Kepurbakalaan Kompleks Candi Penataran
M. Dwi Cahyono, M.Hum
21 June 2010
KEPURBAKALAAN KOMPLEKS CANDI PENATARAN :
Wujud Ekspresi Seni Rupa Gaya Jawa Timuran Masa Hindu-Buddha
Oleh:
Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum
(Universitas Negeri Malang)
A. Prawacana
Candi Penataran sebagai mahakarya seni rupa masa lalu (Masa Hindu-Buddha) yang unik, menarik, dan sekaligus bermakna. Keunikan wujud ekspresi Candi Penataran antara lain tergambar pada gaya khasnya, yang disebut dengan “candi bergaya seni Jawa Timuran”. Semoga hantaran saya lewat tulisan dan seminar ini bisa membuahkan makna, yakni membuka wawasan dan wacana kesenian para peserta kegiatan, agar kelak tampil sebagai seniman perupa yang aktif dan kreatif untuk mentransformasikan anasir seni rupa masa lalu ke arah fungsi-fungsi masa kini dalam beragam bentuk ekspresinya.
Untuk kepentingan itu, ada empat pokok kajian yang hendak saya angkat, yaitu: (1) Candi Penataran, Sumber Eksplorasi Seni, (2) Candi Penataran, Wujud Ekspresi Seni Rupa Jawa Timuran Masa Lampau, serta (3) Candi Penataran, Transformasi Fungsi Lintas Masa. Pokok pokok soal tersebut, selanjutnya dirinci ke dalam detail-detail telaah yang relevan.
B. Candi Penataran, Sumber Eksplorasi Seni
Eksplorasi adalah suatu kata kunci bagi seniman untuk menempatkan diri sebagai pelaku seni yang kreatif, inovatif, dan fungsional sepanjang masa. Secara harafiah, istilah “eksplorasi (exploration)” antara lain berarti penjelajahan lapangan, dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih banyak (tentang keadaan). Atau dapat pula diartikan sebagai suatu kegiatan untuk mendapat pengalaman baru dari situasi yang baru (KBBI, 2002:290). Apabila istilah ini dirangkaikan dengan kata “seni” menjadi “eksplorasi seni”, pengertiannya mengarah kepada penjelajahan terhadap suatu khasanah kesenian, dengan tujuan untuk mendapatkan pengalaman baru dari situasi yang baru dalam rangka berolah seni (proses kreatif). Khasanah seni yang dieksplorasi dalam kegiatan ini adalah kesenian masa lampau, yang berbentuk seni-bangun candi beserta kompleksitasnya. Bagi seniman masa kini, kesenian masa lalu bisa didayagunakan sebagai sumber eksplorasi (explorati-on resourches) untuk memperoleh pengalaman baru dari situasi yang baru.
C. Candi Penataran, Wujud Espresi Seni Rupa Jawa Timuran Masa Lampau
Sebagai karya seni, tepatnya seni-rupa dalam arti luas, candi adalah perwujudan ekspresi seni rupa pada suatu masa di masa lampau. Ragam ekspresi seni yang hadir di dalamnya, antara lain meliputi ekspresi: (1) Seni-Bangun, (2) Seni-Pahat (Ikonografi), (3) Seni-Sastra Visual dalam bertuk relief cerita, serta (4) Seni-Keagamaan (Religious Art). Ragam ekspresi seni yang demikian, secara lengkap dapat dicermati di kompleks Candi Penataran sebagai sebuah candi yang paling spektakuler di Jawa Timur. Disamping itu merupakan contoh signifikan mahakarya seni rupa masa Hindu-Buddha yang inovatif dan kreatif, sehingga mampu menampilkan gaya khas, yang disebut “Gaya Jawa Timuran”.
1. Ragam Ekspresi Seni Rupa pada Candi Penataran
1.1. Ekspresi Arsitektural
Candi adalah salah satu perwujudan seni-bangun (arsitektur) masa Hindu-Buddha untuk kategori arsitektur sakral. Dalam perwujudannya yang demikian, candi merupakan obyek studi dan bahan telaah yang signifikan mengenai arsitektur masa lalu. Para asitek bisa banyak belajar darinya, baik mengenai pengetahuan maupun teknik konstruksi sesuai dengan pengetahuan dan teknik arsitektur yang berkembang pada suatu masa. Memang, boleh jadi pengetahuan dan teknik arsitektur yang mengejawantah pada bangunan candi tidak senantiasa dapat diaplikasikan secara langsung pada karya arsitektur masa kini dan masa datang. Namun, tak tertutup kemungkinan bahwa pengetahuan dan teknik arsitektur candi dapat ditransformasikan bagi karya arsitektur masa kini. Khususnya bagi arsitektur tahan gempa maupun arsitektur bernuansa arkhais dan etnografis sebagai perwujudan dari back to native culture, yang pada tiga dasawarsa terakhir menjadi trend atau setidaknya sebagai arsitektur alternatif di kawasan perkotaan.
Candi Penataran menempati posisi penting dalam dinamika gaya arsitektur candi di Jawa, dan sekaligus bisa dijadikan rujukan untuk mamahami bentuk dan tata letak (lay out) seni bangun sakral di Bali yang dinamai “pura”. Dalam hubungannya dengan sejarah arsitektur candi di Jawa, kompleks Candi Penataran merupakan sebuah contoh yang relatif lengkap dan utuh untuk apa yang dinamakan “gaya candi Jawa Timuran”. Halaman candi dibagi menjadi tiga, dengan tataran kesucian makin ke belakang semakin suci, disamping itu, elevasi tanah makin ke belakang semakin tinggi. Candi Induk yang merupakan candi utama (main temple) berada di halaman belakang yang paling suci. Apabila dibandingkan dengan lay out percandian bergaya seni Jawa Tengahan yang berpola konsentris, lay out Candi Penataran yang bergaya Jawa Timuran mengarah kepada pola diskonsentris. Pola pembagian halaman menjadi tiga bagian secara gradatif ini bersinambung ke dalam seni bangun sakral di Bali, yang juga berkatagori tiga: jaba, jaba-tengah dan jeroan.
