Tarusbawa (Prebu Trarusbawa); Raja Pertama Sunda yang Berkedudukan di Pakuan
Tim Wacana Nusantara
26 April 2010
Tokoh Utama dalam Fragmen Carita Parahyangan
     Tak seperti Purnawarman dan Sri Baduga Maharaja yang namanya tertera dalam torehan prasasti, nama Tarusbawa sama sekali tak diketemukan dalam satu prasasti pun. Namun, nama Tarusbawa tertulis dalam naskah Sunda kuno Fragmen Carita Parahyangan (FCP), yang ditulis pada abad ke-16. Kisah Trarusbawa sendiri tertulis dalam 20 lempir halaman (mulai 25b hingga 8a) dalam FCP. Naskah lain yang memuat nama Tarusbawa adalah Naskah Pangeran Wangsakerta yang menimbulkan pro dan kontra di antara para akademisi, terutama dari kalangan sejarawan dan filolog. Sementara itu, naskah Carita Parahyangan (CP) menyebutkan seorang tokoh “Tohaan di Sunda” (Raja di Sunda) yang diidentikkan dengan Tarusbawa. Perlu dicatat bahwa teks FCP dan CP terdapat dalam satu naskah yang disebut Kropak 406. Dengan demikian, bila kita menyebut Kropak 406 berarti kita menyebut dua teks atau “judul” sekaligus.
 
     Kebenaran data historis mengenai Tarusbawa yang terkandung dalam FCP tentu perlu dipertanyakan lebih lanjut. Kenapa? Periode ditulisnya naskah FCP terbentang 9 abad dengan masa hidupnya Tarusbawa pada abad ke-7. Tak ada keterangan mengenai acuan-acuan teks yang dipakai oleh penulis FCP mempersulit kita untuk membenarkan kebenaran sepak terjang Tarusbawa sebagai raja pertama Kerajaan Sunda. Akan tetapi, data-data yang tersaji dalam FCP tak bisa kita abaikan begitu saja selama naskah-naskah yang lebih tua yang membahas keberadaan Tarusbawa belum ditemukan.
 
     Disebutkan bahwa Tarusbawa (FCP menyebutnya Trarusbawa) adalah pendiri Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan. Ialah yang pertama memerintah di keraton Sri Punta Bima Narayana Madura Suradipati di Pakuan. Trarusbawa ini merupakan tokoh sentral pada FCP, sama halnya dengan tokoh Rahiyang Sanjaya pada Carita Parahyangan atau Ken Angrok pada Pararaton.
 
     Dikisahkan oleh FCP bahwa sebelum Trarusbawa menempati Kota Pakuan, ada tiga tokoh yang merupakan perintis Kerajaan Sunda ini, yaitu:
1.       Bagawat Angga Sunyia dari Windupepet,
2.       Bagawat Angga Mrewasa dari Hujung Galuh,
3.       Bagawat Angga Brama dari Pucung.
 

     Dapat dipastikan mereka bertiga adalah tokoh agama Hindu. Dan Trarusbawa merupakan pengganti Bagawat Angga Brama dan berhasil memindahkan kreaton Sri Punta Bima Nararaya Madura Suradipati atas saran Bujangga Sedamanah. Trarusbawa memindahkan keraton Sri Punta Bima Narayana Madura Suradipati dari wilayah Rancamaya ke sebuah perbukitan di hulu (sungai) Cipakancilan, yang kelak menjadi Pakuan. Sejak itulah Prebu Trarusbawa memerintah di Pakuan dengan membawahkan beberapa penguasa wilayah yang diangkat berdasarkan kesepakatan bersama dengan tokoh rama (perwakilan rakyat) dan resi (pembuat hukum).

     FCP menyebutkan bawah Prebu Trarusbawa, atas kesepakatan rama dan resi, mengatur persoala yang berhubungan dengan pangwereg (ketentuan berupa hak terhadap para penguasa di wilayah Kerajaan) serta pamwatan (kewajiban mempersembahkan produk potensi alam) dari para penguasa tersebut ke ibukota Pakuan. Produk tersebut berupa hasil pertanian dan peternakan juga industri rumah tangga. Trarusbawa sendiri disebutkan memerintah Kerajaan dalam waktu yang cukup lama.

