Di Asia Tenggara, alat-alat tulang banyak ditemukan di daerah Tonkin, gua-gua di daerah Honbin,  dan di bukit kerang Da But (Vietnam Utara). Temuan-temuan itu menunjukan persamaan dengan alat-alat tulang dari gua Sampung, Ponorogo- Jawa Timur.

Dua hal yang sangat menentukan kehidupan manusia pada zaman berburu adalah alat-alat, seperti alat dari tulang dan api. Pembuatan peralatan dari tulang merupakan bagian tersendiri yang makin lama-makin maju ke arah penyempurnaan, baik bentuk maupun fungsinya. Alat-alat yang digunakan pada masa itu termasuk alat yang dari tulang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam perburuan. Peralatan yang terbuat dari tulang ini ternyata tidak hanya ditemukan di Indonesia, ternyata banyak juga ditemukan di luar Indonesia.

Perkembangan Kebudayaan Alat Tulang Alat Tulang

Raymond Dart berpendapat bahwa alat yang pertama kali digunakan oleh Australopithecus bukan dari batu, melainkan dari kayu maupun tulang. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya data di situs perburuan yang menunjukan adanya fragmen tulang Australopithecus yang mempunyai konteks temuan dengan tulang singa dan alat-alat berupa lancipan tulang serta tanduk. Fungsi dari alat tersebut diperkirakan sebagai penusuk. Karena bagian distalnya yang meruncing diperkeras dengan pembakaran. Selain itu juga ditemukan fragmen tulang kaki yang berfungsi sebagai alat pemukul.

Di luar Indonesia

Tradisi pembuatan alat tulang dan tanduk nampaknya merupakan hal yang bersifat universal. Di Kawasan Eropa Barat pernah mengalami perkembangan yang menonjol dalam hal alat-alat dari tulang pada tingkat paleolitik akhir di situs Magdaleine (Dordogne, Prancis). Kemudian disebut kebudayaan Magdalenian. Ciri-ciri kebudayaan ini juga nampak di situs Creswell Crags yang kemudian disebut dengan Kebudayaan Creswellian. Di Asia daratan tradisi alat tulang dan tanduk muncul di daerah Tonkin.

Tradisi ini bercampur dengan tradisi kapak Sumatra yang agak kasar. Selain itu, di wilayah Hoabinh juga terdapat temuan artefak tulang di situs-situs gua. Jumlahnya lebih sedikit apabila dibandingkan dengan temuan kapak genggam Sumatra. Sebaran alat tulang juga ditemukan di Da But (Vietnam Utara). Di Indonesia tempakanya cukup banyak situs yang mengandung tradisi alat tulang dan tanduk.

Di Indonesia

Di kawasan Asia Timur, Asia Tenggara, khususnya Indonesia tidak begitu cepat mengalami perubahan dalam hal peralatan hidup baik fungsi, bahan, dan bentuknya. Keadaan alam seringkali menjadikan manusia purba sulit mengembangkan peralatannya. Selain itu keterlambatan perkembangan peralatan yang terbuat dari batu dan tulang ini pun, mungkin disebabkan oleh terlalu banyaknya menggunakan peralatan dari kayu. Sehingga tidak memfokuskan kepada peralatan dari tulang dan tanduk.

Api menjadi salah satu sumber kehidupan manusia baik pada masa berburu dan meramu, bahkan hingga zaman sekarang. Selain itu api juga bisa menjadi bencana bagi manusia apabila tidak bijak menggunakannya. Api pertama kali dikenal manusia sebagai gejala alam di sekelilingnya. Di antarnya sebagai percikan gunung api, sebagai kebakaran padang rumput dan hutan yang kering karena halilintar. Atau disebakan penggosongan dahan-dahan kering di waktu angin bertiup. Ada juga nyala api yang tersembul keluar dari tempat-tempat yang mengandung gas bumi, dan sebaginya. Karena api ini sangat berguna bagi manusia, seperti untuk perlindungan dari binatang buas, menerangi, maka mulai sejak itu api mulai dipelihara.