Dalam keberadaannya sekarang, batas tiap bagian halaman Candi Pentaran masih dijumpai indikatornya, berupa sisa pagar pembatas dari tatanan bata. Pada sisi depan tiap reruntuhan gapura masing-masing pembatas halaman dijumpai sepasang arca Dwarapala, yang secara simbolik berfungsi sebagai sang penjaga (guardian), tepatnya adalah penjaga pintu (dwara = jalan, pintu, pala = penjaga) dari gangguan-gangguan yang bersifat gaib. Sayang sekali kini pagar pembatas di sisi kanan dan kiri halaman candi belum berhasil ditampakkan, lataran tertutup oleh tanah bentukan baru berupa material vulkanik Gunung Kelud. Selain itu, di sisi utara areal situs berdiri sejumah rumah permanen warga sekitar, yang menjadi kendala serius untuk perluasan halaman candi. Yang jelas, aslinya halaman kompleks Candi Penataran lebih luas daripada luas areal halaman candi sekarang. Selain itu, dalam kondisi sekarang beda elevasi tanah antara halaman II dan III tidak terlampau tampak. Seharusnya, halaman II lebih rendah lagi daripada permukaan tanah sekarang.
Bagi kepentingan studi sejarah arsitektur di Jawa dan Bali Masa Hindu-Buddha, kompleks Candi Penataran adalah contoh yang cukup lengkap. Sayang sakali bentuk utuh dari candi ini belum dapat direkonstruksikan, lantaran ada sejumlah komponen bangunan yang belum diketemukan atau telah musnah ditelan waktu karena terbuat dari bahan yang tidak tahan usia. Terkait dengan kondisinya itu, ada baiknya candi yang ada dilengkapi dengan rekonstruksi dalam ukuran mini (miniatur), yang memberi gambaran utuh tentang Candi Penataran. Miniatur ini bisa ditempatkan di Museum Penataran, mengingat bahwa jaraknya cukup dekat dengan lokasi Candi Penataran, komponen-komponen bangunan yang tersisa dan telah berhasil direkonstruksikan maupun gambaran tentang bentuk-bentuk bangunan pada relief candi dapat dimanfaatkan sebagai contoh konkrtit mengenai ragam bentuk arsitektur sakral dan profan masa Hindu-Buddha, baik yang berada di lingkungan keraton (kedaton, kadatwan) ataupun di luar-keraton, khususnya yang berkembang pada masa Majapahit. Sangat boleh jadi, gambaran kedaton yang divisualkan pada relief-relief candi masa Majaphit menjadikan kedaton di ibukota Majapahit sebagai rujukan dalam penggambarannya. Terkait dengan gambaran arsitektur kedaton Jawa masa Hindu-Buddha, tinggalan ini kian dirasa urgensinya. Oleh karena, sejuah ini belum diperoleh tinggalan purbakala yang relatif lengkap dan utuh di Jawa Timur yang berupa kedaton. Kalaupun ada banyak susastra yang memuat gambaran tentang kedaton, tak terkecuali deskripsi detail ibukota (kedaton) Majapahit pada kakawin Nagarakratagama (pupuh VIII-XII), namun paparan itu bersifat literal, sehingga acap menimbulkan kesulitan untuk mendapat petunjuk tentang bentuk konkrit arsitekturnya. Dengan demikian, gambaran arsitektur di lingkungan keraton, khususnya yang terdapat di relief cerita Ramayana dan Kresnayana pada Candi Induk Penataran dapat dipergunakan sebagai data pelengkap (complement data) bagi penggambaran tentang kedaton kerajaan Majapahit yang telah dibicarakan secara intensif semenjak tahun 1920-an, berturut-turut oleh perkumpulan Oudheidkundige Vereeneging Majapahit (OVM) – didirikan 15 April 1924, lantas oleh H. Maclaine Pont (1924), W.F. Stutterheim (1948). Th. G. Th Pigeaud (1960-1963), Hadi Sidomulyo (2007) dan Agus Aris Munandar (2008).
1.2. Ekspresi Ikonografis
Memahat adalah kegiatan dominan dalam pembangunan candi. Oleh karena banyak candi berbahan baku batu kali (andesit), dimana bahan mentahnya tidak secara langsung memberi bentuk bidang yang siap pakai. Untuk menghasilkan balok-balok batu candi, tak ada pilihan kecuali harus memotong dan membentuk bongkah batu andesit menjadi balok balok batu berbangun persegi. Aktifitas pemahatan tidak pula terelakkan pada candi bata, sebab ada sejumlah bagian bangunan yang membutuhan pemahatan. Bahkan, kreatifitas ini menjadi keharusan manakala pembuatan arca dan relief candi, baik relief cerita ataupun relief ornamentik. Hanya saja, kekhususannya adalah seniman pahat (cilpin, taksaka) tak hanya asal memahat, namun musti mampu hasilkan pahatan yang artistik dan sekaligus sesuai dengan ketentuan pembuatan arca maupun relief sakral, sebagaimana tertuang di dalam kitab tuntunan pembuatan candi, arca dan relief dewata, antara lain Cilpasastra, Silpaprakasa, Visnudarmottaram, dsb.
Para seniman pahat masa kini, khususnya yang bergelut dalam pemahatan batu, dapat banyak belajar dari karya-karya seni pahat yang ada di kompleks Candi Penataran. Dengan perkataan lain, Candi Penataran atau candi-candi lain dari Masa Hindu-Buddha yang berbahan batu adalah referensi yang sarat akan muatan pengetahuan maupun teknik penatahan batu. Selain itu, beragam bentuk pahatan yang dihasilkan oleh seniman pahat masa lalu bisa juga dijadikan sebagai sumber ilham untuk menghasilkan karya seni, baik karya seni yang bersifat imitatif ataupun rekreatif-inovatif. Untuk hal yang terakhir, para seniman pahat masa sekarang dapat mengkreasi ulang (rekreatif) atau melakukan inovasi, dengan contoh-contoh yang ditimba dari karya seni pahat masa lalu. Selain itu, tidak pula tertutup kemungkinan bagi seniman pahat masa kini untuk mentransformasikian bentuk yang dicontohkannya itu ke dalam media ekspresi lain. Misalnya, transformasi dari karya seni pahat ke seni lukis, ke seni foto, ataupun ke seni desain grafis. Pendek kata, karya-karya seni pahat di Candi Penataran adalah sumber inspirasi yang berlimpah bagi para seniman masa kini dan masa datang untuk berolah kreasi dan berinovasi seni.
