Bejana perunggu atau kadang disebut juga sebagai tempayang perunggu di wilayah Asia Tenggara mulai dikenal kira-kira 3.000 Sebelum Masehi yang sering dikaitkan dengan periode atau mada perundagian. Pada masa ini teknologi berkembang sangat pesat tidak hanya berkutat pada variasi dari bendanya. Justru pada perundagian manusia pendukung kebudayaannya telah memperlihatkan kejeniusan mereka dalam penggunaan bahan yang lebih canggih lagi. Sebagai catatan, perunggu merupakan logam yang dihasilkan dari campuran timah dengan tembaga.

Logam dalam Masa Perundagian

Zaman Perundagian sebagai penggalan periode dari masa prasejarah mungkin hanya dikenal di Indonesia. Umumnya, masa perundagian ini sering disamaratakan dengan zaman di mana manusia sudah mengenal pengolahan logam. Hal ini tidak sepenuhnya benar dan juga tidak salah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kata “undagi” berarti tenaga ahli. Dalam kebudayaan Jawa kuna, kata “undagi” dimaknai sebagai tukang. Kurang lebih artinya sama, yaitu merujuk kepada mereka yang mempunyai keahlian khusus dalam mengerjakan sesuatu.

Istilah perundagian dalam periode prasejarah Indonesia muncul dari pemikiran R.P. Soejono yang juga dikenal sebagai “bapak prasejarah Indonesia” yang awalnya justru merupakan usaha untuk membedakan dengan klasifikasi sistem tiga zaman Thomsen; Zaman Batu, Zaman Perunggu, dan Zaman Besi. Three age system (Sistem tiga zaman) tersebut adalah pembebakan yang melihat perkembangan manusia pada masa lalu mengarah pada teknologi yang digunakannya. Klasifikasi prasejarah Soejono justru lebih menyasar kepada kehidupan Sosial ekonomi masyarakatnya.

Penyamarataan perundagian dengan zaman logam dimungkinkan karena salah satu kebudayaan pada masa perundagian ini adalah berkembangnya kemampuan membuat peralatan atau perlengkapan dari bahan logam. Yang menarik justru ketika kebudayaan logam tersebut dilihat dari segi sosial dan ekomominya.

Misalnya pengerjaan alat-alat logam ini tentu dilakukan oleh seorang ahli berarti sudah ada pembagian kerja yang sangat baik. Selain itu bahan logam yang tidak banyak tersedia, sebagaimana halnya bahan dari batu, memungkinkan telah terjalinya hubungan atau jaringan “ekonomi” antara daerah penghasil dengan daerah lainnya.

Terbatasnya jumlah logam juga berpengaruh kepada terbatasnya peralatan yang dihasilkan. Dari sini kita bisa menarik sebuah kesimpulan, bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki alat atau barang dari logam.

Lebih Lanjut tentang masa perundagian Soejono menyatakan bahwa pada masa ini, masayarakat telah mengenal sistem irigasi dengan baik. Selain itu, sistem religi juga sudah sangat kompleks dan sistem pemerintahan telah memiliki hirarki yang hampir sama dengan kerajaaan.

Bejana Perunggu

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, masa perundagian merupakan surga bagi para pengrajin. Kemahiran membuat alat-alat dituntut untuk semakin berkembang sebagai akibat dari munculnya pembagian stsu kelompok-kelompk pekerja yang terorganisir. Hubungan antara wilayah satu dengan lainnya memungkinkan terjadinya saling mempengaruhi dan tukar-menukar budaya. Bejana perunggu hadir dalam kondisi masyarakat seperti ini.

Memasuki periode perundagian, tidak lantas semua peralatan kemudian dibuat dari logam. Peralatan dari zaman sebelumnya masih ada yang dipergunakan, dan tidak ditinggalkan begitu saja meskipun pengetahuan tentang logam sudah tersebar secara luas. Hal ini dimungkinkan karena logam merupakan bahan yang sulit untuk didapatkan dan jika adapun mungkin secara ekonomi tergolong “mahal”.

Temuan Bejana Perunggu

Bejana Perunggu, Masa Perundagian

Bejana Perunggu, Masa Perundagian

Bejana Perunggu dari masa prasejarah yang diketemukan di Indonesia umumnya memiliki kesamaan dari segi bentuknya yaitu bulat panjang seperti kepisi (keranjang tempat ikan), akan tetapi memiliki perbedaan ukuran dan Pola hias.

