Keteladanan Panji dalam Pengembangan Lingkungan Kesenian Lokal
Drs. M. Dwi Cahyono, Mum
4 March 2010

KETELADANAN PANJI DALAM PENGEMBANGAN
LINGKUNGAN KESENIAN LOKAL

Oleh:
Drs. M. Dwi Cahyono, Mum
(Universitas Negeri Malang)

 

A. P r o l o g
     Tema yang diangkat dalam Seminar dan Lokakarya pada Pasamuan Budaya Panji Internasional ke II (18-20 Nopember 2008) di PPLH Seloliman adalah  “Budaya Panji dan Lingkungan Hidup”, yang secara khusus menyoroti “Kearifan Lokal Budaya Panji terhadap Lingkungan”. Tersirat di dalam tema ini, pertama,  Panji dipandang sebagai manifestasi budaya. Kedua, sebagai manifestasi budaya, daripadanya bisa dipetik makna terkait dengan kearifan lokal (local wisdom). Ketiga, kearifan lokal sebagai hasil pemaknaan terhadap Budaya Panji bermanfaat bagi kepentingan interaksi manusia terhadap lingkungannya dalam arti luas. Siratan yang terkandung dalam tema tersebut tentulah hal baik, meski tak mudah untuk dapat memformulasikan, apalagi diimplementasikan bagi kehidupan masa kini dan mendatang. Namun demikian, tak harus kita menyerah karenanya.

     Tulisan ini merupakan suatu bentuk upaya untuk memformulasikan perihal kearifan lokal yang disiratkan oleh Budaya Panji terkait dengan pengembangan lingkungan setempat. Mengingat luasnya cakupan dari apa yang disebut dengan “lingkungan”, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial-budaya, maka penulis sengaja membatasi telaah pada lingkungan budaya (cultural ecology), dan lebih khusus lagi lingkungan kesenian, dimana kesenian merupakan salah satu diantara unsur-unsur budaya universal (culture universal). Dalam telaah ini, perilaku Panji, yang merupakan tokoh sentral dalam “Cerita-cerita Panji”, diposisikan sebagai perilaku arif sang tokoh, yang patut untuk diteladani bagi pengembangan lingkungan kesenian lokal. Panji adalah tokoh teladan dari masa lampau, dan perilakunya merupakan “teladan arif” dalam mengembangkan lingkungan – tidak terkeculi pada pengembangan lingkungan kesenian lokal. Keteladanan Panji sebagai seseorang yang oleh Wilem Hubert Rassers (1959) dipredikati sebagai “Pahlawan Budaya (Culture Hero)” masa lalu (masa Hindu-Buddha) itulah yang kiranya perlu diupayakan untuk dapat ditransformasikan bagi pengembangan kesenian lokal pada masa kini maupun mendatang.  

B. Panji, Sang Teladan
     Predikat “sang” bagi Panji bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jawa Kuna, partikel “sang” digunakan untuk menyebut orang yang mulia (Zoetmulder 1995). Sebagai ksatria laki-laki, baik dalam lakon ataupun di dalam realitas sosial seba-gaimana diinformasikan dalam sumber data epigrafis masa Hindu-Buddha, maka layaklah Panji menyandang predikat ini. Selain strata sosialnya yang ksatria itu, predikat “sang” baginya layak pula diberikan lantaran keteladanan yang diberikan olehnya. Sebagai tokoh teladan, Panji layak disebut “Sang Teladan”. Berikut ditelaah mengenai bagaimana Panji dicitrakan sebagai “Sang Teladan”, baik pada susastra Panji maupun dalam sumber data tekstual dan artefaktual masa Hindu-Buddha. Sebelum menelaah itu, ada baiknya terlebih dahulu ditelaah mengenai makna keteladan di dalam proses pembelajaran (inkulturasi) budaya, khususnya dalam konteks inkulturasi budaya Jawa.  

     1. Makna Keteladan dalam Inkulturasi Budaya Jawa
     Secara harafiah, kata “teladan” berarti sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (mengenai: perbuatan, kelakuan, sifat, dsb.). Dalam bentuk kata jadian, kata “keteladanan” berarti hal yang dapat ditiru atau dicontoh (Moeliono, 2002:1160). Dalam bahasa Jawa Baru dikenal istilah “tulodo”. Sementara, dalam bahasa Jawa Kuna terdapat istilah “tulad”, yang secara harafiah berarti contoh, model, teladan. Selain itu terdapat istilah “tuladan”, yang sama arti dengan kata “tulad” (Zoetmulder, II,1995:1286). Kata “tuladan” disebut dalam sejumlah susastra Jawa Kuna, antara lain di dalam Adiparwa (145), Ramayana (1.60, 17.70, 24. 50), Bhomakawya (81.7) dan Partayajna (1.1). Dapat dipastikan bahwa kata “teladan” di dalam bahasa Indonesia itu diserap dari kata dalam Bahasa Jawa Kuna “tuladan”. Penyebutan kata “tulad” dan “tuladan” dalam susastra Jawa masa lalu menjadi indikator kuat bahwa budaya memberi contoh yang baik untuk ditiru oleh orang lain telah mentradisi dalam budaya Jawa.

     Model pendidikan dengan memberi contoh berupa perbuatan nyata yang baik untuk ditiru oleh orang lain sebagai bentuk upaya dalam rangka tranformasi nilai adalah model pendidikan yang telah tua usianya. Oleh karenanya bisa difahami bila di tengah-tengah masyarakat terdapat apa yang disebut sebagai “tokoh teladan, orang model, tokoh panutan” atau sebutan lain yang serupa arti. Terkait dengan itu dalam kajian Sosiologi terdapat konsep tentang “kelompok teladan (reference group)”, yang menunjuk pada arti kelompok-kelompok yang memberikan teladan kepada seseorang untuk mengatur kelakuannya sebagaimana yang dicontohkan atau diteladan oleh kelompk tersebut (Polak, 1964:107). Dalam hal ini terjadi proses peniruan dari seseorang terhadap nilai-nilai yang diteladankan oleh kelompoknya. Dengan cara demikian, hasrat seorang individu untuk dapat diterima oleh kelompoknya dapat tercapai. Caranya adalah melalui peniruan terhadap contoh teladan yang diberikan oleh kelompok teladannya.

     Pemberi “contoh teladan” itu tidak musti suatu kelompok. Individu tertentu dapat pula menjadi pemberi teladan. Untuk hal demikian muncul istlah “tokoh teladan” atau bisa juga disebut “orang model, tokoh panutan”. Untuk istilah terakhir tergambar bahwa apa yang dilakukan oleh sang tokoh tersebut patut dianuti oleh orang lain. Budaya meneladani, menganuti, mencontohi atau meneladani itu sejalan dengan adanya naluri di dalam diri manusia untuk “meniru (imitation)” orang lain, khususnya orang lain yang menarik perhatiannya. Dalam konteks kajian Antropologi terdapat apa dinamai “orientasi vertilal”, yaitu suatu gambaran mentalita manusia yang cenderung melakukan pencontohan terhadap perilaku orang yang berada pada posisi atas, yang dipandang sebagai tokoh teladan baginya.

     Gambaran mengenai cara mendidik dengan memberi contoh teladan acap dijumpai di dalam kitab sastra, utama dalam susastra agama, kawruh, niti, dsb. Walaupun tidak secara khusus dimaksudkan sebagai susastra didik, namun dari dalam cerita-cerita Panji dapat pula dipetik makna pendidikan, tak terkecuali terkait dengan pengembangan kesenian. Salah seorang tokoh dalam cerita-cerita tersebut, yang pada masa lampau menjadi contoh teladan dari orang Jawa adalah tokoh Panji.