Ekspresi seni-pahat (seni-tatah) di kompleks Candi Penataran tampil dalam tiga katagori bentuk, yaitu berbentuk seni arca (ikonografi), relief candi dan ragam hias candi. Masing-masing katagori terjalin dengan aspek teknis pemahatan, aspek artistik, maupun kaidah-kaidah khusus yang harus dipedomani. Dalam hal terakhir, yaitu kaidah khusus, karya seni pahat yang dihasilkan harus dapat memuhi ketentuan sebagaimana yang telah digariskan dalam kitab-kitab pedoman pemahatan arca dan relief, sebab arca dan relief itu bukan merupakan benda profan, melainkan benda sakral yang menjadi tidak syah untuk digunakan sebagai perangkat upacara pemujaan kepada dewata bila tidak sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan. Dengan demikian, seniman pahat masa lalu harus dapat menjaga keberimbangan dari dua hal, yaitu karya seni yang artistic dan sekaligus tidak menyimpang dari kaidah religis bagi proses dan bentuk pahatannya.
1.3. Ekspresi Susastra Visual
Ada beragam bentuk seni-sastra berdasarkan media ekspresi yang digunakannya. Seni-sastra yang diekspresikan dengan media tulis disebut “sastra tulis”. Sedangkan yang diekspresikan secara lisan disebut “sastra lisan”, sementara yang ekspresi dalam bentuk relief cerita atau gambar lainnya – misalnya dalam wayang beber – dapat disebut dengan “sastra visual”. Selain itu, terdapat juga susastra yang diekspresikan ke dalam bentuk seni pertunjukan. Menutut ragam bentuknya itu, relief candi yang menampilkan cerita tertentu termasuk dalam katagorikan “seni-sastra visual”. Candi Penataran yang memiliki banyak pahatan yang berupa relief cerita pada sejunlah komponen bangunan dan arca-arcanya, dengan demikian dapat dikatakan sebagai ajang ekspresi bagi susastra visual.
Berbagai cerita yang dipahatkan dalam bentuk relief cerita di Candi Pentaran bisa dikelompokkan menurut daerah asal dari cerita bersangkutan: (1) cerita yang berasal dari India, dan (2) cerita lokal Jawa. Selain ketagorisasi demikian, relief-relief itu dapat pula dikelompokkan menurut tokoh ceritanya: (a) cerita yang ditokohi oleh binatang-binatang yang berperilaku seperti manusia, (b) cerita yang ditokohi oleh manusia biasa, (c) cerita yang ditokohi oleh manusia dan dewata yang menjelma (berawatara) menjadi manusia. Cerita yang berasal dari budaya asing (India) adalah cerita Ramayana. Relief Ramayana di Teras I Candi Induk Penataran berlainan dengan relief Ramayana yang dipahatkan di pagar langkan sisi dalam Candi Siwa dan Candi Brahma di kompleks Candi Prambanan. Ada indikator kuat bahwa Ramayana di Candi Penataran digubah dari naskah Ramayana versi Batikawya berjudul “Ravanawadha”, namun dikemas secara khusus sebagai lakon wayang kulit pada jamannya. Pokok isinya mengingatkan kita kepada lakon “Hanoman Duta” dalam pertunjukan wayang.
Relief lainnya adalah cerita Kresnayana yang dipahatkan di Teras II Candi Induk Penataran. Cerita ini adalah gubahan dari Mahabarata, yang pokok isinya mengingatkan kepada lokon wayang, yang berjudul “Noroyono Maling”. Dengan demikian, kedua relief cerita itu menginduk pada wiracarita asal India, yakni Ramayana dan Mahabarata. Yang lebih menarik lagi untuk dicermati dalam kaitan dengan fungsi khusus Candi Penataran sebagai media religius-magis untuk “redam murka” Gunung Kampud (nama arkhais dari Gunung Kelud) adalah kedua relief cerita yang dipahatkan di Candi Induk Penataran pada halaman III yang paling suci ini menampilkan awatara Dewa Wisnu, yaitu tokoh Kresna di dalam cerita Kresnayana dan Rama dalam cerita Ramayana. Selain itu, masih terdapat sebuah cerita asal India, yakni cerita bintarang (fable) atau lazim disebut “Cerita Tantri”, yang berinduk pada himpunan cerita Pancatantra (Tantrikamanaka). Relief ini kedapatan pada Patirthan Dalam, di belakang bawah arca-arca Dwarapala di muka Candi Induk, dan pada bidang membulat (medalion) penutup lobang-lobang ventilasi Candi Naga. Satu lagi relief yang bisa jadi indikator cerita asal India, yaitu pahatan para pendeta tengah membawa genta upacara (ghanta) pada tubuh Candi Naga di halaman ke-2 serta pahatan naga pada pelipit bawah Pendapa Teras I dan II. Pahatan ini berhubungan dengan tema cerita Samodramantana, yang berinduk pada Adaiparwa dalam wiracarita Mahabhaata. Pokok isinya berkenaan dengan air suci (tirtha). Di dalam ritus Hindu ataupun Buddhis, tirtha merupakan kelengkapan yang utama
Adapun relief cerita yang berasal dari Jawa, dan dengan demikian dapat disebut sebagai “cerita orisinal Jawa”, adalah cerita-cerita yang dipahatkan pada Pendapa Teras II Penataran di halaman I – yang kurang sakral apabila dibanding halaman II dan III, antara lain adalah rumpun cerita Panji, Sri Tanjung, Sang Satyawan, Bubhuksah-Gagang Aking, dsb (Sulaiman, 1978). Bila cerita Ramayana dan Kresnayana ditokoh oleh manusia dan awatara dewa, sementara cerita Tantri ditokohi oleh binatang yang berperilaku seperti manusia, maka cerita-cerita lokal Jawa di Pendapa Teras II ditokohi oleh manusia biasa. Jika menilik tempat pemahatannya, cerita asal India, khususnya yang menampilkan tokoh dewata, diposisikan di candi utama (induk) yang beraa di halaman tersuci (halaman III).
Relief cerita mempunyai prinsip-prinsip kesenirupaan sebagaimana halnya lukisan. Di dalamnya terkandung pesan yang hendak disampaikan pada pemirsa, terdapat figurisasi tokoh peran beserta latar keberadaannya, mengenal teknik perspektif, memiliki focusing dan balancing, dsb. Hanya saja tidak ditampilkan dengan multy colour melainkan dengan mono-colour, tidak dituangkan ke kanvas ataupun kertas melainkan pada permukaan batu serta diekspesikan lewat seni pahat. Ada dua gaya penggambaran relief cerita pada Candi Penataran, yaitu: (a) relief yang kebanyakan digambarkan secara naturalis, dan (b) relief yang bergaya wayang (wayang style) yang hanya kedapatan pada relief cerita Ramayana. Kendati tokoh peran dan kisahnya boleh jadi merupakan tokoh dan cerita rekaan, namun dalam obyek-obyek terlukis itu termuat gambaran tentang situasi nyata pada jamannya, khususnya di bagian latar cerita. Oleh karena itu, relief candi memuat tentang fakta-fakta tetentu mengenai kondisi jaman padamana relief tersebut dipahatkan, yang dalam hal ini adalah kondisi pada masa Majapahit.
