Perdesaan pada Masa Pra-Mataram Kuno
Tim Wacana Nusantara
20 August 2009
Pengantar
Menurut Sutardjo Kartohadikusumo, desa adalah suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggalnya suatu masyarakat yang berkuasa dan mengadakan pemerintahan sendiri. Dari apa yang dikemukakan oleh Sutardjo Kartohadikusumo, jelas terlihat bahwa desa itu memiliki sebuah pemerintahan tersendiri. Desa merupakan sebuah basis kekuatan dari pemerintahan. Hal senada juga dikemukakan oleh C.S. Kansil, yang mengatakan bahwa Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Wilayah Nusantara pernah mengalami kejayaan pada zaman kerajaan Hindu-Buddha, kerajaan-kerajaan pada masa itu melebarkan sayap kekuasaannya lebih dari wilayah Nusantara sekarang. Masyarakatnya banyak hidup di desa-desa, sebagai satuan pemerintahan terkecil. Mereka hidup kebanyakan sebagai petani, dengan persaudaraan yang sangat erat. Jawa pernah mengalami beberapa pergantian kerajaan yang salah-satunya adalah Kerajaan Mataram Kuno (Mataram Hindu). Pada kesempatan kali ini, penulis akan sedikit mengupas bagaimana pedesaan yang berkembang pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
Pedesaan Pra-Mataram Kuno
Kalau kita melihat sejarah perkembangan penduduk pada zaman praaksara, mereka kebanyakan hidup di daerah-daerah yang subur dengan kelompoknya. Kelompok-kelompok inilah yang nantinya berkembang menjadi sebuah desa, bahkan kemungkinan yang menjadi sebuah kota. Kalau kita menyimak informasi tentang pedesaan pada masa pra-Mataram sangat sedikit. Ada beberapa petunjuk jejak pedesaan yang mungkin memiliki asal jauh dari masa Mataram. Namun masih perlu penelitian lebih dalam, terutama sekali apabila menyangkut perdesaan yang berasal dari masa praaksara dan masa awal Masehi diperlukan penelitian arkeologi dan epigrafi. Salah satu petunjuk misalnya tentang adanya nama tempat Gunung Wingko di pantai selatan, memberikan dugaan adanya suatu bekas permukiman pada masa praaksara. Lebih-lebih keterangan dari pihak yang ahli dalam bidang masa, menjelaskan adanya penemuan bekas alat yang dipakai oleh penghuni masa praaksara. Apabila keterangan itu benar maka akan memperkuat dugaan bahwa dalam masa yang sangat tua, yaitu ribuan tahun sebelum Masehi, telah ada pemukiman nenek moyang di salah satu bagian wilayah yang kini menjadi daerah Bantul. Kata Gunung Wingko menggambarkan lokasi berbukit yang logis menjadi tempat masyarakat yang masih sederhana.
Sementara informasi yang tertulis dari masa awal belum diketemukan atau masih memerlukan penelitian seperti disinggung di atas. Namun dari informasi prasasti-prasasti yang diketemukan dari abad 6 M sampai abad 10 M, seperti Tukmas, Canggal, Mantyasih, dan Klurak dapat diperoleh keterangan bahwa di daerah Lembah Opak dan Progo bagian utara telah terdapat pedesaan dan kerajaan tua, yaitu Mataram Hindu. Prasasti Tukmas yang berangka tahun 500 Masehi terdapat di desa Dakawu (Grabag) lereng Barat Merapi.
- Prasasti Tuk Mas (Tukumas)
Prasasti Tuk Mas terdapat di desa Lebak di lereng Gunung Merbabu dekat Magelang.Prasasti tersebut dengan huruf Pallawa, bahasa Sansekerta, tahunnya tidak jelas; ahli sejarah memperkirakan pertengahan abad ke-8. Isi prasasti adalah pujian kepada mata air yang keluar dari gunung menjadi sebuah sungai bagaikan Sungai Gangga. Di atas tulisan prasasti tersebut dipahatkan gambar leksana dan alat-alat upacara berupa, cakra, sanka, trisula, kundi, kapak, gunting, dll.
- Prasasti Canggal
Prasasti Canggal berasal dari halaman di atas Gunung Wukir di Kecamatan Salam, Magelang. Prasasti ini dikeluarkan dalam rangka pengangkatan Sanjaya sebagai Raja di Medang. Isi prasasti ini memuji bangunan suci di tepi sungai suci yang letaknya di hutan Kunjarakunja (artinya: hutan banyak gajah) dan Sanjaya adalah keturunan Raja Sanna di Po Pitu. Prasasti tersebut juga menceritakan tentang pembayaran sima.
