Beberapa Peperangan Laut di Nusantara
Tim Wacana Nusantara
16 March 2009

BEBERAPA PEPERANGAN LAUT DI NUSANTARA

Peperangan laut di indonesia ini merupakan salah satu contoh dari bertapa pentingnya pertahanan laut di Indonesia. Pertempuran laut di Indonesia telah berlangsung sejak zaman kerajaan kuno.

671    Kerajaan Sriwijaya Menaklukan kerajaan Malayu. Kerajaan Sriwijaya mengirimkan armadanya untuk menaklukkan Kerajaan Malayu yang berada di pantai timur Sumatra.

1003    Raja Dharmawangsa dari Mataram mengirim armadanya untuk menyerang Kerajaan Sriwijaya. Tujuan serangan ini adalah agar dapat merebut pusat perdagangan di Selat Malaka dari tangan Sriwijaya. Usaha ini hanya berhasil beberapa tahun saja karena pada tahun 1016 Dharmawangsa terbunuh karena adanya pemberontakan.

1023    Raja Cola di India mengadakan serbuan pertama secara besar-besaran ke Kerajaan Sriwijaya. Serbuan Kerajaan Cola ini belum berhasil meruntuhkan Kerajaan Sriwijaya.

1030    Raja India kembali menyerbu Kerajaan Sriwijaya. Meski Raja Sriwijaya Sanggrawijaya dapat ditawan tetapi kerajaan belum runtuh. Ini dapat diketahui karena pada tahun 1178 Sriwijaya masih mengirim utusan ke China meski kejayaan kerajaan ini sudah semakin lemah.


1275    Raja Singasari Kretanegara mengirim ekspedisi ke Kerajaan Malayu dan Campa guna menjalin peahabatan dengan Kerajaan Malayu. Ekspedisi ini disebut Pamalayu, terutama guna menghambat kekuasaan bangsa Mongol di kawasan Nusantara.

1284    Kerajaan Singasari menaklukan Bali, Pahang, Sunda, Bakulapura (Kalimantan Barat), dan Gurun (Maluku).   

1293    Kubilai Khan Menyerang Kerajaan Singasari melalui Laut China Selatan masuk Laut Jawa dan mendarat di Tuban, dengan kekuatan 20.000 prajurit dan perbekalan untuk satu tahun pelayaran yang diangkut 1.000 kapal.

1339-1341    Seluruh Nusantara bagian barat berturut-turut diserang dan ditaklukkan armada Kerajaan Majapahit pimpinan Laksamana Nala. Dimulai dengan menghancurkan Kerajaan Pasai, selanjutnya menuju Jambi dan Palembang. Kemudian mereka menaklukkan Langkasuka, Kelantan, Kedah, Selangor, Tumasik (Singapura). Selanjutnya armada Majapahit mendarat di Tanjungpura, menundukkan Sambas, Banjarmasin, Pasir, dan Kutai.    Dalam waktu 7 tahun setelah dikumandangkan "Sumpah Palapa", seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu, Kalimantan, dan pulau-pulau di sekitarnya sudah menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Armada Majapahit dengan kekuatan 40.000 prajurit menjadi sesuatu kekuatan dahsyat tak ada tandingannya di Asia Tenggara ketika itu di masa kejayaan Majapahit. Dengan demikian, Nusantara bagian barat sepenuhnya sudah bersatu di bawah panji kerajaan Majapahit, kecuali Kerajaan Sunda.

1343    Bali diserang dan berhasil ditaklukkan Kerajaan Majapahit. Serangan oleh armada Kerajaan Majapahit ini di bawah komando Mahapatih Gajah Mada.

1343    Mahapatih Gajahmada dibantu oleh Laksaman Nala memimpin armada laut Majapahit dengan kekuatan 3.000 prajurit menuju wilayah timur Nusantara untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan yang bersikap dingin atau mencoba melepaskan diri. Kerajaan itu antara lain: Bali, Lombok, Sumbawa, Seram, Sulawesi, Dompo. Seluruh wilayah timur Nusantara telah disatukan, termasuk Pulau Irian, Sanggir Talaud, sampai Kepulauan Filipina Selatan. Pasukan kekuatan Majapahit tidak semuanya berasal dari pusat pemerintahan. Namun, hampir dua per tiga justru berasal dari Kerajaan Melayu dan gabungan beberapa dari kerajaan di wilayah Jawa yang sudah mengakui kekuasaan Kerajaan Majapahit.

1511    Portugis menaklukkan Malaka. Armada kapal laut Portugis melakukan serangan terhadap penguasa di Malaka dan berhasil menaklukan sekaligus menguasai wilayah Malaka.

1512    Armada Demak menyerang Malaka. Pati Unus, penguasa Demak, memperkuat armadanya dengan pasukan dari Palembang sekitar 5.000 sampai 15.000 prajurit dan 100 sampai 200 kapal perang.