Mengingat adanya banyak cerita yang dipahatkan pada Candi Penataran, maka cukup alasan untuk mengatakan bahwa candi ini adalah salah satu candi di Jawa Timur -- selain candi Jago -- yang terbanyak memiliki kandungan susastra yang divisualkan dalam bentuk relief candi. Oleh karena itu, Candi Penataran dapat dijadikan sebagai obyek studi yang signifikan untuk studi filologis bagi susastra masa lampau. Selain tepat pula untuk untuk studi seni rupa, karena dalam bentuk fisiknya relief cerita adalah karya seni-rupa, tepatnya adalah seni-pahat pada bidang pahat yang keras, yakni batu andesit. Relief cerita itu dapat dibandingkan dengan cerita bergambar (cergam) ataupun komik, dengan media dan teknik ekspresi khusus. Sebagaimana halnya dalam cergam atau komik, unsur komis (kelucuan) acap ditampilkan dalam relief cerita, khususnya pada perilaku tokoh pengiring ksatria (abdi) dan para prajurit (manusia, kera, raksasa). Daripadanya tidak hanya dapat dipelajari tentang isi cerita, namun sekaligus mengenai gaya pahatan, teknik pemahatan, terapan perspektif, nilai-nilai artistik, dan detail-detail bentuk dari obyek pahatannya.
Sebagaimana telah dikemukakan, relief candi telah menerapkan teknik perspektif, yakni titik pandang pemahat dalam memandang obyek tergambarkan. Titik pandang dari pemahat diposisikan dengan menggeser sedikit ke arah kanan atau ke kiri sesuai dengan arah pembacaan relief (pradhaksina atau prasawya), serta ke arah atas dari titik tengah. Oleh karena itu gambaran yang dihasilkan menjadi lebih hidup, sebab bisa menampilkan lebih dari satu sisi pada obyek terpahatkan. Tidak kalah penting dalam pembelajaran seni lewat relief candi adalah bagaimana cara khusus yang dipakai untuk memahatkan bentuk tertentu pada permukaan bidang pahat yang keras (batu kali) sehingga bisa menghasilkan detail pahatan yang halus. Hal ini kian menarik untuk dianalisis, lantaran kegiatan pahat itu dilakukan pada masa lampau, ketika peralatan pahat masih belum semaju sekarang.
1.4. Ekspresi Seni-Keagamaan
Candi adalah suatu tempat peribadatan dan sekaligus karya seni, khususnya karya seni rupa. Dalam keberadaannya demikian, kesenian yang diekspresikan pada bangunan candi adalah seni-keagamaan (religious art). Oleh sebab itu, proses penciptaannya tidak hanya mengindahkan kaidah kesenian, namun tak bisa tidak mempedomani kaidah agama yang menjadi landasan religisnya. Candi dengan demikian ibarat dua sisi (dwimukha) dari sekeping mata uang. Sebelah mukanya adalah wujud ekspresi kesenian, sebelah lainnya adalah ekspresi keagamaan. Seni-bangun candi beserta kelengkapannya (arca, relief dan seni-kriya lain yang berupa perangkat upacara) mengemban fungsi sebagai tempat, media dan alat upacara sesuai dengan konteks religi pada jamannya (Masa Hindu-Buddha).
Pemahaman terhadap candi oleh kerenanya tidak cukup hanya dilakukan dengan menggunakan teropong kesenian, namun wajib pula menggunakan teleskop keagamaan. Sejalan dengan itu, tepatlah apa yang dinyatakan oleh Christopher Dwason sebagaimana dikutup oleh P.J. Zoetmulder (1965:327), bahwa religi merupakan kata kunci (key word) sejarah. Kita tidak dapat memahami bentuk dalam (jiwa) masyarakat tanpa memahami religinya. Kita tidak dapat memahami hasil budayanya tanpa mengetahui apa yang ada di baliknya, yakni agama dan kehidupan keagamaannya. Dalam perkembangan karya-karya budaya kreatif, sering terkandung inspirasi keagamaan. Sejalan dengan itu, untuk dapat memahami Candi Penataran sebagai produk budaya Masa Hindu-Buddha, yang sebagian besar merupakan seni-keagamaan, maka panguasaan pengetahuan tentang agama Hindu dan kultus terhadap Dewa Gunung (Mountain of God) merupakan prasyarat yang mutlak dimiliki oleh peninjau. Jika tidak, maka hasil tinjauannya hanya akin mengena pada sisa keseniannya, sementara sisi keagamaannya luput dari pencermatan.
Sejak sebermula candi Penataran diperuntukkan bagi tempat dan media pemujaan. Informasi tertua berkenaan dengan itu didapati dalam Prasasti Palah bertarikh Saka 1119 (1197 M). Prasasti yang dikeluarkan atas perintah dari raja Kadiri terakhir, yakni Srengga (Kretajaya), berisi penetapan Desa (Thani) Palah sebagai swatantra (sima, perdikan) bagi tempat pemujaan kepada Sira Paduka Bhattara Palah. Sebutan “Palah” kembali dijumpai dalam kakawin Nagarakretagama (LXI/2), yang memberitakan bahwa pada tahun Saka 1283 (1361 Masehi) bulan Wesaka (April - Mei) Baginda Raja [Hayam Wuruk] memuja ke Palah dengan para pengiringnya, berlarut-larut setiap yang indah dikunjunginya untuk menghibur hati, di Lawang Wentar, Manguri, Balitar dan Jimbe. Dari Balitar perjalanan diteruskan ke selatan hingga tiba di Lodaya, kemudian menjelajah laut menyisir pantai. (Mulyana, 2006:304; Riana, 2009:302-303). Bagian lain dari kakawin ini (pupuh XVII/5) menyatakan bahwa setiap tahun setelah musim dingin, Baginda keliling bercengkerama di Desa Sima (selatan Jalagiri, sebelah timur istana), ke Wewe Pikatan di Candi Lima. Bila tidak demikian pergi ke Palah untuk memuja Hyang Acalapati/dengan bersujut, bisa juga terus ke Balitar dan Jimur mengunjungi bukit-bukit permai. Perihal “Palah” sebagai desa perdikan (sima) juga dinyatakan dalam pipuh LXXII/2), yaitu sebagai desa perdikan para penganut Siwa. Dengan demikian, Nagarakretagama menyebut “Palah” hingga tiga kali, dan sekali menyebut “Hyang Acalapati” sebagai dewata yang dipuja di Palah.