C. Cerita Panji, Lakon Orisinal Jawa
     1. Orisinalitas Jawa pada Cerita-cerita Panji    
     Panji adalah seorang bangsawan yang hidup di tengah-tengah istana yang bersuasana Jawa. Ia berhasil memerintah di kerajaan Kadiri secara tentram bersama permaisurinya (Dewi Candrakirana) setelah melewati serangkaian tualang.


     Dalam bentuk cerita, baik cerita lisan, tertulis ataupun visual (relief candi), cerita Panji adalah sekumpulan cerita, yang pada masa Hindu-Buddha di Jawa hanyalah satu diantara berbagai bentuk cerita yang ada. Kendati demikian, ditilik dari isi dan cara penceritaannya, cerita Panji memiliki kekhasan atau keunikan jika dibandingkan dengan cerita-cerita lainnya.

     Dari segi isi cerita (internal evidensi)-nya, cerita Panji memuat kisah mengenai drama kehidupan manusia, dengan mengambil kesejarahan Jawa masa pemerintahan kerajaan Kadiri-Jenggala dan Majapahit sebagai latar pengkisahan. Hal ini menjadi petunjuk bahwa cerita Panji adalah cerita Jawa asli (orisinal), yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah budaya Nusantara (Bali, Sunda, Lombok, Palembang, Melayu) serta di berbagai negara di daratan Asia Tenggara (Poerbatjaraka, 1968:408-409; Zoetmulder, 1983:533; Baried, 1987:1-2). Cerita- cerita lain di Jawa pada masa terdahulu ataupun dalam masa yang bersamaan latar pengkisahannya diambil dari peristiwa dan lingkungan hidup di luar Pulau Jawa. Wiracarita Ramayana, Mahabarata ataupun gubahan dari bagian-bagiannya mengambil latar peceritaan India. Demikian pula cerita kebuddhaan, seperti Jatakamala, Ganda wyuha, Awadhana. dsb. juga berlatar penceritaan India.

     Berbeda dengan dewata India [baik Hindu ataupun Buddhis] yang digambarkan dengan busana dan aksesori yang lengkap bahkan terkesan berlebihan, tokoh Panji digambarkan dengan mengenakan busana yang lebih bersahaja. Hal ini sangat mungkin disebabkan Panji adalah tokoh manusia biasa, yang merupakan Pangeran Jawa dan bukan pahlawan pendatang seperti Rama dan Pandawa (Munandar, 1990: 181-182). Atribut yang khas dari Panji adalah mengenakan penutup kepala yang disebut dengan  “tekes” dan membawa keris (Kempers, 1959: 99). Kendatipun demikian, tidak semua figur pria bertekes dalam relief candi dan arca perwujudan adalah tokoh Panji (Munandar, 1990:184). Misalnya, pada relief cerita Kunjarakarna di candi Jajaghu, Sang Satyawan di Pandapa Teras II Candi Penataran, Sri Taniung pada sejumlah candi dsb.
 
     Dalam bentuk teks yang tua, teks cerita Panji ditulis dengan menggunakan Bahasa Jawa Tengahan dan metrum kidung (Poerbatjaraka, 1988:408; Zoetmul-der, 1983:510, 523). Cerita Panji tidak mempergunakan bentuk prosa (gancaran) dan puisi dalam wujud kakawin, melainkan dalam bentuk sastra kidung, yaitu suatu bentuk puisi yang dipandang lebih mudah dari pada susastra parwa – yang menggunakan bentuk pusisi India, yaitu sloka. Kidung adalah cipta sastra Jawa Tengahan berbentuk puisi. Poerbatjaraka menyebutkan bahwa kidung (tembang tengahan) pada hakikatnya adalah tembang macapat yang jitu. Sifat yang kidung (metrum tengahan) adalah kadang-kadang dalam satu pupuh dipergunakan lebih dari satu pola metrum (Poerbatjaraka 1957:75). Kebanyakan kidung ditulis di Bali dan semua sastra Jawa Tengahan yang dikenal dewasa ini berasal dari Bali se-telah kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan. Manakala kebudayaan Hindu di Jawa mengalami masa surut, utamanya sejak keruntuhan Majapahit, sebaliknya justru di Bali kebudayaan Jawa Hindu dipelihara dengan baik (Bagus, 1975:171). Dalam susastra kidung, umumnya cerita ditempatkan di dalam atau di sekitar salah satu keraton di Jawa, tapi rupanya keraton di Bali lah yang menjadi contohnya. Oleh karena itu, kendatipun ditulis di Bali, namun berbagai susastra kidung menyediakan berbagai bahan untuk meneliti mengenai sejarah kebudayaan Bali maupun Jawa (Zoetmulder, 1985: 512).

     Bahasa yang dipakai dalam cerita Panji adalah Bahasa Jawa Tengahan, yaitu suatu periode di dalam perkembangan bahasa Jawa yang menjadi bahasa sehari-hari pada masa Majapahit (Poerbajaraka, 1952: 71). Dalam perkembangannya, banyak cerita Panji yang ditulis kembali menggunakan bahasa Jawa Baru dengan metrum macapat, yaitu puisi Jawa berbahasa Jawa Baru sebagai pengantar dan diikat oleh pola persajakan, yang meliputi guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Setiap pola metrum memiliki pola persajakan tersendiri. Pemba-caan macapat menggunakan titilaras atau ditembangkan (Karsono, 1992:9).
    
     2. Makna Kultural Orisinalitas Jawa pada Cerita Panji
      Sebagai suatu cerita yang memiliki indikator orisinal Jawa, maka citra budaya yang terdapat di dalamnya adalah citra budaya Jawa. Panji adalah ksatria Jawa, dan perilaku budayanya selaras dengan kebudayaan Jawa pada mana cerita ini ditulis, yaitu kebudayaan Jawa pada masa Keemasan dan Akhir Majapahit (XIV - XVI Masehi). Oleh karena itu, cerita Panji dapat dijadikan sebagai sumber informasi untuk mekonstruksikan budaya Jawa masa Majapahit dan gambaran cair mengenai kesejarahan Jawa pada masa pemerintahan kerajaan Kadiri-Jenggala. Dikatakan sebagai “gambaran cair”, karena kesejarahan Kadiri-Jenggala dalam cerita Panji telah mengalami banyak pembiasan, lantaran ada jeda (gab) waktu yang panjang (satu abad atau lebih) antara peristiwa yang diceritakan dan waktu penceritaannya. Pembiasan dari peristiwa yang sesungguhnya terjadi lataran cerita Panji dimaksudkan sebagai karya sastra, bukan karya historiografi.

     Terlepas dari adanya bias itu, ada banyak pernak-pernik budaya di Jawa abab XIV-XVI Masehi yang tersuratkan ataupun tersiratkan di dalam cerita-cerita Panji. Terdapat tak kurang dari 61 buah susastra, baik kategori susastra keraton ataupun luar keraton, yang di dalamnya memuat infomasi mengenai seni pertunjukan Jawa dan Bali (Cahyono, 2003:94), salah satu diantaranya adalah susastra Panji. Susastra ini dapat dijadikan sebagai informasi mengenai seni pertunjukan di Jawa dan Bali pada masa itu (XIV-XVI Masehi), Memang cerita Panji itu bukan bertujuan untuk dokumentasi sejarah, namun setidak-tidaknya dapat dimasukkan ke dalam kategori karya sastra yang disusun pada kurun waktu tertentu dan memuat kisah tentang keadaan masyarakat semasa (Soebadio, 1992:7). Susastra yang demikian acapkali dapat memberikan informasi mengenai kehidupan bermasyarakat dan berbudaya pada masanya, yang bermanfaat bagi riset sejarah, termasuk penelitian mengenai sejarah seni pertunjukan. Cerita Panji dengan demikian dapat dijadikan sebagai salah satu sumber sejarah mengenai seni pertunjukan di Jawa pada masa Majapahit dan sesudahnya.    

