Artikel Terkait

>Artefak Batu Kendan

>Kendan

Situs Terkait
Mandala Kendan Diancam Proyek Penguasa
Bob Ujo
9 July 2010

 Selayang Pandang Kendan

      “Surya muncul di balik Sanghyang Anjung, meremangi batuan hitam yang tinggal sebelah saja. Kemudian para penambang bergerak dengan linggis dan palu yang siap menerkam; menghujam kerasnya tiang-tiang peninggalan; obisidian kendan.”
 
 
Situs Kendan
 
     Mandala mengandung pengertian “Kabuyutan” atau “Tanah Suci”, segala hal; benda atau perbuatan yang dapat menodai kesuciannya harus dilarang.
 
     Mandala Kendan sekarang terletak di desa Nagreg, kecamatan Nagreg, kabupaten Bandung, Jawa Barat, di atas ketinggian 1200 dpl, dengan luas wilayah (±4.930,29 Ha), yang terbagi atas: hutan rakyat (±907,37 Ha) dan tanaman tahunan/perkebunan (± 1.727,54 Ha).
 
     Status ke-mandala-an Kendan sudah dipangku jauh sejak kerajaan karesian Kendan didirikan, daerah ini sangat dilindungi sebagai tempatnya para resi luhung ilmu (diterangkan dalam naskah carita parahyangan).
 
     Dalam naskah Carita Parahyangan, sekitar abad ke-4 M dikisahkan seorang Brahmana yang bernama Resi Guru Manik Maya, karena keluhungan dan jasanya terhadap agama dan kerajaan, maka ia dinikahkan dengan seorang putri dari Tarumanagara bernama Tirta Kencana. Tarumanagara yang pada saat itu dipimpin oleh Suryawarman (raja ke-7 Tarumanagara), memberikan satu daerah bernama Kendan kepada Resi Guru, sebagai anugerah atas kesetiaannya dan hadiah pernikahannya dengan Tirta Kencana putri Suryawarman sendiri. Daerah tersebut diberikan kepada Resi Guru lengkap bersama prajuritnya. Kendan kemudian menjadi sebuah kerajaan-karesian, yaitu satu kerajaan di bawah Tarumanagara yang dipimpin oleh seorang Rajaresi. Karenanya Kendan menjadi satu daerah yang sangat dihormati dan dilindungi pada masanya.
 
     “Hawya Ta Sira Tinenget: janganlah ia ditolak, karena dia itu menantu maharaja, mesti dijadikan sahabat, lebih-lebih karena sang resiguru Kendan itu, seorang Brahmana yang ulung dan telah banyak berjasa terhadap agama. Siapapun yang berani menolak Rajaresiguru Kendan, akan dijatuhi hukuman mati dan kerajaannya akan dihapuskan.” (Danasasmita, 1983:41)
 
     Salah satu kitab yang terkenal yang disusun oleh Resiguru Manik Maya adalah Pustaka Ratuning Bala Sarewu, yaitu sebuah kitab yang berisi bagaimana caranya membangun sebuah negara dengan para prajuritnya yang sangat kuat. Dari mandala ini dilahirkan para Yudhapena atau panglima perang laut di Tarumanagara, salah satunya yaitu Raja Putra, Sang Baladhika Suraliman, putra pertama Resiguru Manik Maya. Kemudian kitab ini pula yang memandu Sanjaya keturunan ke-6 dari Kendan, dalam menyatukan kembali Sunda dan Galuh atas bimbingan Rabuyut Sawal (masa Sanjaya adalah masa puncak kejayaan bersatunya kembali raja-raja di Jawa). Berikut keterangan dalam naskah carita parahyangan terkait raja-raja di Kendan :
 
     “Ndeh Nihen carita parahyangan. Sang Resiguru mangyuga Rajaputra. Miseuweukeun Sang Kandiawan lawan Sang Kandiawati, sida sapilanceukan. Ngangaranan maneh Rahyangta Dewaraja. Basa lumaku ngarajaresi ngangaranan maneh Rahyangta Ri Medangjati, inya sang Layuwatang. Nya nu nyieun Sanghyang Watang Ageung.”
 
Artinya:
 
     “Ya, inilah kisah para leluhur. Sang Resiguru beranak Rajaputra. Rajaputra beranak Sang Kandiawan dan Sang Kandiawati, sepasang kakak beradik. Sang Kandiawan menamakan dirinya Rahyangta Dewaraja. Waktu ia menjadi Rajaresi menamakan dirinya Rahyangta di Medangjati. Yaitu Sang Layungwatang. Dialah yang membangun balairung besar.”
(Carita Parahyangan, Danasasmita, 1983:37-38)
 
Kendan Yang Terancam
    
     Sudah lebih dari seribu tahun, obisidian Kendan dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan dasar perkakas rumah tangga; sampai dengan saat ini manusia masih menggunakannya.
 
    Situs Kendan
 
     Obisidian yang masih tinggal sisa-sisanya pun kini masih berdiri walau sudah miring, karena manusia kerap menerjangnya. Hingga kini nama tempat dan peninggalanya masih hadir sebagai saksi bisu perjalanan waktu. Saat ini gugusan wilayah ini dipenuhi dengan hiruk-pikuk kerja penambangan (lio); pengrajin bata.
 
     Hampir di beberapa wilayah di Nagreg, pada umumnya masyarakat memanfaatkan kualitas tanah untuk dijadikan bata. Sebagai akibatnya di beberapa lahan terlihat banyak bekas galian yang dalam. Hal tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri ketika hujan deras tiba, maka kondisi tanah menjadi rawan terhadap erosi atau tanah longsor.
 