Kunjungan Hayam Wuruk ke Palah pada tahun 1361 dan pada setiap tahun seusai musim dingin (penghujan) memberi cukup bukti bahwa Candi Palah (nama akrkhais dari Candi Penataran) tentulah menduduki tempat penting dalam kerajaan Majapahit. Kendati tidak termasuk dalam kategori dharmahaji ataupun prasada haji, namun tidak diragukan bila Penataran adalah candi nagara (candi kerajaan) Majapahit. Tempat keberadaan Candi Palah tentunya adalah di Thani (Desa) Palah, yang telah semenjak tahun 1197 ditetapkan sebagai desa perdikan (sima) oleh Raja Srengga. Status perdikan dari desa Palah berlanjut hingga masa Majapahit, yang menurut Nagarakretagama adalah salah sebuah dari sebelas desa perdikat yang warganya menganut agama Hindu sekte Siwa.
Prasasti Palah menyebut bahwa dewata yang dipuja di Palah adalah “Sira Paduka Bhattara Palah”. Dewata ini dapat kiranya disamakan dengan apa yang di dalam kakawin Nagarakretagama disebut “Hyang Acalapati”. Perkataan “Acalapati” terbentuk dari dua kata, yakni “acala (tak bergerak, gunung, karang)” dan “pati (penguasa, raja)”, sehingga “Acalapati” dapat diartikan ‘Raja Gunung’ (Zoetmulder, 1995: 4, 794). Suatu pendapat menyatakan bahwa Acalapati adalah julukan bagi Dewa Siwa sebagai “Dewa Gunung” (Subroto, 1993: 71). Jika benar demikian, berarti dewata utama (istadewata) yang dipuja di Candi Palah adalah Dewa Siwa sebagai Dewa Gunung atau Raja Gunung (Girindra, Girinata). Pendapat ini sejalan dengan keterangan dalam Nagarakretagama, bahwa desa perdikan Palah dihuni oleh penganut Hindu sekte Siwa. Namun pada kenyataan lain, hal itu tak tepat benar dengan keletakan arca-arca pantheon Hindu di Candi Induk Penataran, dimana pada rekonstruksi tubuh Candi Induk (halaman III), berdasarkan indikator yang berupa wahana dewa, diketahui bahwa arca Siwa tidak ditempatkan di dalam bilik utama (garbhagreha), melainkan pada salah satu relung sisi luar sebagaimana halnya dengan arca Brama. Wisnu dan para dewa penjaga penjuru mata angin (lokapala). Oleh karena hingga sejauh ini tidak diketahui dewa siapakah yang ditempatkan di garbhagreha Candi Induk Penataran, maka merujuk kepada keterangan Nagarakretagama di atas, sangat boleh jadi yang ditempatkan di dalam garbhagraha dan pada posisi sebagai istadewata adalah arca Hyang Acalapati dalam bentuk tertentu.
Ada kemungkinan Acalapati adalah Dewa Penguasa Gunung Kelud, yang dapat diidentikkan dengan Siwa sebagai Dewa Perusak ataupun Dewa Gunung. Kelud (Kampud) adalah gunung berapi yang menjadi arah pengkiblatan (orientasi) Candi Palah. Sebagai gunung berapi aktif hingga sekarang. Eksplosinya membawa petaka, utamanya di daerah Blitar, Kediri dan sebagian Malang, yang dahulu menjadi wilayah penting dari Kerajaan Majapahit. Gambaran tentang petaka yang ditimbulkan oleh Gunung Kampud dijumpai di dalam Nagarakretagama “Gemuruh suara Gunung Kampud bergetar, banyak orang-orang hina dan jahat mati tak berdaya (Riana, 2009: 54). Apabila benar demikian, Candi Panataran adalah tempat pemujaan khusus untuk “meredam murka” Gunung Kelud. Jadi, semacam media protektorik untuk memperoleh keselamatan bagi wilayah ataupun warga Majapahit. Fungsinya yang demikian itu diperkuat dengan dipilihnya cerita Ramayana dan Kresnayana, dimana keduanya menampilkan awatara Wisnu, yakni Rama dan Kresna sebagai pelakon cerita yang penting. Adapun dasar pertimbangannya adalah Dewa Wisnu adalah Dewa Pelindung atau Dewa Penyelamat. Selain tampil pada relief candi, awatara Wisnu kedapatan pula dalam bentuk arca, yaitu arca Parasu Rama, di muka Candi Angka Tahun bersama dengan sakti (istri)nya, yaitu Sri sebagai Dewi Padi. Fungsi protektorik juga diemban oleh Ganesya dalam fungsi khusus, yakni vicneswara (penolak bahaya atau penghalau rintangan). Arca Ganesya di candi ini diposisikan istimewa. Apabila umumnya pada candi Hindu Siwa, arca Ganesya ditempatkan di relung/bilik sisi belakang, maka di Candi Angka Tahun (halaman II) kompleks Penataran ditempatkan di dalam bilik utama (garbhagreha), sehingga jelas bahwa posisinya pada candi ini adalah sebagai dewa utama (istadewata).
Pendek kata, cukup alasan untuk menyatakan bahwa Candi Penatara merupakan suatu tempat peribadatan. Gambaran tentang fungsi religis Candi Palah (Penataran) juga didapati dalam naskah Bujangga Manik, yang menurut J. Noorduyn (2009:496 lampiran 3) berasal dari abad ke-15, atau paling tidak abad ke-16 Masehi. Baris ke-1055 hingga 1070 dari naskah ini mengkisahkan perjalanan rokhaniawan Sunda bernama Bujangga Manik, yang sempat menyinggahi Gunung Kampud (nama arkhais dari Gunung Kelud), tepatnya di Rabut Pasajen – satu tempat suci bagi Majapahit, yang disucikan oleh orang Jawa. Ia tinggal di Palah hingga setahun lamanya. Bahkan sempat membaca Darmaweya dan Pandawajaya. Sayang sekali tak diperoleh informasi lebih lanjut apakah keduanya adalah relief cerita pada Candi Pentaran ataukah kitab susastra yang dipelajarinya di sini. Menurutnya, kala itu para peziarah dan pengunjung dari perkotaan datang tiada hentinya. Artinya, pada abad ke-15 atau ke-16, Candi Palah masih ramai diziarahi orang.
