Keberadaan kerajaan Kalingga hingga saat ini masih menjadi sebuah perdebatan yang menarik dalam sejarah Indonesia Kuna. Sebagian meyakini bahwa Kerajaan Kalingga justru berada di India dan beberapa meyakini bahwa Kalingga berada di Pulau Jawa, di Indonesia.

Pendapat yang menghubungkan kerajaan Ho-ling dengan kerajaan Kalingga, salah satunya dikemukakan oleh N.J. Krom (1883-1945), seorang arkelog dari negeri Belanda. Terlepas dari dinamika sumber sejarahnya, yang jelas dari beberapa bukti-bukti yang diketemukan  menunjukkan bahwa di Pulau Jawa pada abad ke-6 pernah ada sebuah kerajaan bernama Kalingga. Berdasarkan berita Cina, Kerajaan Kalingga ini disebut Ho-ling, yang bertempat di Cho-po, yaitu Pulau Jawa. Selain dari kronik Cina, sumber yang memuat informasi mengenai keberadaan kerajaan Kalingga adalah Prasasti Tuk Mas.

Sebuah berita Cina dari abad ke-3 Masehi yaitu kitab ditulis oleh Wan Chen “Nan chou I wi chi”, sebuah catatan tentang keanehan di selatan, menyebut sebuah wilayah bernama Ko-ying yang merupakan pusat perdagangan internasional dan terletak di Pulau Jawa.

Di daerah Jepara sekarang, ada kecamatan yang bernama Keling dan juga ada wilayah desa bernama Kaligarang. Apakah letak Ho-ling itu di Keling? masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Tetapi bukti-bukti arkeologis setidaknya menunjukan bahwa di wilayah Keling (Jepara) ini pernah berdiri sebuah kerajaan.

Di Gunung Muria dekat dengan Kecamatan Keling, Jepara, diketemukan empat arca batu; Batara Guru, Narada, Togog, dan Wisnu. Selain empat arca, di temukan juga Prasasti, dan Candi; Candi Angin dan Candi Bubrah di Desa Tempur.

“Candi Bima, Dieng 1912 c”. Dari Tropenmuseum. Lukisan oleh Max Fleischer

“Candi Bima, Dieng 1912 c”. Lukisan oleh Max Fleischer/ Tropenmuseum

Ketegasan Ratu Shima

Sumber dari Dinasti Tang (618-908 Masehi), menyatakan bahwa Kerajaan Ho-ling ini dimungkinkan terletak di Cho-po. Cho-pho di hubungkan dengan Jawa, tepatnya jawa Tengah. Kronik Dinasti Tang lebih lanjut menyebutkan bahwa pada tahun 674 Masehi Kerajaan Kalingga ini diperintah oleh seorang Ratu bernama Ratu Shima—ada juga yang menulisnya Ratu Sima—yang menjalankan hukum kerajaan dengan tegas; pencuri akan dihukum potong tangannya.

Disebutkan bahwa ketegasan Ratu ini juga menjadikan rakyatnya sangat patuh dan hidup dengan penuh kejujuran. Alkisah, seorang pengelana dari Arab ingin menguji rakyat dan Ratu tersebut ia lalu menaburkan bebera keping emas di tengah jalan. Selama hampir tiga tahun tidak ada yang berani mengambil emas tersebut. Hingga suatu hari, putra mahkota kemudian menyentuh emas tersebut dengan kakinya. Mendengar hal tersebut, kabarnya Ratu Sima ini sangat marah dan memerintahkan agar putranya itu dipenggal lehernya.

Hukuman penggal leher kabarnya dibatalkan karena mendapat tantangan dari keluarga kerajaan Kalingga lainnya. Menurut mereka yang menyentuh emas tersebut adalah kaki, oleh karena itu akhirnya putra mahkota dapat selamat tetapi ia harus dipotong kakinya.

Cerita tentang Ratu Sima dan ketegasannya ini sepintas seperti dongeng, tapi jika memang tidak mengandung kebenaran sejarah, setidaknya cerita itu telah menjadi sebuah harapan karena bagaimana pun kisah ini telah bertahan puluhan bahkan ratusan tahun lamanya.

Utusan ke Negeri Cina

Kronik Dinasti Tang juga memberitakan bahwa Kerajaan Ho-ling telah mengirimkan utusan ke negeri mereka pada tahun 647 Masehi dan 666 Masehi. Kerajaan Kalingga tercatat mengirimkan utusannya lagi pada tahun 818 Masehi dan sesudah itu tidak diberitakan lagi utusan dari Kalingga yang datang lagi ke negeri Cina. Kedatangan utusan kerajaan Kalingga ke Cina diperkirakan adalah sebuah langkah diplomasi antar dua kerajaan.

Pengiriman utusan Kerajaan Kalingga ke Cina juga menunjukkan bahwa orang-orang Nusantara pada abad ke-6 Masehi telah mengakrabi luas samudra. Kemampuan mengarungi samudra tentunya dibekali oleh perkembangan teknologi pembuatan kapal, cara mengawetkan makanan, ilmu perbintangan atau astronomi, dan lain-lain. Hal ini merupakan warisan terdahulu, tercatat bahwa masyarakat Nusantara memang sangat akrab dengan keadaan laut. Mereka telah mengakrabi samudera yang menjadi bekal kuat untuk menjalin aktivitas ekonomi dan kekuatan politik. Kerajaan Taruma di Jawa bagian barat di waktu yang sama juga telah berkunjung ke negeri Cina.

Kehidupan Masyarakat

Daerah wilayah kekuasaan Kerajaan Kalingga meliputi 28 wilayah. Menurut Rouffaer, dalam menjalankan pemerintahan raja dibantu oleh 32 menteri, empat orang diantaranya menduduki jabatan di pusat kerajaan dan 28 orang lainnya berkuasa atas nama kerajaan di daerah-daerah.

Seorang pendeta Buddha asal Cina yang bernama I-Tsing dalam kunjungannya ke Nusantara menyatakan bahwa pada tahun 664 Masehi seorang bernama Hwi-ning telah datang ke Ho-ling dan tinggal di Ho-ling selama tiga tahun dari tahun 664 sampai dengan 667 Masehi. Dibantu seorang pendeta dari Ho-ling yang bernama Yoh-na-po-to-lo (Jnanabhadra) Hwi-ning berhasil menerjemahkan kitab Buddha Hinayana. Nama Jnanabhadra terdapat dalam sebuah prasasti Tuk Mas (650 Masehi). Prasasti ini ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta, diketemukan di daerah Tuk Mas, Dakawu (Magelang).

Prasasti Tuk Mas berisi pujian kepada mata air yang keluar dari gunung menjadi sebuah sungai yang seperti Sungai Gangga. Di atas tulisannya dipahatkan gambar cakra, dolmas, gunting, kapak, kundi, sangkha, stap, trisula, dan empat bunga fadma. Benda-benda ini merupakan sembahan penganut Siwa.

Kronik dari Dinasti Tang lebih lanjut memberitakan bahwa komoditas perdagangan di kerajaan Kalingga diantaranya cula badak, emas, gading gajah, kulit penyu, dan perak. Penduduknya membuat benteng-benteng dari kayu dan rumah yang mereka bangun beratapkan daun kelapa. Mereka pandai membuat minuman yang berasal dari air bunga kelapa (mungkin sejenis minuman keras). Bila makan tidak menggunakan sumpit, tapi langsung menggunakan tangan. Istana Kerajaannya digambarkan dikelilingi oleh pagar-pagar. Tempat tinggal bagi raja berupa rumah tingkat, singgasana Raja disebut paterana gading.