Bejana perunggu dari masa prasejarah yang diketemukan di Kerinci (Sumatra) memiliki tinggi 50,8 cm dan lebar 37 cm. Bagian lehernya dihiasi dengan pola yang menyerupai huruf ‘J’ dan juga terdapat pola anyaman. Sementara di bagian badan bejana terdapat pola hias menyerupai huruf ‘S’.

Bejana perunggu yang diketemukan di wilayah Asemjarang (Sampang-Madura) memiliki tinggi 90 cm dan lebarnya 54 cm. Pada bagian leher bejana terdapat hiasan yang terbagi menjadi tiga sekat. Sekat pertama diisi lima buah tumpal yang berderet berhias burung merak, sekat kedua berisi pola yang menyerupai huruf ‘J’ berselang-seling dengan posisi tegak dan terbalik, dan sekat ketiga juga berhias pola tumpal berhias seekor kijang. Badan bejana dihiasi pola spiral dan bagian tepinya dihias pola tumpal berpadu dengan pola spiral dan anyaman halus. Para ahli menyebut bahwa bejana perunggu ini mempunyai kemiripan dengan bejana perunggu di Phnom Penh (Khamer).

Bejana perunggu yang diketemukan di Ujung Pandang, Makassar (Sulawesi Selatan) pada bagian lehernya dihiasi pola geometris spiral yang mengapit pola hias tumpal dan topeng. Terdapat juga pola sepasang mata yang merupakan pola hias utama. Bagian badannya tidak berhias, hanya pada bagian tepinya terdapat hiasan pola duri ikan. Panjang bejana perunggu ini 70,5 cm dan lebar 45 cm.

Di Wilayah kabupaten Lampung Tengah dan wilayah Subang (Jawa Barat) juga diketemukan bejana perunggu tinggalan masa prasejarah. Bejana yang ditemukan di subang bahkan ‘diklaim’ sebagai bejana terbesar jika dibandingkan dengan yang ditemukan di Kerinci dan Madura.

Cara Pembuatan

Melebur logam mungkin menjadi kemahiran yaang cukup dihargai pada masa perundagian. Teknik melebur logam ini mungkin sekarang terdengar biasa, tapi apakah anda bisa membayangkan pengetahuan semacam itu, padahal sebelumnya tidak dikenal? Dari mana mereka mempelajarinya? Secara sederhana, kita menyebut mereka sebagai para penemu.

Sebagai contoh, untuk membuat bejana perunggu seperti yang ditemukan di Asemjaran (Madura), setidaknya memerlukan komposisi 63,40% Tembaga, 15,20 % Timah Putih, dan 2,83 % Timah Hitam. Yang justru semakin unik adalah mereka tidak hanya melebur logam dan membuatnya menjadi bejana, mereka bahkan menghias bejena-bejana itu dengan ragam hias yang sangat indah.

Teknik membuatan benda perunggu yang cukup dikenal adalah teknik cetak setangkup (bivalve) dan teknik cetak lilin (a cire perdue).

Cetakan setangkup adalah teknik menuangkan cairan logam kedalam cetakan yang terlebih dahulu dibuat dari batu misalnya. Cetakan tersebut terdiri dari dua bagian yang ketika disatukan atau ditangkupkan (dikatupkan) seperti kulit kerang. Teknik ini dapat digunakan untuk membuat benda yang tidak memiliki bentuk yang rumit. Keuntungan lainnya adalah cetakan dapat digunakan hingga beberapa kali.

Teknik a cire perdue. Dalam teknik ini mula-mula harus dibuat model benda dari lilin atau bahan lainnya yang mudah meleleh. Model kemudian dilapisi dengan tanah liat yang tahan api yang pada bagian atasnya dibuat semacam corong untuk menungkan cairan logam nantinya. Model yang berlapis tanah liat itu kemudian dibakar hingga lilin meleleh. Kemudian cairan perunggu dituangkan ke dalam cetakan melalui corong yang dibuat. Cairan logam perunggu akan membeku dan dingin, kemudian lapisan tanah liat dapat dipecahkan untuk mengambil benda perunggu yang kita inginkan.