2. Eskpresi Seni Rupa Gaya Jawa Timuran
Richard L. Anderson (1989:6-27) menyatakan bahwa salah satu sifat umum dari kesenian adalah memperlihatkan gaya (style) tertentu. Gaya dipandang sebagai tradisi, yang menjadi milik bersama dalam suatu kebudayaan, dan sebagai tanda (kode) agar seni dapat menyampaikan arti. Candi Penataran merupakan contoh yang sangat jelas mengenai candi yang bergaya seni “Jawa Timuran”. Indikator gaya Jawa Timuran di candi antara lain adalah: (a) berpola diskonsentris, (b) halaman candi terbagi menjadi tiga, (c) kepala kala berahang bawah, (d) tampil wayang style di salah sebuah reliefnya, yaitu pada cerita Ramayana, (e) berorientasi ke timur, yakni ke Gunung Kelud, (f) Candi Induk berpola arsitektural berundak (berteras tiga), dsb. Percandian bergaya Jawa Timuran dapat dirinci lagi ke dalam dua sub-gaya, yaitu: (1) gaya Singhasari, (2) Gaya Majapahit (Munandar, 1993). Gaya Mahapahit tampak baik dalam seni bangun, seni arca, relief maupun susastra.
Candi Penataran dapat dimasukkan ke dalam candi bergaya Majapahit. Salah satu cirinya adalah mempunyai pola arsitektur berundak, sebagaimana tampak pada tubuh dan kaki Candi Induk yang berteras tiga, makin ke atas semakin menjorok ke belakang, pada mana tubuh dan atap candi ditempatkan (di atas teras III). Kendati bagian atapnya belum diketemukan, lantaran telah musnah karena terbuat dari bahan yang tak tahan usia, namun diprakirakan memiliki berntuk tumpang (meru). Bangunan serupa ini didapati contohnya pada relief cerita Ramayana sisi utara. Bentuk atap meru banyak didapati pada bangunan suci (pura) di Bali. Demikian juga, pola pembagian halaman atas tiga bagian maupun tata letaknya yang diskonsentris menjadi pola umum dari bangunan pura. Oleh karena itu, cukup alasan untuk menyatakan bahwa Candi Penataran merupakan pola arsitektur sakral yang berpengaruh luas dan dilestarikan di Bali hingga kini dalam bentuk pura. Bahkan, fungsi khusus dari Candi Penataran sebagai media protektorik terhadap gunung berapi aktif bisa dibandingkan dengan fungsi Pura Besakih terhadap Gunung Agung.
Ciri Majapahitan juga tampak jelas dalam relief dan arca di Candi Penataran. Pada relief cerita Ramayana tampak jelas adanya gaya wayang (lakon), yang menurut P.V. van Stein Callenfels (1935) adalah gaya relief yang cukup banyak tampil di percandian masa Majapahit. Menurutnya, relief natarif pada masa Majapahit memiliki dua langgam, yaitu: (1) langgam kakawin, dan (2) langgam wayang (lakon). Latar pembedanya adalah sumber cerita. Susastra berbentuk kakawin, wawacan dan tutur dijadikan acuan dalam seni pahat bergaya kakawin, sedangkan sastra lakon Mahabarata ataupun Ramayana menjadi acuan untuk seni pahat bergaya wayang.
Ciri Majapahitan juga tampak pada susastra visual yang dipahatkan dalam bentuk relief candi di Candi Penataran. Susastra berbentuk Kidung yang marak berkembang pada masa Majapahit kedapatan tampil di Pendapa Teras II, yang menampilkan cerita orisinal Jawa, seperti cerita-cerita Panji, Sri Tanjung, Sang Satyawan, Bubhuksah-Gagang Aking, dsb Dengan perkataan lain, pada Candi Penataran terjadi transformasi dari susastra lisan (tutur) ataupun susastra tulis ke dalam susastra visual dalam bentuk relief candi. Fenomena transformatif semacam itu tersirat pula dalam relief cerita Ramayana dan Kresnayana di Candi Induk, yang menyiratkan adanya transformasi dari susastra tulis ke dalam lakon seni pertunjukan (wayang kulit).
Salah satu perbedaan prinsip antara percandian bergaya Jawa Tengahan dan Jawa Timuran adalah pada gaya Jawa Tengahan anasir budaya asal India mempunyai pengaruh sangat kuat ke dalam karya budaya di Jawa Masa Hindu-Buddha. Anasir budaya asing itu diadopsi ataupun diadaptasi ke dalam berbagai jenis dan bentuk ekspresi budaya Jawa. Adapun pada gaya Jawa Timuran, pengaruh India tidak lagi bepengaruh secara dominan dalam karya budaya Jawa. Sebaliknya, anasir budaya lokal Jawa tampak menyeruak. Hal ini terlihat jelas pada munculnya relief bergaya wayang, adanya susastra kidung dengan kisah yang berlatar sejarah serta lingkungan alam dan budaya Jawa, menguatnya kultus terhadap arwah nenek moyang yang diperdewa – misalnya kultus kepada Dewa Gunung (Hyang Acalapati), munculnya arsitektur berundak, dsb. Ciri-ciri demikian tampil jelas di Candi Penataran. Oleh karenanya cukup alasan untuk menyatakan bahwa candi ini adalah adalah contoh signifikan dari Javanisasi proses dalam kesenian Hindu-Buddha. Aktifitas, kreatifitas maupun upaya inovatif dari seniman pembangun Candi Penataran diperlihatkan dengan amat jelas. Kesemuanya bisa dijadikan sebagai contoh teladan tentang bagaimana penyikapan pelaku budaya terhadap pengaruh budaya asing, dan komitmennya terhadap anasir budaya asli pada sisi lain.