D. Keteladanan Panji dalam Pengembangan Kesenian Lokal
     Bagian ini secara khusus menelaah tentang: (1) teladan-teladan yang diberikan oleh tokoh Panji dalam bidang kesenian, dan (2) bagaimana menjadikan teladan Panji sebagai hal yang patut diteladani dalam rangka pengembangan kesenian lokal. Pada bagian pertama akan ditelaah mengenai teladan-teladan yang diberikan oleh Panji, baik sebagai pelaku seni, pengembang kesenian, ataupun kemasan cerita Panji sebagai lakon dalam seni pertujukan Jawa masa lampau.  Bagian selanjutnya menelaah tentang minat warga atau khalayak penonton terhadap sajian seni yang dipersembahkan oleh Panji. Pembahasan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang seberapa jauh Panji populer sebagai pelaku kesenian di masyarakat. Apabila terbukti sebagai tokoh populer, maka cukup alasan unuk menyatakan Panji sebagai orang model (tokoh panutan).  

     1. Contoh Teladan Panji dalam Pengembangan Kesenian Lokal
     1.1. Para Bangsawan sebagai Pelaku Seni
     Dalam sejumlah cerita Panji, tokoh-tokoh Panji digambarkan sebagai pribadi yang bukan saja gemar namun juga piawai dalam berolah seni. Panji acap diceritakan sebagai pemain musik, penari, pemain drama (sendratari) dan penulis puisi. Berikut dikemukakan sejumlah contoh kutipan dari naskah-naskah Panji mengenai hal itu. Namun sebelum memaparkan tentang itu, terlebih dahulu akan dipaparkan uraian dalam prasasti dan susastra-susastra lama yang menyatakan bahwa seorang raja bukan hanya mengambil posisi sebagi pelindung seni, melainkan sebagai pelaku seni yang handal.
 
     Prasasti Alasantan (IV.17-19) dari raja Sindok misanya, menyebut bahwa ketika ritus manusuk sima, Sri Maharaja Pu Sindok menari (mangigel) dengan iringan tuwung, bungkuk, dan ganding. Begitu pula yang diberitakan dalam prasasti Paradah II (B.46), bahwa pada acara manusuk sima Pu Sindok mangigel dengan iringan tuwung, bungkuk, ganding dan rawanahasta. Sementara dalam prasasti Waringinpitu (IIIb.1) diberitahukan bahwa Bhatari ring Tanjunpura terpuji karena nyanyiannya yang merdu (sadgitasan kirttana maniya).
 
     Kakawin Sumanasantaka (CLXXXIII.1) mengkisahkan mengenai para raja yang mengikuti swayambhara untuk mendapatkan putri Indumati dalam memain-kan kidung. Seorang raja juga diberi kualifikasi sebagai “prasiddha guru ning gu-rulaghu (sempurna sebagai guru seni sastra)”. (Sedyawati, 1983:624). Demikian pula dalam kitab Pararaton (XXIV.33) diceritakan bahwa raja Jayakatong menulis syair “Wulir Polaman” pada tempat penahanannya di Hujung Galuh, yang isinya mengkisahkan seorang gadis pertapa dalam menerima pelajaran (Zoetmulder, 1985:182). Kemampuan berseni sastra bagi seorang pangeran juga diberitakan oleh kakawin Sumanasantaka (CLIV.7-CLVII.1), yang menyatakan bahwa kepandaian menulis puisi sebagai bakat alamiah seorang pangeran (Zoetmulder, 1985: 164-165, 180).
 
     Kidung Harsyawijaya (I.27) menyebutkan bahwa Pangeran Wijaya adalah bijak dan cerdas, terdidik dalam bidang seni (kalangon) dan setiap cabang musk, termasuk dalam memainkan gamelan (Zoetmulder, 1985:181). Gambaran demikian didapati dalam kakawin Nagarakretagama, yang meginformasikan bahwa Hayam Wuruk piawi dalam menari (angigel) – tak terkecuali tari topeng (anapuk), melaras lagu (resp alango), menyanyi (gita) dengan suara merdu, melawak (pa-banwal) dengan ucapan-ucapan yang mengenai sasaran dan berperan sebagai wanita (travesty) dalam suatu pertunjukan seni. Sementara, para putri menyanyi dan dan membaca puisi (Pigeaud, 1960, I:49, 70-71, III: 108, IV:232-9). Gambaran demikian juga didapati dalam kitab Pararaton (VIII), yang menyatakan bahwa raja Hayam Wuruk piawai dalam memainkan berbagai cabang seni pertunjukan. Apabila memainkan tari topeng (anapuk) panggilannya “dalang Tritaju”, apabila memerankan tokoh wanita (amadoni) pada seni drama panggilannya “Pager Antimun”, dan bila memainkan wayang (awayang) maupun melawak (abanyol) maka panggilannya adalah “Gagak Ketawang” (Brandes, 1920:35). Masih dalam Nagarakretagama (XCI.5) diberitakan bahwa pada suatu pertunjukan raket (sendratari dengan cerita Panji), raja Kretawardana berperan sebagai panjak (penabuh gamelan pembuka) (Pigeaud, 1960, I:70).

     Selain raja, para pejabat kerajaan juga digambarkan sebagai ahli dalam berolah seni. Dalam prasasti-prasasti masa Singhasari misalnya, sang Ramapati dinyatakan sebagai seseorang yang memiliki kemahiran dalam bersusastra (wag-mimaya) (Sedyawati, 1985:329). Para seniman profesional ada yang berasal dari lingkungan bangsawan. Dalam kaitan itu, dapat dikatakan bahwa musik, tari, dan susustra merupakan bagian dari pendidikan seorang yang terhormat (Moertono, 1985:111). Dalam kaitan itu, cukup alasan untuk menyatakan bahwa pendidikan seni merupakan program pendidikan yang dipandang penting pada waktu itu.


     1.1.1. Panji sebagai Musisi
     Panji acapkali digambarkan sebagai piawai dalam memainkan waditra (alat musik), utamanya salukat (gambang) dan wina. Gambaran yang demikian dibicarakan dalam relief maupun naskah cerita Panji. Dalam relief di teras I Pertapaan Kendalisodo di Gunung Pananggungan digambarkan Panji dan kekasihnya yang tengah berada di tepian Telaga Pager. Panji memangku kekasihnya, sambil tangannya memainkan bar-zhiter, yang bentuknya mengingatkan kita pada waditra lawu-wina di India.
 
     Relief Panji yang tengah memainkan salukat (berjumlah 14 bilah) dengan sepasang alat penabuh yang masing-masing bercabang dua (pola Y) dijumpai di Pendapa Teras II Candi Penataran panil ke-52. Dalam susastra Panji, kepiawaian Panji dalam melaras gambang diceritakan dalam kitab Panji Anggraeni (XX-XXI), bahwa Panji melaras gambang kepunyaan Dewi Sekartaji yang suaranya sumbang (Poerbatjaraka, 1968:2001-2002). Kepiawaian Panji dalam melaras salukat atau gambang bisa dibandingkan dengan kepiawaian Abimanyu sebagaimana dikisahkan dalam kitab Gatotkacasraya (X.9). Dalam kidung Malat (XC) diceritakan bahwa Senetan digambarkan sebagai piawai memainkan gambang dan guntang (Poerbatjaraka, 1968:356). Masih di dalam kidung Malat (XC), dikisahkan bahwa putri raja Gegelang piawai dalam mencipta lagu dan kemudian dimainkannya dengan gambang. Pada bagian lain dari kitab ini (Mal XXII-XXIV) diceritakan bahwa  anak angkat Raja Matahun trampil memainkan gambang. Sementara itu, dalam Hikayat Panji Kuda Semirang diceritakan bahwa Curangtunagaluh trampil memainkan keromong, dan Bajranata piawi memainkan kendang (Poerbatjaraka, 1968: 11).
 
