Kerajaan-kerajaan Islam yang terdapat di Sulawesi Selatan, antara lain Bone, Gowa, Luwu, Soppeng, Tallo, dan Wajo. Tanpa mengesampingkan kerajaan lainnya, kerajaan Gowa-Tallo tercatat mempunyai peran sejarah yang cukup penting baik bagi sejarah daerah, nasional dan juga internasional yang berperan dalam perdagangan regional dan internasional. Gowa dan Tallo juga mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.

Gowa dan Tallo

Tome Pires (1512-1515 Masehi) ketika melakukan perjalanan ke Malaka pada tahun 1513 menceritakan bahwa orang-orang Makassar sudah berdagang hingga ke Malaka, Kalimantan, Jawa, Borneo, dan juga hampir semua tempat yang berada di antara Pahang dan Siam. Tome Pires juga mengatakan bahwa penguasa di daerah itu yang menguasai lebih dari 50 negeri masih menganut agama yang bukan islam.

Baik sumber-sumber asing maupun sumber naskah-naskah kuno menyatakan bahwa kehadiran agama islam di Sulawesi sudah ada sebelum Tome Pires datang. Tome Pires mungkin sekali menitikberatkan beritanya itu pada kerajaan Gowa dan Tallo yang memang baru memeluk islam sebagai agama resmi kerajaan pada awal abad ke-17 Masehi.

Gowa dan Tallo merupakan negeri yang kaya akan beras putihnya dan juga kapur barus. Negeri ini juga aktif dalam perdagangan internasional dan telah mengimpor barang dagangan dari luar negeri mereka; seperti pakaian dari Bengal, Cambay dan Keling serta keramik-keramik dari Tiongkok. Selain itu, Kerajaan ini telah aktif berdagang dengan negeri-negeri di kepulauan Malaka. Pada akhir abad ke-16 pedagang-pedagang muslim dari berbagai tempat dan juga para pedagang asing dari negeri-negeri di Eropa telah ramai mendatangi wilayah kerajaan ini.

Gowa-Tallo sebelum menjadi kerajaan yang bercorak Islam kabarnya sering berperang dengan kerajaan lainnya yang berada di Sulawesi Selatan, misalnya dengan Bone, Luwu, Soppeng, dan Wajo. Sejak Gowa-Tallo resmi menjadi kerajaan Islam pada tahun 1605 M, Islam menjadi alasan yang kuat untuk meluaskan lagi kekuasaan dengan tujuan islamisasi; agar kerajaan-kerajaan lainnya selain tunduk pada kerajaan Gowa-Tallo juga harus menjadikan Islam sebagai agama mereka. Wajo berhasil ditaklukan pada tanggal 10 Mei 1610 sedangkan kerajaan Bone berhasil dikuasai tanggal 23 November 1611 Masehi. Islam di kerajaan Gowa-Tallo selain telah menyebabkan runtuhnya kerajaan yang mejadi musuh Kerajaan Gowa-Tallo, juga telah berhasil membawa kerajaan tersebut kepada masa-masa kejayaan.

Pada masa pemerintahan raja-raja selanjutnya, meskipun kerajaan Gowa-Tallo ini bercorak Islam, akan tetapi diberitakan adanya hubungan baik dengan bangsa Portugis yang datang dengan membawa agama Kristen-Katolik. Kerajaan ini bahkan memberi bantuan dan menanam sahah dalam perdagangan orang-orang Portugis (Francisco Viera yang menjadi utusan kerajaan Gowa ke Batavia dan Banten). Hubungan erat Gowa-Tallo dengan orang Portugis dalam bidang perdagangan ini mungkin disebabkan adanya ancaman dari VOC Belanda yang berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku.

Awal Kontak dengan Islam

Penyebaran Islam di Nusantara selalu dikaitkan dengan jalur perdagangan. Penyebaran Islam yang dilakukan para pedagang bisa dimungkinkan karena merekalah yang telah dan akan pergi ke berbagai penjuru bumi. Selain itu, di dalam ajaran Islam, meskipun pada perkembangannya ada kelompok-kelompok yang secara khusus menjadi penyebar agama, tetapi setiap orang memiliki kewajiban yang sama untuk berdakwah. Setiap Muslim, apapun kedudukan dan profesinya mereka dituntut untuk dapat menyampaikan ajaran Islam walaupun hanya satu ayat al-Quran.