     Berikut petikan FCP tentang ucapan Trarusbawa tentang fungsi sang resi, sang rama, dan sang prebu (terjemaahannya):

     Ucap Maharaja Trarusbawa: “Sang Resi selayaknya menentramkan buana, tugas utamanya menyejahterakan alam. Sang Rama selayaknya mengawal ajaran darma, tugas utamanya sebagai pembimbing alam kehidupan. Sang Prabu selayaknya melaksanakan ajaran raja, tugas utamanya melaksanakan pemerintahan.” (Darsa dan Edi S. Ekadjati, 2003: 188)


     Sementara itu Carita Parahyangan (lempir 38a) menyebut Tohaan di Sunda (Raja di Sunda), yang oleh sebagian filolog dan sejarawan diidentikkan dengan Tarusbawa, yang mulung mantu terhadap Rakeyan Jambri. Ketika menjadi raja di Galuh setelah berhasil mengalahkan Rahiyang Purbasora, Rakeyan Jambri bergelar Rahiyang Sanjaya yang juga cucu Tohaan di Sunda. Besar kemungkinan Tohaan ri Sunda merupakan gelar Tarusbawa.

Wilayah Administratif Kerajaan Sunda pasa Masa Tarusbawa
     FCP mencatat ada sebelas wilayah atau kerajaan kecil yang berada dalam wilayah Kerajaan Sunda, yakni:
1.       Galunggung, pimpinan Sang Resi Putih yang dinobatkan sebagai Batara Danghyang Guru yang berpusat di Sukasangtub;
2.       Denuh, pimpinan Bagawat Sangkan Windu yang berkedudukan di Jambudipa;
3.       Mandala Cidatar, pimpinan Bagawat Resi Kelepa yang dinobatkan sebagai Batara Waluyut yang berkedudukan di Medang Kamulan;
4.       Geger Gadung, pimpinan Bagawat Cinta Putih yan dinobatkan sebagai Batara di Geger Gadung yang berpusat di Bantar Bojong Cisolok;
5.       Kandangwesi, pimpinan Bagawat Resi Karangan yang dinobatkan sebagai Preburaja di Kandangwesi yang berpusat di Papandayan;
6.       Puntang, pimpinan Bagawat Cinta Premana yang dinobatkan sebagai Sanghyang Premana di Puntang yang berpusat di Gunung Sari;
7.       Mandala Pucung, pimpinan Bagawat Tiga Warna yang berpusat di Lamabung.
8.       Mandala Utama Jangkar, pimpinan Bagawat Pitu Rasa yang dinobatkan sebagai Batara Sugihwarna yang berpusat di Gunung Tiga;
9.       Windupepet, tak disebutkan pemimpinnya, berpusat di Gunung Manik;
10.   Luwa, tak disebutkan pemimpinannya, berpusat di Pacera.
 
Teks FCP juga menyebutkan batas-batas wilayah begara-negera bersangkutan di atas, yakni:
1.       Batas wilayah Galunggung: sebelah timur lereng Pelangdatar, utara lereng (Gunung) Sawal, dan sebelah barat tepi Sungai Cihulan;
2.       Batas wilayah Denuh: sebelah barat tepi Cipahengan hingga hulu Cigosong tapal batas Puntang, sebelah timur hulu Cipalu, dan sebelah utara hulu Cilamaya;
3.       Batas wilayah Geger Gadung: sebelah barat tepi Cilanglayang, sebelah utara lereng Parakukan membentang ke Geger Handiwung serta pasir Taritih terus ke muara Cipager Jampang hingga hulu Cila(ng)la;
4.       Batas wilayah Kandangwesi: sebelag barat tepi Kandangwesi, sebelah utara lereng tapal batas Lewa;
5.       Batas wilayah Puntang: sebelah barat lereng Pakujang sampai Gunung Mandalawangi, sebelah utara lereng Kalahedong hingga Gunung Haruman, dan sebelah timur tepi Ciharus;
6.       Batas wilayah Windupepet: sebelah barat tepi Cikaradukun, batas-batas yang lain tidak disebut;
7.       Batas wilayah Lewa: sebelah barat tepi Cimangkeh, dan sebelah utara lereng tapal batas Kandangwesi.
 
