Artikel Terkait
Situs Terkait
Membangun Karakter
Tim Wacana Nusantara
10 May 2010

     Wakil Presiden Boediono melontarkan pentingnya membangun karakter bangsa, ketika berkunjung ke Candi Penataran, di Blitar Jawa Timur. Ini bukan pesan yang mengada-ada. Bahwa banyak hal yang bisa didapat di candi itu sebagai bahan untuk membangun karakter bangsa. Meskipun, bukan hanya Penataran saja, bukan hanya candi saja, tapi setidaknya pesan tersebut menjadi kontekstual karena memang selama ini popularitas Penataran justru kalah dengan kompleks purbakala Trowulan, yang sama-sama di Jawa Timur.

     Candi ini dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Çrnga (Syrenggra) yang memerintah Kediri tahun 1190-1200 M, sejak masa kerajaan Kadiri, dilanjutkan era Singasari dan berakhir pada jaman Majapahit, yang memakan rentang waktu sekitar 400 tahun. Kompleks percandian ini terbesar di Jawa Timur dan lebih dari 250 tahun digunakan sebagai tempat pemujaan. 
 
     Satu hal yang sangat menarik di Penataran adalah reliefnya di berbagai tempat, mulai dari kaki pendopo di bagian depan, di deretan dinding candi utama, sampai dengan yang ada di dinding kolam suci/patirtan di bagian paling belakang. Mulai dari relief Ramayana, Kreshnayana, dan berbagai cerita yang mengajarkan kearifan lokal. Cerita Bubuksah-Gagang Aking misalnya, mengajarkan tentang makna pengorbanan, ada cerita “Pemburu yang Tertipu” mengisahkan persahabatan kancil dan kura-kura, padahal biasanya kancil selalu digambarkan sebagai binatang yang licik. Cerita keteladanan digambarkan dalam relief yang menceritakan Sri Tanjung, puteri cantik Begawan, yang masih setia meski digoda sang raja. Suaminya yang termakan fitnah raja, marah dan malah membunuh Sri Tanjung. Para Dewa menghidupkannya kembali, karena dia belum waktunya mati.
 
     Masih ada lagi kisah mengenai kura-kura yang sombong, atau juga teladan rasa berterimakasih yang digambarkan pada cerita Lembu dan Buaya. Juga cerita-cerita fabel atau Tantri Kamandaka, yang memiliki kearifan mengenai ajaran budi pekerti. Semua cerita inilah yang agaknya perlu dideskripsikan, ditulis kembali, dan menjadi bahan ajaran penting bagi generasi bangsa ini, khususnya anak-anak sekolah. 
 
     Membangun karakter bangsa itu sedemikian strategis, justru ketika pendidikan formal dirasa belum memberikan jawaban yang memuaskan. Pada diri anak-anak didik itulah yang masih bisa diharapkan dapat memperbaiki martabat bangsa ini. Wapres yang asli Blitar ini menaruh perhatian besar pada anak-anak SD, SMP dan SMA sebagai tahapan usia yang masih bisa diisi dengan pendidikan karakter dengan baik. Merekalah yang akan menjadi pemimpin yang baik, yang akan sanggup membawa negeri ini menjadi negara yang disegani.
 
     Maka Wapres pun menantang para budayawan yang sengaja diundang dalam acara itu, agar menunjukkan dedikasinya pada bangsa ini. Mereka diharapkan dapat menyusun suatu konsep bagaimana pendidikan karakter dapat dilakukan dengan pendekatan seni budaya. Karena bicara pendidikan, termasuk pendidikan karakter, bukan hanya dimaknai secara sempit sebagai pendidikan formal yang terkungkung dinding sekolah.
 
     Dan candi Penataran, bukan sebuah pilihan yang kebetulan belaka. Setidaknya nama Penataran itu sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu pa-natha-ayrya-an. Kata natha berarti pemimpin atau raja, sedangkan ayrya berarti menggambarkan sesuatu yang tinggi dan dipersonifikasikan pada orang yang berkedudukan tinggi. Dengan demikian kata ‘panataran’ dapat diartikan sebagai tempat seorang pemimpin/raja.
 
    Hal ini selaras dengan “Rekomendasi Penataran” yang ditelurkan dalam sarasehan di Museum Penataran yang diselenggarakan November tahun lalu oleh Dewan Kesenian Jawa Timur. Salah satu butir rekomendasi itu menyatakan; Kemegahan dan keberadaan Candi Penataran yang merupakan Candi Negara pada masanya, diharapkan dapat menjadi pendorong semangat bagi warga Blitar untuk berprestasi dan membanggakan negara dan bangsa sebagaimana yang sudah dibuktikan oleh Soepriyadi dan Soekarno. Diharapkan, setidaknya pemerintah kabupaten Blitar lebih memperhatikan (merawat, melestarikan, mengembangkan) dan memberikan perlakuan khusus terhadap keberadaan Candi Penataran sebagaimana posisi sebagai candi negara pada masa lampau.
 
     Kedatangan Wapres Boediono ke Penataran kali ini setidaknya merupakan jawaban atas rekomendasi tersebut, karena saat itulah dinyatakan bahwa Candi Penataran adalah landmark wisata budaya Kabupaten Blitar dan sekaligus sebagai pusaka cagar budaya nasional. Tinggal sekarang, apakah yang bisa dilakukan kemudian? Apakah rakyat setempat dapat terlibat secara aktif ataukah hanya puas menjadi penonton belaka? Apakah sedemikian besarnya “nafsu” pemerintah atas nama revitalisasi, kemudian mengulang kembali proyek Pusat Informasi Majapahit (PIM) yang menghebohkan itu? Tentu saja, kunjungan Wapres itu hanya sebuah titik kecil, sebuah tekad keberangkatan. Tak akan ada artinya apa-apa kalau tidak dilanjutkan dengan suatu program lintas sektoral, melibatkan semua stakehorlder dengan melepaskan ego sektoral masing-masing. (henri nurcahyo).

 

daniel rudi @ 18 May 00:50
panataran....panataran...kereta ekonomi dengan jutaan penumpang terjepit jaman edan! sedih....
Wacana Lebih Baru Wacana Lama
Posting Komentar Anda

Informasi lebih lanjut
[wacana@nusantara-online.com]
+62-22-930-746-96
Jln. Jakarta 20-22
Komplek Kota Kembang Permai
Ruko Kav. 21.A, Bandung-Indonesia