Sebuah Catatan Perjalanan
Tim Wacana Nusantara
31 December 2009
Berbagai pertanyaan selalu mengusik kami dalam perjalanan melakukan inventarisasi dan dokumentasi Sejarah dan Budaya Nusantara. Beberapa saat lamanya kami mencoba untuk tidak mengindahkan pertanyaan yang sangat mengusik tersebut, namun semakin jauh kami melakukan proses inventarisasi dan dokumen tersebut pertanyaan itu semakin mengganggu, apalagi ketika kemudian kami mencoba bermain-main dengan data seputar hasil temuan kami, mencoba sedikit ber-analisis.
Sampai sejauh ini ada fakta menarik mengenai historiografi Sejarah Indonesia kuno, seperti kita ketahui historiografi adalah ilmu yang mempelajari praktik ilmu sejarah. Hal ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk mempelajari metodologi sejarah dan perkembangan sejarah sebagai suatu disiplin akademik. Istilah ini dapat pula merujuk pada bagian tertentu dari tulisan sejarah, merujuk pada pendekatan metodologis dan ide-ide mengenai sejarah yang telah ditulis selama periode tertentu. Sebagai suatu analisa meta dari deskripsi sejarah, arti ketiga ini dapat berhubungan dengan kedua arti sebelumnya dalam pengertian bahwa analisa tersebut biasanya terfokus pada narasi, interpretasi, pandangan umum, penggunaan bukti-bukti, dan metode presentasi dari sejarawan lainnya dimana dalam penulisan sebuah Historiografi didalamnya memuat mengenai teori dan metodologi sejarah. Historiografi dapat diartikan sebagai sejarah penulisan sejarah untuk merekontruksi masa lalu. Dalam historiografi terdapat pemahaman atau persepsi atau refleksi kultural sejarawan tentang masa lalu. historiografi merupakan pandangan sejarawan terhadap peristiwa sejarah, yang dituangkan di dalam sebuah tulisan.
Penulisan sejarah (historiografi) menjadi sarana mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian yang diungkap, diuji (verifikasi), dan diinterpretasi. Sesuai dengan tugas penelitian sejarah untuk merekonstruksi sejarah masa lampau, maka rekonstruksi itu hanya akan menjadi eksis apabila hasil-hasil penelitian tersebut ditulis (historiografi).
Yang kemudian menjadi pertanyaan terbesar kami adalah : apabila temuan-temuan arkeologis, pemugaran, pembacaan prasasti, kearifan lokal serta unsur-unsur keilmuan lain yang melengkapi bahan-bahan penulisan sebuah historiografi sudah tidak lengkap sejak awal, apakah historiografi yang ditulis kemudian layak menjadi sebuah acuan sehingga kemudian tidak diperlukan lagi sebuah penulisan baru? Perspektif yang lebih kaya?
Seperti kita ketahui, penemuan bidang arkeologis selalu bermunculan, metodologi pembacaan penemuan semakin berkembang, ilmu-ilmu lain yang mungkin terkait dengan penulisan historiografi berkembang pula, pun keilmuan arkeologi dan sejarah itu sendiri. Sementara yang kita temui dilapangan masih banyak penulisan sejarah masih menggunakan data-data lama tanpa ada revitalisasi penulisan, kajian-kajian parsial yang tercerai berai di kantung-kantung pendidikan dan lab-lab penelitian tanpa berani keluar dari kandang. Tidak bermanfaat sama sekali, sebuah kesia-siaan ilmu dan informasi.
Dari sisi arkeologis, kita mempunyai tanggung jawab dan utang masa lalu peninggalan kolonial terkait penemuan-penemuan arkeologis di berbagai tempat di Indonesia. Para arkeolog saat ini dapat dikatakan hanya mendapatkan data sekunder dari situs-situs yang ditemukan dan dipugar pada masa kolonial, karena penemuan yang ditemukan pada masa kolonial telah terlebih dahulu “dirusak” oleh arkeolog-arkeolog kolonial pada masa itu, mungkin pula saat ini kesulitan tersebut ditambah dengan terbatasnya akses para arkeolog Indonesia kepada data-data awal para arkeolog kolonial pada masa itu yang saat ini tersimpan di pusat-pusat data dan kajian di berbagai belahan dunia. Hal tersebut terjadi atau dimungkinkan terjadi karena ilmu arkeologi pada masa itu belum berkembang seperti saat ini, bahkan beberapa ilmu yang muncul dalam bidang arkeologi baru muncul belum lama ini, sehingga kemungkinan miss interpretation dapat terjadi. Sehingga dapat dibayangkan Historiografi seperti apa yang nantinya muncul ke publik, itupun kalau muncul ke publik, karena seperti biasanya tulisan dan hasil penelitian sebagian besar tersimpan rapat dan rapi di perpustakaan dengan aksesibilitas yang sangat minim, kembali sebuah kesia-siaan ilmu dan informasi.