Proses islamisasi di Sulawesi Selatan Menurut M. Swang (2005) tidak memiliki perbedaan dengan Islamisasi daerah-­daerah lainnya di Nusantara, yaitu melalui tiga tahapan yang dikembangkan oleh Noorduyn yaitu: kedatangan Islam, penerimaan, dan penyebarannya.

H.J. de Graaf lebih jauh melihat proses islamisasi di Asia Tenggara berdasarkan pada literatur Melayu, bahwa menurutnya Islamisasi yang terjadi di Asia Tenggara memang melalui tiga metode namun metode-metode itu berlangsung secara kronologis yaitu: oleh para pedagang dalam proses perdagangannya yang damai, oleh para wali dan orang suci yang telah datang dari India dan juga negeri-negeri Arab lainnya yang memang bertujuan untuk mengislamkan, dan terakhir dengan jalan kekerasan yang memaklumkan terjadinya perang bagi kerajaan-kerajaan yang dianggap penyembah berhala.

Pedagang Muslim mungkin sudah tiba di Sulawesi sejak akhir abad ke-15 Masehi akan tetapi belum diperoleh keterangan pasti tentang terjadinya Islamisasi yang terjadi pada wilayah istana seperti halnya yang terjadi pada agam Kristen-Katolik.

Antonio de Payva yang tiba di Sulawesi Selatan tahun 1542 Masehi, menyebut bahwa saat melakukan misi Katolik, ia mendapati rintangan dari orang-orang muslim Melayu yang sudah menetap di wilayah itu kurang lebih selama 50 tahun.

Baik berita atau catatan dari Portugis dan Sumber-sumber lokal menyatakan bahwa pada awal abad ke-16 pedagang Melayu Islam sudah menetap dan melakukan aktivitas perdagangan di wilayah ini. Kemungkinan mereka telah melakukan migrasi ke Sulawesi dan bermukim di Makassar dan tempat-tampat lainnya di pesisir barat daya Sulawesi setelah Malaka jatuh ke kekuasaan Portugis tahun 1511 Masehi.

Sumber lokal yang memberitakan keberadaan orang-orang Melayu ini adalah Lontara Makassar. Dalam Pattorioloanga ri Togowaya (Lontara Sejarah Gowa) didapati keterangan pada masa raja yang memerintah Gowa yaitu Raja Tonipalangga I (1546-1565) yang merupakan raja Gowa ke-10, datang menghadap utusan orang-orang Melayu bernama Datuk Anakkoda Bonang yang meminta diberi hak untuk kawasan perkampungan di Makassar. Kabarnya mereka kemudian diizinkan untuk menempati daerah-daerah di sekitar pelabuhan Somba Opu tepatnya di Kampung Mangallekana.

Hubungan yang baik antara pendatang Melayu dengan kerajaan beserta penduduk setempat kemudian terjalin. Raja Gowa Tonijallo (1565-1590) bahkan membangunkan tempat ibadah (masjid) di wilayah pemukiman mereka. Peranan orang-orang Melayu cukup besar terutama dalam bidang perdagangan serta penyebaran Islam yang disertai dengan upaya untuk membendung pengaruh Kristen-Katolik. Hingga tahun 1615, jalannya perekonomian dan perdagangan antara pulau melalui pelabuhan Makassar, secara tidak langsung dikuasai oleh orang Melayu bahkan komoditas beras sebagai hasil utama wilayah Makassar ini diekspor ke Malaka menggunakan kapal-kapal Melayu.

Gowa-Tallo Menjadi Kerajaan Islam

Sumbangsih orang-orang Melayu dalam konteks penyebaran Islam selain membendung misionaris-misionaris Portugis adalah ikut andil dalam mengundang mubaligh­-mubaligh Islam untuk mengislamkan kalangan istana Gowa-Tallo. Kedatangan para Muballigh dari Koto Tengah, Minangkabau pada awal abad ke-17 disebutkan dalam Lontara Wajo.

Para Mubaligh yang disebut Dato Tallu (Tiga Datuk) atau Datuk Tellue dalam bahasa Bugis dan atau disebut Datuk Tallua dalam bahasa Makassar; Dato’ri Bandang (Abdul Makmur atau Khatib Tunggal), Dato’ri Pattimang (Datuk Sulaiman atau Khatib Sulung), Dato’ri Tiro (Abdul Jawad atau Khatib Bungsu).