Alat tulang pada tingkat plestosen sementara ini hanya diketahui dari Ngandong. Sebagai unsur yang ditemukan dalam konteks Pithecanthropus Soloensis. Selain alat tulang, alat-alat lain yang dibuat saat itu adalah tanduk, serpih, dan batu-batu bundar. Keberadaan alat-alat yang berhubungan dengan Pithecanthropus Soloensis, di antaranya berupa alat-alat tulang yang disebut sudip, dan mata tombak yang bergerigi pada kedua belah sisinya. Berukuran panjang panjang hingga 9,5 cm. Dan alat-alat dari tanduk menjangan dengan memperlihatkan bagian yang diruncingkan.

Ditemukan pula alat yang terbuat dari ikan pari dan benda ini mungkin digunakan sebagai mata tombak.  Kegunaan dari batu-batu bulat dalam kelompok temuan Ngandong diduga sebagai batu pelempar yang diikatkan pada tali untuk memburu hewan buruan.

Tradisi alat tulang dan tanduk tampaknya dilanjutkan dalam kehidupan di gua-gua pasca-plestosen. Di gua Sampung misalnya, ditemukan sejumlah besar alat sudip tulang, dan alat-alat tanduk yang diupam. Pekakas tanduk biasanya digunakan sebagai pencukil atau belati. Sejauh yang diketahui saat ini, persebaran alat tulang dan tanduk terdapat di wilayah Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Bali dan Nusa Tenggara Timur.

Kehidupan Sosial

Pada masa plestosen manusia di Indonesia sangat tergantung kepada kondisi alam. Daerah-daerah yang menjadi tempat tinggal mereka harus memungkinkan untuk bisa bertahan hidup. Setidaknya harus menyediakan bahan yang mampu menopang hidup manusia. Oleh karena itu mereka tinggal di tempat  yang cukup mengandung air dan makanan. Terutama tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh binatang.

Tempat-tempat seperti ini biasanya berupa padang rumput, semak belukar dan hutan yang kecil berdekatan dengan sungai dan danau. Di sekitar inilah manusia membuat pemukiman atau tempat tinggal mereka bersama kelompoknya. Mereka menetap dalam jangka waktu tertentu sampai cadangan makanan di tempat mereka telah habis. Dan setelah itu biasanya mereka pergi untuk mencari tempat baru yang bisa mendukung mereka untuk hidup.

Manusia hidup berkelompok dan membekali diri untuk menghadapi lingkungan di sekitarnya. Apa yang mereka hadapi bukan hanya binatang buas, tetapi mereka juga harus menghadapi kondisi alam yang tidak setabil. Kondisi alam yang liar, menjadi salah satu penghambat perkembangan penduduk saat itu. Selain tantangan dari alam, mereka juga harus menghadapi tantangan dari dalam yaitu kematian anak-anak di waktu kelahiran.

Angka kematian di waktu melahirkan menjadi salah satu penghambat perkembangan jumlah anggota kelompok. Segala upaya manusia lakukan demi keberhasilan memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka melakukan perburuan, dengan menggunakan alat-alat yang masih sederhana. Alat dari batu dan alat-alat dari tulang menjadi salah satu senjata untuk melakukan perburuan.

Perburuan dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil, dan hasilnya dibagi bersama-sama. Kelompok berburu tersusun dari kelurga kecil, yang laki-laki melakukan perburuan dan yang perempuan mengumpulkan makanan dan mengurus anak-anak. Peranan perempuan ini sangat penting. Dalam hal memilih tanaman yang dapat dimakan dan mengajarkannya kepada anak-anak mereka. Kewajiban-kewajiban seperti inilah yang membuat perempuan tidak ikut perburuan di daerah luas, dan sedikit banyak mengurangi gerak berpindah-pindah kelompok.

Dengan lingkungan yang terbatas, maka perempuan sangat memahami profesinya sebagai seorang ibu dalam keluarga. Dia sangat memahami tentang seluk-beluk tumbuh-tumbuhan, meningkatkan cara penyimpanan makanan, dan mendidik anak-anak agar mempersiapkan diri mengenal alam.

 

Sumber Rujukan:

Daeng.J, Mans. 2005. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan, Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Poesponegoro, M.D. dkk. 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid I. Jakarta: Balai Pustaka.

Soekmono. 1990. “Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 1”. Kanisius

Soejono, R.P. (ed.), 1990. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.