Ular Naga : Permainan berkelompok yang dimainkan oleh minimal 4-5 orang (foto Oleh:adiriyadi.wordpress.com)

Ular Naga : Permainan berkelompok yang dimainkan oleh minimal 4-5 orang (foto Oleh:adiriyadi.wordpress.com)

Setiap manusia selalu melewati masa kecil atau anak-anak. Anak (jamak: anak-anak) adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Dalam KBBI, Anak; adalah keturunan yang kedua, atau manusia yg masih kecil. Istilah “anak” juga merujuk pada perkembangan mental seseorang.

Pada saat ini kehidupan anak-anak masyarakat Indonesia, banyak terenggut oleh kehidupan yang menuntut mereka untuk bekerja dan pendidikan yang mengarah kepada pendidikan formal. Dibanding pendidikan yang mengarah kepada lingkungan dan keluarga. Kondisi anak sekarang Cenderung di tuntut untuk menyelesaikan pendidikan formal, tanpa memperhatikan kondisi psikologis perkembangan anak.

Sebagai Contoh; pada pendidikan usia dini atau lebih dikenal dengan istilah PAUD, juga Taman Kanak Kanak (TK), seorang anak sudah di tuntut untuk bisa membaca dan berhitung dari pada bermain. Pola pendidikan seperti ini muncul dari dunia Barat, bahwa pendidikan formal harus dilakukan sejak usia dini. Sehingga akhirnya masyarakat kita sangat ketergantungan kepada yang namanya pola pendidikan Barat, sampai dengan pendidikan menengah juga perguruan tinggi.

Kita harus menyadari bahwa semua tindakan manusia akan berdampak pada kebutuhan untuk menunjang kelengkapan pola pendidikan seperti itu. Seperti membeli mainan modern, buku yang mahal dan alat peraga pendidikan yang berasal dari barat. Keadaan pola hidup seperti ini kemudian menciptakan kesenjangan sosial dalam masyarakat. Hingga akhirnya ada pengelompokan orang miskin dan orang kaya.

Pengelompokan ini juga akhirnya berpengaruh terhadap mentalitas anak-anak. Bagi orang miskin, mereka tidak bisa memasukan anaknya kepada pendidikan orang kaya karena biaya yang sangat mahal. Mainan untuk orang-orang kaya pun akhinya mengalami perubahan. Mereka tergantung kepada hasil perbuatan pabrik-pabrik. Sedangkan permainan untuk orang-orang miskin bersifat murahan dan kotor.

Pada zaman sekarang kita harus menggarisbawahi kalau ternyata tempat bermain anak-anak sudah di sekat-sekat atau digolongkan. Bagi anak-anak dari orang kaya mereka tidak diperbolehkan untuk bermain di tempat anak-anak orang miskin karena indentikan dengan kotor. Anak orang kaya kecenderungan bermain di tempat permainan yang sudah dikelola secara profesional, rapih dan bersih. Bagi anak-anak dari golongan kurang mampu biasanya mereka bermain di tempat-tempat kotor seperti lapangan tanah, hutan, pinggir kali, dll.

Keadaan yang dikondisikan oleh lingkungan pendidikan barat dan tuntutan yang lebih ini akhirnya membawa anak-anak kepada pola permainan yang jauh dari permainan rakyat atau tradisional. Mainan tradisional dinggap sebagai mainan kelas bawah, kotor, berbahaya, dan tidak berkualitas. Kondisi seperti ini akhirnya menghantarkan anak-anak kita kepada ketidaktahuan akan ‘permainan tradisional’ yang sudah jauh berkembang sebelum mereka lahir.

Permainan tradisional sebenarnya selalu berkaitan dengan alam sekitar. Ini disebabkan keakraban manusia hidup bersama alam dalam kesehariannya. Hukum alam dipahami sebagai ‘hukum Tuhan’ yang sangat dipatuhi. Sehingga ketika manusia akan bersentuhan dengan alam, mereka akan sadar diri akan Tuhannya. Hubungan harmonis ini selalu dilestarikan melalui sikap hidup sehari-hari, termasuk dalam menyiapkan generasi penerus. Kesadaran itu diterapkan dalam tata asuh anak yang mampu menjaga dan menghormati alamnya.

