Masuknya Hindu dan Buddha ke Tanah Jawa : Zaman Kerajaan
Tim Wacana Nusantara
2 March 2009

     Jika dipandang dalam pemetaan sejarah, masyarakat Jawa lahir dari budaya yang telah menempatkan mereka pada posisi seperti sekarang jauh sebelum pengaruh dari luar yang disandingkan dengan kebudayaan, akulturasi. Budaya ini timbul di saat masyarakat Jawa berinteraksi dengan alam; kepercayaan masyarakat pun terbentuk dari teka-teki alam. Dari alamlah, kepercayaan riligius Jawa mulai perkembangan. Lahirlah kepercayaa-kepercayaan ritual dan adat. Tradisi adat inilah membentuk konsepsi budaya Jawa.

     Sejalan dengan waktu, pengaruh “budaya luar” terhadap metabolisme perkembangan religi masyarakat Jawa makin besar. Pengaruh Hinduisme dan Buddhaisme menjadikan pola pikir masyarakat Jawa lebih meluas, dengan ditandai budaya “kerajaan” dan “prasasti”. Masyarakat yang tadinya hanya sebuah perkumpulan adat, mengalami perluasan budaya menjadi lebih luas. Dibukanya keran “budaya asing” ini, membuat komunitas adat menjelma menjadi kerajaan.

    Perkembangan budaya ini menyebar hingga ke pelosok Nusantara, sehingga banyak berdiri kerajaan besar yang bernaung sesuai dengan latar belakang adat masing-masing. Kerajaan Kanjuruhan, Mataram, Kediri, sampai Singasari dan Majapahit. Berdirinya kerajaan bercorak Hindu–Buddha tersebut memengaruhi sistem religi, ekonomi, politik, sosial, kesenian masyarakat Jawa. Yang terjadi adalah berkembangnya sistem bercocok tanam, sistem khas dari masyarakat yang terikat dengan budaya kerajaan. Hasil dari bercocok tanam ini selalu berkaitan dengan upacara/ritual keagamaan, selain untuk dijadikan upeti dan persembahan kepada kerajaan.

     Agama Hindu masuk ke Kepulauan Nusantara diperkirakan pada awal tarikh Masehi, dibawa oleh para musafir dan pedagang dari India. Di antara mereka adalah: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan “Batara Guru” atau “Dwipayana” dan para musafir Tiongkok, di antaranya, rahib Buddha bernama Fa Hien. Kedua tokoh ini mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebarkan dharma.

     Pada perkembangannya, jalinan antara raja-raja Hindu dan Buddha dengan para agamawannya sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan agama, seni dan budaya, serta kesusasteraan. Candi-candi yang bertebaran di Jawa, Bali, dan Lombok; yupa-yupa di Kalimantan; serta arca-arca dan prasasti yang ditemukan hampir di seluruh Nusantara adalah bukti-bukti nyata. Kesusastraan Ramayana, Mahabarata, Arjuna Wiwaha, Sutasoma (karangan Mpu Tantular yang di dalamnya terdapat seloka “bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”) merupakan warisan-warisan yang sangat luhur bagi umat selanjutnya.
 
Masuknya Agama Buddha: Zaman Kerajaan di Jawa Bagain Tengah
       Dibandingkan dengan jaman sebelumnya, sumber Agama Buddha di Jawa Tengah sedikit lebih banyak. Pada jaman ini di Jawa Tengah sudah terdapat dua kerajaan besar : Kerajaan dari dinasti Syailendra yang memeluk agama Buddha dan kerajaan dari dinasti Sanjaya yang memeluk agama Siwa. Agaknya hubungan kedua kerajaan ini baik sekali, sebab berita yang ada menyebutkan bahwa kedua kerajaan tersebut saling tolong menolong dalam pendirian candi.

     Di kerajaan Syailendra agama yang dipeluk adalah agama Buddha Mahayana. Hal ini dapat diketahui dari peninggalan-peninggalan sejarah dan candi dari kerajaan ini yang bercorak Buddha Mahayana. Walaupun kerajaan Syailendra banyak mendirikan candi namun masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan candi yang dibangun oleh kerajaan Sanjaya. Bahwa yang berkembang adalah Buddha Mahayana, jelas terlihat dari candi di desa Kalasan - yang kemudian diabadikan sebagai nama candi tersebut. Candi ini dipersembahkan untuk Dewi Tara, rekan wanita Buddha. (Avalokitesvara ?).
     Agaknya pada masa ini masih ada hubungan yang erat dengan India, sebab ada juga berita bahwa seorang guru dari Gaudidwipa (Bengala) yang memimpin upacara pada waktu peresmian patung Manyuri. Demikian juga diberitakan diprasasti lain bahwa ada orang dari Gujarat yang senantiasa melakukan kebaktian di candi tertentu. Dugaan itu berasal dari berita di India. Raja Dewapala dari dinasti Pala (Bengala) pada tahun pemerintahannya yang ke-39 (antara tahun 856 dan 860) menghadiahkan beberapa desa untuk keperluan pemeliharan sebuah vihara di Nalanda, yang didirikan oleh Balaputra, raja Suwarnadwipa (Sumatra), cucu raja di Jawa.

