Menjadi pemimpin di usia 16 tahun dan mampu mengantar sebuah kerajaan mencapai puncak kegemilangannya. Namanya terlantun sedemikian mempesona dalam Nagarakrtagama yang seakan tidak ada satupun mampu mengganggu kedamaian pemerintahannya. Hayam Wuruk, Raja Keempat Kerajaan Majapahit, ia mempunyai pengaruh yang besar di hampir seluruh wilayah Asia, khususnya di bagian Tenggara.

Hayam Wuruk dilahirkan pada tahun 1334. Ia adalah putra sulung dari pasangan Tribhuwana Tunggadewi dan Sri Kertawardhana (Cakradhara). Ibunya adalah penguasa ke-3 Majapahit dan juga putri Raden Wijaya Sang pendiri Majapahit, sedangkan ayahnya adalah Bhre Tumapel penguasa di Singhasari. Hayam Wuruk memiliki adik perempuan bernama Dyah Nertaja, dan adik angkat bernama Indudewi, putri Rajadewi, adik ibunya.

"Ilustrasi Hayam Wuruk". Gambar oleh Wacana Nusantara

“Ilustrasi Hayam Wuruk”. Gambar oleh Wacana Nusantara

Hayam Wuruk memerintah tahun 1350-1389. Bergelar penobatan Paduka Sri Tiktawilwanagareswara Sri Rajasanagaragharbott-pasutinama Dyah Sri Hayam Wuruk atau Paduka Bhatara Sri Rajasanagara Dyah Sri Hayam Wuruk. Di bawah pemerintahannya, dengan didampingi Mahapatih Gajah Mada, Kerajaan Majapahit melanjutkan perluasan politik yang telah dirintis ibunya, Tribhuwanatunggadewi (Penguasa Ketiga Majapahit) yang telah meretas jalan bagi kemajuan Kerajaan Majapahit. Kemudian Hayam Wuruk kian menjadikan Majapahit besar dan kuat, hingga disegani kawan maupun lawan.

"Ilustrasi Hayam Wuruk". Gambar oleh Wacana Nusantara

“Ilustrasi Hayam Wuruk”. Gambar oleh Wacana Nusantara

Tahun 1377, Majapahit melakukan gerakan politiknya pada raja-raja di wilayah Sumatra, di antaranya; Kerajaan Pasai dan Aru (Deli, dekat Medan sekarang). Selanjutnya menyisir sisa-sisa pertahanan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan. Selain melancarkan ekspedisi militer dengan peperangan, Majapahit juga menempuh jalan diplomasi untuk tujuan yang sama yaitu menjalin persekutuan dan memperluas kekuasaan.

Kerajaan Majapahit kemudian menguasai wilayah-wilayah yang meliputi Pulau Sumatra, semenanjung Malaya, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Pulau Maluku, Pulau Papua, Tumasik (Singapura) dan sebagian kepulauan Filipina.

Batasan alam dan faktor ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan yang dimaksud tidaklah secara langsung berada di bawah kekuasaan terpusat Kerajaan Majapahit. Melainkan terhubung satu sama lain melalui kegiatan perdagangan yang dimonopoli oleh raja, dan juga wilayah tersebut dijadikan sebagai negara vasal yang mengirim upeti secara periodik. Majapahit juga diceritakan memiliki hubungan yang baik dengan Penguasa Campa, wilayah Kamboja, Siam, Birma, dan Vietnam, dan bahkan telah mengirim duta-dutanya ke Tiongkok.Vasal: bersifat terikat; negara (daerah) taklukan.

Perluasan dan pengaruh Kerajaan Majapahit tidak hanya di bidang politik luar negri, tetapi diimbangi dengan kebijakan yang lebih mengutamakan ke dalam daerah kekuasaan langsung Kerajaan Majapahit. Hayam Wuruk juga memerintahkan pembuatan bendungan-bendungan dan saluran-saluran air bagi kepentingan irigasi dan untuk mengendalikan Banjir. Sejumlah pelabuhan sungai dibuat untuk transportasi dan bongkar muat barang komoditi perdagangan. Begitu pun bidang karya satra mengalami kemajuan pesat, dua karya sastra yang paling utama adalah Kakawin Nagarakrtagama yang ditulis Mpu Prapanca, dan Sutasoma ditulis oleh Mpu Tantular.

Kakawin/ kawya (kawi); berarti buah dari hasil puisi kraton, sebuah syair yang pada pokoknya bersifat epis.Naskah Pararaton, dan naskah Sundayana yang digubah setelah pemerintahan Raja Hayam Wuruk menuturkan Peristiwa Bubat yang terselip di antara kegemilangan dan kebesaran nama Majapahit. Dalam naskah-naskah tersebut terurai kisah Raja Hayam Wuruk yang telah gagal menikahi putri Penguasa kerajaan Sunda bernama Dyah Pitaloka Citraresmi karena ambisi dan politik yang diemban Mahapatih Gajah Mada.

Hayam Wuruk kemudian menikah dengan Sri Sudewi bergelar Padukasori putri Wijayarajasa Bhre Wengker. Dari perkawinan dengan Padukasori kemudian lahir Kusumawardhani yang kelak menikah dengan Wikramawardhana putra penguasa Pajang. Hayam Wuruk juga memiliki putra dari selirnya yang kelak menjaadi penguasa wilayah Wirabhumi dan menikahi Nagarawardhani putri Bhre Lasem.

Pada Tahun 1389, setelah mengantarkan Majapahit ke percaturan sejarah dunia, serta menjalankan roda pemerintahan Majapahit dengan gemilang, Hayam Wuruk dikabarkan meninggal di usia 55 tahun. Tampuk kekuasaan Majapahit kemudian diemban oleh Kusumawardhani. Akan tetapi, Wikramawardhana lah yang tercatat menggantikan kursi pemerintahan Majapahit selanjutnya.