20.07
“Sesungguhnya selalu ada maaf untuk apa pun, kecuali untuk pengkhianatan” begitulah sebuah kutipan berujar. Maka apabila kita, yang mengaku sebagai bagian dari bangsa ini, membiarkan hal ini terus berlangsung, maka sesungguhnya kita sedang mengkhianati bangsa kita sendiri.
28.05
Kematian sebuah bangsa! Itulah yang akan terjadi ketika sebuah bangsa tidak lagi memiliki budaya, dan itu sedang terjadi di Negara yang kita cintai ini, Indonesia, sebuah negara warisan konsep Nusantara yang dibangun berabad silam ini sedang menemui titik nadirnya, dan itu terjadi di pusat warisan bangsa Nusantara yang dititipkan oleh para leluhur kita untuk Indonesia, Yogyakarta!
10.05
Membangun karakter bangsa itu sedemikian strategis, justru ketika pendidikan formal dirasa belum memberikan jawaban yang memuaskan. Pada diri anak-anak didik itulah yang masih bisa diharapkan dapat memperbaiki martabat bangsa ini. Wapres yang asli Blitar ini menaruh perhatian besar pada anak-anak SD, SMP dan SMA sebagai tahapan usia yang masih bisa diisi dengan pendidikan karakter dengan baik. Merekalah yang akan menjadi pemimpin yang baik, yang akan sanggup membawa negeri ini menjadi negara yang disegani.
22.04
Lihatlah bangsa yang menyedihkan itu! Saling miskinnya, mereka melelang apa saja yang sepatutnya mereka jaga dan pelihara di kamarnya sebagai perabotan yang membuat rumah mereka indah dan artistik. Setelah perabotan habis, mereka pasti akan sewa-sewakan kamar-kamarnya. Setelah kamar-kamar penuh tersewa, mereka akan kontrakkan rumah itu. Dan kalau terdesak sekali, mereka akan menjual rumah itu, atau mungkin kemudian anak-anak gadisnya. Yang tetap mereka pertahankan adalah anggapan mereka sendiri bahwa setidaknya mereka masih punya sesuatu yang bisa disebut rumah sendiri—walau mereka sudah tak lagi menginjakkan kaki di rumah itu!
15.04
Indonesia diperjuangkan melalui pengorbanan yang tiada terkira, para pahlawan pendiri bangsa ini merelakan segenap hidup dan bahkan mengorbankan apapun yang mereka miliki hanya untuk satu visi Indonesia merdeka. Di mata dunia, Indonesia adalah negara yang besar, bukan hanya dari wilayah territorial, melainkan sejarah perjalanan peradaban yang besar pula. Kebesaran sebuah bangsa bernama Indonesia ini lantas dikerdilkan oleh mentalitas dan perilaku para penguasa yang selalu lupa menghargai jasa para pahlawan dan keturunannya. Mental kerdil kaum penguasa Indonsia ini pada akhirnya menghancurkan pondasi kokoh yang telah ditanamkan para pejuang kemerdekaan.
26.03
Sebuah proyek nasional tentu harus dicatat, untuk diingat, atau dirayakan kembali oleh generasi penerus. Purnawarman membuat prasasti-prasasti yang berisi tentang kehebatan dirinya: sebagai manusia sempurna, raja yang mengayomi rakyat, jelmaan Wisnu yang perisainya tak tembus senjata musuh, dan penguasa negara yang ditakuti oleh negara-negara tetangga. Raja itu tahu belaka keadaan tanahnya : banjir akan terus hadir, maka itu dibuat kanal.
[ 1 2 3 ]
Informasi lebih lanjut
[wacana@nusantara-online.com]
+62-22-930-746-96
Jln. Jakarta 20-22
Komplek Kota Kembang Permai
Ruko Kav. 21.A, Bandung-Indonesia