Disebut kapak genggam karena alat ini digunakan dengan cara menggenggam. Mirip dengan kapak tetapi tidak bertangkai. Istilah Kapak genggam di Indonesia kadang menjadi rancu dengan istilah kapak perimbas. Secara sederhana keduanya adalah istilah yang sama tapi berbeda.

Kapak Perimbas (chopper) adalah alat batu yang digunakan pada masa awal berburu dan mengumpulkan makanan. Bentuknya masif atau utuh dan tajamannya cembung (konveks) atau kadang juga lurus yang diperoleh melalui pemangkasan sederhana pada salah satu sisi pinggiran batunya. Kulit batu masih melekat pada bagian besar permukaan batunya.

Sedangkan kapak genggam (hand axe) adalah salah satu varian dari Kapak Perimbas yang mulai digunakan pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Bentuk alat ini agak panjang dan meruncing. Tajamannya disipakan melalui peyerpihan terjal pada permukaan atas menuju pinggiran batu. Kulit batu masih melekat hanya pada pangkal alatnya sebagai tempat berpegang. Secara sederhana dapat disimpulkan kalau kapak genggam merupakan bentuk kapak perimbas yang lebih ‘modern’.

“Kapak Genggam”. Foto oleh José-Manuel Benito Álvarez

“Kapak Genggam”. Foto oleh José-Manuel Benito Álvarez

Sebaran Kapak Genggam

Pleistosen: (Geo); kala waktu geologi berlangsung antara 1.808.000 hingga 11.500 tahun yang lalu; bagian awal dari zaman kuarter; zaman diluviumKapak jenis ini ditemukan Von Koeningswald (1935) di wilayah Pacitan, Jawa Timur. Hasil penyelidikannya menunjukkan bahwa kapak genggam di wilayah tersebut berasal dari lapisan budaya Trinil atau masa Pleistosen Tengah. Ia juga menyimpulkan pendukung budaya kapak genggam tersebut adalah Pithecanthropus erectus. Penemuan yang sama juga terdapat di wilayah Peking (Tiongkok), di goa-goa Choukoutien tempat sejumlah fosil yang mirip dengan Pithecantropus erectus ditemukan, yang kemudian disebut Sinanthropus pekinensis.

Hasil penelitian dan ekskavasi pada tahun 1990 di beberapa wilayah Pegunungan Seribu oleh tim Indonesia-Prancis dipastikan bahwa kapak genggam juga digunakan oleh saudara jauh kita, Homo erectus.

Wilayah penemuan kapak genggam selain di daerah Punung, Pacitan) Jawa Timur ) juga diketemukan di Semenanjung Malaka, di Jampang Kulon, Sukabumi (Jawa Barat), di wilayah Parigi (Jawa Timur), di Tambang Sawah (bengkulu), Lahat (Sumatera Selatan), dan Kalianda (Lampung), Awangbangkal (Kalimantan), Kalimantan Barat, Cabenge (Sulawesi), Nusa Tenggara, Sembiran dan Terunyan (Bali), Flores dan tempat-tempat lainnya. Kapak genggam semacam ini juga diketemukan di Afrika, wilayah Eropa, Asia Tengah, hingga wilayah Punjab di India, Cina Selatan sampai wilayah Filipina.

Sumatralith

“Kapak Genggam Satu Sisi”. Gambar oleh José-Manuel Benito Álvarez

“Kapak Genggam Satu Sisi”. Gambar oleh José-Manuel Benito Álvarez

Sejumlah kapak genggam yang ditemukan di Indonesia dikenal dengan istilah sumatralith (batu Sumatra) atau kapak genggam Sumatra, oleh karena ditemukan pertama kali di wilayah Sumatra.

Ciri-ciri utama dari budaya khusus ini adalah menghasilkan produk alat-alat batu kerakal (pebble tools) dengan menggunakan teknik pemangkasan memanjang dan mendatar hanya pada satu sisinya saja.

Kapak Genggam ini ditemukan di Semenanjung Malaya, di Vietnam, Kaboja, Laos, Thailand dan juga ditemukan di Cina Selatan, di Australia dan Tasmania. Di indonesia artefak ini ditemukan di pantai Sumatera Utara, di Lhok Seumawe dan Binjai (Tamiang), Gua Niah di Kalimantan

Pembuatan kapak genggam

Kapak genggam dibuat dari gamping kersikan dan atau jenis batuan lainnya. Batu itu dibuat sedemikian rupa hingga memiliki bentuk yang meruncing lonjong. Kemudian pemangkasan dan penajaman dilakukan secara memanjang ke arah ujung runcingan, meliputi hampir keseluruh bagian permukaan batunya dan hanya meninggalkan sebagian kulit batu pada bagian sisi permukaan untuk memudahkan saat menggenggam ketika hendak digunakan.

Umumnya, kapak gengam masih dipahat secara kasar seperti teknik yang sebelumnya dilakukan untuk membuat kapak perimbas, tetapi ada juga dalam beberapa kasus kapak genggam telah diserpih juga dihaluskan dengan lebih detail dan dibentuk secara teratur.

“Budaya Kapak Acheulean”. Foto dari Wikimedia

“Budaya Kapak Acheulean”. Foto dari Wikimedia

Bentuk yang khusus ini terutma diketemukan baik di wilayah lembah Baksoko (sebelah barat Pacitan) maupun di daerah Tabuhan (Jawa Timur), dan dapat digolongkan sebagai budaya yang mempunyai kemiripan dengan tingkat budaya Acheulean.

