Batu dan Konteks Batu
Tim Wacana Nusantara
18 September 2009
Selama hampir dua minggu ( 24 Agustus-9 September) Tim Wacana Nusantara memasuki lorong waktu sejarah Nusantara. Kami mengunjungi berbagai candi dari Mazhab Majapahit, Singasari, Sanjaya dan Syailendra. Kami menyisir candi-candi dari wilayah Jawa Timur hingga Jawa Tengah.

Candi Kedaton, Sumur Upas Komplek Candi Prambanan

Komplek Ratu Boko Komplek Candi Penataran

Candi Sari Candi Wringinbranjang
Apa yang kami temukan adalah pemandangan yang luar biasa. Candi-candi itu membentangkan ilmu pengetahuan yang dapat kami pelajari dan telusuri sebagai warisan penciptaan leluhur di masa lalu. Dari berbagai candi, kami menjumpai jutaan kubik terakota dan batu andesit, semuanya berisi motif ukiran dan figur-figur yang menceritakan kisah-kisah. Di dalam batu-batu itu kami menemukan konteks batu.

Fragmen relief

Kesamaan alas arca kereta kuda (asana), Jawa Timur dan Jawa Tengah

Sebagai bagian dari generasi kekinian, kami menyadari betapa dangkalnya pengetahuan kami, ketika motif, relief dan hiasan-hiasan yang terpahat beradab-abad silam itu mesti kami terjemahkan. Serasa memasuki lorong waktu, terhempas di ruang masa lampau tetapi tak kuasa menerjemahkan karya-karya itu. Inilah yang menyadarkan kami, masa lalu bukanlah romantisme irasional tanpa logika. Masa lalu merupakan ruang luas ilmu pengetahuan.
Dari Mojokerto, Trowulan, Nganjuk, Kediri, Blitar, Malang, Jombang, Pasuruan, Sidoarjo, Klaten, Yogyakarta, Magelang, kami menjumput satu demi satu ilmu leluhur. Menyerap dan menjadikannya sebagai bahan kajian. Di lapangan penelitian, kami memotret dan melakukan wawancara dengan berbagai komunitas maupun perorangan. Dari wawancara tersebut, kami semakin mengagumi bangunan-bangunan, situs dan petilasan yang kami jumpai. Tempat-tempat itu memberikan kesadaran bagi anak-anak Nusantara seperti kami ini, bahwa hanya manusia yang memiliki rasa, karsa, upaya dan daya lebih yang mampu menciptakan bangunan-bangunan seperti Candi Panataran, Kota Trowulan, Candi Prambanan dan Candi Sewu, Ratu Boko, dan Borobudur.
Kebanggaan dan keheranan terbit di dada kami, manakala menjumpai karya-karya besar para leluhur. Kami pernah berimajinasi, bagaimana seandainya Borobudur ternyata ada empat? Bagaimana jika Prambanan, Candi Sewu dan Ratu Boko ternyata ada tiga? Apakah cukup hanya dengan kebanggaan saja yang kita miliki? Bukankah kita harus memaknai ilmu pengetahuan dan penciptaan masa lalu itu sebagai karya nyata pada masa kita dan masa yang akan datang?
Reog ponorogo, keris, batik, tari pendhet, beberapa lagu dan hasil cipta karya leluhur Nusantara telah diklaim oleh pihak asing untuk dipatenkan. Ketika persoalan ini terjadi, reaksi muncul dari dalam negeri. Kita marah, kita tidak rela. Akan tetapi marilah melongok pada halaman rumah kita, memperhatikan beranda dan teras rumah kita. Sudahkan kita mendata dan merawat warisan leluhur dengan semestinya?

Kepala Kala terabaikan, Candi Keboireng
Menterjemahkan batu-batu itu adalah menterjemahkan diri kita. Sebab hancurnya batu-batu itu, bisa jadi merupakan kehancuran kita. Hilangnya aset museum, tidak terawatnya peninggalan-peninggalan bersejarah dan minimnya apresiasi kita terhadap warisan leluhur, menjadi konteks Indonesia hari ini. Sudahkah kita mampu menterjemahkan jutaan batu-batu warisan leluhur itu ?