D. Candi Penataran, Transformasi Fungsi Lintas Masa
Candi sebagai suatu produk seni-bangun masa lampau, tepatnya dari masa Hindu-Buddha, tidak hadir secara serta merta dalam waktu singkat. Terlebih jika candi tersebut secara fisik terbilang sebagai bangunan besar, kompleks, dan berfungsi amat penting bagi khalayak luas pada jamannya. Dalam hubungan itu pembangunan maupun pemanfaatannya tidak sekedar menelan waktu singkat, sebaliknya tak tertutup kemungkinan butuh waktu lama, bahkan bisa jadi hingga lintas masa. Candi Penataran adalah salah satu contoh tepat mengenai itu. Candi terbesar di Jawa Timur ini merupakan subuah candi kerajaan. Tidak tanggung-tanggung, Candi Penataran meupakan candi kerajaan (candi negara) pada tiga jaman, yaitu sejak akhir masa pemerintahan kerajaan Kadiri, melintasi masa pemerintahan kerajaan Singhaari, hingga menembus akhir masa Majapahit. Oleh karena itu, keberadaan Candi Penataran hendaknya dilihat sebagai hasil dari proses budaya yang panjang, lintas masa. Terkait dengan itu, ada cukup alasan untuk menyatakan bahwa Candi Penataran merupakan: (1) Candi Lintas Masa, dan (2) Candi Nagara atau Candi Kerajaan.
1. Penataran sebagai Candi Lintas Masa
Indikator bahwa Candi Penataran adalah “candi lintas masa” tampak pada adanya sejumlah kronogram maupun pentunjuk waktu lain terkait dengan keberadaannya. Sejauh telah ketemukan, tarikh tertua didapati dalam Prasasti Palah (1119 Saka = 1197 Masehi). Prasasti ini menjadi petanda awal mengenai penetapan Desa Palah sebagai desa perdikan (sima), yang diperuntukkan kepada bangunan suci untuk pemujaan Sira Paduka Bhattara Palah. Boleh jadi candi kecil Palah, yang adalah cikal bakal dari Candi Penataran, mulai dibangun pada penghujung Kerajaan Kadiri, tepatnya pada masa pemerintahan Srengga (Kretajaya). Jejak tersisa dari candi pada masa itu dalam keberadaannya sekarang tidak lagi dijumpai. Saksi sejaman satu-satunya tinggallah Prasasti Palah.
Petunjuk waktu yang sedikit lebih muda adalah kronogram yang disuratkan pada lapik sepasang arca Dwarapala pada ujung barat di luar halaman candi, tepatnya di muka reruntuhan gapura I (candi bentar), dengan tarikh Saka 1242 (1320 Masehi), atau semasa dengan pemerintahan Jayanegara – ada pula yang membacanya dengan 1279 Saka (1357 Masehi), atau semasa dengan pemerintahan raja Hayam Wuruk. Jika pembacaan pertama benar, berarti semasa dengan kronogram yang terdapat pada lapik arca-arca Dwarapala di muka Candi Induk, yang bertarikh Saka 1239 (1317 Masehi) – ada juga yang membaca dengan 1269 Saka (1347 Masehi). Kedua tarikh itu (1317 dan 1320) menandai renovasi awal pada masa Majapahit terhadap Candi Palah, yang telah ada sejak Masa Kadiri dan terus digunakan pada masa Singhasari.
Terpaut sedikit itu diperoleh juga kronogram pada ambang pintu bagian atas, yang rupa-rupanya berasal dari Candi Induk, dengan tarikh 1323 Masehi. Selain itu terdapat dua ambang pintu lain, yang memuat kronogram 1295 Saka (1373 Masehi) dan 1301 (1379 Masehi). Sedikit lebih awal dari itu adalah krogram pada salah sebuah miniatur candi, yang memuat angka tahun Saka 1291 (1369 Masehi). Kronogram ini sama persis dengan kronogram di Candi Angka Tahun (1291 Saka = 1369 Masehi), yang berarti semasa dengan pemerintahan Hayam Wuruk. Semasa dengan itu, terdapat kronogram di sisi belakang Pendapa Teras II, yang bertarikh Saka 1297 (1375 Masehi). Kronogram lebih muda lagi bertarikh Saka 1337 (1415 Masehi), atau semasa dengan pemerintahan raja Wikramawarddhana, sebagaimana didapati pada dinding bagian atas sisi timur dari Patirthan Dalam. Sedangkan kronogram yang termuda menunjukkan tarikh Saka 1376 (1454 Masehi).
Paparan tentang sejumlah petanda waktu pada alinea-alinea di atas memberi kita rentangan waktu panjang, yaitu mulai tahun 1197 hingga 1454 Masehi, berarti selama 257 tahun (2,5 abad). Masa akhir Kadiri, tepatnya adalah tahun 1197 Masehi, adalah awal pembangunan Candi Palah, yang disertai dengan penetapan Desa Palah sebagai perdikan untuk bangunan suci itu. Kendati tak diperoleh petunjuk angka tahun dari masa Kerajaan Singhasari di kompleks Candi Penataran, namun dapat dipastikan bahwa candi ini terus difungsikan pada masa itu, mungkin dengan sedikit penambahan bangunan. Renovasi yang terbilang besar dilakukan pada masa Majapahit, yaitu semenjak masa pemerintahan raja Jayanegara (tahun 1317, 1320, 1323 Masehi), dan seterusnya hingga masa pemerintahan raja Hayam Wuruk (1369, 1373, 1375, 1379 Masehi, bahkan hingga masa pemerintahan raja Wikramawarddhana (1415, 1454 Masehi). Dalam kaitan itu, A.J. Bernet Kempers (1970: 223) menyatakan bahwa sejarah Candi Penataran meliputi kurun waktu yang amat panjang (sekitar 250 tahun), namun bangunan-bangunan yang masih ada utamanya yang berasal dari abad ke-14 dan sebagian abad ke-15. Bahwa candi ini masih ramai diziarahi orang hingga abad ke-16 dipekuat oleh pemberitaan Bujangga Manik ketika berkunjung ke Rabut Palah.
Upaya Jayanegara untuk merenovasi Candi Palah diteruskan oleh Hayam Wuruk. Ziarah Hayam Wuruk ke Candi Palah yang menurut informasi Nagarakretahama (LXI/2) pada bulan Wesaka tahun 1361 mendorongnya untuk melakukan serangkaian penambah-an bangunan baru dan perluasan areal upacara. Jejaknya ini diikuti oleh raja penggantinya (Wikramawarddhana). Setelah itu, tak diperoleh petunjuk adanya penambahan bangunan baru. Kendatipun demikian, bukan berarti bahwa pasca tahun 1454 Candi Penataran tidak lagi difungsikan sebagai tempat peribadatan, karena menurut naskah Bhujangga Manik hingga abad ke-16 candi ini masih ramai diziarahi. Renovasi, penambahan bangunan dan perluasan areal situs itu memberi kita gambaran bahwa suatu candi, terlebih candi besar dan kolosal semisal Candi Penataran, bukanlah dibangun dalam waktu singkat, melainkan merupakan hasil budaya lintas masa.
