Penggunaan alat tulang pada masa prasejarah hampir sama lamanya dengan penggunaan alat-alat dari batu. Yang menarik, pembuatan alat tulang ini tetap berlanjut bahkan ketika bahan-bahan lain sudah tersedia. Di Asia Tenggara, perkakas tulang masa prasejarah banyak diketemukan di daerah Tonkin, gua-gua di daerah Hon Bin, bukit kerang daerah Da But (Vietnam Utara), gua besar Niah, dan gua Lawa (Sampung, Jawa Timur).

Lebih lunak daripada batu dan cukup keras jika dibandingkan dengan kayu. Sifat tulang tersebut mungkin membuatnya tetap menjadi pilihan untuk dijadikan bahan membuat perkakas dengan bentuk dan ukuran yang beragam. Tulang dimanfaatkan menjadi alat yang berguna bagi kehidupan sehari-hari oleh hampir semua lapisan masyarakat dari masa prasejarah hingga sejarah; dari masa Pithecantopus hingga saat ini.

Sebagai bahan yang mudah terurai, tulang mungkin tidak bisa bertahan cukup lama jika dibandingkan batu. Namun, di bawah kondisi suhu yang tepat, alat tulang dapat bertahan cukup lama dan kita yang hidup pada masa ini bisa melihat bukti-bukti dari alat tulang yang ditinggalkan oleh mereka yang hidup beribu-ribu tahun yang lalu.

Temuan dan Perkembangan Alat Tulang Masa Prasejarah

“Alat-alat Tulang Prasejarah, Budaya Kunda”. Foto oleh Terker

“Alat-alat Tulang Prasejarah, Budaya Kunda”. Foto oleh Terker

Setiap bagian dari hewan hasil buruan oleh masyarakat pada masa prasejarah tidak ada yang disia-siakan. Bahkan bagian kerangka hewan dimanfaatkan menjadi alat, tapi yang paling sering digunakan untuk menjadi alat adalah tulang yang panjang dan besar, serta bagian tanduk. Tulang yang panjang lagi besar mungkin bisa menjadi pemukul, lainnya dipotong menjadi bentuk yang berguna, menjadi pisau, panah, tombak bahkan menjadi mata kail, sendok dan jarum jahit.

Pada perkembangan selanjutnya mereka juga membuat alat musik dari tulang, seperti seruling atau pluit, serta bahkan menjadi “mainan”. Beberapa alat yang cukup rumit seperti sisir rambut, liontin dan tusuk konde berukir mungkin hadir belakangan. Gigi dan kuku dari binatang buruan juga dimanfaatkan. Gigi dan kuku biasanya dilubangi untuk menjadi hiasan pada pakaian atau dijadikan bagian dari perhiasan. Daging dan kulit berbulu dari binatang sudah lebih dulu dimanfaatkan dengan baik.

Alat tulang yang “tertua” diketemukan di Afrika yang diperkirakan berumur 1,5 juta tahun yang lalu. Hal ini merupakan sesuatu yang ‘wajar’ karena di Afrika ditemukan banyak lapisan kebudayaan pada msa prasejarah, umumnya para peneliti percaya bahwa “manusia” muncul dan kemudian melakukan migrasi dari Afrika, out of Africa. Temuan alat tulang di Afrika yang cukup terkenal adalah hasil penggalian dari Gua Blombos di Afrika Selatan.

Dalam konteks Australopithecus (3 Juta tahun yang lalu), juga ada kemungkinan mereka telah menggunakan alat-alat dari tulang dan kayu selain penggunaan batu. Hal ini berdasarkan temuan fragmen alat tulang di situs yang dihuni oleh Australopithecus yang berasal dari tulang singa purba dan alat-alat lainnya berupa lalat tulang yang sengaja ditajamkan serta alat dari tanduk. Fungsi dari alat tersebut diperkirakan digunakan sebagai penusuk karena bagian ujungnya yang meruncing. Disamping itu juga diketemukan fragmen alat tulang dari kaki binatang yang diduga digunakan sebagai pemukul.

Di Eropa

Membuat perkakas dari tulang, tanduk dan bagian lainnya dari hewan, pada masa prasejarah sepertinya telah menjadi budaya universal. Alat-alat tulang itu tidak hanya diketemukan di Afrika tapi juga di berbagai tempat lainnya misalnya di kawasan Eropa. Di Eropa Barat seperti di wilayah Perancis diketahui pernah mengalami perkembangan yang cukup menonjol dalam budaya pembuatan alat dari tulang yang berlangsung pada masa paleolitik akhir. Temuan alat tulang yang cukup menyita perhatian adalah temuan di situs Magdaleine (Wilayah Dordogne, Perancis) yang kemudian dikenal dengan kebudayaan Magdalenian. Perkembangan yang sama juga nampak ditemukan di situs Creswell Crags (Inggris) yang kemudian dikenal dengan sebutan kebudayaan Creswellian yang berkembang dari masa 40.000-10.00 Sebelum Masehi)

“Peluit atau seruling dari Tulang, 1.000 SM”. Foto oleh Daderot

“Peluit atau seruling dari Tulang, 1.000 SM”. Foto oleh Daderot

Penemuan alat tulang di Eropa, yang ditemukan dalam konteks Neanderthal. Dalam penemuan alat tulang yang digunakan oleh Neanderthal, beberapa pendapat menyatakan bahwa Neanderthal telah belajar membuat alat tulang itu dari manusia modern (Homo Sapiens). Perbedaannya mungkin Neanderthal melihat alat tulang hanya sebaai bahan baku disamping batu. sedangkan Homo Sapiesn, di sisi lain, telah berhasil mengambil keuntungan dari sifat tulang dan mencoba membuat alat-alat yang lebih khusus.