Temuan kerangka manusia yang terabaikan, Candi Kedaton, Sumur Upas.
Salam Nusantara.
Admin @ 07 October 01:41
Ada beberapa keunikan di Candi Kedaton/Sumur Upas yang berkenaan dengan kerangka Tersebut. Berdasarkan hasil penglihatan kami (yang notabennya bukan ahli bioarkeologi, jika membahas mengenai keberadaan Kerangka Sumur Upas). Tradisi Penguburan pada masa Majapahit merupakan sebuah tradisi yang bisa dihubungkan dengan periode Majapahit Akhir (sebagai buktinya bisa kita kaitkan dengan keberadaan Makam Putri Champa), mungkin juga memang ada beberapa kemungkinan lain yang menunggu diungkapkan karena situs ini merupakan situs multikomponen. Dalam penggalian, selain temuan berupa gerabah, didapati pula tujuh kerangka manusia. Diduga, di samping bangunan masa Majapahit, pernah pula berdiri bangunan masa lainnya karena struktur bangunan candi yang bertumpuk. Terimaksih atas Informasi-informasinya, kami tunggu Informasi menarik lainnya. Terimakasih Salam Nusantara
Ada beberapa keunikan di Candi Kedaton/Sumur Upas yang berkenaan dengan kerangka Tersebut. Berdasarkan hasil penglihatan kami (yang notabennya bukan ahli bioarkeologi, jika membahas mengenai keberadaan Kerangka Sumur Upas). Tradisi Penguburan pada masa Majapahit merupakan sebuah tradisi yang bisa dihubungkan dengan periode Majapahit Akhir (sebagai buktinya bisa kita kaitkan dengan keberadaan Makam Putri Champa), mungkin juga memang ada beberapa kemungkinan lain yang menunggu diungkapkan karena situs ini merupakan situs multikomponen. Dalam penggalian, selain temuan berupa gerabah, didapati pula tujuh kerangka manusia. Diduga, di samping bangunan masa Majapahit, pernah pula berdiri bangunan masa lainnya karena struktur bangunan candi yang bertumpuk. Terimaksih atas Informasi-informasinya, kami tunggu Informasi menarik lainnya. Terimakasih Salam Nusantara
kraithong @ 28 September 13:45
Berkaitan dengan temuan kerangka tersebut, saya sedikit tertarik dengan pendapat Mas Joko. Jika anda berpendapat bahwa temuan kerangka tersebut tidak berkaitan, saya melihat kemungkinan orang2 zaman tersebut yang notabene beragama Hindu-Budha tidak melalui proses penguburan tetapi langsung dibakar seperti lazim kita jumpai dari sumber2 sejarah lain. Trims.
Berkaitan dengan temuan kerangka tersebut, saya sedikit tertarik dengan pendapat Mas Joko. Jika anda berpendapat bahwa temuan kerangka tersebut tidak berkaitan, saya melihat kemungkinan orang2 zaman tersebut yang notabene beragama Hindu-Budha tidak melalui proses penguburan tetapi langsung dibakar seperti lazim kita jumpai dari sumber2 sejarah lain. Trims.
joko @ 26 September 11:56
kok sepertinya tu kerangka seperti kerangka baru ya?? sepertinya penguburannya pun bukan dari jaman Majapahit. kalau menurut cerita yang saya dengar, mayat yang dikuburkan di sana adalah manusia yang relatip baru (manusia jaman sekarang). jadi kerangka itu tidak berhubungan dengan temuan sekitarnnya. kalau saya salah mohon maaf...
kok sepertinya tu kerangka seperti kerangka baru ya?? sepertinya penguburannya pun bukan dari jaman Majapahit. kalau menurut cerita yang saya dengar, mayat yang dikuburkan di sana adalah manusia yang relatip baru (manusia jaman sekarang). jadi kerangka itu tidak berhubungan dengan temuan sekitarnnya. kalau saya salah mohon maaf...
Admin @ 18 September 20:28
Terimkasih atas dukungan serta masukan yang sangat berarti bagi kami. Krtitik serta saran yang lainnya sangat kami tunggu. Kami senantiasan mengajak kepada Semuanya agar ikut serta melestarikan keilmuan leluhur bangsa ini, agar mata rantai kita tak terputus, agar kita tahu siapa kita dan agar bangsa ini belajar dari sejarahnya.. Salam Nusantara
Terimkasih atas dukungan serta masukan yang sangat berarti bagi kami. Krtitik serta saran yang lainnya sangat kami tunggu. Kami senantiasan mengajak kepada Semuanya agar ikut serta melestarikan keilmuan leluhur bangsa ini, agar mata rantai kita tak terputus, agar kita tahu siapa kita dan agar bangsa ini belajar dari sejarahnya.. Salam Nusantara
Posting Komentar Anda



