Masyarakat di Nusantara mengenal logam kurang lebih sekitar 3.000-200 Sebelum Masehi, bertepatan dengan periode perundagian dan masa bercocoktanam. Salah satu alat yang dihasilkan budaya logam itu adalah kapak perunggu. Secara kegunaannya, kapak perunggu dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan utama, yaitu kapak corong (kapak sepatu) dan kapak upacara. Ada yang diberi hiasan dan ada juga yang tidak berhias. Wilayah penemuan kapak perunggu di Nusantara diantaranya adalah wilayah Sumatra Selatan, di Jawa Barat, beberapa tempat di Jawa Tengah, di Jawa Timur, di Pulau Madura, di Sulawesi Tengah, di Sulawesi Selatan, Pulau Bali, Flores, Maluku, Pulau Roti, dan juga di Papua.

Pada masa perundagian kemahiran manusia untuk membuat alat-alat atau perkakas semakin berkembang. Hal ini dimungkinkan terjadi karena adanya pembagian kelas atau penggolongan masyarakat yang didasari pada keahlian (undagi), sehingga para pengrajin itu memiliki fokus yang baik pada bidang kerjanya.

Perundagian; adalah tahap terakhir masa prasejarah di Indonesia berdasarkan klasifikasi Soejono. Peroide ini juga erat kaitannya dengan zaman logam. Secara bahasa, Undagi artinya pekerja ahli/tukangTeknologi untuk membuat benda-benda semakin meningkat, kapak perunggu bahkan menunjukan kejeniusan yang komplit. Bentuknya yang luar biasa dan perlu diingat juga bahwa perunggu bukanlah logam yang begitu saja bisa ditemukan di alam tetapi merupakan campuran dari timah dan tembaga. Dengan kata lain, mereka adalah para “maestro” yang bukan hanya membuat, tapi menciptakan.

“Kapak Perunggu Tipe Kapak Corong”. Foto oleh LACMA

“Kapak Perunggu Tipe Kapak Corong”. Foto oleh LACMA

Pada masa bercocok tanam zaman prasejarah, manusia pendukung budayanya sudah tinggal dan menetap di sebuah desa atau wilayah perkampungan yang mempunyai pola sosial dan ekonomi yang cukup baik. Pada masa ini manusia telah hidup dalam sebuah tata aturan guna keberlangsungan dan kebutuhan bersama.

Mereka sudah tidak lagi bergantung pada belas kasih alam dalam artian berburu dan mengumpulkan sumber makanan. Manusia pada masa ini selain telah memproduksi sumber makanan sendiri, mereka juga telah mengatur tata kelola lingkungan tempat mereka tinggal. Terus meningkatkan mutu kehidupan lewat alat-alat yang lebih canggih mungkin telah hadir dari awal. Pada masa perundagian, mereka bukan hanya membuat alat untuk kebutuhan hidup saja, tapi lebih jauh dari itu. Alat-alat yang mereka ciptakan bahkan memiliki fungsi dan tujuan yang jauh lebih kompleks lagi, salah satunya adalah kapak perunggu.

Akan tetapi, walaupun pada periode perundagian alat-alat berbahan logam sudah dikenal secara luas, peralatan dari masa sebelumnya atau dari bahan non-logam, masih tetap dipergunakan. Salah satu sebabnya adalah bahan baku logam yang langka dan perlu para undagi (tenaga ahli) khusus untuk membuatnya. Hal ini didasarkan pada temuan arkeologi bahwa masih ada peralatan dari batu di lapisan atau lokasi penemuan peralatan yang dibuat dari logam.

Terbatasnya bahan baku memunculkan dugaan bahwa peralatan dari logam hanya digunakan oleh golongan masyarakat tertentu. Bahan baku logam yang terbatas dan juga keahlian khusus yang tidak semua orang bisa, sepertinya pada masa ini sudah terdapat jaringan hubungan sosial-ekonomi yang kompleks. Baik itu distribusi bahan baku dari daerah penghasil ke daerah perajin, dan juga dari perajin ke “pembeli”. Terdapatnya jalinan atau jalur ekonomi ini berarti juga telah terjadi sebuah interaksi budaya yang sifatnya bisa saja saling mempengaruhi.

