Di gua-gua itu kita dapat melihat tekad nenek moyang kita untuk meninggalkan catatan. Tidak persis seni dan juga bukan grafiti. Banyak orang kini menyebutnya sebagai lukisan gua prasejarah.

Lukisan gua prasejarah yang cukup tua di Indonesia berasal kurang lebih dari 40.000 tahun yang lalu di Sulawesi. Cetakan serupa telah ditemukan di Afrika Selatan, Australia, Amerika Utara, Argentina dan Eropa. Diantara lukisan gua prasejarah itu ada lukisan cap tangan. Lukisan cap tangan adalah sesuatu yang sangat pribadi dan lebih emosional. Menggunakan mulut dan tangan–tidak ada yang lebih pribadi dari itu.

Ada sesuatu yang begitu umum dari lukisan cap tangan. Ya, kita semua mungkin pernah membuatnya di sekolah dan di seluruh dunia mungkin anak-anak masih melakukannya dengan cara yang bisa jadi sama. Kita terkadang membuat cap jempol, cap tangan, sidik jari. Bahkan kita mengenal istilah “tanda angan” untuk kasus yang sama.

Lukisan gua prasejarah adalah contoh pertama dari apa yang kita sebut sejarah –pernyataan dari masa lalu– sebagai sebuah pernyataan universal untuk mengatakan “KAMI (pernah) ADA DI SINI”.

 

Sebaran Lukisan Gua Prasejarah di Indonesia

Di Indonesia, lukisan gua merupakan suatu hasil kebudayaan yang berkembang pada masa berburu tingkat lanjut, dan ditemukan di daerah Sulawesi Selatan, Kepulauan Maluku, Papua, Kalimantan dan tempat lainnya. Lukisan gua merupakan sebuah bukti sejarah kemampuan manusia pada zaman prasejarah mampu mencurahkan ekspresinya kedalam sebuah lukisan.

Berikut penjelasan tentang lukisan gua prasejarah di beberapa wilayah Indonesia:

1. Lukisan Gua Prasejarah di Sulawesi Selatan

2. Lukisan Gua Prasejarah di Kalimantan

3. Lukisan Gua Prasejarah di Sulawesi Tenggara

4. Lukisan Gua Prasejarah di Maluku

5. Lukisan Gua Prasejarah di Papua

Perkembangan lukisan gua ternyata tidak hanya terdapat di Indonesia, namun ternyata berkembang pula di luar Indonesia seperti; di Eropa misalnya di Italia, Sepanyol, Perancis dan di Afrika. Di wilayah Asia misalnya terdapat di India, Thailand dll, serta di Australia. Lukisan yang terdapat di beberapa Negara tersebut diperkirakan sebagai hasil kebudayaan masyarakat yang hidup berburu dan mengumpulkan makanan pada tingkat sederhana hingga tingkat lanjut. Keberadaan Seni Cadas di luar Indonesia menandakan bahwa kebudayaan yang berkembang di Indonesia tidak jauh berbeda dengan kebudayaan yang berkembang di belahan dunia lain.

 

Bahan Pembuat Lukisan Gua Prasejarah

Sulitnya mengungkap bahan yang digunakan pada lukisan menyebabkan hingga saat ini belum ada statemen yang pasti mengenai jenis bahan lukisan maupun cara aplikasinya. Beberapa penelitian terdahulu yang dapat dijadikan rujukan adalah laporan survey, serta laporan studi konservasi dan observasi yang dilakukan oleh Samidi (1985 dan 1986). Berbagai manfaat dapat diambil apabila pertanyaan mengenai bahan yang digunakan pada lukisan tersebut dapat terungkap. Manfaat tersebut antara lain dapat diketahui interaksi bahan tersebut dengan dinding dan lingkungan, sehingga dapat digunakan untuk merumuskan metode konservasinya. Manfaat yang lain adalah dapat dijadikan acuan dalam melakukan restorasi lukisan yang hilang atau mengelupas jika diperlukan. dan yang lebih penting adalah dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan untuk mengungkap pola kehidupan masa lalu dan kearifan budayanya.