- Prasasti Mantyasih
Prasasti Mantyasih ditemukan di Mantyasih, Kedu, Jawa Tengah, berangka tahun 907 M dengan bahasa Jawa Kuno. Isi dari prasasti tersebut adalah daftar silsilah raja-raja Mataram, yaitu Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, Rakai Watuhumalang, dan Rakai Watukura Dyah Balitung. Untuk itu, Prasasti Mantyasih atau Kedu ini juga disebut dengan Prasasti Belitung.
- Prasasti Kelurak
Prasasti Klurak Prasasti yang berangka tahun 782 M, di daerah Prambanan menyebutkan tentang pembuatan Arca Manjusri yang merupakan perwujudan Sang Buddha, Wisnu, dan Sanggha. Prasasti ini juga menyebutkan nama raja yang berkuasa saat itu, Raja Indra.
Desa Canggal tempat prasasti lain ditemukan ada di daerah Salam, juga di Desa Kalasan tempat Prasasti Kalasan ditemukan, menggambarkan bahwa pedesaan-pedesaan telah ada di daerah pada bagian utara dataran Opak Progo. Belum terdapat informasi mengenai yang ada di wilayah Bantul. Namun demikian, secara hipotesis dapat dilakukan dugaan, bahwa kemungkinan yang sama telah ada, mengingat daerah lahan yang sangat dekat dengan kondisi lingkungan yang tidak jauh. Dugaan ini rupanya memiliki dasar, terutama setelah adanya penemuan dari salah seorang tenaga ahli arkeologi yang sedang menulis disertasi yang menjelaskan bahwa di daerah Bantul juga terdapat desa-desa tua yang konon tersebut dalam prasasti. Di antara desa yang disebutkan itu ialah termasuk Desa Cepit. Mengapa desa ini masih perlu dilacak? Menurut informasi itu bahwa desa tersebut memang terdapat dalam satu garis geologis yang sama dengan desa lain yang ada di bagian utara.
Apabila keterangan ini juga benar maka berarti dugaan awal yang dikemukakan di atas cukup beralasan. Pastilah kondisi geologis, geografis, ekologis ikut mendukung kelakuan dan kehidupan perdesaan masa itu. Perdesaan yang muncul pada masa itu bisa diduga pedesaan pada masa pra-Islam atau pedesaan pada masa kultur Hindu sedang berpengaruh di Jawa Tengah. Informasi secara samar diperoleh dari berita babad dan tutur yang bersifat legendaris dan mistis, terutama dalam Babad Mangir dalam berbagai versi, Babad Tanah Jawi, dan sumber lainnya. Babad Mangir memiliki informasi penting mengenai sejumlah nama-nama desa yang diperkirakan ada pada sekitar abad ke-14-15 M.
Dari Babad Mangir dapat dibedakan nama-nama tempat atau desa masa sebelum Mangir dan sesudah Mangir. Sementara informasi yang tertulis dari masa awal belum diketemukan atau masih memerlukan penelitian seperti disinggung di atas. Namun dari informasi prasasti-prasasti yang diketemukan dari abad ke-6 sampai abad ke-10, seperti Tukmas, Canggal, Mantyasih, dan Klurak dapat diperoleh keterangan bahwa di daerah Lembah Opak dan Progo bagian utara telah terdapat perdesan dan kerajaan tua, yaitu Mataram Hindu. Prasasti Tukmas yang berangka tahun 500 M terdapat di Desa Dakawu (Grabag), lereng barat Gunung Merapi.
Setelah Mangir muncul, terdapat sejumlah tempat atau desa, meliputi nama Ponorogo (Jawa Timur), Ardi Kidul (Gunung Kidul), Desa Dander, Gua Langse, Pacang Tigan, Parang Tritis, Parang Wedang, Parang(ke)suma, Mancingan, Sewangan, Mangir, dan Juwana (dukuh utara Mangir). Nama-nama tempat itu digambarkan sebagai tempat kediaman penurun Ki Ageng Mangir yang konon datang dari Majapahit, lewat Ponorogo terus menuju Gunung Kidul dan seterusnya berturut-turut ke tempat tersebut di atas. Hal yang menarik dari informasi legendaris ini ialah tentang hal yang menyebutkan kaitan Majapahit Hindu dengan usaha kepergian tokoh dari Majapahit untuk berguru agama Islam, dan menemukannya di sekitar Parang Tritis. Hal tersebut menggambarkan bahwa tempat itu telah mengenal Islam yang bisa diduga pada periode sekitar abad 15 atau sebelumnya. Di komplek daerah Guwa Cerme dan Parang Tritis yang disebut-sebut juga oleh Babad Tanah Jawi, terdapat sejumlah legenda tentang tempat itu, sebagai tempat pusat pertemuan para Wali Songo. Disebutkan juga tokoh mistis penjaga goa tersebut, misalnya Kyai dan Nyai Tawang Gantungan, Nyai dan Kyai Minang Saka (Minang Sukma).