Permainan dan mainan sangat dekat sekali dengan pola perkembangan hidup seorang anak bahkan permainan ini akan mampu mengembangkan daya pikir anak anak secara tidak langsung. Permainan tradisional pada masyarakat Indonesia selain mempererat dengan alam juga memperhatikan kebutuhan anak dalam mencapai perkembangan usianya. Bahkan material yang digunakan untuk membuat permainan juga tergantung kepada material yang disediakan oleh alam. Ini membuktikan bahwa pola hidup masyarakat dipengaruhi oleh lingkungan dan alam.

Dengan kondisi lingkungan bermain anak yang sudah berbeda, permainan tradisional kini jarang di mainkan oleh anak-anak. Mereka lebih mengenal jenis permainan yang bersifat elektronik dan digital. Jenis permainan tradisional seolah-olah tersingkirkan dari lingkungan anak-anak dan tergerus oleh permainan modern.

Kalau melihat jenis dan bentuk permainan tradisional di Indonesia sangatlah banyak. Di setiap daerah banyak memiliki kesamaan dalam bentuk dengan penamaan berbeda. Keragaman ini dipengaruhi oleh lingkungan alam yang menyediakan material untuk di jadikan alat permainan. Misalnya, dengan kekhasan alam dan lingkungan wilayah Sunda atau Tatar Sunda, akan memngaruhi penciptaan jenis mainan dan permainan yang ada.

Latar belakang dan sejarah masyarakat Sunda termasuk kehidupan ladangnya, berbeda dengan daerah lain di pulau Jawa. Kemudian secara bertahap menciptakan pola asuh anak yang berbeda pula di setiap tempat. Demikian pula jenis dan kerakter lahirnya bentuk desain mainan dan permainan amat dipengaruhi oleh pola asuh.

Untuk beberapa wilayah pedalaman atau desa-desa adat Sunda, terutama pada saat upacara adat, permainan tradisional rakyat ini sering kali ditampilkan sebagai pelengkap dari kegiatan upacara. Seperti yang terjadi pada upacara seren taun di desa Cigugur Kuningan. Mereka menggunakan media gogolekan untuk persembahan kepada Hyang Pohaci.

Pada masa anak-anak gogolekan merupakan permainan anak yang dimainkan ketika ikut bersama orang tuanya ke kebun atau ke sawah meskipun dengan menggunakan material yang berlainan. Hal ini pun terjadi pada alat-alat kesenian di Jawa Barat yang dimainkan oleh orang dewasa pada saat upacara, selamatan, perayaan, banyak yang menggunakan alat musik yang pada masa kecil digunakan dan dimainkan seorang anak.

Kekayaan alam, kekayaan lingkungan, kedamaian dan kekayaan rasa pada akhirnya membentuk sebuah masyarakat yang sadar akan pentingnya regenerasi melalui tahapan bermain. Kekayaan budaya yang ada dan melimpah adalah sebuah kekayaan yang perlu dipertahankan keberadaannya. Seperti halnya di wilayah Kasepuhan dan Kampung Adat, diharapkan mainan anak khas daerah yang lahir di daerah tersebut dapat membantu mempertahankan adat dan tradisi leluhur.

Alat mainan tradisional kini jarang dimainkan oleh anak-anak, bahkan di pedesaan pun jarang terlihat anak-anak membuat mainan dari material alam disekitarnya. Mainan modern yang terbuat dari bahan-bahan plastik, kertas dan logam kini lebih dekat dengan keseharian anak-anak. Tambah lagi pendidikan usia dini secara formal maupun informal, hampir tidak mengenalkan mainan tradisional sebagai media bermain anak. Hal ini karena terbatasnya sumber dan data tentang permainan yang ada.

Padahal mainan, hakikatnya dapat dijadikan media belajar bagi anak. Untuk melatih gerak motorik dan kreativitas. Mainan merupakan sebuah media yang dapat melatih kecerdasan dan keterampilan. Pelbagai bentuk permainan dan mainan tradisional masyarakat sangat dekat dengan alam sekitar. Alam hakikatnya menyediakan media mainan yang tak terbatas bagi anak. Dari mainan dan permainan tradisional inilah kita akan berbicara tentang masa depan manusia yang bijak dengan alamnya.

 

Salam Nusantara!