Meskipun tidak secara langsung menyebut bahan lukisan terbuat dari hematit, Samidi telah menggunakan hematit sebagai pigmen pengganti. Dengan kata lain Samidi telah menduga bahwa bahan pewarna lukisan yang digunakan adalah hematit. Pemilihan hematit sebagai bahan pewarna oleh Samidi didasarkan pada masyarakat tradisional Toraja yang menggunakan hematit untuk membuat pewarna pada hiasan rumah adat.   Beberapa peneliti terdahulu juga telah menyebutkan dugaan warna merah berasal dari hematit. Dugaan ini didasarkan  atas temuan hematit yang terdapat di Leang Burung 2 dan Pattae. Temuan hematit di Leang Burung 2 diperoleh pada penggalian yang dilakukan oleh I.C. Glover pada tahun 1973. Hematit ini ditemukan pada berbagai lapisan bersama-sama dengan temuan batu inti dan alat serut. Hematit yang ditemukan berupa pecahan seperti batu merah dan tampak adanya alur-alur yang diduga sebagai akibat dari usaha manusia untuk memanfaatkannya (Glover, 1981 dalam Restiyadi, 2007). Hematit di Leang Pattae ditemukan oleh Van Hekeren tahun 1950.

Hematit bukanlah perwarna instant yang siap dipakai, akan tetapi diperlukan sebuah proses pengolahan terlebih dahulu yaitu proses dari hematit padat ke pewarna cair. Melalui  temuan hematit dan adanya tanda-tanda pengerjaan yang ditemukan oleh Glover dan Hekeren, dapat diduga adanya persiapan-persiapan (pra produksi) sebelum produksi lukisan gua (Restiyadi, 2007). Penelitian lain yang pernah dilakukan adalah penelitian oleh Sadirin (1998). Pada penelitian tersebut dicoba usaha untuk membuat dugaan campuran yang digunakan dengan bahan-bahan alami dari tumbuh-tumbuhan (sirih, gambir, dan pinang). Hasil penelitian yang menggunakan bahan-bahan alami tumbuh-tumbuhan tersebut pada awalnya cukup baik, namun tidak dapat bertahan lama. Dalam waktu beberapa bulan sudah memudar.

Berdasarkan hasil observasi dilapangan diperkirakan bahwa bahan-bahan yang digunakan untuk membuat sebuah lukisan adalah sebagai berikut:

  1. Bahan pewarna (pigmen) yang digunakan berasal dari mineral merah (hematit ?) yang banyak terdapat di sekitar situs.
  2. Bahan pengikat yang digunakan agar dapat melekat dengan kuat pada dinding karst adalah bahan alami yang bersifat asam (sedikit asam). Bahan pengikat tersebut tidak bersifat seperti perekat tetapi menggunakan prinsip pembentukan stalaktit di atas. Yaitu bahan asam bereaksi dengan dinding karst menyebabkan permukaan karst yang berkontak dengan larutan pewarna menjadi larut sementara, kemudian mengeras kembali dan bahan warna terikat (berinteraksi secara kimia).
  3. Bahan alami bersifat asam dapat berupa berbagai ekstrak tumbuhan, pada umumnya ekstrak tumbuhan memang bersifat asam. Jenis vegetasi endemik yang hampir selalu dijumpai di setiap situs yaitu buah asam dan air buah lontar. Sebagai perbandingan diuji juga larutan asam cuka, serta ekatrak gambir dan pinang.

Menurut pendapat Roder, bahwa warna yang sekarang dilihat dapat mengindikasikan tua mudanya lukisan tersebut. Roder berpendapat bahwa lukisan yang berwarna merah lebih tua dari lukisan yang berwarna putih. Sesuai dengan hasil penelitian, Roder kemudian memilah-milah lukisan tersebut kedalam beberapa kelompok berdasarkan warna dan gayanya. Ia berpendapat bahwa warna merah lebih tua dari pada warna hitam, dan warna hitam lebih tua dari pada warna putih. Ketiga warna ini sering dijumpai saling tumpang tindih secara berurutan, yaitu mula-mula warna merah tertutup warna hitam, dan warna hitam juga tertutup warna putih. (Marwati Djoened Poesponegoro: 2008. 198-199). Cap tangan dengan latar belakang cat merah mungkin mengandung arti kekuatan atau lambang kekuatan pelingdung untuk mencegah roh jahat, dan cap-cap tangan yang jari-jarinya tidak lengkap sebagai tanda adat berkabung.