Demikian pula Gunung Mlati dan Ramtamsari. Dalam cerita oral diceritakan tentang adanya permukiman Islam, mungkin mubalig Islam, di Desa Mancingan yang disebutnya sebagai Syeh Maulana Magribi, yang tinggal di bukit dan dikubur di situ. Ia adalah seorang wali dari Demak. Cerita legenda juga menyebutkan tentang tokoh yang dimakamkan di sekitar bukit yang sama yang disebut-sebut sebagai Syeh Bela-Belu dan Syeh Gagangaking. Legenda itu menyebutkan bahwa mereka adalah putra Raja Brawijaya V dari Majapahit. Mereka lari karena Majapahit diserang Raden Patah dari Demak, dan mereka datang ke tempat tinggal Syeh Maulana di Pemancingan untuk berguru agama Islam. Cerita legendaris itu menggambarkan desa tersebut adalah desa-desa Islam, dan menjadi tempat mubalig Islam yang mungkin datang dari luar. Babad Mangir selanjutnya menyebutkan pembukaan Desa Mangir yang terletak di antara Kali Bedog dan Kali Progo oleh Kyai Ageng Wanabaya/Wonoboyo.
Desa berikutnya yang disebut-sebut oleh Babad Mangir dalam menggambarkan rute perjalanan Ki Ageng Mangir yang menghadapi musuhnya (Senapati Ing Ngalogo, ayah dari istrinya yaitu Pembayun) adalah Mangir-Kraton, Sudimara, Gandok, Malangan, Donoloyo/Donopati, Panguraan, Ponconiti, Sitihinggil, Brojonolo, dan Kedaton di Kota Gede. Versi oral legendaris lainnya menyebut desa-desa yang dilewati ialah Desa Dongkelan, Kantil, Cepit (Capit), Bantul, Jodog, dan Cengkiran. Informasi cerita legendaris itu menggambarkan desa-desa itu telah muncul pada masa Senopati menjadi Raja Mataram di Kota Gede (1575 - 1601). Ini berarti bahwa desa-desa itu setidak-tidaknya telah ada di dalam periode akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17. Apabila benar demikian maka sesungguhnya di daerah Bantul bagian barat telah banyak terdapat pedesaan, setidak-tidaknya yang disebut dalam cerita legenda tersebut.
Kepustakaan
Olthof, W.L. (ed. & transl.). 1941. "Babad Tanah Djawi in proza", Javaansche geschiedenis. 2 volume.‘s-Gravenhage : Martinus Nijhoff.
Poerbatjaraka, R.M. Ng. 1958. "Crivijaya, de Cailendra en de Sanjayawamsa". BKI vol. 114, hal. 254-264.
Sartono Kartodirdjo. 1977. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.
1749, A.J. (1832 A.D). Babad Tanah Djawi, NBS 158. 2 jilid, 176 bait. Jogjakarta: LOR 6483.
…. "Sosiologi Pedesaan". [Online ] Terdapat di http://blog.unila.ac.id/rone/matakuliahsemester3/sosiologi-pedesaan/ [19-08-09]
tribinuka @ 21 August 09:18
hebatnya pengetahuan sejarah nenek moyang kita. saat mataram baru (islam) berdiri belum ada buku prasejarah jawa dan internet, tetapi nama yang digunakan bisa persis sama dengan nama kerajaan yang sudah ada ribuan tahun lampau yakni mataram kuno (hindu)
hebatnya pengetahuan sejarah nenek moyang kita. saat mataram baru (islam) berdiri belum ada buku prasejarah jawa dan internet, tetapi nama yang digunakan bisa persis sama dengan nama kerajaan yang sudah ada ribuan tahun lampau yakni mataram kuno (hindu)
Posting Komentar Anda