Bentuk, Jenis, dan Fungsi.

Informasi atau sumber awal yang menyebutkan keberadaan kapak perunggu di Indonesia adalah laporan dari Ramphius (awal abad ke-18 Masehi). Sejak saat itu hingga memasuki pertengahan abah ke-19 dimulai usaha-usaha untuk mengumpulkan dan melakukan pencatatan asal usul kapak perunggu yang dilakukan oleh sebuah badan yang bernama Koninklijk Bataviaasch Genootschap.

“Kapak Upacara (Ceremonial Chandrasa)”. Foto oleh LACMA

“Kapak Upacara (Ceremonial Chandrasa)”. Foto oleh LACMA

Secara tipologis, kapak perunggu yang diketemukan di wilayah Indonesia dapat dibagi kedalam dua golongan utama; kapak corong (kapak sepatu) dan kapak upacara. Disebut sebagai kapak corong karena umumnya kapak perunggu jenis ini memiliki lubang seperti corong yang diduga untuk memasukan tangkainya. Ada juga yang menyebutnya sebagai “kapak sepatu” karena sepintas memang mirip dengan sepatu. Sedangkan penyebutan Kapak upacara merujuk pada kegunaanya sebagai bagian dari peralatan atau sarana dalam melakukan upacara yang berhubungan dengan sistem kepercayaan.

apak Perunggu Tipe Corong

apak Perunggu Tipe Corong

Sedangkan Heekeren, mengklasifikasikan kapak perunggu menjadi kapak corong, kapak upacara, dan tembilang (tajak). Pembagian ini kemudian oleh Soejono didetailkan lagi dengan fokus yang lebih cermat terhadap bentuk-bentuk kapak perunggu yang terdapat di Indonesia. Soejono kemudian berhasil membagi kapak perunggu menjadi delapan tipe utama.

Tipe I. Mengacu pada bentuk umum atau tipe dasar dari kapak perunggu yang banyak ditemukan. Kapak perunggu jenis ini memiliki bentuk yang lebar dengan penampangnya yang lonjong. Garis pangkal tangkainya ada yang cekung dan ada juga yang lurus. Umumnya bagian tajaman terlihat cembung.

Daerah persebaran tipe ini antara lain diketemukan di Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura Sulawesi, Bali, Flores, dan Maluku, Papua

Tipe II. Kapak perunggu yang termasuk tipe ini kadang juga dinamai sebagai kapak ekor burung seriti karena bentuk tangkai dengan bagian ujungnya membelah seperti bentuk ekor burung Seriti. Belahan tersebut ada yang dalam, dan ada juga yang dangkal. Selain itu, kapak perunggu jenis ini ada yang diberi pola hias, ada juga yang polos. Contohnya pada kapak perunggu yang diketemukan di wilayah Jawa Barat, pada bagian tangkainya telah dihias dengan pola hias topeng yang tersamar geometris berpola tangga dan lingkaran. Tempat penemuan kapak perunggu tipe ini selain di Jawa Barat juga ditemukan di Bali, Flores. Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Selatan, dan juga di Sulawesi Selatan.

Pola hias topeng pada benda prasejarah di Indonesia

Pola hias topeng pada benda prasejarah di Indonesia

Tipe III. Kapak perunggu tipe ini juga kadang disebut dengan kapak pahat karena memiliki tangkai yang lebih panjang dari pada tajamannya. Bentuk tangkainya menyempit dan ada juga yang lurus, ada yang pendek namun ada juga yang lebar. Bentuk tajaman cembung atau lurus (datar). Daerah penemuan kapak perunggu tipe ini adalah di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Maluku, Papua, dan di wilayah Sulawesi Selatan.