Akan tetapi, penemuan lainnya yang bisa dikatakan baru, bahwa ada kemungkinan kita yang belajar menggunakan alat tulang dari Neanderthal. Temuan di dua lokasi di barat daya Perancis diketemukan alat tulang yang digunakan oleh Neanterthal. Alat tulang itu diduga berasa dari 50.000 Sebelum Masehi, yang berarti telah mendahului kedatangan homo sapiens ke Eropa.

Di Asia Tenggara

Di daratan Asia tradisi pembuatan alat tulang dan juga tanduk pada masa prasejarah terdapat di daerah Tonkin (Vietnam) yang diketemukan bercampur dengan kapak Sumatra. Selain itu, juga ditemukan di wilayah Vietnam lainnya seperti di Hoa Binh, dan di Da But (Vietnam Utara). Alat Tulang juga di temukan di Gua besar Niah di Wilayah Distrik Miri, Sarawak.

Alat tulang masa prasejarah di Indonesia diketemukan pada tingkat plestosen yaitu di Ngandong (Jawa Tengah) dalam konteks pendukung budaya Pithecanthropus Soloensis. Selain alat tulang, diketemukan juga alat dari tanduk dan alat serpih juga batu-batu bulat yang dikaitkan pada tali untuk menjerat hewan buruan. Keberadaan alat-alat yang berhubungan dengan Pithecanthropus Soloensis berupa alat-alat tulang (sudip) serta mata tombak bergerigi pada kedua sisinya dengan panjangnya yang mencapai 9,5 cm. Sedangkan untuk alat-alat dari tanduk diperkirakan berasal dari tanduk menjangan yang sengaja ditajamkan. Ditemukan pula alat yang terbuat dari ekor ikan pari kemungkinan difungsikan sebagai mata tombak.

Tradisi membuat alat tulang dan tanduk di Nusantara berlanjut hingga pasca-plestosen. Di gua lawa daerah Sampung misalnya, diketemukan sejumlah alat tulang yang sudah ditajamkan dan juga diketemukan Perkakas dari tanduk yang digunakan sebagai pencukil atau pisau.

Sejauh yang dapat diketahui, dari hasil temuan, penelitian dan kerja-kerja para Arkeolog, persebaran dan penemuan alat tulang prasejarah di Indonesia meliputi wilayah Kalimantan Selatan, di Wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara dan di Sulawesi Selatan.

Teknik Membuat Alat Tulang

Tulang-tulang itu terus menerus digoreskan pada batu agar menjadi tajam di bagian yang diinginkan. Terkadang mereka memukul tulang tersebut langsung dengan batu atau mereka juga menggunakan alat serpih dan pisau batu bergerigi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Cara yang terbilang cukup sederhana ketika memodifikasi tulang menjadi alat adalah dengan memecahkan tulang tersebut langsung dengan batu (kapak genggam). Teknik ini biasanya dilakukan untuk mengambil sumsum yang bergizi dari rongga tulang. Tulang panjang dari hewan besar ketika diretakan bisa menjadi serpihan tajam yang langsung bisa digunakan menjadi penusuk atau pencongkel. Teknik ini sepertinya serampangan tetapi ketika digabungkan dengan cara lain seperti pemotongan, penajaman lebih lanjut dan penghalusan, pecahan tulang tadi dapat menjadi alat yang lebih canggih dan bermanfaat.

Tulang juga dapat dipotong menjadi beberapa bagian dengan pisau batu atau alat serpih yang bergerigi. Setelah digergaji dengan kedalaman yang cukup, tulang dapat dengan mudah dipatahkan menggunakan tangan. Teknik lainnya adalah dengan memutar ujung batu untuk membuat lubang atau menggunakan teknik penatahan secara hati-hati dengan menggunakan dua batu.

Untuk beberapa kasus mungkin telah digunakan teknik pencetakan alat tulang tua agar bisa meniru bentuk yang sudah dianggap baik. Dengan menggunakan alat-alat batu yang runcing dan tajam dan penggoresan yang terus menerus hingga kemudian goresan itu menjadi dalam dan untuk selanjutnya dengan mudah dipisahkan menyerupai bentuk tiruannya.

Meskipun merendam tulang dalam air selama beberapa hari dapat memperlambat proses pengerasan tulang, tulang segar dari hewan yang baru diburu mungkin dimanfaatkan dengan cepat untuk dijadikan sebuah alat. Saat tulang masih baru, pemrosesan jauh lebih mudah. Setelah tulang kering, maka tulang itu akan menjadi sangat keras.

Sementara itu untuk memanfaatkan tanduk, mungkin perlu sedikit usaha yang ekstra dalam pengerjaannya. Tanduk umumnya lebih keras tapi daya tahannya mengagumkan. Tanduk selain dijadikan alat serpih atau pisau, dapat juga diproses menjadi mata tombak atau panah.

Membuat peralatan dari bahan tulang hewan merupakan sebuah proses yang terus berkembang melewati berbagai masa hingga—dan senatiasa— terus disempurnakan, baik itu bentuknya maupun berhubungan dengan fungsinya. Mungkin awalnya alat tulang ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, tapi seiring dengan perkembangannya, alat tulang juga telah berhasil diimplementasikan agar dapat memenuhi kebutuhan yang sifatnya sekunder.