     Bukan hanya Panji yang dilukiskan sebagai piawai dalam melaras salukat, namun dalam kidung Malat (LXXXIX), salah seorang istrinya, yaitu Ngrangkesari, juga piawai dalam memainkan salukat. Masih dalam kidung Malat (XCIX,C) diceritakan bahwa putri-putri bangsawan di negeri Jenggala piawai dalam menari dan memainkan gamelan. Di dalam cerita Panji yang lain, yaitu Panji Angrongagkung (II), istrinya lain, yaitu Dewi Sekartaji, juga digambarkan sebagai ahli dalam memainkan gambang. Sementara itu, kitab Panji Anggraeni (XXI) memuat kisah mengenai tokoh Onengan dan Candrasari, yang trampil dalam menembang dan memainkan gambang.
 
     Sementara itu, kitab Panji Kuda Semirang menceritakan bahwa Panji dilukiskan sebagai orang yang piawai dalam memainkan gamelan, utamanya waditra rebab (Poerbatjaraka 1968:11). Ada kemungkinan bahwa rebab yang dimaksud adalah semacam bar-zither, yang di India dinamai “lawu-wina”, sebagaimana secara visual digambarkan dalam relief di teras I Penden Berundak Kendalisodo di Gunung Penanggungan. Selain Panji, dalam kidung Malat (XXIV, LXVII, LXXXIII, dan LXXXV) dikisahkan bahwa raja Lasem terampil dalam memainkan wayang. Adapun tokoh Gunungsari dilukiskan piawai dalam menabuh gamelan – utamanya kangsi – serta menyajikan resitasi cerita (abacangah) (Poerbatjaraka, 1960: 305, 337,350-351).
 
     1.1.2. Panji sebagai Penari
     Dalam kitab Wangbang Wideya (III.89b-93b, 95a-b) diceritakan bahwa pada hari yang ke-30 bulan IV, Raden Singhamantra beserta kerabatnya (:  Raja Daha, Jagaraga dan Putrasena) menari (adumpuli). Ketika gong berbunyi, maka para bangsawan mulai menari (angigel). Raden Singhamantra menari tarian perang dengan membawa perisai dan tombak. Kidung Malat (VII.47a) memberi kita gambaran mengenai aktifitas menari sambil bernyanyi.
 
     Pada bagian lain dalam kitab itu (Malat IX.195b) juga diceritakan tentang kegiatan menari (atandak) sambil menyanyi (angidung) dengan iringan kendang cina (Zoetmulder, 1985). Pada bagian yang lain lagi (Malat LXXIX) disebutkan bahwa dalam suatu bangunan di keraton Gegelang, Bayan dan Sangit menabuh gamelan. Raja Gegelang juga hendak memainkan gamelan. Orang-orang diminta untuk menari tutungeyan. Bagian lainnya (Malat LXXXVIII) menceritakan bahwa di alun-alun disajikanlah berbagai macam pertunjukan, antara lain tari wireng (tarian prajurit muda). Bagian yang lain lagi (Malat LXXXIX) diceritakan bahwa Gunungsari tengah menjumpai Nrangkesari, yang kala itu memainkan salukat. Mereka memperbincangkan para penabuh gamelan, penari dan sebagainya. Kidung Malat (XCIX) juga menyebut tentang pentas tari di tepi Segara Kidul pada malam hari oleh sang putri di atas panggung. Para penonton kagum menyaksikan tariannya. Sementara itu kitab Panji Angraeni (XL.VIII) menyebutkan bahwa setelah berjumpa kembali dengan anggota keluarganya, lantas diakan pesta besar. Para putri menari sebagai bedaya (Poerbatjaraka, 1968:241).
 
     Gambaran Panji sebagai panari juga didapat dalam relief candi. Misalnya, di batur Candi Rimbi terdapat pahatan yang menggambarkan seorang bertopi tekes tengah menarikan tarian tertentu yang diiringi dengan waditra reyong. Penari digambarkan mengenai topeng berbentuk kepala binatang. Tarian ini adalah tari topeng tunggal, dengan gerak tari cukup lembut yang terdiri atas gerak-gerak kecil. Selain itu pada candi Rimbi juga dijumpai pahatan yang menggambarkan dua orang bertopi tekes tengah menyajian tarian perang. Pijakan kaki dan gerak torsonya mirip dengan gaya tari yang berimbang, namun dengan angkatan lutut yang mengisyaratkan gerakan yang lebih besar.

     1.1.3. Panji sebagai Pemain Seni-drama dan Sendratari
     Kitab Wangbang Wideya (I.49b-50a, 57b, 59a-62a, III.81b-82a, 89b-93a, dan 151a) menggambarkan wangbang Panji Wireswara sebagai trampil memainkan raket lalangkaran,  yakni suatu bentuk baru dari gambuh.  Selain itu, juga trampil memainkan patotoyan (menyerupai raket) dan wayang prawa (Robson, 1971:80, 84, 86, 192, 196-198 dan 224). Sementara dalam Panji Kuda Semirang diceritakan bahwa ketika Panji Yudarmara (Perbatasari) tiba di Gegelang untuk mencari saudaranya, ia menyamar sebagai dalang dengan nama “Surenggana”, dan para pengikutnya menjadi panjak (pemin musik). Sejalan dengan itu, Kidung Malat (XXIV, LXVII, LXXXIII, LXXXV) mengkisahkan bahwa raja Lasem terampil memainkan wayang. Sedangkan Gunungsari piawai dalam menabuh gamelan – utamanya kangsi – serta menyajikan resitasi cerita (abacangah) (Poerbatjaraka, 1960:305,337,350-351).

     Kemampuan dalam mendalang juga dimiliki oleh Carang Lengkara, yang dalam kitab Wangbang Wideya (III.97b-98a) diceritakan sedang memainkan wayang, dengan lakon “Asmaradahana” (Teeuw, 1971:90, 198-200). Masih dalam Wangbang Wideya (67b-74a) diceritakan bahwa ketika dipentaskan wayang pra-wa yang dimainkan oleh Panji Wireswara, R. Srenggayuda memainkan gender berukuran besar, bagus dan suaranya lembut menyenangkan. Sementara dalam Kidung Malat (XXXI-XXXII, LVII, LXVII, LXIX, LXXI, LXXXIII dan LXXXVII) diceritakan bahwa raja Lasem trampil memainkan wayang. Adapun Gunungsari dilukiskan sebagai seorang yang piawai dalam menabuh gamelan (utamanya kangsi) dan menyajikan resitasi cerita (abacangah) (Poerbatjaraka, 1960: 305, 337, 350-351).
 
     Perihal sendratari antara lain diberitakan dalam Kidung Malat (VIII.162a), yang menceritakan bahwa dalang Anteban diminta untuk mempertunjukkan tari topeng. Tingkahnya diharapkan untuk ditertawakan. Pada bagian lain dari kitab ini (Malat IX.45b) disebutkan kata “anampuk” – semestinya adalah “anapuk”, dalam arti menari topeng (Zoetmulder, 1982:1949). Sementara itu, kitab Panji Kuda Semirang menceritakan bahwa ketika berlangsung pernikahan di Daha, pasangan pasangan pengantin diarak berkeliling di alon-alon untuk menyaksikan berbagai pentas yang didirikan dalam acara pekan raya, yang antara lain berupa pementasan tari topeng (Poerbatjaraka, 1968:41). Bahwa tari topeng dengan lakon Panji telah menjadi sajian yang diminati, antara lain tercerimin di dalam istilah “amenji-menji” (Kitab kakawin Kresnayana XXXI.9).