1519    Aceh berhasil mematahkan serangan Portugis. Portugis dengan kekuatan tujuh armada kapal perang membalas dendam terhadap pelaut Aceh yang berhasil merampas awak kapal beserta komoditas yang diangkut oleh kapal Portugis dan terdampar karam di wilayah perairan Aceh. Menurut tradisi setempat, seluruh awak kapal dan muatan yang terdampar karam di wilayah perairan kekuasaan Kesultanan Aceh menjadi milik daerah kesultanan.

1520    Portugis menyerbu Bintan. Sekitar 150 serdadu Portugis beserta 350 saudagar yang telah dilengkapi persenjataan perang, berhasil mengalahkan pasukan Sultan Mahmud.

1520    Kerajaan Aceh melakukan ekspansi ke Dayo. Ekspansi yang dilakukan Aceh melebar ke arah timur laut perairan pesisir Sumatra.

1521    Portugis menyerbu Bintan dan terpukul mundur. Sekitar 600 serdadu Portugis yang diangkut 18 kapal perang berhasil dikalahkan oleh pasukan Sultan Mahmud. Pasukan ini sebelumnya telah berhasil menghimpun kekuatan laut dengan para bajak laut sehingga menjadi armada laut yang kokoh dan disegani Portugis

1521    Portugis mendirikan benteng di Tidore. Portugis melatih pasukan Tidore dan menggabungkannya dengan pasukan Portugis guna menghadapi perang melawan Ternate.

1522    Portugis mendirikan Benteng di Ambon, Ternate, dan Sunda Kelapa (Jakarta). Portugis melatih pasukan di masing-masing daerah setempat dengan ilmu perang guna dipersiapkan menjadi pasukan tambahan dalam menghadapi musuh.

1526    Demak menaklukkan Kerajaan Sunda/Pajajaran dan menguasai pelabuhan Sunda Kelapa. Fatahillah memimpin armada Demak merebut pelabuhan Sunda Kelapa dan mengganti namanya menjadi Pelabuhan Jayakarta agar dapat mengendalikan perdagangan lada dan merica.

1527    Sultan Trenggono, raja ketiga Demak, memerintahkan Fatahillah agar segera menyerang Jawa Barat dengan merebut Banten, kemudian menuju Sunda Kelapa yang berhasil direbut pada 22 Juni.

1527. Selanjutnya serangan dilakukan untuk menaklukkan Cirebon. Ini merupakan usaha menghentikan bangsa Portugis yang akan menanamkan kekuasaannya di Jawa Barat. Armada Portugis dapat dihancurkan di Teluk Jakarta sewaktu armada tersebut mendekari perairan teluk. Perdagangan lada dan merica dapat dikendalikan.
Fatahillah diangkat sebagai Adipati Banten.

1537    Aceh menyerang Malaka dan Johor. Kekuatan Aceh diperkirakan sekitar 3.000 pasukan dan 500 orang gugur dalam medan perang.

1539    Aceh menaklukkan Deli (Aru). Konvoi armada laut Aceh terdiri dari 160 kapal dan 600 saudagar yang berasal dari Turki, India, dan Abyssinia yang sudah memiliki pengalaman dalam peperangan.

1547    Aceh menyerang Malaka namun terpukul mundur. Sekitar 4.000 pasukan Aceh terbunuh dan 300 meriam rusak.

1550-1551    Demak bersama Johor, Perak, Pahang, dan Bruas menyerang Portugis. Dengan sekitar 5.000 pasukan dan 200 kapal, Demak bersama sekutunya menyerang kapal-kapal Portugis selama 3 bulan gugur 800 prajurit di pihak Demak. Adalah Ratu Kalinyamat dari Jepara yang berinisiasi menggalang kekuatan antara kerajaan-kerajaan di Nusantara guna menghalau Portugis yang berkuasa di Malaka.

1558    Aceh menyerang Malaka. Serangan untuk mengepung Malaka berlangsung selama satu bulan penuh dengan 15.000 pasukan yang terdiri dari gabungan 400 pasukan dan 300 armada laut dari Turki.

1564    Aceh kembali menguasai Deli. Aceh mengambil alih kekuasaan di Deli.

1566    Portugis membangun benteng (loji) di Timor. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengendalikan perdagangan kayu cendana.

1568    Aceh menyerang Malaka namun terpukul mundur. Sekitar 15.000 - 20.000 armada yang terdiri dari pasukan Turki, India, dan Jawa diangkut dengan 300 kapal dan 100 perahu tradisional untuk menyerang Malaka. Namun armada ini terpukul mundur, ditandai dengan gugurnya sekitar 400 prajurit karena Malaka diperkuat oleh bala bantuan pasukan Portugis.

1570-1575    Aceh menyerang Malaka sebanyak tiga kali, namun kembali terpukul mundur. Armada Aceh terdiri atas sekitar 7.000 pasukan dalam 100 kapal dan kembali terpukul mundur dengan 700 prajurit gugur di medan perang.

1577    Aceh kembali menyerang Malaka, namun lagi-lagi terpukul mundur. Persenjataan meriam Portugis baik yang ada di kapal maupun di darat menjadi benteng pertahanan yang telah terbukti ampuh dalam mematahkan serangan pasukan Aceh yang menyerang dengan sekitar 150 perahu tradisional. Dil ain pihak Portugis cukup mengerahkan 13 kapal meriam.