Pertanyaan selanjutnya yang muncul kemudian adalah, bagaimana apabila sejarah yang kita kenal selama ini sama sekali salah?, salah disini adalah, bagaimana kalau sejarah kita selama ini bukan merupakan sejarah yang memang betul-betul disarikan dari berbagai perisitwa aktual yang terjadi di Indonesia, melainkan merupakan sebuah “rekayasa” baik itu disengaja maupun tidak dari pihak-pihak tertentu? Bagaimana mungkin sebuah peradaban yang berita-berita-nya tercatat dalam berbagai kronik China dan prasasti-prasasti yang tersebar di sepanjang daratan asia tenggara sama sekali tidak tercatat dengan layak dalam ensiklopedi-ensiklopedi dunia? Bahkan dalam beberapa forum di luar negeri kerajaan-kerajaan yang kita yakini ada di Nusantara hanyalah Hoax belaka?
Yang lebih menyedihkan lagi adalah ketika kemudian kita ditanya seberapa kaya Indonesia? jawabannya tentu berkisar seputar kekayaan alam, sampai-sampai kayu di tancapkan ditanah bisa jadi tanaman, kemudian kita akan berbicara mengenai hasil-hasil budaya, entah itu tarian, musik, ragam hias, dan lain-lain, sebuah jawaban yang ironisnya justru memberi gambaran betapa miskinnya kita saat ini, bangsa yang termiskinkan diatas tumpukan harta, karena kita tidak mampu memaparkan bagaimana alam Indonesia dapat begitu subur, kita tidak mampu memaparkan bagaimana alam yang subur tersebut kemudian mampu menumbuh kembangkan berbagai ragam budaya, dan kita tidak mampu bahkan untuk sekedar mengapresiasi tinggalan-tinggalan sejarah dan budaya yang tersebar berserakan di Indonesia, sungguh betapa teramat miskinnya kita saat ini.
Kita bertanya, kita kembalikan diri kita kepada keadaan yang sewajarnya sebagai manusia bagian dari bangsa Indonesia, kita sedang mencari sebuah jawaban dari sebuah keadaan yang bertolak belakang seperti yang terjadi saat ini, dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana : bagaimana mungkin nenek moyang kita yang mampu membangun seribu candi menamai kerajaannya dengan nama Majapahit, dari sebuah kata yang berasal dari buah Maja yang pahit? Betulkah sesederhana itu?, kemudian kita mempertanyakan, bagaimana mungkin kerajaan yang daerah kekuasaannya sampai Asia Tenggara tidak memiliki catatan sedikitpun? Benarkah bahwa perang bubat terjadi seperti yang sering diceritakan saat ini? benarkah kebudayaan kita berasal dari India?, bagamana mungkin epos besar semacam Ilagaligo malah muncul di Eropa?, dan kemudian tanpa kami sadari pertanyaan-pertanyaa tersebut kemudian semakin bertambah seiring perjalanan kami, dan kamipun semakin sadar betapa sangat sedikitnya yang kita ketahui selama ini tentang Nusantara.
Minimnya akses masyarakat terhadap buku, data dan jurnal penelitian seputar sejarah dan budaya Nusantara kami tenggarai sebagai salah satu biang keladi dari permasalahan yang ada saat ini, sementara itu tidak tersedianya akses dan pusat data yang terintegrasi satu dengan lainnya semakin memperparah keadaan ini, sementara eksklusivitas jurusan, keilmuan dan almamater justru malah ikut menambah beban menjadi semakin berat. Saudaraku sebangsa dan setanah air, medan perjuangan dan peperangan saat ini tidak dalam tataran fisik, peperangan saat ini adalah peperangan informasi dengan paradigma sebagai medan perang yang diperebutkannya, mari kita cukupkan “kesukuan akademis”, kita cukupkan “keningratan almamater” kita satukan kembali dalam sebuah visi luhur, visi dengan semangat kebangsaan.
