Kapak lonjong adalah hasil kebudayaan pada zaman neolitik. Kapak tipe ini terbuat dari batu kali dan batu nefrit yang telah dihaluskan sedemikan rupa. Kapak lonjong juga dikenal sebagai polished axe karena seluruh bagian dari kapaknya telah diupam atau dihaluskan sangat baik. Neolitikum merupakan surga bagi para pengrajin, pada zaman ini alat-alat dan tingkat kehidupan telah jauh lebih maju jika dibandingkan dengan zaman sebelumnya; paleolitikum.

Berdasarkan pada studi arkeologi, salah satu dari pembagian zaman yang berdasarkan pada penggunaan teknologi khususnya batu pada zaman prasejarah adalah neolitikum. Zaman ini jika dilihat dari pembagian periode menurut keadaan sosial-ekonomi masyarakatnya dapat digolongkan ke dalam masa bercocok tanam. Yang sangat menonjol pada zaman neolitik ini adalah teknologinya yang dianggap telah jauh lebih baik dari zaman sebelumnya yaitu paleolitikum. Pada masa neolitik kehidupan sosial-ekonomi bisa dikatakan merupakan transisi akhir menuju masa sejarah dan teknologi mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Zaman neolitik menghasilkan beberapa kebudayaan yang salah satunya adalah kebudayaan kapak lonjong. Kapak lonjong ini dikatakan jauh lebih maju apabila dibandingkan dengan kapak yang dihasilkan kebudayaan sebelumnya; kapak perimbas, kapak genggam dan lain-lain.

Kapak LonjongDinamakan kapak lonjong karena kapak ini berbentuk lonjong dengan pangkal yang juga kadang lonjong dan penampangnya hampir berbentuk bulat. Kapak lonjong juga disebut polished axe karena hampir seluruh bagian kapaknya telah dihaluskan dengan sangat baik. Selain itu, bagian tajaman kapak sepertinya diasah dari berbagai arah sehingga memperlihatkan bentuk tajaman yang simetris. Pada beberapa kasus tertentu, bagian tajamannya memperlihatkan bentuk yang melebar.Di sinilah letak bedanya dengan kapak persegi yang umumnya tidak memiliki tajaman simetris (setangkup).

Beberapa ahli menyebutkan bahwa tradisi kapak lonjong lebih tua dibandingkan dengan tradisi kapak persegi atau beliung persegi. T. Harrison dari hasil ekskavasi dan penelitiannya yang dilakukan di Gua Niah, Serawak, berdasarkan uji kabron ( C-14) didapati pertanggalan kapak lonjong dalam lapisan tanah yang berumur kurang lebih 8.000 BP (6.000 Sebelum Masehi).

Bahan dan Pembuatan

Perkembangan dalam pembuatan alat-alat batu mengalami perubahan dari satu zaman ke zaman berikutnya. Tidak terkecuali dengan bahan baku yang digunakan untuk membuat alat-alat tersebut. Pada zaman prasejarah, batuan yang dipakai untuk membuat kapak lonjong umumnya merupakan batuan kali yang berwarna hitam pekat. Penggunaan batuan jenis ini terlihat pada kapak lonjong yang dihasilkan di kebudayaan Papua. Penggunaan bahan ini mungkin dengan pertimbangan mudah ditemukan karena ada di sekitar lingkungan tempat mereka tinggal. Kapak lonjong juga dibuat dari jenis batuan nefrit. Nefrit: (Geo); batu mulia yang bening atau buram, ada yang hijau muda, hijau tua, atau cokelat; batu giok

Membuat kapak lonjok membutuhkan tangan-tangan kreatifitas yang terlatih. Pemilihan batu merupakan hal penting, bahan baku dapat diperoleh melalui penyerpihan dari batu inti besar atau bisa bahan baku itu langsung dari batuan yang sudah tersedia dengan bentuk yang hampir sesuai dengan keinginan. Bahan batu itu kemudian diupam halus dan permukaan batunya juga diratakan melalui teknik pukulan beruntun.