 
Masa Pemerintahan Tarusbawa di Pakuan dan Raja-raja Sesudahnya hingga Rakeyan Darmasiksa
     Disebutkan oleh FCP bawah Prebu Trarusbawa memerintah selama 110 tahun, masa yang cukup lama. Berikut daftar sejumlah raja Sunda dari Trarsubawa hingga Rakeyan Darmasiksa menurut FCP, yakni:
1.       Maharaja Tarusbawa, Tohaan ri Sunda (669-723 M), Pakuan.
2.       Sanjaya Sang Harisdarma atau Rakeyan Jambri, cucu Tarusbawa, cicit Wretikadayun, (723-732 M), Pakuan-Galuh.
3.       Rahyang Tamperan atau Rakeyan Panaraban atau Raden Barmawijaya (732-739 M), Pakuan-Galuh.
4.       Rakeyan Banga atau Prabu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya (739-766 M).
5.       Rakeyan Medang atau Prabu Hulukujang (766-783 M).
6.       Rakeyan Hujung Kulon atau Prabu Gilingwesi, menantu Hulukujang (783-795 M).
7.       Rakeyan Diwus atau Prabu Pucukbhumi Dharmeswara, menantu Gilingwesi (795-819 M).
8.       Rakeyan Wuwus atau Prabu Gajah Kulon (di Pakuan dari tahun 819-891 M dan di Galuh dari tahun 842-891 M).
9.       Arya Kedaton atau Prabu Darmaraksa Bhuwana, adik-ipar Rakeyan Wuwus (891-895 M).
10.    Rakeyan Windusakti atau Prabu Dewagong Jayengbhuwana (895-913 M).
11.    Rakeyan Kemuning Gading atau Prabu Pucukwesi atau Sang Mokteng Hujungcariang (913-916 M).
12.    Rakeyan Jayagiri atau Prabu Wanayasa, adik Pucukwesi (916-942 M).
13.    Rakeyan Watwagong atau Prabu Resi Atmajadarma Hariwangsa (942-954 M), menantu Jayagiri.
14.    Limburkancana atau Sang Mokteng Galuh Pakwan, putra Pucukwesi (954-964 M).
15.    Rakeyan Sunda Sembawa atau Prabu Munding Ganawirya Tapakmanggala Jayasatru (964-973 M).
16.    Rakeyan Jayagiriatau Prabu Wulung Gadung atau Sang Mokteng Jayagiri (973-989 M).
17.    Rakeyan Gendang atau Prabu Jayawisesa (989-1012 M).
18.    Prabu Dewa Sanghyang atau Sang Mokteng Patapan (1012-1019M), Galuh.
19.    Sri Jayabupati atau Prabu Satya Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Bhuwanamanadala Leswaranindita Harogowardhana Wikramattunggadewa (1019-1042).
20.    Prabu Dharmaraja Jayamanahen Wisnumurti Sakalasundabhuwana (1042-1064).
21.    Prabu Langlangbhumi atau Sang Mokteng Kreta (1064-1154).
22.    Rakeyan Jayagiri atau Prabu Menakluhur Langlangbhumisutah (1154-1156).
23.    Prabu Dharmakusumah atau Sang Mokteng Winduraja (1156-1175).
24.    Prabu Guru Dharmasiksa atau Paramartha Mahapurusa atau Prabu Sanghyang Wisnu (1175-1297); di Saunggalah tahun 1175-1187, di Pakuan tahun 1187-1297.
 
Tarusbawa menurut Naskah Pangeran Wangsakerta
     Selain FCP, naskah yang lain membahas Tarusbawa dalah Naskah Pangean Wangsakerta dari Cirebon. Kebenaran data mengenai Tarusbawa dalam naskah ini juga patut dipertanyakan, karena kurun waktu penulisan naskah tersebut berselang 10 abad (abad ke-17, selesai tahun 1698 M) abad dengan masa hidup Tarusbawa (abad ke-7). Akan tetapi ada baiknya bila kita menguraikan sepak terjang Tarusbawa dalam sistem pemerintahan di Pakuan.
 
     Naskah Wangsakerta merupakan naskah yang berjilid, seperti ensiklopdei, yang terdiri atas 20 jilid, yang masing-masing memiliki judu berbeda. Nama Tarusbawa sendiri terdapat dalam Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara, Pustaka Carita Parahyangan I Bhumi Jawa Kulwan, dan Sarwakrama Rajyarajya Galuh-Pajajaran.
 
     Dikisahkan bahwa pada 669 M Linggawarman turun takhta, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman memunyai dua orang putri: yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa, yang kedua bernama Sobakancana menjadi istri Dapunta Hyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Tatkala pamor Tarumanagara memudar, Tarusbawa ingin mengembalikan keharuman masa Purnawarman yang berkedudukan di ibukota Sundapura. Pada 670 M, ia mengubah nama Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Tarusbawa lalu mengirimkan utusan kepada Raja Cina yang memberitahukan bahwa ia telah menjadi raja kerajaan yang baru. Tarusbawa sendiri dinobatkan pada tanggal 9 bagian-terang bulan Jesta tahun 591 Saka (18 Mei 669 M).
 
     Prasasti Pasir Muara di Bogor (Prasasti Juru Pangambat) yang berasal dari abad ke-6 (458 Saka atau 536 M) memuat berita adanya Kerajaan Sunda Sambawa. Bila diteliti bahwa tempat prasasti tersebut ada di sekitar Bogor, bisa jadi Kerajaan Sunda Sembawa yang disebut oleh prasasti tersebut merupakan kerajaan yang dikuasai Tarusbawa sebelum naik takhta di Pakuan. Sunda Sembawa, dengan demikian, merupakan kerajaan yang dulu diberi wilayah kekuasaan oleh Suryawarman melalui Rakeyan Juru Pangambat. Jadi, prasasti yang menerangkan pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda terjadi pada masa pemerintahan Suryawarman (535 - 561 M), Raja Tarumanagara ke-7.
 