     Tarian ini dapat disamakan dengan “raket”, yaitu tarian yang mengenakan topeng sebagai properti (Zoetmulder 1982:1491). Menurut Soedarsono (1990: 5-8). Lakon yang dibawakan dalam raket adalah cerita Panji. Raket adalah nama lain dari gambuh, yang sejak dulu hingga kini senantiasa memainkan cerita Panji (Bandem, 1976/1977; Robson, 1971:33). Perihal ini antara lain disebutkan dalam kitab Wangbang Wideya (I.62a) dan Kidung Harsyawijaya (VI.91a). Varian raket dinamai “raket lalangkara”, yang menurut Robson (1971:86) adalah bentuk baru dari gambuh.

     Wangbang Wideya (I.59a-68b) menceritakan bahwa untuk mempertemukan Sang Dewi dengan Panji Wireswara, maka Bayan maupun Carang Lengkara mengusulkan agar panji memainkan raket, Sang putri pasti tertarik menyaksikan, sebab para pengikut Panji adalah para pemain yang berbakat (Robson 1971:86). Carang Lengkara berkata kepada Raden Singhamantra bahwa Panji Wireswara hendak mementaskan raket lalangkaran. Sang putri mengatakan bahwa permainannya sangat baik, sehingga ia menyaksikan berlama lama. Untuk pementasan itu, Ranggawicitra berkata: ……..… kamu memerankan Kulante, Ajaran Wipaksa memainkan Dang Guru dan Banyak Sudira memainkan musik (agamel). Carang Lengkara melawak (anyapetteta)”.  Perihal Gambuh, sejauh ini hanya ditemukan di dalam kitab Wangbang Wideya (I.60b), yang dimainkan oleh Panji Wireswara. Bagian lain dari susastra ini (Wangbang Wideya I.90a) menyebut tentang adanya busana pemain gambuh berwarna hitam dan mengenakan pula kain (wastra).

     Pertunjukan wayang juga banyak dimainkan oleh para Panji. Wangbang Wideya (III.67b-74b) misalnya menyebut tentang wayang lemah, yang dimainkan pada siang hari. Sementara itu, kidung Malat (XII.67b, XIII.72b.) menyebutkan pertunjukan wayang (aringgit) semalaman, berganti dengan prawa dan carita.  Lakon yang dibawakan dalam pertunjukan wayang prawa yang diberitakan oleh kitab Wangbang Wideya (I.77a, 86b, III.67a-74b) adalah lakon “Jinawikrama” dan “Suprabha Duta”. Ada jenis pertunjukan wayang lainnya, yang dalam Kidung Ma-lat (XXIV) disebut wayang guntang. Bagian lain Kidung Malat (XCI) menceritakan bahwa ketika singgah di pertapaan dalam perjalanannya menuju ke Mangebel, pada malam hari Gunungsari menanggap wayang untuk Nrangkesari dengan da-lang Titahjiwa, dan lakon yang dibawakan “Matinya Ahimanyu”. Pada bagian lain lagi (Malat XCII) diceritakan bahwa di suatu pesanggrahan para putri mengikuti dan menonton cerita yang disajikan oleh dalang Jaruman. Setelah melihat kehadiran Panji, maka para putri memintanya untuk menjadi dalang. Panji duduk di depan layar, sementara para penonton berada di belakang layar. Pertunjukan wayang juga disebut dalam bagian kidung Malat (LXXV) bahwa pada malam ke-10 bulan Kartika, tepatnya di malam Galungan, Panji mengadakan selamatan, antara lain dengan mementaskan wayang. Dalam pementasan wayang, menurut kidung Malat (XIII.73) dinyanyikan kidung Wukir Polaman. Sementara itu Hikayat Panji Kuda Semerang menceritakan bahwa ketika Panji Yadasmara (Perbatasari) pergi ke Gegelang guna mencari saudaranya, ia menyamar sebagai dalang dengan nama Surenggana (Poerbatjaraka, 1968:33-34).
 
     Beberapa lokon wayang yang diberitakan di dalam susastra Jawa sebagai berikut: (1) Jinawikrama, dimainkan dalang Raden Wirastrasari dalam pertunjukan wayang prawa, (2) Suprabaduta oleh Panji Wireswara dalam wayang prawa, (3) Smaradahana oleh Carang Lengkara dalam pertunjukan wayang, (4) Matinya Anhimanyu oleh dalang Titah Jiwa dalam wayang, (5) Angguntang oleh raja Lasem dalam wayang, (6) Mahisanada oleh Raja Lasem dalam ringgit, (7) Pertemuan salya dan Kekasinya oleh Raja Lasem dalam wayang, (8) lakon Rama dan Bhoma oleh dalang Surenggana dalam wayang. Demikianlah, ada berbagai judul lakon wayang yang dimainkan, yang sumber ceritanya diambil dalam Mahabarata maupun Ramayana. Lakon Panji nampaknya dipentaskan secara khusus pada  sendratari topeng, baik yang disebut tapuk, tapel, raket, raket lalangkara, ataupun dalam gambuh.

     1.1.4. Panji sebagai Seniman Serba Bisa
     Dalam diri seseorang boleh jadi terdapat beberapa ketrampilan seni sekaligus. Kidung Hasyawijaya (II.143) dan kidung Malat (1.41) misalnya menyatakan bahwa para rakawi trampil dalam tari topeng dengan adegan sisipan yang komis (men-men), menyanyi (amidu), penutur cerita atyau dalang. Tak ada acara yang boleh dibilang lengkap bila rakawi tidak turut serta. Demikian pula dalam pesta-pesta, entah yang religius atau tidak (Zoetmulder, 1985:185).
 
     Kemampuan yang demikian juga dimiliki oleh para Panji. Misalnya, dalam Kidung Malat (XXXI-XXXII, LVII, LXVII, LXIX, LXXI, LXXXIII dan LXXXVII), Panji digambarkan piawai memainkan tembang dari “Kidung Jamur Juwung”, memainkan lagu yang digubah dengan gambang, memainkan gamalen, mencipta kidung, menyanyi dan memainkan kangsi (Poerbatjaraka, 1968: 310-311, 330, 337-338, 340, 342, 353-354). Demikian pula dengan Gunungsari sebagaimana diceritakan dalam Kidung Malat, bahwa ia piawai dalam menabuh gamelan – utamanya kangsi – serta menyajikan resitasi cerita (abacangah) (Poerbatjaraka, 1960: 305, 337, 350-351). Dalam sejumlah susastra Panji, para Panji juga dicertakan sebagai dalang yang handal, baik dalam pertunjukan wayang dengan lakon wiracarita Mahabarata dan Ramayana ataupun dalam pentunjukan sendratari topeng yang secara khusus mengangkat lakon panji sebagai materi cerita.
    
     1.2. Panji sebagai Pengembang Kesenian
      Predikat “Panji” acap ditempelkan kepada bangsawan (ksatria) Jawa, khususnya bangsawan Jawa masa Majapahit. Gambaran tentang bangsawan masa Majapahit dalam mengembangkan kesenian itu, oleh karenanya dapat dijadikan sebagai “teropong” untuk mengungkap upaya para Panji dalam mengembangkan kesenian di lingkungan istana ataupun di luar Istana. Gambaran yang demikian antara lain didapati dalam Hikayat Panji Kuda Semirang, yang menceritakan bahwa raja Kahuripan mendidik ketiga putranya dalam segala kepandaian, termasuk dalam ilmu perang dan bunyi-bunyian (Poerbatjaraka, 1968:6). Oleh karenanya, dapat difahami jika dalam berbagai kidung Panji, para Panji diceritakan sebagai piawai dalam menulis puisi dan menabuh gamelan. Prasyarat untuk berkemampuan seni bukan saja untuk para pangeran, namun diprasyaratkan pula bagi para dayang yang melayani seorang putri di keraton. Misalnya, kitab Sumansantaka (XLI.1) misalnya, diceritakan bahwa kemampuan atau kepandaian para dayang dalam aneka cabang kesenian amat dihargai. Dengan perkataan lain, terdapat sejumlah ketrampilan seni yang dituntutkan kepada mereka (Zoetmulder, 1985: 189).