 

Nilai-nilai yang Terkandung

Lukisan gua merupakan sebuah bentuk perwakilan ekspresi diri manusia pada masa itu, mereka berusaha mengabadikan semua kegiatanya yang dilakukannya dalam bentuk “coretan” dinding gua atau oleh masyarakat sekarang bisa dikatakan sebagai bagian dari lukisan gua.

Van Heekeren (1952), Soejono (1977) dan Kosasih (1983) mengatakan bahwa tujuan pembuatan lukisan itu ada kaitannya dengan kepercayaan mereka (bersifat religius). Artinya, karya seni tersebut dibuat tidak terkait langsung dengan tujuan artistik (menambah keindahan suatu objek yang dilukis), tetapi suatu usaha untuk dapat berkomunikasi dengan kekuatan supranatural. Oleh karena itu, para peneliti memperkirakan bahwa ide melukis dinding gua pada awalnya merupakan suatu permohonan kepada kekuatan tertentu agar apa yang dikehendaki dapat tercapai, sesuai dengan apa yang dilukis. Mengenai lukisan cap tangan itu sendiri, Van Heekeren (1952) mengatakan bahwa lukisan itu ada hubungannya dengan upacara kematian dan kehidupan di alam lain (kehidupan setelah mati). Lebih jauh, Van Heekeren (1952), dengan menggunakan studi etnoarchaelogi, mengaitkan antara cap tangan dan religi. Ia menyatakan bahwa cap tangan menggambarkan suatu perjalanan arwah yang telah meninggal yang sedang meraba-raba menuju ke alam arwah. Selain itu, cap tangan juga merupakan suatu tanda bela sungkawa dari orang-orang yang dekat dengan yang mati.

Salomon Reinach seorang arkeolog Prancis yang meneliti agama dan seni Palaeolitik. menawarkan sebuah konsep sympathetic magic (ritual menggunakan objek magis atau tindakan simbolis terkait dengan peristiwa atau orang yang lebih berpengaruh), yakni keyakinan akan adanya keuatan dalam berburu (hanting magic), dan keyakinan akan adanya kekuatan dalam aspek kesuburan (fertility magic). Lukisan yang dapat dilihat berdasarkan Sympathetic Magic yang ada di kepulauan Maluku adalah lukisan yang ada di Di Kampung Dudumahan, pantai utara Pulau Nuhu Rowa. Salah satu lukisannya dianggap unik adalah pola manusia berjenis kelamin wanita yang tegas. Dari sini berdasarkan Sympathetic Magic bisa dikatakan berhubungan dengan masalah kesuburan. Kesuburuan menjadi salah satu harapan manusia dalam hidupnya, manusia selalu mencari kesuburan baik dari segi alam maupun kelahiran. Kesuburan ini menjadi salah satu indikator manusia mampu bertahan hidup di dunia.

Sementara itu Begeuen, menganalisis dari segi rites magic yaitu kekuatan gambar-gambar binatang dan manusia dalam satu ritual upacara magis. konsep rites magic ini mencoba menjelaskan bahwa  manusia selalu mengadakan ritual-ritual upacara yang berhubungan dengan sebuah keyakinan kepada sang pencipta. Luksian gua yang menggambarkan tentang rites magic terdapat dalam gua Pulau Seram dan Kepulauan Kei, di gua ini banyak gambar-gambar manusia, binatang, matahari dll. Pembuatan lukisan ini menunjukan bahwa manusia pada masa itu berusaha untuk menujukan tingkat kecerdasan kemampuan mereka dalam melaksanakan kepercayaannya. Kepercayaan merupakan sebuh dasarnya suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Kepercayaan ini menjadi sebuah landasan manusia untuk menjalankan hidupnya, maka untuk itu manusia pada masa itu berusaha untuk mengabadikan hal-hal yang berhubungan dengan sebuah kepercayaan masyarakat.

