Gerabah adalah perkakas dari tanah liat (tanah lempung) yang dibentuk sedemikian rupa, biasanya membentuk sebuah wadah, kemudian dilakukan proses pembakaran atau penjemuran di bawah sinar matahari. Setelah kering, gerabah-gerabah itu dapat dimanfaatkan menjadi alat-alat yang berguna bagi kehidupan sehari-hari. Misalnya, kendi yang dapat digunakan untuk penampung air minum, kemudian ada juga tempayang, periuk, cawan, dan gerabah yang berfungsi dalam upacara keagamaan sebagai bekal kubur. Selain itu, juga ada bentuk celengan, patung, dan bahkan mainan. Dalam perkembangannya, gerabah bahkan menjadi benda yang memiliki nilai artistik yang sangat tinggi.

Gerabah atau kadang juga disebut tembikar dari masa prasejarah merupakan temuan penting bagi kehidupan manusia. Para arkeolog dalam penggalian-penggalian mereka biasanya menemukan pecahan benda yang terbuat dari tanah liat atau tembikar (kereweng). Benda-benda yang terbuat dari unsur tanah dan air itu menjadi luar biasa karena telah melewati berbagai masa tetapi masih bisa dijumpai. Bentuk, bahan, dan pola hiasan terkadang menjadi kunci bagi mereka yang ahli untuk menganalisa lebih jauh artefak gerabah itu. Lapisan tanah tempat temuan gerabah seringkali menjadi kunci untuk memberi jawaban terbesar dari pertanyaan darimana dan siapa yang membuat gerabah-gerabah prasejarah itu.

Contoh gerabah bercirikan Lapita, gerabah slip merah. Hasil Penelitian Arkeologi – Sejarah 2004 – 2008 di Situs Muara Kama | Foto: Gunadi Kasnowihardjo

Berdasarkan hasil penelitian di Indonesia, gerabah telah dikenal di Nusantara sejak masa prasejarah yang diperkirakan digunakan dan dikembangkan oleh manusia yang mendukung kebudayaan bercocok tanam awal. Daerah penemuannya meliputi Kadenglebu (Banyuwangi), di daerah Kalapadua (Bogor), di Serpong (Tangerang), di Kalumpang dan daerah Minanga Sepakka (Sulawesi), di sekitar situs danau Bandung, dan di Poso (Minahasa).

Pada masa perundagian kerajinan benda-benda termasuk gerabah mencapai puncak perkembangannya. Daerah penemuannya juga lebih jelas diketahui serta ragamnya lebih kaya. Tempat-tempat yang sangat terkenal sebagai pabrik gerabah masa perundagian adalah kompleks gerabah Buni di Desa Buni (Bekasi), kompleks gerabah Gilimanuk di pantai Gilimanuk dan Desa Ceki (Bali), kompleks gerabah Kalumpang di daerah Kalimpang. tepi Sungai Karama (Sulawesi).

Gerabah dari masa perudagian juga diketemukan di bagian barat Pulau Bali, di pasir Angin dekat Bogor, di pantai utara Jawa Barat antara Bekasi dan Rengasdengklok (Karawang), Plawangan (Rembang), Gunung Wingko (Yogyakarta), Anyer (Banten), Lambanapu (Sulawesi Selatan), Melolo (Sumba Timur) dan lain-lain.

Pembuatan Gerabah

Penemuan gerabah atau tembikar dari masa prasejarah merupakan suatu bukti adanya kemampuan manusia pada masa lalu dalam menciptakan benda-benda yang berguna bagi mereka. Selain itu, dari sisi teknologi, pembuatannya juga menunjukan bahwa kehidupan mereka senantiasa berkembang. Bahan-bahan yang bisa digunakan mereka dapati dari alam yaitu tanah liat, akan tetapi tidak semua tanah bisa digunakan untuk membuat gerabah perlu pengetahuan khusus untuk memilih jenis tanah liat terbaik agar tembikar yang dihasilkan mempuyai kualitas yang baik pula.

Pembuatan gerabah pada masa prasejarah ternyata mengalami perkembangan yang cukup signifikan dari mulai bentuk dan pola hias yang sederhana ke tingkat yang lebih kompleks lagi. Pada masa-masa awal, yaitu pada masa bercocok tanam, segala sesuatunya mungkin dibentuk dan dikerjakan dengan menggunakan tangan tanpa teknik atau alat lainnya.

Teknik pembuatan gerabah kemudian berkembang. Teknik pencetakan mulai dikenal, perekmbangan selanjutnya terlihat dari alat dan teknologi yang digunakan seperti mulai adanya roda pemutar. Dengan menggunakan teknik cetak dan roda pemutar, gerabah dapat diproduksi dalam jumlah banyak. Perkembangan selanjutnya adalah dari segi artistiknya, gerabah-gerabah itu dihias dengan berbagai warna.

Teknik awal dari pembuatan gerabah adalah teknik melingkar. Tanah liat terbaik ditumbuk dan diaduk agar mempunyai tingkat kepadatan yang sempurna. Tanah liat itu kemudian dipilin lalu dibuat sebuah kumparan secara bertahap hingga kumparan itu menciptakan bentuk dan memiliki ruang. Setiap pilinan yang melingkar selanjutnya dirapikan menggunakan jari lalu selanjutnya adalah proses penghalusan menggunakan batu atau kulit kerang.

Tanah liat yang telah dibentuk itu harus dikeringkan dengan baik agar dapat bertahan lama dan tidak mudah rusak. Sebelum mengenal teknik pembakaran, gerabah mungkin dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari selama berhari-hari.

Foto: Sandstein

Foto: Sandstein

Penggunaan teknik atau teknologi tatap batu dan roda pemutar mulai dikenal pada masa awal perundagian. Bahkan di beberapa tempat teknik ini terus berlanjut hingga sekarang.

Fungsi

Tampak sekali bahwa peranan gerabah dalam kehidupan masyarakat sangat penting dan fungsinya tidak dapat dengan mudah digantikan alat-alat yang dibuat dari logam (perunggu atau besi). Pada umumnya gerabah dibuat untuk kepentingan rumah tangga sehari-hari, misalnya, sebagai temat air, alat untuk memasak, dan tempat menyimpan makanan. Dalam upacara keagamaan tembikar ini dapat digunakan sebagai wadah kubur, bekal kubur, atau tempat peralatan upacara.

Gerabah yang digunakan untuk alat-alat rumah tangga dari sisi motif mungkin memiliki pola hias yang sederhana atau bahkan polos, berbeda dengan gerabah-gerabah yang digunaka untuk kepentingan yang berhubungan dengan seni dan tradisi tentunya memerlukan pola hias dan motif dan bahkan bentuk yang lebih baik. Sebagai contohnya pola atau motif hias gerabah yang digunakan dalam upacara, misalnya upacara keagamaan tentunya akan mempunyai pola hiasan yang lebih baik bahkan jauh lebih rumit lagi.

Gerabah dapat dibedakan sebagai wadah dan non-wadah. Sebagai wadah antara lain adalah periuk, tempayang, cawan, piring, kendi. Sedangkan yang non-wadah antara lain adalah bandul jala, patung, anglo, saluran air, dan manik-manik. Mula-mula wadah dari gerabah berbentuk sederhana seperti dasar rata dan tanpa pola hias. Dalam perkembangannya gerabah mulai dibuat dengan teknik yang lebih maju, dengan pola hias yang bervariasi, dan bentuk yang beraneka macam.