     Untuk mengembangkan kesenian, raja memegang peran penting. Dalam kakawin Gathotkacasraya (I.5) disebutkan bahwa raja Jayakreta (Kretajaya) dari Kadiri gemar memelihara hiburan (lilangon kalangon) dan menghidupkan sastra untuk menghibur hati yang susah. Demikian pula dalam kakawin Nagarakretaga-ma (LXXXVII.2-3) diinformasikan bahwa selama tiga hingga empat hari Hayam Wuruk memberi santapan mata berupa sajian berbagai pertunjukan yang menarik kepada rakyatnya. Perannya bukan saja dalam kaitan dengan pagelaran seni, namun juga dalam dalam hal pembinaan seni.

     Dalam pembinaan seni, raja melimpahkan tugas kepada pejabat tertentu. Kitab Nawanatya (Xb) misalnya, menyebutkan bahwa rakryan demung bertugas membina tujuh musisi (saptaswara), nyanyian (gita), tarian (nreta), hal yang berkenaan dengan keindahan/dekorasi (pajong-pajongan), mengorganisir kegiatan yang berkenaan dengan kesenangan, hiburan maupun pertunjukan seni. Ia juga menjadi pembina cipta puisi (kawya), permainan musik gamelan – utamanya sa-lukat, samepha dan mredangga. Berbagai kegiatan huburan ditanganinya seperti wayang kulit (ringgitan) (Pigeaud, 1960, I:83 dan III:122). Hal ini merupakan bukti  tentang bina seni lewat jalur birokrasi.
 
     1.3. Cerita Panji sebagai Lakon Seni Pertujukan
     Rupaya cerita Panji amat digemari oleh masyarakat, sehingga lahirlah cerita Panji dengan bermacam-macam versi (Baribin, 1985:193). Popularitas cerita Panji bukan hanya sebatas di Jawa, namun hingga ke luar Jawa seperti di Bali, Lombok, Kalimantan dan Sulawesi, bahkan sampai pula ke luar Nusantara seperti Negeri Semenjung, Siam, dan Kamboja (Hooykaas, 1953:103). Cerita Panji sebagai lakon dalam seni pertunjukan utamanya tampil dalam drama-tari topeng.

     Pada bagian D.1.1.3 disebutkan adanya berbagai macam seni pertujukan yang mainkan lakon Panji, yaitu dalam bentuk pertunjukan tapuk, tapel, raket, raket lalangkaran, gambuh dan wayang beber. Seni pentujukan itu jelas mengangkat lakon lokal, yang diambil dari anakan cerita Panji. Hal ini berbeda dengan pertunjukan wayang (ringgit, prawa), yang cenderung mengangkat wiracarita asal India yaitu Ramayana dan Mahabarata beserta gubahan dari bagian-bagiannya.

     Demikianlah, cerita Panji tak hanya menjadi karya sastra, namun kala itu telah pula menjadi sumber penceritaan untuk suatu pementasan seni, yang banyak di-minati oleh masyarakat, baik di lingkungan keraton maupun luar keraton. Cerita Panji dengan demikian boleh dibilang telah amat populer pada masa Majapahit, yang dibuktikan oleh maraknya kesenian Jawa dengan mengangkat cerita Panji baik dalam sastra tutur, sastra tulis, relief dan arca, serta seni pertunjukan.

E. Transformasi Lintas Waktu Keteladanan Panji
     1. Akar Tradisi Panji dalam Tlatah Budaya Jawa
     Teladan tak dibatasi oleh batas waktu, sebab bukan tidak mungkin suatu teladan mampu menembus beberapa kurun waktu. Teladan yang demikian berarti mentradisi dalam masyarakat. Dalam kaitan dengan keteladanan tokoh Panji, muncul pertanyaan “Apakah Keteladanan Panji adalah teladan yang mentradisi pada masyarakat Jawa?”. Sesuai dengan judul tulisan ini, telaah tentang transformasi keteladanan tokoh Panji dalam lintas masa hanya akan difokuskan kepada keteladanannya dalam bidang kesenian. Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu dicermati realitas kesenian di Jawa, khususnya kesenian tradisi, yang menjadikan Panji sebagai tema sentral bagi ekspresi keseniannya. Jika ditemukan bukti bukti bahwa terdapat beragam jenis dan bentuk kesenian Jawa tradisional yang menjadikan Panji sebagai tema sentral bagi ekspresi seninya, maka bisa dikatakan bahwa tradisi kesenian Panji telah mengalami transformasi lintas masa.

     Data hsitoris dan arkeologis membuktikan bahwa Panji mula-mula muncul sebagai sebutan kemuliaan atau semacam gelar kebangsawanan bagi para ksatria pria, dan khususnya sebagai partikel bagi para pemimpin satuan ketentaraan semenjak masa pemerintahan Kerajaan Kadiri hingga Singhasari dan Majapahit (Sedyawati, 1986). Secara harafiah, kata “panji” berarti nama gelar, digunakan di depan nama diri, sering dalam bentuk [m]apanji. Seringkali nama ini digunakan dalam kaitan dengan putra mahkota Kerajaan Koripan. Kendati demikian, rupanya apanji juga digunakan untuk menunjuk pejabat di keraton yang pangkatnya lebih rendah daripada pameget (Zoetmulder, 1995, II:757).

     Sebenarnya, sebagai partikel, Panji mulai disebut dalam prasasti-prasasti pada masa pra-Kadiri, sebagaimana dijumpai dalam prasasti-prasasi Pu Pindok hingga Airlangga. Dengan demikian, sebetulnya tradisi panji dalam bidang sosial atau birokrasi pemerintahan telah muncul sejak masa pemerintahan Kerajaan Mataram yang berpusat di Jawa Timur (awal abad X s.d. medio abad XI Masehi). Tradisi Panji yang berkembang pada masa Kadiri dan puncaknya terjadi pada masa Majapahit merupakan kesinambungan dan perkembangan lebih lanjut dari tradisi Panji yang embrionya telah dimulai sejak masa pemerintahan Kerajaan Mataram.

     Pada masa Majapahit, khususnya masa keemasan pada pemerintahan Hayam Wuruk, tradisi Panji mengalami diversifikasi bentuk, yang bukan saja mengejowantah pada birokrasi pemerintahan dan kemiliteran, namun merambah pula pada bidang-bidang lain, tidak terkecuali dalam bidang kesenian. Dalam bidang kesenian, tradisi Panji hadir dalam seni sastra, seni pertunjukan, seni pahat, bahkan dalam seni-keagamaan (religious art). Susustra Panji malahan bukan hanya memasyarakat di Jawa, namun kedapatan pula di pulau-pulau seberang dari Jawadwipa seperti Bali, Lombok, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, maupun di sejumlah negeri jiran seperti di Negeri Semenanjung (Malaysia), Siam (Thailand) dan Kamboja. Cerita Panji dengan varian-variannya semarak di berbagai tempat, baik berwujud sebagai cerita tutur (oral story) ataupun berbentuk cerita tertulis (literal story) yang ditulis dengan beragam bahasa dan aksara.