     Pustaka Jawadwipa, salah satu jilid Naskah Wangsakerta, menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan Candrawarman (515 - 535 M), ayah Suryawarman, banyak penguasa daerah yang menerima kembali kekuasaan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaan mereka terhadap Tarumanagara, seperti halnya penyerahan Sunda Sembawa oleh Suryawarman. Pengembalian kekuasaan tersebut merupakan petunjuk bahwa Sundapura, yang mulanya ibu kota Tarumanagara, telah berubah status menjadi sebuah kerajaan. Dengan demikian, pusat pemerintahan Tarumanagara berpindah ke lain tempat.
 
     Berita peralihan dari Tarumanagara ke Sunda tersebut diperkuat oleh sebuah kronik Cina yang menyebutkan bahwa utusan terakhir “Tolomo” (lidah Cina untuk Taruma) yang mengunjungi negeri Cina ada pada 669 M. Di Cina sendiri ketika itu yang berkuasa adalah Dinasti Tang. Setelah tahun tersebut, tak ada lagi kronik dari Cina yang menyinggung Kerajaan “Tolomo”. Sangat mungkin, pada masa tersebut kerajaan ini telah “berganti” menjadi Kerajaan Sunda.
 
     Kembali ke masalah Tarusbawa. Alkisah, putra mahkota Kerajaan Galuh menikahi Parwati, anak Ratu Maharani Sima dari Kerajaan Kalingga (Keling atau Ho Ling). Dengan dukungan Kalingga, raja Kendan-Galuh, Wretikandayun, melakukan tuntutan kepada Tarusbawa, agar bekas kawasan Tarumanagara dibagi dua. Untuk menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima usul Wretikandayun. Pada 670 M, Tarumanagara dibagi menjadi dua kerajaan: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai tapal batas.

     Tarusbawa sendiri, setelah memerdekakan diri dari Tarumanagara, mendirikan Kerajaan Sunda, yang beribukota di Pakuan (Pakwan) yang terletak di antara Sungai Cisadane dan Sungai Cihaliwung. Sementara, istananya dilewati oleh Sungai Cipakancilan.

     Karena putra sulung Tarusbawa, Rakeyan Sunda Sembawa wafat mendahului ayahnya, putri Sunda Sembawa yang bernama Tejakancana diangkat sebagai ahli waris Kerajaan. Tejakancana menikah dengan Rakeyan Jambri, cicit Wretikandayun. Rakeyan Jambri pada 723 M menggantikan Tarusbawa menjadi Raja KeduaSunda. Sebagai penguasa Kerajaan Sunda, ia bergelar Prabu Harisdharma Bhimaparakrama Prabu Maheswara Sarwajita Sastrayudha Purnajaya.

     Dalam Carita Parahyangan, Rakeyan Jambri setelah dinobatkan jadi raja Galuh disebut Rahyang Sanjaya.Sejak masa Sanjaya, keberadaan Kerajaan Sunda acap tumpang-tindih dengan Kerajaan Galuh. Hal ini diakibatkan raja yang memerintah di Sunda juga memegang tampuk kekuasaan di Galuh.Sanjaya pun merupakan ahli waris tiga kerajaan. Dari pihak ayah, ia mewarisi Galuh; dari pihak ibu mewarisi Medang i Bhumi Mataram (Kalingga); dari pihak istri mewarisi Kerajaan Sunda. Setelah Kerajaan Sunda-Galuh ia serahkan kepada putranya, Rahyang Tamperan atau Rakeyan Panaraban(memiliki nama nobat Raden Barmawijaya), Sanjaya kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara (kemudian disebut Bhumi Mataram) pada 732 M. Tamperan adalah anak Sanjaya dari Tejakancana, yang memerintah Galuh dan Sunda (732-739).

 
Kepustakaan
Darsa, Ahmad Undang, Kunto Sofiani dan Elis Suryani N.S. “Tinjauan Filologis terhadap Fragmen Carita Parahyangan Naskah Kuno Abad XVI tentang Gambaran Sistem Pemerintahan Masyarakat Sunda.”
Darsa, Ahmad Undang dan Edi S. Ekadjati. 2003. “Fragmen Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan (Kropak 406)”, dalam Tulak Bala Sistem Pertahanan Tradisional Masyarakat Sunda. Bandung: Pusat Studi Sunda.
“Candi di Jawa Barat”, tersedia [online] http://candi.pnri.go.id/jawa_barat/index.htm, diambil 19 April 2010

 

Wacana Lebih Baru Wacana Lama
Posting Komentar Anda

Informasi lebih lanjut
[wacana@nusantara-online.com]
+62-22-930-746-96
Jln. Jakarta 20-22
Komplek Kota Kembang Permai
Ruko Kav. 21.A, Bandung-Indonesia