Graaf dan Pigeaud menyatakan bahwa Dato’ri Bandang sebelum ke Makassar ia terlebih dahulu belajar di Giri. Ketiga mubaligh ini juga tidak langsung melaksanakan dakwahnya, tetapi lebih dahulu mempelajari kebudayaan sekitar. Mereka kemudian berangkat ke Kerajaan Luwu menemui Datuk Luwu, La Patiware Daeng Parabu, raja yang sangat dihormati, karena kerajaannya dianggap sebagai kerajaan tua, tempat asal raja-raja Sulawesi Selatan. Mereka juga mendapat informasi bahwa raja yang paling berpengaruh adalah Raja Tallo dan Raja Gowa.

Ketiga Mubaligh inilah yang mengislamkan raja Luwu, Yaitu Dati’ La Patoware’ Daeng Parabung yang bergelar Sultan Muhamad pada tanggal 15-/16 Ramadhan 1013 H (4/5 Februari 1605). Kemudian disusul oleh raja Gowa dan Tallo, Karaeng Matowaya dari Tallo, I Mallingkang Daeng Manyonri (Karaeng Tallo) tanggal 9 Jumadil Awal 1014 H (22 September 1905 M) dengan gelar Sultan Abdullah. Selanjutnya Karaeng Gowa I Manga’ rangi Daeng Manrabbia pada tanggal 19 Rajab 1016 H (9 November 1607 M).

Kerajaan Gowa-Tallo resmi menjadi kerajaan yang bercorak Islam di Gowa-Tallo. Kurang lebih dua tahun sesudahnya, rakyat Gowa dan Tallo sudah banyak yang memeluk agama Islam.

Penyebaran Islam oleh Kerajaan Gowa-Tallo

Semenjak Islam menjadi agama resmi di Kerajaan Gowa-Tallo, raja Gowaberikutnya yaitu Sultan Alauddin semakin kuat dalam kedudukannya dikarenakan beliau juga diakui sebagai “Amirul Mukminin” atau kepala agam Islam. Raja ini juga dinilai aktif dalam menyebarkan agama islam.

Pendekatan Sultan Alauddin dalam menyebarkan Islam adalah dengan mengingatkan kembali perjanjian “persaudaraan lama” Gowa dengan wilayah taklukan dan kerajaan sahabat. Kerajaan Gowa kemudian meminta kepada raja-raja yang berkuasa itu untuk turut memeluk Islam. Pendekatan seperti ini tidak sepenuhnya berhasil karena kerajaan-kerajaan yang telah merasa sudah berdaulat dibidang pemerintahan. Beberapa kerajaan kecil di wilayah sekitar Gowa umumnya memenuhi seruan agar memeluk Islam, tetapi kerajaan di wilayah Bugis dan Mandar seperti Bone, Balannipa, Sawitto, Soppeng, Sidenreng, Suppak, Wajo, dan juga beberapa kerajaan lainnya menolak ajakan tersebut.

Kepada yang menolak kabarnya Sultan Alaudin mengirimi peringatan. Dengan alasan mereka terus menolak dan membangkang, maka Kerajaa Gowa konon dengan terpaksa harus mengangkat senjata memerangi mereka. Tercatat hampir empat kali Raja mengirim balatentaranya untuk menundukan kerajaan-kerajaan yang menolak, akan tetapi serangan Kerajaan Gowa itu berhasil dihalau karena raja-raja yang menolak membuat aliansi yang cukup terutama Kerajaan Bone, Soppeng dan Wajo (Noorduyn, 1955: 84).

Menurut Massiara (1988: 55-62) bahwa pada tahun 1609 Raja mengirimkan angkatan perang kerajaan Gowa yang terlatih dan tangguh ke daerah pedalaman. Mula-mula ke wilayah Ajatappareng; Rapang, Sawitto, Sidenreng, Suppak. Wilayah-wilayah itu tunduk dan kemudian menerima agama Islam. Kerajaan Soppeng juga berhasil ditaklukan pada tahun yang sama. Kerajaan Wajo pada tahun 1610 berhasil diislamkan, dan kemudian pada tahun 1611 menyusul Kerajaan Bone. Pengislaman di seluruh Sulawesi selatan berhasil dijalankan oleh kerajaan Gowa-Tallo dari tahun 1605-1612 Masehi.

Perkembangan agama islam di daerah Sulawesi Selatan mendapat tempat sebaik-baiknya bahkan ajaran Sufisme Khalwatiyah dari kaum Syeikh Yusuf al-Makasari juga tersebar di kerajaan Gowa dan kerajaan lainnya pada pertengahan abad ke-17 Masehi. Akan tetapi, karena banyaknya tantangan dari kaum bangsawan Gowa, ia meninggalkan Sulawesi Selatan pergi ke Banten yang kemudian diterima oleh Sultan Ageng Tirtayasa.