     Dalam kaitan dengan adanya cerita Panji dalam bentuk cerita turur dan cerita tertulis tersebut, tergambar tentang adanya fenomena transformasi, yakni dari yang semula sebagai cerita tutur menjadi cerita tertulis. Jika benar demikian, berati terjadi tansformasi pada cerita Panji, yang ditandai oleh literalisasi (oral ke literal). Transformasi tidak hanya berwujud literalisasi cerita Panji, namun juga mengambil bentuk sebagai visualisasi, yaitu transformasi dari oral story ke visual story atau dari literal story ke visual story. Perwujudan visual story cerita Panji antara lain berupa relief cerita Panji dan – meski tidak banyak – ada pula yang mengambil bentuk sebagai seni patung (arca).

     Sejauh telah berhasil ditemukan, “arca perwujudan” Panji baru ditemukan di Gunung Pawitra (Penanggungan), tepatnya di kepurbakalaan XXII (Selokelir). Arca batu ini relatif utuh, dengan tinggi total 150 cm. Hanya saja, tangan sebelah kanannya telah rompal. Penggambarannya yang berdiri kaku mengingatkan kita kepada mayat orang yang telah meninggal, sehingga amat boleh jadi arca ini merupakan arca perwujudan. Keberadaan arca Panji ini membawa kita bukti bahwa tokoh Panji tidak sekedar mengemban fungsi seni, namun lebih dari itu juga dijadikan sebagai perangkat upacara dalam bentuk patung. Ada indikasi bahwa pada masa akhir Majapahit tokoh Panji diperdewa oleh pemangku budaya Jawa.

     Menurut Satyawati Sulaiman (1978:41-43) mungkin cerita Panji yang digambarkan dalam bentuk relief dan arca dibuat oleh anggota keluarga raja-raja Kadiri dan para pengikutnya manakala kerajaan Kadiri berhasil ditaklukkan oleh Majapahit.  Pada masa keemasan Majapahit, mereka belum berani menjadikan arca Panji sebagai obyek pemujaan. Berulah ketika masa Akhir Majapahit, seperti didapati di Penanggungan, Panji mulai diperdewa, dan untuk menghormatinya dibuatlah arca perwujudan dan tempat upacara. Pengarcaan Panji dapat dapat dibandingkan dengan perdewaan terhadap Bhima. Dalam konteks ini, Panji sebagai tokoh manusia (human figure) dijadikan sebagai tokoh dewata (spirit figure).

     Pada jenis seni pertunjukan, kisah bertema “Kapanjian” banyak dijadikan tema cerita, baik dalam seni tari, drama ataupun dalam bentuk drama-tari (sendratari, theatrical dance) sebagaimana telah dipaparkan secara rinci di atas (butir   D.1.). Bahkan dalam sejumlah cerita Panji, tokoh Panji dicitrakan sebagai pribadi  yang mahir dalam berkesenian. Fenomena ini memberi petunjuk bahwa tradisi seni Kapanjian mengalami diversifikasi, dari seni sastra ke seni pertunjukan. Pada masa Majapahit seni pertujukan yang bertemakan Kapanjian bahkan menjadi sajian seni yang diminati oleh khalayak luas. Dengan perkataan lain, tradisi Panji telah merupakan anasir seni yang populer dalam kehidupan seni masyarakat Jawa masa Majapahit. Popularitasnya tidak sebatas pada masa Hindu-Buddha, namun terus berlanjut memasuki masa-masa sesudahnya. Pada periode awal hingga perkembangan Islam di Jawa misalnya, kesenian Panji masih memperlihatkan eksistensinya.

     Berdasarkan paparan di atas, diperoleh gambaran bahwa Kapanjian tidak hanya sekedar merupakan fenomena kesenian, namun sekaligus berwujud sebagai fenomena sosial, pemerintahan, kemiliteran, religi, dan fenomena lainnya [yang tidak dibicarakan dalam tulisan ini]. Oleh karena itu, cukup alasan untuk menyatakan bahwa Kapanjian merupakan suatu fenomena budaya. Tradisi Panji dengan demikian merupakan tradisi budaya. Dikatakan sebagai “tradisi”, karena budaya Panji terbukti berkelanjutan dan mengalami diversifikasi bentuk dan fungsi hingga lintas masa dan sekaligus lintas area.    

     2. Jejak Transformasi Tema Kapanjian dalam Seni Tradisi di Jawa Sekarang

     Pada beragam jenis dan bentuk kesenian masa sekarang, tema Kapanjian masih terjejaki. Ada yang secara jelas menampilkan sosok tokoh peran Panji, namun ada pula yang hanya tampil secara tersirat. Penyosokan yang pertama utamanya terlihat pada seni tradisi, dan yang kedua pada seni kreasi. Terlepas dari apakah hadir secara jelas ataupun tersirat, kehadiran tema Kapanjian pada kesenian Jawa sekarang memberi kita bukti bahwa cerita Panji terbukti eksis dalam lintas masa.

     Pada masa Mataram Islam kebiasaan untuk melatihkan anggota keluarga istana dalam bidang seni terus dilakukan. Sebelum mendapat kedudukan dalam jenjang birokrasi pemerintahan umumnya, anak muda anggota keluarga keraton terlebih dahulu menempuh dua tahap pendidikan. Pertama, nyuwito (mengabdi) kepada guru untuk memperoleh keahlian menulis, membaca, menunggang kuda, menggunakan senjata, berseni sastra, menari dan memainkan musik. Kedua, melakukan magang kepada seseorang yang piawai dalam hal tertentu. Upaya untuk mendapat pengetahuan ini dipraktekkan secara teratur dan berlaku pada segala strata sosial (Moertono, 1995:111). Pendidikan seni secara magang telah dilakukan sejak masa Hindu-Buddha. Kitab Sumanasantaka (XV.1-XXI.6) menyatakan bahwa mambang Madhusudana adalah seorang abdi raja Raghu, yang ketika itu berkedudukan sebagai magang kawi (kawi taruna, kawi mambang) (Zoetmulder, 1985:188-189). Proses magang pernah pula dilalui oleh rakawi Prapanca, yang dibesarkan di lingkungan keraton dan dididik mulai dari tahap magang dalam suasana keaton (Zoetmulder, 1985: 187). Pada tahap ini, Prapanca memperoleh latihan atau pendidikan informal, dengan status praresmi, yaitu sebagai magang (Kartodirdjo, 1993:45).

3. Transformasi Keteladanan Panji untuk Pengembangan Kesenian
     3.1. Peran Tokoh Panji dalam Pengembangan Kesenian Masa Lalu
     Sebagaimana telah dipaparkan pada bagian D.12, Panji ditampilkan sebagai bangsawan (penguasa) Jawa yang berperan penting dalam mengembangkan seni, baik di lingkungan istana ataupun luar Istana. Pendidikan seni untuk putra/i raja adalah materi pembelajaran yang dianggap penting. Oleh karena itu, dapat difahami bila para Panji yang adalah keturunan bangsawan itu acap dikisahkan sebagai piawai dalam berbagai cabang seni. Prasyarat untuk berkemampuan seni bukan saja untuk para pangeran, namun diprasyaratkan pula bagi para dayang (abdi dalem) yang melayani bangsawan di keraton. Dengan perkataan lain terdapat sejumlah ketrampilan berolah seni yang dituntutkan kepada para abdi dalem (Zoetmulder, 1985:189).

     Untuk mengembangkan kesenian di wilayah kekuasaannya, seorang Panji yang acapkali berkedudukan sebagai penguasa memegang peran yang penting. Salah satu caranya adalah menggiatkan pementasan seni dengan memberi santapan mata berupa sajian berbagai pertunjukan yang menarik kepada rakyatnya. Perannya bukan saja dalam kaitan dengan pagelaran seni, namun juga dalam dalam hal pembinaan seni. Dalam hal ini, raja melimpahkan tugas pembinaan kepada rakryan demung, yang bertugas membina seni musik, seni tari, dan hiburan lainnya. Semua ini merupakan bukti tentang bina seni lewat jalur birokrasi.
 