      Sekalipun demikian keadaan di Jawa Tengah tidak sama dengan keadaan di Sriwijaya. Mahayana yang bagaimanakah yang berkembang di Jawa Tengah? Pertanyaan itu sukar dijawab. Yang perlu diperhatikan adalah pada prasasti Kalurak (782) yang agaknya berhubungan juga dengan peresmian patung Mansyuri, disebutkan bahwa Mansyuri selain disamakan dengan Triratna juga disamakan dengan Brahma, Wisnu dan Maheswara. Bagi para pengikut Mahayana di Jawa Tengah, agaknya para Bodhisatva tidak dibedakan dengan dewa dari hindu.

     Disamping prasasti, ada candi-candi yang menjadi saksi agama Buddha di Jawa Tengah. Candi tersebut memberikan penjelasan yang lebih banyak. Yang paling terkenal adalah candi Borobudur.

     Jika ingin mengerti arti Borobudur, bangunan itu harus dipandang sebagai satu kesatuan. Dari susunan candi yaitu yang terdiri atas teras-teras yang bermacam-macam, agaknya Borobudur mengungkapkan gambaran dunia menurut salah satu aliran Mahayana. Borobudur menggambarkan seluruh alam semesta atau kosmos ini terbagi atas tiga bagian : Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu. Kamadhatu adalah hawa nafsu dan ini digambarkan dengan jelas pada bagian bawah. Disini hidup orang yang masih terikat oleh hawa nafsu dan segala hal yang berbau duniawi. Rupadhatu adalah dunia rupa, atau alam yang terbentuk, yang digambarkan pada lima teras yang menggambarkan hidup Buddha Gautama. Arupadhatu adalah alam yang tak berupa, tidak berbentuk. Pusat dari alam ini adalah stupa yang dipuncak, yang kosong, yang menggambarkan sunyata atau Nirwana atau Adhi Buddha.

     Mengingat susunan Borobudur yang demikian, agaknya dapat diambil kesimpulan bahwa Borobudur ingin mengungkapkan ajaran Mahayana dalam hubungan kosmis. Borobudur adalah tempat untuk ber meditasi, tempat untuk merenung. Agaknya pembangunan Borobudur itu dijiwai oleh gagasan Indonesia kuno, yaitu tentang afanya tempat suci yang berbentuk teras, yang biasanya dipakai untuk menyembah nenek moyang, dan terletak diatas bukit. Oleh karena itu maka kiranya penyembahan kepada Bodhisatva sudah dipandang sebahai alat untuk menyembah nenek moyang mereka yang sudah meninggal. Jika demukian maka agama Buddha pada waktu ini sudah dipengaruhi oleh cita-cita keagamaan indonesia asli.
 
Masuknya Agama Buddha: Zaman Kerajaan di Jawa Bagian Timur
      Di Jawa Timur, agaknya agama Buddha dan agama Siwa hidup berdampingan. Hal ini tertera dari prasasti-prasasti dimana mPu Sindok disebut dengan gelar Sri Isana (sebutan Siwa) sedangkan puntrinya menikah dengan Lokapala yang juga disebut Sugatapaksa (sebutan Buddhis). Juga ditemukan pengaruh tantra pada kedua agama ini cukup kuat.

     Dari kesusastraan yang ada, didapat bahwa kesusastraan yang terkuno disusun sedemikian rupa, hingga terdiri dari ayat-ayat dalam bahasa Sanskrit, yang diikuti oleh keterangan bebas dalam bahasa Jawa kuno. Dari sini terlihat bahwa ayat-ayat itu berasal dari India. Dalam perkembangan selanjutnya adalah kitab tersebut terdiri dari ayat dalam bahasa Jawa kuno dan diselingi bait-bait dari bahasa Sanskrit. Ini menunjukan hubungan dengan India sudah longgar. Akhirnya terdapat kitab yang seluruhnya terdiri dari bahasa Jawa kuno, hanya kadang terdapat selingan dalam bahasa Sanskrit.