Tipe IV. Kapak perunggu tipe ini juga kadang disebut sebagai tembilang (alat penggali tanah) karena memiliki bentuk yang hampir sama dengan tembilang pada masa sekarang. Pada kapak tipe ini umumnya memilikitangkai yang pendek, bagian mata kapak gepeng, dan bagian bahu lurus mengarah pada sisi-sisinya. Mata kapaknya berbentuk trapesioda (setengah lingkaran). Kapak perunggu jeni ini diketemukan di wilayah Bali, Jawa Timur, dan juga Sulawesi Selatan.

Klasifikasi kapak perunggu di Indonesia oleh R.P. Soejono, 1971

Klasifikasi kapak perunggu di Indonesia oleh R.P. Soejono, 1971

Tipe V. Kapak perunggu tipe ini juga disebut kapak bulan sabit karena memiliki mata kapak yang mirip dengan bentuk bulan sabit. Pada bagian tengahnya agak lebar dan menyempit di kedua sisi, serta bagian sudut-sudut tajamnya membulat. Pada bagian tangkainya cukup lebar di bagian pangkal dan menyempit pada bagian tajamannya. Kapak perunggu tipe ini diketemukan di Pulau Bali dan juga di Papua.

Tipe VI. Kapak perunggu ini juga terkadang disebut sebagai kapak tipe jantung karena bentuk mata kapaknya seperti jantung. Bagian tangkainya cukup panjang dengan bagian pangkal yang cekung. Pada bagian bahu kapak terlihat melengkung ke bagian ujungnya dan kedua pangkal di bagian tangkai seperti sapu lidi pada jenis yang lebih kecil. Kapak Perunggu jenis ini hanya diketemukan di Pulau Bali.

Tipe VII. Kapak perunggu tipe ini disebut juga sebagai candrasa. Bagian tangkainya pendek dan melebar ke bagian pangkal. Bagian mata kapaknya tipis dengan ujung-ujungnya yang melebar dan melengkung ke dalam. Pelebarannya tidak sama (asimetris). Kapak perunggu tipe ini selain pipih juga sangat besar yang kadang terdapat pola hiasan burung yang kaki-kakinya sedang mencengkram kapak candrasa. Pola-pola hias lain yang banyak diketemukan adalah geometris yang menghiasi bagian tangkai. Kapak perunggu tipe ini diketemukan di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan juga di Jawa Timur.

Tipe VIII. Kapak perunggu ini terkenal dengan sebutan kapak Rote karena ditemukan di Pulau Rote. Bagian tangkai kapaknya menyatu dengan bagian kapaknya dan keseluruhannya berbentuk pipih atau gepeng. Bagian pangkal tangkainya berbentuk cakram sebagai tempat perletakan kapak. Cakramnya memiliki pola hias berupa pusaran roda. Pola hias utama yang terdapat pada mata kapak adalah pola topeng bertutup kepala seperti kipas.

“Kapak Perunggu Tipe Khusus”. Foto oleh LACMA

“Kapak Perunggu Tipe Khusus”. Foto oleh LACMA

Tipe Khusus. Kapak perunggu ini tidak memiliki corong. Pada sisi kiri dan juga kanan tangkai kapaknya melipat ke bagian dalam sehingga membentuk semacam ruang untuk memasukan tangkai. Tipe kapak ini dianggap sebagai kapak perunggu yang hadir lebih dulu sebelum kapak bercorong. Kapak perunggu ini diketemukan sebagai bekal kubur dan diduga berasal dari periode perundagian karena selain kapak tersebut juga ditemukan gerabah yang telah sangat baik dalam pengerjaannya. Kapak perunggu tipe ini diketemukan di Liang Bua, Flores.

Selain memiliki bentuk dan ukuran yang beragam, kapak perunggu ini jika dilihat dari kemungkinan penggunaannya, dapat berfungsi:

1. Kapak perunggu berfungsi sebagai alat upacara atau bagian dari benda-benda pusaka yang erat kaitannya dengan sistem kepercayaan masyarakatnya.

2. Kapak perunggu berfungsi sebagai perkakas atau alat untuk bekerja yang digunakan sehari-hari untuk membantu aktivitas kegiatan manusia pada zamannya.