3.2. Peneladanan Peran Panji dalam Pengembangan Kesenian Masa Kini
     Cerita Panji menjadi dasar bagi pengembangan lakon pada khasanah seni pertunjukan Jawa dan Bali masa kini. Beberapa bentuk seni pertunjukan Jawa yang menjadikan tema Kapanjian sebagai lakon antara lain wayang won,. wayang gedhog, wayang topeng, ketoprak, drama-tari dan pranasmara (drama tari berbentuk opera berlakon Panji, dengan dialog berbentuk tembang).

     Penggunaan cerita Panji sebagai dasar lakon dalam seni pertunjukan di Jawa berlangsung semenjak lama. Babad Tanah Jawi misalnya, menyebutkan bahwa Mas Karebat (Joko Tingkir) lahir bertepatan dengan berlangsungnya pertunjukan wayang beber di rumah ayahnya (Pangeran Andayaningrat). Wayang beber adalah seni pertunjukan Jawa yang menggunakan media berupa beberan wayang (menggelar lukisan), sementara dalang melisankan cerita Panji yang ada pada lukisan tersebut. Disamping itu, cerita Panji juga banyak tampil sebagai relief candi di berbagai candi Jawa Timur (Poebatjaraka, 1968: 408; Munandar, 1992).  

     Pendasaran cerita Panji menjadi lakon dalam berbagai seni pertunjukan di Jawa tersebut memberi petunjuk bahwa popularitas cerita Panji menembus hingga ke luar masa Hindu-Buddha, bahkan hingga masa kini. Pribadi Panji sebagai figur teladan terus diminati oleh masyarakat Jawa tertentu masa kini. Jika benar demikian, berarti transformasi keteladanan Panji terus berlangsung hingga sekarang, tak terkecuali dalam kaitan dengan pengembangan lingkungan kesenian lokal. Pendek kata cerita Panji banyak membawa inspirasi bagi seniman Jawa untuk aktif-kreatif mendiversifikasi lakon-lakon Panji ke dalam beragam bentuk seni pertunjukan.    
 
F. E p i l o g
     Demikianlah, sebagai tokoh peran dalam cerita-cerita Panji, daripadanya diperoleh banyak contoh teladan, yang kedepan dapat dimanfaatkan sebagai pemandu arah kita dalam rangka pengembangan kesenian setempat. Panji adalah pribadi yang piawai dalam berolah seni. Bahkan, beberapa cabang seni dikuasainya. Kemampuannya yang demikian didapatkannya melalui pembelajaran, baik dengan cara nyuwito ataupun magang. Model pendidikan di lingkungan keraton, yang mempersyaratkan seorang bangsawan trampil dalam berolah seni menjadi pemicu bagi Panji untuk menimba pengetahuan serta ketrampilan seni.

     Sebagai orang matang dalam belajar seni, wajar jika di dalam cerita-cerita Panji, tokoh ini digambarkan sebagai piawai dalam berolah seni. Bukan hanya di dalam satu jenis seni, namun acapkali dilukiskan sebagai orang yang menguasai berbagai cabang seni sekaligus. Selain sebagai pelaku seni, sebagai bangsawan (ksatria) yang memimpin pemerintahan, Panji melakukan pengembangan kesenian di wilayah kekuasaannya, baik di lingkungan keraton ataupun luar keraton. Para Panji berperan sebagai pengayom dan pengembang seni. Oleh karenanya, cukup alasan untuk menyatakan bahwa Panji adalah maecenas kesenian Jawa masa lalu. Semoga membuahkan makna.   


Kepustakaan :

Baribin, Raminah, 1985, “Cerita Panji: Jejak dan Pengaruhnya dalam Kesusasteraan Indonesia,” Bahasa – Sastra-Budaya, Ratna Manikam Untain Persembahan kepada Prof.  DR.  P.J.  Zoetmulder.  Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Baied, Siti Baroroh, 1987, Panji: Citra Pahlawan Nusantara. Jakarta: Dep. P & K
Bernet-Kempers, A.J., 1859, Ancient Indonesian Art. Massachusts: Harvard Univ Press.
Cahyono, M. Dwi, 2003, Rakitan dan Fungsi Seni Petunjukan pada Masyarakat Jawa Kuna Abad ke-10 hingga 16 Masehi. Tesis S-2. Prog. Studi Arkeologi, Bid. Ilmu Pengetahuan Budaya Prog. Pasca Sarjana UI. Jakarta
Hooykaas,  C., 1953, Perintis Sastra. Terjemahan.: Raihoel A.D.B. J.B.  Wolters-Groningen.
Kempers, A.J. Bernet, 1959, Ancient Indonesian Art. Amsterdam: C.P.J. van der Peet.
Moeliono, Anton (ed.), 1995, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Munandar, Agus Aies, 1990,  “Arca dan Relief pada Kepurbakalaan Gunung Penanggungan: Pembicaraan Ringkas Aspek Keagamaan”, Monumen Persembahan untuk Prof. Dr. R. Soekmono. Depok: Lembaran Sastra, Fak. Sastra Iniv. Indonesia.
--------------, Agus Aris, 1992, “Citra Panji dlam Masyarakat Majapahit Akhir,”  Lembaran Sastra UI No. 17, Juli 1992. Depok: Fak. Sastra UI.
Pigeaud, Th. G. Th, 1960, Java in The 14-th Century. A study in Cultural History. 5 Vols. The Hague: Martinus Nijhoof.
Poerbatjaraka, R.M. Ng., 1952, Kepustakaan Djawi.  Jakarta/Amsterdam:  Jambatan.
---------------, 1966, Tjerita Pandji dalam Perbandingan. Diindonesiakan oleh: Zuber Usman dan H.B. Jassim. Djakarta: Gunung Agung.
Rassers, W.H., 1959, Panji, The Cultural Hero: Structural Study of Religion in Java. The Hague: Nijhoff (Dutch ed. 1922).
Robson, S.O., 1971, Wangbang Wideya, a Javanese Panji Romance. ‘s GravenHage: N.V. Nederlandsche Boeken Steendrukkerij V/H.H.L. Smirs.
Saputra, Karsono H, 1998, Aspek-aspek Kesastraan Serat Panji Angreni. Depok: Fakultas Sastra Univ.Indonesia.
Soedarsono, R.M., 1983, Wayang Wong in The Jogjakarta Keraton: History, Ritual Aspect, Literary Aspect and Caracterization. Disertasi. Univ. Michigan.
Sedyawati, Edi, 1986, Pengarcaan Ganesha Masa Kadiri dan Singhasari: Sebuah Tinjauan Sejarah Kesenian. Disertasi, Jakarta: UI.
Soebadio, Hariati, 1992, “Sastra da Sejarah,” Jurnal Arkeologi Indonesia No. 1.  Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.
-----------, Karsono H, 1992, Pengatar Sekar Macapat. Depok: Fak. Sastra UI
Suleiman, Satyawati, 1978, The Pendopo Terrace of Panataran. Picotorial Number 2. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Zoetmulder, P.J., 1983,  Kalangwan, Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang. Jakarta: Jambatan.
Zoetmuder, P.J., 1995, Kamus Jawa Kuna – Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.



 

Wacana Lebih Baru Wacana Lama
Posting Komentar Anda

Informasi lebih lanjut
[wacana@nusantara-online.com]
+62-22-930-746-96
Jln. Jakarta 20-22
Komplek Kota Kembang Permai
Ruko Kav. 21.A, Bandung-Indonesia