Mari saudaraku sebangsa dan setanah air, kita kesampingkan remah-remah ego kita, kita landaskan semua kerja-kerja kita kedalam sebuah visi dengan landasan kebangsaan.
Salam Nusantara!
Ociem @ 07 March 20:34
Saya sangat setuju sekali dengan pendapat redaksi wacananusantara.com ini, hasil kajian ilmiah arkeologi, sejarah dan lainnya kini hanya menjadi tumpukan tulisan belaka di laci-laci para birokrat hanya karena atas dasar primordial sempit almamater, lembaga, dll. Perlu adanya terobosan agar hasil kajian itu bisa sampai dan dimengerti oleh masyarakat luas, sehingga masyarakat bisa mengerti jati dirinya secara benar. Meski soal strategi kebudayaan perlu pandangan luas dari banyak pihak (semua pihak pemegang akses puncak kebudayaan), kita para pemerhati kebudayaan dari sisi sejarah seharusnya bisa memberikan arahan pada bangsa ini, mana yang sudah jadi pelajaran pahit dan tidak perlu diulangi, dan mana yang bagus dan harus diambil...dan ini tidak mengenal suku, agama atau ras...
Saya sangat setuju sekali dengan pendapat redaksi wacananusantara.com ini, hasil kajian ilmiah arkeologi, sejarah dan lainnya kini hanya menjadi tumpukan tulisan belaka di laci-laci para birokrat hanya karena atas dasar primordial sempit almamater, lembaga, dll. Perlu adanya terobosan agar hasil kajian itu bisa sampai dan dimengerti oleh masyarakat luas, sehingga masyarakat bisa mengerti jati dirinya secara benar. Meski soal strategi kebudayaan perlu pandangan luas dari banyak pihak (semua pihak pemegang akses puncak kebudayaan), kita para pemerhati kebudayaan dari sisi sejarah seharusnya bisa memberikan arahan pada bangsa ini, mana yang sudah jadi pelajaran pahit dan tidak perlu diulangi, dan mana yang bagus dan harus diambil...dan ini tidak mengenal suku, agama atau ras...
richadianakartakusuma @ 25 February 07:32
Buah MAJA memangm katanya .. karena saya belum pernah mencoba.... bentuknya seperti JERUK BALI tapi lebih kecil dan berwarna hijau. agaknya MAJAPAHIT merupakan SIMBOL betapa PAHITNYA perjuangan NARARYYA SANGGRAMAWIJAYA mengembalikan TAHTA ketika itu... perjuangan keras bertubi2
Buah MAJA memangm katanya .. karena saya belum pernah mencoba.... bentuknya seperti JERUK BALI tapi lebih kecil dan berwarna hijau. agaknya MAJAPAHIT merupakan SIMBOL betapa PAHITNYA perjuangan NARARYYA SANGGRAMAWIJAYA mengembalikan TAHTA ketika itu... perjuangan keras bertubi2
Iqbal @ 22 February 20:34
Saya menemukan situs ini secara tak sengaja. Menarik.
Saya menemukan situs ini secara tak sengaja. Menarik.
shangkala @ 18 February 15:33
Kami anak-anak Nusantara dalam satu visi yaitu mengumpulkan data-data budaya, seni & sejarah Nusantara. Saat ini kami telah menerbitkan satu buku tentang sejarah Nusantara. Buku pertama ini mengenai kerajaan2 di Jabar, berjudul : Data Kala Sejarah Kerajaan-Kerajaan di Jawa Barat. Buku ini bermanfaat bagi siapapun yang mempelajari sejarah Nusantara. Silahkan lihat linknya : http://artshangkala.wordpress.com/2009/10/10/buku-data-kala-sejarah-kerajaan-kerajaan-di-jawa-barat/ Terang - Jaya Nusantara Tim Shangkala
Kami anak-anak Nusantara dalam satu visi yaitu mengumpulkan data-data budaya, seni & sejarah Nusantara. Saat ini kami telah menerbitkan satu buku tentang sejarah Nusantara. Buku pertama ini mengenai kerajaan2 di Jabar, berjudul : Data Kala Sejarah Kerajaan-Kerajaan di Jawa Barat. Buku ini bermanfaat bagi siapapun yang mempelajari sejarah Nusantara. Silahkan lihat linknya : http://artshangkala.wordpress.com/2009/10/10/buku-data-kala-sejarah-kerajaan-kerajaan-di-jawa-barat/ Terang - Jaya Nusantara Tim Shangkala
Posting Komentar Anda