Selain ditemukan kapak lonjong yang memiliki ukuran besar yang seperti pada umumnya sebagai alat (perkakas), juga diketemukan kapak lonjong dengan ukuran kecil, bahkan bukan hanya kecil tapi sangat kecil jika dikategorikan sebagai perkakas keseharian. diduga benda itu sebagai batu yang memiliki nilah “magis” atau benda yang dijadikan pusaka yang berhubungan dengan sistem kepercayaan.

Menggunakan Tangkai

Kapak Lonjong bertangakai

Kapak Lonjong yang dipasang pada tangkai.

Jika pada masa sebelumnya (paleolitik) alat batu tidak memiliki atau tidak menggunakan tangkai; digenggam ketika hendak digunakan. Lain halnya pada masa neolitik, alat-alat batu itu secara umum dipasangi tangkai yang diikatkan pada kapak batu mereka. Pemasangan tangkai memudahkan saat penggunaan di samping faktor kenyamanannya.

Teknik memasang tangkai juga beragam. Pada jenis kapak lonjong umumnya alat batu ini dimasukan ke dalam lubang pada tangkai yang telah disiapkan sebelumnya. Ada juga teknik pemasangan tangkai dengan mengikat kapak pada tangkainya.

Tangkai atau gagang kemungkinan terbuat dari kayu. Selain mudah dalam proses pembuatannya, kayu juga merupakan bahan yang mudah didapatkan dan cukup kuat.


Persebaran di Indonesia

Penemuan kapak lonjong di Indonesia, paling banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian timur, yaitu Flores, Leh, Maluku, Papua, Sangihe Talaud, Sulawesi, dan Tanimbar. Dari tempat-tempat tersebut, baru sedikit informasi yang bisa diperoleh, terutama informasi dari penggalian arkeologi.

kapak lonjong ini masih dibuat di beberapa kebudayaan salahsatunya di wilayah-wilayah pedalaman Papua, sehingga kita mungkin bisa mengira-ngira fungsi dan juga bagaimana cara penggunaannya. Tidaklah mustahil temuan-temuan di beberapa tempat lainnya di Indonesia merupakan hasil pengaruh dari budaya Papua yang telah tersebar luas.

Akan tetapi, perlu juga diingat bahwa dugaan-dugaan mengenai fungsi kapak lonjong pada masa prasejarah itu tidak sepenuhnya bisa disamakan dengan kapak lonjong yang masih digunakan sekarang. Pembuktian arkeologi dari hasil ekskavasi tetap merupakan hal pokok dalam mengungkap kehidupan pada masa prasejarah yang mendukung budaya kapak lonjong.

Persebaran di luar Indonesia
Mikronesia: adalah sebuah kepulauan yang terletak di Samudera Pasifik. Terletak di timur laut Indonesia. Melanesia: adalah sebuah wilayah yang memanjang dari Pasifik barat hingga ke Laut Arafura, utara dan timur laut wilayah Australia.Di luar wilayah Indonesia, kapak lonjong diketemukan tersebar meliputi Cina, Filipina, India, Jepang, Manchuria, Myanmar,  dan juga di Taiwan. Di India kapak lonjong sering dihubungkan dengan budaya orang-orang Dravida.Selain itu Kapak Lonjong juga ditemukan di Kepulauan Mikronesia dan wilayah kepulauan Melanesia. Berdasarkan tempat-tempat penemuan tersebut, diduga bahwa jalan persebaran dari kebudayaan kapak lonjong melintasi bagian utara dan timur Indonesia. Tidak mengherankan jika wilayah Timur Indonesia lah yang banyak diketemukan budaya kapak lonjong ini.

Di Jepang dan cinta budaya kapak lonjong menunjukan telah berkembang pada masa bercocok tanam tingkat awal, sedangkan data pertanggalan dari pedalaman Papua New Guinea, di wilayah Kafiavana, memberi petunjuk waktu mencapai 10.000 BP (8.000 Sebelum Masehi).