     Masyarakat sadar akan hal tersebut, namun desakan kebutuhan ekonomi menutupi kesadaran mereka. Selain longsor yang mengintai setiap waktu, Nagreg pun didera gempuran derasnya “pembangunan” sebagai konsekuensi dari berkembangnya sebuah daerah; pembangunan Lingkar Nagreg yang sekarang berjalan tersendat-sendat, kemudian adanya rencana pembangunan TPPAS (Tempat Pemrosesan dan Pengolahan Akhir Sampah) di Legok Nangka, tepat di bawah kaki Gunung Kendan (dalam peta topografi Jawa Barat Lembar 43-b) tidak kurang dari 1 KM ke arah timur dan rencana pembangunan pemakaman etnis Cina, kemudian menjadi ancaman tersendiri bagi Kabuyutan Kendan yang seharusnya dilindungi sebagai sebuah cagar budaya. Baik sebagai wilayah konservasi budaya maupun konservasi alam.
 
     Namun kebijakan pemerintah seolah kabur; tak memperhatikan hal ini. Isu kemakmuran ditawarkan kepada masyarakat lewat beberapa sosialisasi dari perpanjangan pemerintah, yang sesungguhnya merayu warga agar sepakat menggulirkan proyek milyaran, untuk kepentingan beberapa pihak yang memperkaya diri dan kelompoknya, tentu saja kelompok yang menjilati dan bernaung di bawah kekuasaan dan kewenangannya.
 
     Tekanan ekonomi membuat lupa dan tak menghiraukan dampak apabila pembangunan TPPAS, pemakaman Cina dan lain sebagainya tetap digulirkan. Rupiah dan janji penguasa juga menina-bobokan masyarakat akan ingatannya terhadap leluhur serta peninggalan agung yang terlupakan di daerahnya, sebutlah sebuah kerajaan Kendan yang pernah berdiri di seputar wilayah Nagreg. Kerajaan yang menjadi cikal bakal kerajaan Galuh yang mashur.
 
     Sampai kapan Nagreg diterjang serakah? Tentunya kembali kepada kita, agar sadar dalam merawat serta menjaga lingkungan dan peninggalan leluhur kita. Pertimbangan penguasa dalam usaha mensejahterakan rupanya harus dikaji lebih dalam lagi, agar niat baik serta tujuan mulia negara dapat terwujud tepat, sesuai dengan amanat pendiri dan leluhur negeri ini.
 
ST. Wahyu Joko Subroto (Bob Ujo)
Ketua Masyarakat Sejarah Kendan
email: bob7ujo@gmail.com

 

Foto:

http://masyarakatsejarahkendan.blogspot.com/2009_08_01_archive.html

bob ujo @ 27 August 00:16
kang gin@ Rampes. sapuk.hapuntena ka dulur2 jalan kuring abdi teu acan tiasa rurumpaheun deui ngiring urug rempug. urang pada-pada, waspada....haturnuhun.salam baktos kasadayana. Kang Utun@hayu urang raksa mandala, raksa bumi, raksa diri.rahayu...
Gin2akil @ 26 August 02:37
@bob ujo, sampurasun kang. oge kahatur "masyarakat sejarah kendan" pribados satuju pisan nagdegkeun deui ritual, da eta teh bagian tina lakon adat netepkeun kasucian kabuyutan & rekonstruksi sosial oge sebagai benteng pertahanan. Kade aya nu sok pahlawan seseledek..., pribados mah ngantos pisan urang tiasa konsolidasi, tah khusus didieu pribados ngulem ka "jalan kuring", sawalakeun sagalarupina. margi pangalaman "ngertakeun bumi lamba" di tangkuban parahu kamari, gotong royong & kaikhlasan kuat pisan, hasilna "clear" pisan. anu sok gandeng pupujieun, asa pangpejuangna mah teu aya irungna pisan, atuh nuhun pisan jadi moal aya nu akuan. tah sugan ieu tiasa dilarapkeun di kendan, kumaha?
utun @ 25 August 15:01
tos seu eur pisan kabuyutan kabuyutan urang teh nu di brangus atas nama pembangunan. hayu urang sasareungan mempertahankeun kabuyutan kendan, da eta kabuyutan sanes tanggung jawab urang ngreg wungkul. tapi tanggung jawab sadaya nonoman Sunda kiwari
bob ujo @ 12 July 09:50
Rampes... sosialisasi pemerintas lewat lead sektornya i Dinas Kim Rum Prov seolah TPPAS final dan akan jadi dibangun. beberapa waktu lalu kita bertemu dengan beberapa intansi dan dinas terkait tyermasuk diantaranya ad perwakilan dari warga. salah satu keputusan rempugan tersebut adalah dibentuknya POKJA kajian.tapi sampai sekarang tak ada kabar berita nya lagi, terkahir saya konfirm malah sibuk pembebasan lahan, kacau tah... Masyarakat Sejarah Kendan hanya sebentuk komunitas alit kang, teu wantun ari naungan masyarakat nagreg mah. mung kami sejak tahun 2001 melakukan observasi serta beberapa kajian terkait kendan. salah satunya tahun 2009 kita mencoba merekontruksi satu upacara adat, sebuah pesta syukuran di mata air Kp. Nenggeng yang disebut "Nuras". upacara yang sejak tahun 1965 tidak dilaksanakan lagi, mudah-mudahan menjadi agenda tahunan kembali- pamarentah harus lebih arif dan sungguh2 mengelola aset lokal
[ 1 2 ]
Wacana Lebih Baru Wacana Lama
Posting Komentar Anda

Informasi lebih lanjut
[wacana@nusantara-online.com]
+62-22-930-746-96
Jln. Jakarta 20-22
Komplek Kota Kembang Permai
Ruko Kav. 21.A, Bandung-Indonesia