1585    Johor memblokasi perairan menuju Malaka namun terpukul mundur oleh Portugis. Meski pasukan Johor mendapat bantuan dari pasukan Minangkabau namun armada meriam Portugis masih terlalu tangguh untuk dilawan. Akhirnya, serangan mereka kembali lumpuh.

1587    Portugis melakukan serangan balik ke Bintan dan Johor. Johor berhasil bertahan setelah mendapat bantuan pasukan dari sekutunya, yakni pasukan Jawa, Minangkabau, Trengganau, Indragiri, dan Kempar. Namun, dari 8.000 pasukan, kerugian terbesar berada di pihak Johor karena armada laut Portugia berhasil menewaskan 2.000 pasukan sekutu Johor dan menyita 2.500 senjata perang.

1626    Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung mengirim armada pasukan untuk menyerang Batavia dan kerajaan-kerajaan di sepanjang pesisir utara Jawa. Penyerangan ke Batavia mengalami kegagalan karena terkurasnya perbekalan. Di samping itu, kegagalan tersebut disebabkan oleh terpecahnya konsentrasi pasukan yang sedang menyerang dan membumihanguskan kerajaan di pesisir utara Jawa.

1627    Banten menyerang Batavia dengan 500 prajurit. Pasukan Belanda dilengkapi dengan meriam berukuran besar berhasil melumpuhkan serangan pasukan Banten.

1629    Mataram kembali menyerang Batavia. Meski  Sultan Agung sudah mendirikan lumbung-lumbung padi, namun Belanda berhasil mengetahui keberadaan lumbung tersebut dan membakarnya. Hal ini melemahkan pasukan Mataram. Serangan selanjutnya dari Mataram masih belum berhasil karena pasukan Belanda menambah kekuatan.

1811    Armada Inggris di bawah pimpinan Lord Minto menyerang Belanda. Armada Inggris memiliki persenjataan perang di darat dan di laut yang lebih lengkap sehingga dengan mudahnya pasukan Belanda di Batavia berhasil dikalahkan dan akhirnya Batavia jatuh ke pihak Inggris.

Kepustakaan

Pramono, Djoko. 2005. Budaya Bahari. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

http://books.google.co.id/books?id=GFdY5oKEHloC&pg=PA62&dq=penguasa+tuban+pada+masa+majapahit..

 

Suwandy Mardan @ 19 February 18:26
Peristiwa Penaklukan Samudera Pasai oleh kerajaan Gowa tersebut dapat anda temui dalam beberapa naskah Portugis dan Tuhfat al-Nafis karangan Raja Ali Haji, Juga terdapat dalam catatan Harian kerajaan Gowa (Lontara' Bilang Gowa-Tallo)
bambang @ 10 February 11:21
Mengutip dari artikel diatas: 1339-1341 "................ Dengan demikian, Nusantara bagian barat sepenuhnya sudah bersatu di bawah panji kerajaan Majapahit, kecuali Kerajaan Sunda." Mohon masukan sumber rujukan dari keterangan diatas. Terima kasih.
Muhammad Nabil Berri @ 17 January 12:03
Gowa menaklukkan Samudera Pasai? Ada sumbernya karena saya belum pernah dengar? Kemudian sedikit pembenaran, Sumatera tidak berhasil dikuasai seluruhnya oleh Majapahit, karena masih ada beberapa kerajaan di utara Pasai (Pidie, Lamuri dsb) dan juga kerajaan-kerajaan di pesisir barat Sumatera yang aman tenteram. Pengagungan Gajah Mada sebagai pemersatu nusantara dan bahwa seluruh nusantara ditaklukkan oleh Gajah Mada adalah pemikiran yang bersifat Jawasentris. Orang-orang Jawa mengagungkan Gajah Mada karena telah "mempersatukan nusantara", padahal orang-orang bukan Jawa tentunya sangat benci dengan adanya serangan-serangan Gajah Mada ke berbagai daerah di nusantara.
Suwandy Mardan @ 11 September 22:46
Salam Nusantara.... Infonya keren, cuman hanya sebatas Kerajaan Jawa saja yang di Ekspos....,Padahal Kerajaan Gowa (Makassar) sudah tercatat pada tahun 1500an berhasil menaklukkan Samudera Pasai, dan catatan perjalanan seorang pelaut Portugis " Antonio de Payva" yang berpapasan dengan iring-iringan Raja Gowa ke 15 "Sultan Malikussaid" ditengah lautan, dimana iring-iringan Beliau ini terdiri dari 1182 Kapal Perang Kerajaan Gowa dan Kapal Induk yang di tumpangi oleh Baginda Sultan Malikussaid terdiri dari 300 orang Pendayung. dan Masih banyak lagi Peperangan Laut Dahsyat yang telah di alami oleh Kerajaan Gowa.
Wacana Lebih Baru Wacana Lama
Posting Komentar Anda

Informasi lebih lanjut
[wacana@nusantara-online.com]
+62-22-930-746-96
Jln. Jakarta 20-22
Komplek Kota Kembang Permai
Ruko Kav. 21.A, Bandung-Indonesia