Kami (pernah) Ada di Tempat Ini

Lukisan gua Prasejarah bisa dikatakan sebagai referensi manusia sekarang untuk melihat sebagaimana tingkat kecerdasan manusia pada masa itu. Dengan melihat dinding gua yang ada, kita bisa mengasumsikan bahwa manusia yang tinggal di kepulauan Nusantara telah memiliki nilai dan kemampuan kebudayaan yang tinggi pada masa itu, ini terbukti dengan banyak ditemukan lukisan gua prasejarah yang menandakan mereka telah mampu menciptakan sesuatu yang menggambarkan kehidupannya (Lukisan gua).

Sikap hidup manusia pada masa lalu itu tergambar di dalam lukisan-lukisan tersebut, dan termasuk juga di dalamnya nilai-nilai estetika dan magis yang bertalian dengan apa yang mereka yakini dan mereka pikirkan.

Ribuan tahun telah berlalu sejak lukisan gua prasejarah itu dibuat, kini lukisan dinding gua telah banyak mengalami kerusakan karena proses pelapukan dan pengelupasan kulit batuan terus berlanjut.  Lukisan pada dinding gua prasejarah  umumnya mengalami kerusakan yang sama, selain terjadi pengelupasan juga terjadi retakan mikro dan makro.  Di samping itu di beberapa tempat warna lukisan memulai memudar terutama lukisan yang terletak di bagian dinding depan mulut gua.  Demikian pula proses inkrastasi (pengendapan kapur) terus berlanjut, hampir semua gua terjadi proses pengendapan kapur pada kulit batuan gua, coretan spidol dan goresan benda tajam juga banyak dijumpai.

Meskipun banyak yang telah mengalami kerusakan, keberadaan lukisan prasejarah yang mampu bertahan selama puluhan ribu tahun tersebut sangat menggugah untuk dikaji. Banyak pertanyaan yang timbul mengenai lukisan tersebut, mulai dari bahan yang digunakan, metode peramuan dan aplikasinya, hingga interaksinya dengan dinding gua dan lingkungan sehingga mampu bertahan dalam kurun waktu yang sangat lama.

Dan sebagai bagian dari usaha konservasi agar kelak masih bisa dikaji oleh generasi selanjutnya, jangan dirusak lagi, Pandal.

 

Sumber Rujukan:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1998). Khasanah Budaya Nusantara IX. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Melalatoa, J. (1995). Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jilid A-K. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kosasih, S.A.    (1983). Lukisan Gua di Indonesia sebagai Data Sumber Penelitian arkeologi”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi III. Jakarta, hal 158-175,

Linda, (2005).  Tata Letak Lukisan Dinding Gua di Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya UGM

Poesponegro, marwati Djoened. (2008). Sejarah Nasional Indonesia I “Zaman Prasejarah di Indonesia“. Jakarta: Balai Pustaka

Restiyadi, Andri. (2007).  “Diskursus Cap Tangan Negatif Interpretasi Terhadap Makna dan Latar Belakang Penggambarannya di Kabupaten Maros dan Pangkep Sulawesi Selatan” dalam Artefak Edisi XXVIII. Yogyakarta : Hima UGM

Samidi, (1985). Laporan Hasil Survey Konservasi Lukisan Gua Sumpang Bita dan Pelaksanaan Konservasi Lukisan Gua Pettae Kerre. Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan

Samidi, (1986). Laporan Konservasi Lukisan Perahu/ Sampan si Gua Sumpang Bita (Tahap Awal) dan Konservasi Lukisan Babi Rusa di Gua Pettae Kerre (Penyelesaian). Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan.

…………..”Lukisan Cap Tangan pada Dinding-dinding Gua di Sulawesi Selatan”. [Online]. Terdapat di. http://uun-halimah.blogspot.com/2008/05/lukisan-cap-tangan-pada-dinding-dinding.html [26-11-09]

….………. (2008). “MISTERI BAHAN LUKISAN PRASEJARAH MAROS-PANGKEP”. [Online]. Terdapat di. http://konservasiborobudur.org/?p=86 [26-11-09]