. Jakarta: Culture Developing Policy Program, Ministry of Culture and Tourism.

Shukla, D.N. 1958. Vastu Sastra Vol. II, Hindu Canons of Iconography & Painting. Gorakhpur: Gorakhpur University.

Sumadio, Bambang (ed.). 1990. Jaman Kuna. Dalam Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Widyastuti, Endang. 1998. Keruangan Situs Kampung Kuta. Dalam Tony Djubiantono et al. (ed.), Dinamika Budaya Asia Tenggara Pasifik Dalam Perjalanan Sejarah. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 191 196.

———–, 2004. Variasi Bentuk Ganesha dan Perkembangan Religi di Jawa Bagian Barat. Dalam Kresno Yulianto (ed.), Tradisi, Makna, dan Budaya Materi. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 28 39.

Yondri, Lutfi 1988 Laporan Hasil Penelitian Arkeologi: Penanggulangan Kasus Kepurbakalaan di Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Bandung: Balai Arkeologi Bandung. (tidak diterbitkan).

*Tulisan ini diterbitkan di buku Religi Dalam Dinamika Masyarakat, hlm. 72 83. Editor Supratikno Rahardjo. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat Banten, 2005. |Sumber Tulisan :arkeologisunda.blogspot.com