Kerajaan Kutai diketahui keberadaannya berdasarkan sumber berupa prasasti yupa berjumlah tujuh buah. Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada abad ke-4 Masehi dan menjadi salah satu “kerajaan tertua” di Nusantara. Hingga saat ini, masih sedikit bukti yang dapat mengungkapkan sejarah kerajaan yang diperkirakan terletak di Kalimantan Timur ini.

Kutai sesunguhnya bukan nama sebenarnya Kerajaan yang dimaksudkan. Nama Kutai diambil dari berdasarkan nama tempat penemuan prasasti yang memberitakan eksistensi Raja Mulawarman. Beberapa pihak bahkan lebih suka menyebutnya kerajaan Mulawarman di banding Kerajaan Kutai, ada juga yang menyebutnya Kerajaan Kutai Martapura untuk membedakannya dengan Kerajaan Kutai Kartanegara. Belum ada informasi yang dianggap jelas untuk menyebutkan nama kerajaan ini, dan memang sangat sedikit informasi yang ada. Dari salah satuprasasti yupa yang menggunakan huruf Pallawa dan bahasa sanskerta itu, diketahui bahwa raja yang “Sanskerta”; Adalah salah satu rumpun bahasa Indo-Eropa yang cukup tua dengan sejarahnya termasuk yang terpanjang.memerintah kerajaan Kutai salah satunya adalah Mulawarman.

Mulwarman tercatat dalam prasasti yupa tersebut selain karena ia seorang Raja, beliau juga adalah raja yang dermawanan, begitulah kira-kira menurut para Brahmana yang membuat prasasti Yupa itu. Bagaimana tidak dermawan, tidak tanggung-tanggu, Raja Mulawarman telah menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada para brahmana.

“Prasasti Yupa Kutai”. Foto oleh Meursault

“Prasasti Yupa Kutai”. Foto oleh Meursault

Mulawarman lebih lanjut diceritakan merupakan anak dari Aswawarman dan cucu dari Kudungga. Ketiganya ada raja kerajaan Kutai. Nama Aswawarman dan Mulawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta sedangkan Kudungga masih “berbau lokal”. Kudungga diduga adalah raja pertama yang berkuasa atas Kerajaan Kutai. Akan tetapi, alih-alih dia adalah seorang raja pendiri, beberapa justru berpendapat bahwa pada masa pemerintahan Kudungga pengaruh Hindu diduga baru masuk ke wilayahnya.

Kedudukan Kudungga konon, pada awalnya,karena namanya masih menggunakan nama lokal,merupakan seorang kepala suku, Dan dengan masuknya pengaruh Hindu, ia kemudian mengubah struktur pemerintahannya menjadi kerajaan dan mengangkat dirinya menjadi raja. Sehingga pergantian raja dilakukan secara turun-temurun. Pendapat seperti ini, masih perlu dipertanyakan lebih lanjut, karena bagaimanapun belum ada bukti yang menunjukan proses bagaimana Kundungga menjadi Raja, selain itu pendapat seperti ini sangat “Indiasentris”.

Raja selanjutnya yang diberitakan memerintah Kerajaan Kutai setelah Kudungga adalah Aswawarman. Ia disebut sebagai Dewa Ansuman atau Dewa Matahari. Aswawarman juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga digelari Wangsakerta, yang artinya kurang lebih pembentuk keluarga. Dalam yupa tersebut juga memberitakan bahwa Raja Aswawarman merupakan seorang raja yang dinilai cakap dalam memerintah. Pada masa pemerintahannya lah, wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai mengalami perluasan. Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan upacara Asmawedha.

Asmawedha adalah upacara yang dilakukan ketika hendak memperluas wilayah kekuasaannya. Dalam upacara Asmawedha dilaksanakan ritual pelepasan kuda dengan tujuan untuk menentukan batas wilayah kekuasaan Kerajaan. Dengan kata lain, sampai di mana ditemukan jejak kaki kuda, maka sampai di tempat itulah wilayah batas kekuasaan Kerajaan. Mungkin akan terjadi peperangan jika di wilayah yang telah dilewati kuda itu ternyata ada raja yang berkuasa. Ritual pelepasan kuda tersebut diikuti oleh sejumlah prajurit Kerajaan. Aswawarman sendiri diberitakan memiliki tiga orang anak, dan salah satunya bernama Mulawarman.

Dalam kehidupan politik berdasarkan informasi prasasti yupa diketahui bahwa raja terbesar dari Kerajaan Kutai ini adalah Raja Mulawarman. Mulawarman kabarnya berhasil membawa Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah Kerajaan kutai pada masa pemerintahan Mulawarman bahkan telah meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan.

Kerajaan Kutai Mulawarman ini diperkirakan berakhir ketika muncul nama Kerajaan Kutai Kartanegara pada abad ke-14 Masehi.