2. Penataran sebagai Candi Kerajaan (Candi Negara)
Status Candi Penataran adalah candi kerajaan atau candi negara, dalam arti pihak kerajaan (negara) berkewajiban untuk mengelola keberlangsungan upacara dan perbaikan maupun perawatan bangunan dengan biaya negara. Sebagai suatu candi negara, candi ini terbuka unuk dimanfaatkan sebagai tempat upacara oleh seluruh warga kerajaan. Bahkan, secara rutin Hayam Wuruk dan para pengikutnya menziarahi Candi Palah seusai musim penghujan, yakni antara bulan April – Mei, pada setiap tahun. Boleh jadi, kedatangannya ke Palah dari ibukota Majapahit menempuh pejalanan sungai dengan menggunakan kapal sungai. Relief kapal layar yang dikombinasi dengan dayung dalam ukuran cukup besar di cerita Panji pada Pendapa Teras II menyiratkan informasi demikian. Setiba di pelabuhan sungai di daerah ini, perjalanan ke Palah dilanjutkan dengan menempuh jalan darat.
Jika benar demikian, hal ini ikut memperkuat bukti bahwa hingga masa Majapahit sungai Brantas mampu diarungi kapal sungai yang relatif besar hingga di daerah Blitar sekarang. Tafsir tersebut sejalan dengan keterangan dalam Prasasti Jaring (19 Nopember 1181), yang menyebut tentang jabatan “senapati sarwajala”, yakni panglima angkatan laut. Inilah pertamakali kita jumpai bukti tentang angkatan laut kerajaan-kerajaan kuno di Jawa (Boechari, 1979:271), yang cakupan wilayah operasinya hangga di perairan sungai, khususnya sungai-sungai besar semisal Bengawan Brantas dan Bengawan Solo.
Apa alasan Candi Penataran memperoleh status sebagai candi kerajaan. Memang, sejauh ini belum dipetoleh data tentang itu. Analisis rasional untuk menjawabnya adalah lantaran candi ini memiliki arti penting bagi kerajaan Majapahit. Urgensinya sangat boleh jadi terkait dengan fungsi khusus Candi Penataran, yakni media religio-magis bagi upaya meredam murka Gunung Kampud. Redaman terhadap eksplosi gunung berapi aktif yang meletus secara periodik ini berhubungan erat dengan keselamatan sebagian besar warga kerajaan Majapahit, sehingga pihak kerajaan perlu memberikan prioritas perhatian. Dengan demikian, telaah terhadap Candi Penataran dapat menyingkap hubungan ekologis antara pemangku budaya tertentu pada suatu masa dengan fenomena alam.
Selain itu, daerah di sekitar Candi Palah pada masa Majapahit merupakan sentra pembelajaran agama. Menurut J. Noorduyn (2009:498-499 Lamprn. 3) dalam analisisnya terhadap naskah Bujangga Manik, Palah dipandang sebagai tempat yang amat penting, baik bagi pertapaan maupun pembelajaran. Palah yang menurut N.J. Krom (1914:233-237) menunjuk pada percandian besar Penataran di kaki Gunung Kelud, yang lazimnya dikenal sebagai “Rabut (dihormati, suci) Palah” pastilah menjadi tujuan utama perjalanan ke Timur. Tempat ini juga acapkali muncul dalam susustra Jawa, misalnya dalam cerita-cerita Panji (Poerbatjaraka, 1940:268; Robson, 1979:310). Mengingat akan urgensinya ini maka dapat difahami bila Candi Palah memiliki posisi yang istimewa dalam percandian di Jawa Masa Hindu-Buddha, sehingga mendapat status sebagai “candi negara/kerajaan”.
E. Permenungan
Demikianlah talaah kesenirupaan terhadap Candi Penataran dan kompleksitasnya. Sebagai candi terbesar di Jawa Timur, Candi Penataran ibarat sebagai “sumber air yang tak pernah kering” untuk ditimba oleh siapapun yang bermaksud mendapatkan informasi, imajinasi, dan makna keteladanan. Apa yang telah dipaparkan di atas hanyalah merupakan pemahaman khasanah pengetahuan dan pembuka wacana. Artinya, masing-masing dari kita beraktifias, berkreatifitas, serta berinovasi untuk menghasilkan karya dengan menjadikan Candi Penataran sebagai sumber informasi dan sekaligus sumber inspirasi. Festival Candi Penataran semogalah bukan menjadi ikhtiar budaya yang pertama dan terakhir. Berangkat dari Candi Penataran, banyak hal yang bisa diperbuat untuk kebaikan diri kita, sebaliknya banyak yang bisa kita perbuat untuk kebaikan hasil budaya adiluhung ini.
Dalam posisinya sebagai heritage, semestinya perhatian tidak hanya tertuju pada upaya optimal mendayagunakan Candi Penataran, tapi sekaligus mengarahkan perhatian dengan proporsi yang sama untuk melestarikannya. Terkait dengan itu, pariwisata budaya yang mendayagunakan Candi Penataran mustinya bukan merupakan upaya tunggal untuk “memetik untung” daripadanya, namun perlu pula disertai pula dengan upaya untuk bisa menjadikannya sebagai warisan budaya yang lestari. Lewat kegiatan ini, misi pelestarian dan pemanfaatan khasanah budaya masa lampau semoga menjadi semangat yang bukan hanya hangat-hangat tai ayam.
Malang, 12 Juni 2010
(makalah ini dibacakan dalam Sarasehan Festival Seni Rupa Panji di Penataran, 12 Juni 2010, di Museum Penataran. Diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jawa Timur)
neezHaaaa @ 26 June 19:45
waaaaa................ keRen paK dWi...,,, yG peNtiNg haRus diCateT yaaa paaK,,, smesteR 3 kTmu lg yaK paaK......
waaaaa................ keRen paK dWi...,,, yG peNtiNg haRus diCateT yaaa paaK,,, smesteR 3 kTmu lg yaK paaK......
Posting Komentar Anda