Bentuk yang paling umum dari kapak genggam menunjukan alat ini terbuat dari batu inti yang kemudian dipertajam menggunakan kapak pemukul untuk menghasilkan tajaman di kedua sisinya. Untuk mendapat hasil yang lebih dan rapih penatahan dilakukan secara berulang-ulang dan hati-hati. Namun, pada beberapa budaya teknologi untuk membuat kapak genggam terlihat sangat rumit. Misalnya, pada kapak genggam sumatra (sumatralith) yang pemrosesannya hanya di satu sisinya dan pada kapak genggam yang sangat runcing sehingga terkadang dianggap sebagai alat serpih besar.

Singkatnya, meskipun memiliki tipologi yang mudah dikenali, nyatanya sangat sulit untuk mengidentifikasi sebuah artefak adalah kapak genggam. Hal ini menjadi rumit karena terkadang kapak genggam adalah hasil dari kreatifitas si pembuat. Tidak ada standar bentuk yang sama dan kompleksitas bentuk juga muncul dari niat si pembuat sehubungan dengan fungsi yang akan ia lekatkan pada alat yang ia buat.

Kapak genggam adalah salah satu benda yang paling problematis dan kompleks dalam artefak Prasejarah. Kapak genggam merupakan alat yang terus-menerus dikembangkan hingga mendapatkan bentuk yang lebih baik. Hal ini terbukti dengan banyaknya temuan yang semakin jauh lebih baik dari temuan dalam beberapa lapisan yang sama.

Fungsi Kapak Genggam

Belum ada kesepakatan umum bagaimana orang-orang pada masa lalu menggunakan kapak genggam. Para ahli yang meneliti alat-alat Paleolitikum kebanyakan memang mengungkapkan bahwa kapak genggam digunakan sebagai kapak atau setidaknya untuk membantu kegiatan manusia pada masa itu sebagai alat multi-fungsional.

Untuk alasan multi-fungsi ini, fungsi kapak genggam hanya sebagai kapak bisa dianggap menyesatkan karena kapak genggam bisa digunakan untuk menggali, memotong, menggores, menusuk, memalu dan lain-lain. Selain itu, dengan melihat perkembangan alat-alat batu, kapak genggam juga dapat digunakan sebagai peralatan untuk menghasilkan alat serpih dan alat-alat lainnya.

“Kapak Acheulean”. Foto oleh José-Manuel Benito Álvarez

“Kapak Acheulean”. Foto oleh José-Manuel Benito Álvarez

HG Wells (1899) mengusulkan sebuah teori, bahwa kapak genggam digunakan sebagai senjata lempar atau rudal untuk berburu. Interpretasi ini juga didukung oleh Profesor William H. Calvin. Penegasan ini terinspirasi oleh temuan dari situs arkeologi, Olorgesailie di Kenya. Ada beberapa indikasi dari kapak genggam memang dimaksudkan untuk dilemparkan pada kawanan hewan. Selain itu ada beberapa artefak kapak serupa yang terlalu besar untuk digenggam dan digunakan langsung. Menurut teorinya, kapak itu dilemparkan sehingga menyebabkan luka yang sangat serius pada hewan buruan. Akan tetapi, sayangnya, belum ada bukti dari dampak kerusakan yang disebabkan oleh kapak genggam pada hewan buruan di masa lalu. Bagaiman pun juga, kapak genggam digunakan sebagai rudal masih sangat “aneh” karena pada masa itu ada senjata yang lebih efisien, seperti lembing bahkan panah.

Beberapa kapak genggam mungkin telah digunakan untuk alasan praktis, tetapi banyak kapak genggam menunjukkan derajat keterampilan, desain dan simetri di luar tuntutan untuk kegunaan yang praktis. Bahkan, ada yang terlalu besar untuk digenggam dan ada juga yang terlalu kecil jika dikatakan kapak. Bentuk-bentuk yang jauh melampaui alat-alat yang digunakan untuk keperluan praktis setidaknya dapat memberikan sebuah tantangan baru untuk mencari bukti lebih lanjut bahwa kapak genggam memiliki fungsi yang “menyimpang” dari sekedar kapak.

Manusia Pendukung Kapak Genggam

Seperti telah disinggung di atas, kebudayaan kapak genggam merupakan hasil dari zaman Batu Tua atau Paleolitikum yang berlanjut hingga awal neolitikum, dari Pithecanthropus erectus berlanjut ke Homo Erectus hingga sampai kepada kita, Homo Sapiens. Paleolitikum: (Geo); suatu zaman “purba” yang berlangsung dari 750.000-15.000 tahun yang lalu; zaman batu tua.

Pola-pola pemukiman dan mata pencaharian menunjukan perbedaan secara dikotomi antara kehidupan di pantai dan di pedalaman. Mata pencaharian masyarakat pantai ialah mengolah hasil biota laut, dan beberapa ribu tahun kemudian menghasilkan timbunan sisa-sisa makanan (kjokkenmoddinger) yang sering kali di dalamnya sisa-sisa aktivitas masyarakat pendukungnya berupa artefak dan ekofak. Sebaliknya, mata pencaharian masyarakat pedalaman adalah berburu hewan besar dan kecil, dengan menggunakan banyak artefak batu yang ditemukan di sekitarnya. Dalam perkembangan hidupnya yang lebih kemudian, mereka mulai memanfaatkan gua sebagai lahan huniannya.

Menggunakan kapak genggam membutuhkan keahlian. Mungkin untuk satu-dua kali penggunaan itu terlihat sepele. Tapi bayangkan jika anda menggunakan itu selama bertahun-tahun, atau bahkan selama anda hidup. Ada risiko terluka, selain membutuhkan kekuatan fisik. Diperlukan koordinasi tangan-mata, ketika menggunakannya. Perencanaan, kesabaran, toleransi pada rasa sakit, dan ketahanan terhadap infeksi dari luka dan memar merupakan hal yang akan dijumpai ketika membuat atau menggunakannya.