     Pada jaman ini ada dua buku yang menguraikan ajaran Mahayana, yaitu 'Sanghyang Kamahayan Mantrayana' yang berisi ajaran yang ditujukan kepada bhikkhu yang sedang ditasbihkan, dan 'Sanghyang Kamahayanikan' yang berisi kumpulan pengajaran bagaimana orang dapat mencapai kele pasan. Pokok ajaran dalam Sanghyang Kamahayanikan adalah menunjukan bahwa bentuk yang bermacam- macam dari bentuk pelepasan pada dasarnya adalah sama. Bagi penulis Sanghyang Kamahayanikan tidaklah terlalu sulit untuk mengidentifikasikan Siwa dengan Buddha dan menyebutnya "Siwa-Buddha", bukan lagi Siwa atau Buddha, tetapi Siwa-Buddha sebagai satu Tuhan.
     Beralih ke jaman Majapahit, dapat disimpulkan bahwa jaman ini adalah jaman dimana Sinkretisme sudah mencapai puncaknya. Agaknya aliran Siwa, Wisnu dan Buddha dapat hidup bersamaan. Ketiganya dipandang sebagai bentuk yang bermacam-macam dari suatu kebenaran yang sama. Siwa dan Wisnu dipandang sama nilainya dan mereka digambarkan sebagai 'Harihara' yaitu patung setengah Siwa setengah Wisnu. Siwa dan Buddha dipandang sama.

     Di dalam kitab Arjunawijaya umpamanya diceritakan bahwa ketika Arjunawijaya memasuki candi Buddha, para bhikkhu menerangkan bahwa para Jina dari penjuru alam yang digambarkan pada patung-patung itu adalah sama saja dengan penjelmaan Siwa. Wairocana sama dengan Sadasiwa yang menduduki tempat tengah. Aksobya sama dengan Rudra yang menduduki tempat timur. Ratna sambhawa sama dengan Brahma yang menduduki selatan, Amitabha sama dengan Mahadewa yang menduduki barat dan Amogasiddhi sama dengan Wisnu yang menduduki utara. Oleh karana itu para bhikkhu tersebut mengatakan tidak ada perbedaan antara agama Buddha dengan Siwa. Dalam kitan 'Kunjarakarna' disebutkan bahwa tiada seorangpun, baik pengikut Siwa maupun Buddha yang bisa mendapat kelepasan jika ia memisahkan yang sebenarnya satu, yaitu Siwa-Buddha.

     Kita mendapat kesan bahwa pada waktu itu agama Buddha lebih berkembang dari agama Siwa. Ini dilihat dari kitab Sutasoma yang mencaritakan tentang kemarahan Kalarudra yang hendak membunuh Sutasoma, titisan Buddha. Para dewata mencoba meredakan Kalarudra dengan mengingatkan bahwa sebenarnya Buddha dan Siwa tidak bisa dibedakan. Jinatwa (hakekat Buddha) adalah sama dengan Siwatattwa (hakekat Siwa). Selanjutnya dianjurkan agar orang merenungkan Siwa-Buddha-tattwa, hakekat Siwa-Buddha.

     Hal ini tampak juga dari cerita Bubuksah yang ceritanya juga dilukiskan di candi Panataran. Dua saudara yang tua bernama Gagang Aking, pengikut Siwa dan Bubuksah pengikut Buddha, sejak muda hidup sebagai pertapa di gunung Wilis. Bubuksah makan segala sesuatu yang dapat dimakan sedangkan Gagang Aking memakan sayuran saja. Mereka berdebat tentang dua pertapaan ini. Kemudian dewa Mahaguru mengutus Kala Wijaya dalam wujud harimau putih untuk menguji kedua anak itu. Ketika harimau putih datang ke Gagang Aking, dinasehatinya supaya pergi saja keadiknya karena tubuhnya lebih gemuk. Ketika harimau itu tiba ditempat Bubuksah, dengan sengaja ia merelakan dirinya untuk disantap, supaya ia lepas dari dunia fana ini. Dari sini jelaslah bahwa Bubuksah itu pengikut Buddha yang suci sekalipun ia tidak keras dalam tapanya. Ia mendapat tempat di surga. Cerita ini mengungkapkan suatu polemik, yang menunjukan keunggulan agama Buddha. Sekalipun demikian carrita ini dilukiskan pada candi Prambanan.
 
 
KEPUSTAKAAN
Fox, Jame. J. dkk. (2002). Indonesian Heritage :Agama dan Upacaradan Sastra. Jakarta: Buku Antar Bangsa.
Miksic, John dkk dkk. 2002. Indonesian Heritage: Sejarah Awal.  Jakarta: Buku Antar Bangsa.
Muljana, Slamet. (2005.) Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. Yogyakarta: LKiS. Pelangi Aksara
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. (2008). Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka
Rahardjo, Supratikno. (2002). Peradaban Jawa. Jakarta: Komunitas Bambu.Raffles, Thomas Stamford (2008).  The History of Java.  Yogyakarta: Narasi
indosolution. (2007). Seminar Penyiapan Kapal Dagang Indonesia – India. [online] http://www.indosolution.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=54&Itemid=51. Februari 2009

Wacana Lebih Baru Wacana Lama
Posting Komentar Anda

Informasi lebih lanjut
[wacana@nusantara-online.com]
+62-22-930-746-96
Jln. Jakarta 20-22
Komplek Kota Kembang Permai
Ruko Kav. 21.A, Bandung-Indonesia