Beberapa tahun belakangan, masyarakat Indonesia digegerkan dengan keberadaan Situs Gunung Padang yang terletak di Desa Karyamukti kecamatan Cempaka. Situs ini digadang-gadang berasal dari peradaban nenek moyang Indonesia 10.000 tahun yang lalu. Betulkah demikian?

Beberapa peneliti telah mencoba mengungkapkan misteri dari Gunung padang ini bahkan tidak tanggung-tanggung kabarnya mereka telah menggunakan metode yang dapat menganalisis bentang alam baik itu melalui proses geomorfologi, geologi,geolistrik, geomagnet, dan pemboran.

Secara geografis, lokasi Gunung Padang, berdekatan dengan patahan Cimandiri. yang seharusnya jika terjadi gempa dari aktivitas patahan tersebut semua bangunan yang berada di gunung akan hancur dan mengalami kerusakan. Tapi kenyataannya adalah situs megalitik ini masih berdiri kokoh. Beberapa asumsi menyebutkan bahwa hal tersebut dimungkinkan karena susunan batu di situs Megalitik ini disusun saling mengunci.

Dari hasil eksavasi sementara pada Situs Gunung Padang, telah ditemukan beberapa lapisan yang memperlihatkan beberapa bagian yang berbeda terutama dari segi material yang berada di bagian bawah permukaannya karena ada yang bersifat padat dan ada juga yang lunak.

Tak heran jika Situs Gunung Padang digadang-gadang merupakan bangunan purbakala hasil peninggalan budaya megalitik yang terbesar di Asia Tenggara. Secara tampilan luar, di Puncak Gunung Padang berserakan batuan yang berbahan vulkanik alias andesit dan mengkerucut dalam lima teras yang diperkirakan berasal dari periode 4000-9000 Sebelum Masehi.

Situs Gunung Padang. Foto oleh M. Fadli

Situs Gunung Padang. Foto oleh M. Fadli

Batu-batu andesit tersebut terdapat di lokasi Situs Gunung Padang dan ketika menyeberangi Kali Cikuta dan Cipanggulaan, anda tidak akan lagi menemukan batu-batu besi seperti itu. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, bahwa batuan andesit di bawa dari luar Gunung Padang. Batuan andesit tersebut diukir dan dibentuk di tempat yang kini disebut dengan Kampung Ukir. Batu tersebut kemudian dicuci di sebuah danau kecil (empang) tempat itu kini disebut Kampung Empang. Kampung Empang dan Kampung Ukir ini jaraknya kurang lebih 500 meter arah tenggara dari situs Gunung Padang. Hingga saat ini masih bisa kita temui sisa-sisa batu purba tersebut.

Ini adalah sisi Mitos-nya. Betul atau tidak? tidak ada yang tahu. Namun keberadaan Kampung Ukir dan Kampung Empang ini memang ada. Bisa anda temui sekitar 500 meter arah tenggara Situs Megalitik Gunung Padang. Mungkin di dua kampung tersebut terdapat folklor atau cerita rakyat yang lebih detail mengisahkan tentang Situs Gunung Padang, seperti halnya “Kisah Sangkuriang”. Kenapa tidak? Jika Situs Gunung Padang adalah salah satu peninggalan peradaban manusia di masa lalu, pastilah hadir sebuah cerita rakyat yang membangun mitos di sekitarnya.

Berikut adalah percikan mitos tersebut. Masyarakat sekitar memberi penjelasan bahwa arti “padang” ialah tempat agung leluhur. Ada juga yang mengatakan terang benderang. Hal ini merujuk pada kata “padang’” dalam bahasa Sunda dimaknai sebagai caang atau sama dengan terang benderang. Terdapat pula pengertian lainnya dari istilah “padang”, yaitu: pa-da-hyang. pa; tempat, da;besar/agung, dan hyang;eyang/moyang/leluhur. Tempat agung para leluhur.

Konon pada zaman dahulu Situs Gunung Padang ini dijadikan tempat untuk bersemedi atau sebagai tempat pemujaan. Hipotesis sementara usia dari batuan di Situs Padang sekitar 10.000 tahun. Pernyataan ini masih menjadi tugas para arkeolog untuk mencari kebenarannya.

Keistimewaan dari Situs Gunung Padang adalah misteri yang tersimpan di dalamnya. Situs Gunung Padang ini bahkan disinggung-singgung berkaitan dengan peradaban Benua Atlantis yang hilang. Atau setidaknya ungkapan sejarah peradaban tertua akan bergeser dari Mesir ke Nusantara, tentunya penyataan yang masih terlalu dini. Perlu banyak bukti dan temuan lebih lanjut. Dan pastinya masih membutuhkan banyak penelitian ilmiah dari berbagai disiplin ilmu.